Si Shu

Kitab Empat · 四书

Lun Yu · Sabda Suci

Bab 11

Ayat 1

Nabi bersabda, "Orang jaman dahulu yang maju dalam Kesusilaan dan musik; dikatakan udik. Orang jaman kemudian yang maju dalam Kesusilaan dan musik; dikatakan 'Kuncu'. Kalau Aku boleh menggunakannya, Aku lebih suka orang jaman dahulu yang maju itu."

Ayat 2

Nabi bersabda, "Murid-murid yang dahulu ikut menderita kelaparan dengan Ku di negeri Tien dan Chai itu, sudah lama tidak kelihatan hadir dipintuKu pula." (Bc. VII B : 18).

Ayat 3

Yang dapat melaksanakan Kebajikan ialah Gan Yan, Bien Cu-Khian, Jiam Pik-giu dan Tiong Kiong. Yang cakap bicara ialah Cai-ngo dan Cu-khong. Yang cakap dalam pernerintahan ialah Jiam Yu dan Kwi Lo. Yang ahli dalam pengetahuan Kitab ialah Cu-yu dan Cu-he. (Bc. IIA : 2/18).

Ayat 4

Nabi bersabda, "Hwee sesungguhnya tidak membantu Aku. Apa yang Kukatakan, tiada yang tidak disukainya."

Ayat 5

Nabi bersabda, "Sungguh berbakti Bien Cu-Khian. Apa yang dikatakan orang lain dan apa yang dikatakan orang tua dan saudaranya tiada yang bertentangan." (S.S. VIII : 21).

Ayat 6

Lam Yong sering mengulangi isi Sanjak 'Pik Kwi', (Tongkat Komando Dari Batu Kumala Putih), maka Nabi Khongcu menerimanya sebagai menantu kakakNya. (S.S. V : 2; Siking III : 3.2.5).

Ayat 7

Kwi Khongcu bertanya, "Siapakah di antara murid-murid yang benar-benar suka belajar?" Nabi menjawab, "Ada seorang. Gan Hwee benar-benar suka belajar. Sayang usianya pendek dan telah meninggal dunia. Kini belum ada lagi."

Ayat 8

(1) Tatkala Gan Yan meninggal dunia, Gan Lo mohon agar Nabi menjual kereta Nya untuk membeli peti pembungkus peti mati.

(2) Nabi bersabda, "Pandai atau tidak, semua murid Kuanggap sebagai anakKu. Ketika Li meninggal dunia, juga hanya memakai peti mati saja dan tidak rnemakai peti pembungkus peti mati. Akupun tidak semestinya membeli peti pembungkus peti mati itu sehingga tidak mempunyai kendaraan; karena, bagaimanapun Aku dahulu pernah menjabat sebagai menteri, sehingga ada kalanya Aku tidak boleh berjalan kaki saja."

Ayat 9

Ketika Gan Yan meninggal dunia Nabi berseru, "0, mengapa Tuhan mendukakanKu? Mengapa Tuhan mendukakanKu?"

Ayat 10

(1) Tatkala Gan Yan meninggal dunia, Nabi menangis sangat sedih.

(2) Murid-murid berkata, "Sungguh Guru sangat sedih."

(3) Nabi bersabda, "Terlalu sedihkah Aku? Kalau Aku tidak bersedih untuk dia, untuk siapakah Aku boleh bersedih?"

Ayat 11

(1) Tatkala Gan Yan meninggal dunia, murid-murid ingin melakukan upacara penguburan secara besar-besaran. Nabi bersabda, "Jangan dilakukan demikian."

(2) Tetapi, para murid melakukan upacara penguburan secara besar-besaran.

(3) Nabi bersabda, "0, Hwee. Engkau memandang Aku sebagai ayahmu sendiri, tetapi Aku tidak dapat memperlakukan engkau sebagai anakKu sendiri. Sungguh ini bukan maksudKu, ini kehendak kawan-kawanmu!"

Ayat 12

(1) Kwi-lo bertanya bagaimana cara mengabdi kepada para Rokh. Nabi bersabda, "Sebelum mengabdi kepada manusia, betapa dapat mengabdi kepada para Rokh?" (S.S. VII 21; T.S. X : 1)

(2) "Murid memberanikan diri bertanya hal setelah orang mati." Dijawab, Sebelum mengenal hidup, betapa mengenal hal setelah mati?"

Ayat 13

Pada saat Bien Cu-khian berdiri di samping Nabi, nampak sangat ramah dan saksama, Cu-lo (Tiong Yu) nampak sangat gagah; Jiam Yu dan Cu-khong nampak bebas dan jujur. Melihat ini Nabi sangat gembira, tetapi bersabda, "Kiranya Tiong-yu ini kelak tidak mendapatkan kematian yang wajar."

Ayat 14

(1) Seorang pembesar di Negeri Lo ingin membangun gudang panjang yang sangat besar.

(2) Bien Cu-khian berkata, "Kurang baikkah gudang panjang yang lama? Mengapakah harus dirombak?"

(3) Nabi bersabda, "Orang ini biasanya tidak suka bicara, maka pembicaraannya kali ini kiranya tepat."

Ayat 15

(1) Nabi bersabda, "Mengapakah Yu memainkan lagu semacam itu di muka pintuKu?"

(2) Mendengar sabda itu, murid-murid lain lalu kurang hormat kepada Cu lo.

(3) Nabi bersabda, "Tiong-yu sudah naik ke serambiKu. hanya belum masuk ke ruangan dalam."

Ayat 16

Cu-khong bertanya, "Antara Su (Cutiang) dan Siang (Cu-he) siapakah lebih bijaksana?" Nabi bersabda, "Su itu melampaui dan Siang itu kurang." Cu-khong berkata, "Dengan demikian kiranya Su lebih baik?" Nabi bersabda, "Yang melampaui maupun yang kurang, keduanya belum mencukupi syarat."

Ayat 17

(1) Kekayaan Keluarga Kwi sudah melebihi kekayaan Pangeran Ciu, tetapi Jiam Kiu masih juga membantunya memungut pajak untuk memperkaya pula.

(2) Nabi bersabda, "Dia bukan lagi muridKu. Murid-murid, kamu boleh memukul tambur menyerangnya." (A.B. X : 22).

Ayat 18

Adapun Koo Chai itu bodoh, Cing Cham itu lambat, Cwansun Su itu kurang pertimbangan, dan Tiong-yu itu kasar.

Ayat 19

(1) Nabi bersabda, "Gan Hwee itu sudah hampir (mencapai Kebajikan Sempurna); ia hidup dalam kemiskinan.

(2) Su (Cu Khong) itu tidak mau menerima nasib; ia berusaha menambah-nambah kekayaannya. Tetapi pertimbangannya ternyata banyak tepat pula."

Ayat 20

Cu-tiang bertanya bagaimana Jalan Suci seorang yang baik. Nabi bersabda, "Walaupun tanpa mendapat teladan-teladan yang baik, ia dapat pula berbuat balk; tetapi kalau hanya demikian, ia tidak akan memperoleh kesempurnaan."

Ayat 21

Nabi bersabda, "Kalau kita hanya mempercayai kata-kata saja, kita tidak akan tahu benar-benar apakah seseorang itu sungguh -sungguh bersifat Kuncu atau hanya berlagak saja."

Ayat 22

(1) Cu-lo bertanya, "Bila mendengar suatu ajaran, haruskah segera dilaksanakan?" Nabi menjawab, "Ayah dan kakakmu masih ada, mengapakah harus kau laksanakan begitu saja?"

(2) Jiam Kiu bertanya, "Bila mendengar suatu ajaran, haruskah segera dilaksanakan?" Nabi menjawab, "Ya, segeralah laksanakan!"

(3) Kongsee Hwa bertanya, "Tadi ketika Tiong Yu bertanya apakah harus segera dilaksanakan apa yang didengarnya, Guru menjawab, 'Ayah dan kakakmu masih ada'; tetapi ketika Jiam Kiu bertanya apakah ia harus segera melaksanakan apa yang didengarnya, Guru menjawab, 'Segera laksanakan!' Chik agak bingung, mohon keterangan."

(4) Nabi menjawab, "Jiam Kiu sangat lambat, maka Kudorong maju; sedangkan Tiong-yu sangat tangkas, maka Kutahan."

Ayat 23

Ketika Nabi menderita kesukaran di daerah Khong, Gan Yan ketinggalan di belakang. (Setelah berkumpul kembali) Nabi bersabda, "Kusangka engkau telah mati." Gan Yan menjawab, "Selama Guru hidup, bagaimanakah Hwee berani mati?"

Ayat 24

(1) Kwi Cu-jian bertanya, "Dapatkah Tiong yu dan Jiam Kiu dinamakan orang yang berjiwa menteri besar?"

(2) Nabi menjawab, "Kusangka engkau menanyakan siapa, kiranya tentang Tiong yu dan Jiam Kiu.

(3) "Yang dinamakan seorang berjiwa menteri besar itu, hanya dengan Jalan Suci mau mengabdi kepada rajanya; kalau tidak demikian ia berhenti."

(4) "Sekarang, Tiong yu dan jiam Kiu itu hanya cukup untuk menggenapi jawatan saja."

(5) "Kalau begitu mereka itu hanya orang yang suka menuruti atasannya saja?"

(6) Nabi bersabda, "Kalau disuruh membunuh ayah atau rajanya, mereka tidak akan mau menurut."

Ayat 25

(1) Cu-lo menyarankan agar Cu-koo diangkat menjadi kepala daerah Pi.

(2) Nabi menjawab, "Engkau ini akan mencelakakan anak orang."

(3) Cu-lo berkata, "Di sana sudah ada rakyatnya, sudah ada tempat-tempat untuk melakukan upacara sembahyang kepada Malaikat Bumi dan Malaikat Pertanian. Mengapakah ia masih harus membaca buku lagi baharu dinamai belajar?"

(4) Nabi bersabda, "Aku benci kepada orang yang suka memutar lidah."

Ayat 26

(1) Pada suatu hari Cu-lo, Cing Sik, Jiam Yu dan Kongsee Hwa mendampingi Nabi duduk.

(2) Nabi bersabda, "Meskipun Aku lebih tua satu dua hari daripadamu, janganlah itu kaujadikan halangan. Bukankah pada waktu senggang kamu sering bicara 'Orang tiada yang mau mengenal diriku.' Sekarang, kalau ada orang yang mau mengenal dirimu, apakah yang akan dapat kamu lakukan?"

(3) Mendengar itu segera Cu-lo berkata, "Misalkan ada sebuah daerah yang mempunyai seribu kereta perang dan terletak di antara dua negeri besar, dan ke dua negeri itu saling menyerang sehingga di daerah itu timbul kekalutan dan kelaparan, dan Yu diberi kesempatan mengaturnya; dalam tiga tahun, kutanggung semua rakyatnya akan mempunyai keberanian. Bukan hanya itu, juga akan menjadi rakyat yang mengerti Kebenaran."

(4) Mendengar itu Nabi tersenyum, lalu bertanya kepada Jiam Kiu; "Bagaimanakah denganmu, Kiu?" "Kalau ada suatu daerah yang luasnya enam atau tujuh puluh li ataupun daerah yang luasnya lima atau enam puluh li, diserahkan kepada Kiu; dalam waktu tiga tahun niscaya akan berkecukupan kebutuhan rakyatnya. Hanya mengenai pendidikan Kesusilaan dan Musik, Kiu menunggu adanya seorang Kuncu."

(5) "Bagaimanakah denganmu Chik?" "Chik tidak berani memastikan. Hanya ingin belajar lebih dahulu. Kalau harus membantu upacara di bio atau istana, Chik kiranya dapat diberi tugas memakai topi dan pakaian upacara untuk melaksanakan sebagai pembantu kecil pemimpin upacara.

(6) Bagaimanakah denganmu, Tiam?" Cing Sik segera mengakhiri permainan celempungnya dengan sebuah petikan yang keras, kemudian berdiri dan berkata, Keinginan murid lain dengan yang diinginkan ke tiga saudara tadi."

(7) "Apa salahnya? Bukankah masing-masing hanya mengemukakan keinginannya sendiri?"

(8) "Saat ini sudah mendekati akhir musim semi, maka semua pakaian untuk musim ini sudah siap. Tiam ingin dengan lima, enam kawan yang dewasa dan enam, tujuh anak-anak bermandi-mandi di tepi Sungai Ki, dan mencari hawa yang sejuk di sekitar tempat untuk upacara memohon hujan; kemudian sambil menyanyi-nyanyi di sepanjang jalan pulang ke rumah."

(9) Dengan menarik napas Nabi bersabda, "Aku setuju denganmu, Tiam!"

(10) Setelah Cu-lo, Jiam Yu, Kong see Hwa keluar; Cing Sik tidak ikut pergi dan bertanya, "Bagaimanakah dengan pendapat ketiga kawan tadi?"

(11) "Ah, masing-masing menyatakan isi hatinya sendiri."

(12) "Mengapakah Guru tersenyum atas Yu?" "Untuk mengatur pemerintahan perlu diutamakan Kesusilaan, tetapi kata-katanya menunjukkan sifat tidak mau mengalah. Itulah sebabnya Aku tersenyum."

(13) "Apakah yang diucapkan Kiu juga belum tepat untuk suatu pemerintahan?" "Ia hanya membicarakan tentang daerah yang luasnya enam atau tujuh puluh li; atau daerah yang luasnya lima atau enam puluh li. Kiranya itu belum cukup untuk dinamai suatu negara."

(14) "Apakah kata-kata Chik juga tidak mengenai pemerintahan?" "Dia membicarakan adanya bio leluhur serta upacaranya; memang berhubungan dengan pemerintahan, tetapi kalau Chik hanya berani menjabat sebagai pembantu kecil pemimpin upacara; siapakah yang dapat menjadi pemimpin upacara?"