Si Shu

Kitab Empat · 四书

Lun Yu · Sabda Suci

Bab 6

Ayat 1

Nabi bersabda, "Jiam-yong sesungguhnya dapat diberi tugas menghadap ke Selatan (menjadikepala negara)." (S.S. V : 2, 5).

Ayat 2

(1) Tiong-kiong bertanya tentang Cusong Pikcu. Nabi bersabda, "Bolehlah! Ia seorang yang longgar."

(2) Tiong-kiong berkata, "Seorang yang di dalam hatinya benar-benar menaruh hormat akan tugas dan berhati longgar dalam memerintah rakyat, memang boleh juga. Tetapi kalau longgar terhadap diri sendiri dan longgar di dalam perbuatan, bukankah itu terlalu longgar?"

(3) Nabi bersabda, "Kata-kata Yong ini, sungguh benar."

Ayat 3

(1) Pangeran Ai bertanya, "Siapakah di antara murid-murid yang suka belajar?"

(2) Nabi menjawab, "Hwee-lah benar-benar suka belajar, ia tidak memindahkan kemarahan kepada orang lain dan tidak pernah mengulangi kesalahan. Sayang takdir usianya pendek dan telah mati. Sekarang sudah tiada. Kini Aku belum melihat lagi yang benar-benar suka belajar."

Ayat 4

(1) Tatkala Cu-hwa diutus ke negeri Cee, Jiamcu memintakan padi bagi ibunya. Nabi menjawab, "Berilah satu hu." Jiamcu memintakan tambah. Nabi menjawab, "Tambahlah satu ji." Kemudian Jiamcu memberinya lima ping.

(2) Nabi bersabda, "Tatkala Chik ke Negeri Cee, kendaraannya dihela kuda-kuda yang tambun, ia mengenakan pakaian bulu yang ringan dan indah. Apa yang telah kudengar, seorang Kuncu menolong kepada yang membutuhkan dan tidak menumpuk harta bagi yang telah kaya." (S.S. V: 8).

Ayat 5

(1) Tatkala Gwan Su diangkat sebagai menteri, ia diberi 900 takar beras; tetapi ia menolak.

(2) Nabi bersabda, "Jangan menolak! Kalau engkau berkelebihan, berikanlah kepada tetangga-tetangga, orang-orang kampung, desa dan daerahmu."

Ayat 6

Nabi membicarakan tentang Tiongkiong, "Anak lembu belang bila berwarna merah mulus dan bertanduk lurus, biar orang tidak mau menggunakannya (untuk korban sembahyang), kiranya (malaikat) gunung dan sungai tidak akan menyia-nyiakannya."

Ayat 7

Nabi bersabda, "Hwee dapat sepanjang tiga bulan tidak melanggar Cinta Kasih, tetapi yang lain-lain hanya dapat bertahan harian atau sebulan saja."

Ayat 8

(1) Kwi Khongcu bertanya, "Dapatkah Tiong yu diserahi pekerjaan di dalam pemerintahan?" Nabi bersabda, "Yu seorang yang tegas. Apa sukarnya melaksanakan tugas pemerintahan?"

(2) "Dapatkah Su diserahi pekerjaan di dalam pemerintahan?"

"Su seorang yang mengerti. Apakah sukarnya melaksanakan tugas pemerintahan?"

(3) "Dapatkah Kiu diserahi pekerjaan dalam pemerintahan?"

"Kiu berpengetahuan luas. Apakah sukarnya melaksanakan tugas pemerintahan?"

Ayat 9

Keluarga Kwi menyuruh orang meminta Bin Cukhian menjabat menteri di daerah Pi. Bin Cukhian menjawab, "Katakanlah dengan baik-baik kepadanya bahwa aku tidak dapat menerima. Kalau ada utusan lagi datang kemari, niscaya aku sudah (pergi dan diam) di tepi sungai Bun."

Ayat 10

Pik-Giu sakit, Nabi meninjaunya melalui jendela dan memegang tangannya. Kemudian bersabda, "Habislah! Inilah nasib! Mengapakah orang sebagai dia dapat menderita penyakit semacam itu? Mengapakah orang sebagai dia, dapat menderita penyakit semacam itu?"

Ayat 11

Nabi bersabda, "Sungguh bijaksana Hwee! Dengan hanya sebakul nasi kasar, segayung air, diam di kampung buruk yang bagi orang lain sudah tidak akan tahan; tetapi Hwee tidak berubah kegembiraannya. Sungguh bijaksana Hwee." (Bc. IV. B : 29/2).

Ayat 12

(1) Jiam-kiu berkata, "Sesungguhnya bukan karena tidak suka akan Jalan Suci Guru, hanya tenaga tidak mencukupi."

(2) Nabi bersabda, "Kalau tenaga tidak mencukupi, dapat berhenti di tengah jalan. Mengapa engkau membatasi diri sendiri?"

Ayat 13

Nabi berkata kepada Cu-he, "Jadilah engkau seorang umat Ji yang bersifat Kuncu, janganlah menjadi umat Ji yang rendah budi."

Ayat 14

Ketika Cu-yu menjadi kepala daerah kota Busing, Nabi bertanya, "Sudahkah engkau mendapatkan seorang pembantu yang cakap?" "Ada. la bernama Tam-tay Biat-bing; pada waktu berjalan ia tidak pernah memotong jalan melalui lorong-lorong dan bila tidak karena urusan negara, ia tidak pernah datang ke rumah Yan."(Bc.IV B:31).

Ayat 15

Nabi bersabda, "Sungguh Bing Ci-hwan tidak suka menonjol-nonjolkan diri, (pada waktu tentaranya menderita kekalahan) ia berjalan di belakang untuk melindungi barisan. Setelah di muka pintu gerbang kota, dicambuklah kudanya dan berkata, "Bukan keberanianku untuk di belakang, hanya kuda ini tidak dapat lari cepat-cepat."

Ayat 16

Nabi bersabda, "Bila tidak mempunyai kefasihan bicara sebagai Ciok Too, dan mempunyai ketampanan sebagai Song Tiau, sukar menghindarkan diri dari kesulitan jaman ini."

Ayat 17

Nabi bersabda, "Siapakah keluar rumah tidak melalui pintu? Mengapakah orang tidak mau hidup menempuh Jalan Suci?"

Ayat 18

Nabi bersabda, "Bila keaslian mengalahkan tatacara, orang akan bersikap udik. Bila tatacara mengalahkan keaslian, orang akan bersikap juru tulis. Maka, tatacara dan keaslian itu hendaklah benar-benar selaras. Dengan demikian menjadikan orang bersifat Kuncu."

Ayat 19

Nabi bersabda, "Hidup manusia difitrahkan lurus. Kalau tidak lurus tetapi terpelihara juga kehidupannya, itu hanya kebetulan."

Ayat 20

Nabi bersabda, "Yang mengerti belum sebanding dengan yang menyukai, sedangkan yang menyukai belum sebanding dengan yang dapat merasakan gembira di dalamnya."

Ayat 21

Nabi bersabda, "Seorang yang pengetahuannya sudah melampaui tingkat pertengahan, boleh diajak membicarakan hal-hal yang tinggi; seorang yang pengetahuannya masih di bawah tingkat pertengahan, tidak boleh diajak membicarakan hal-hal yang tinggi."

Ayat 22

Hwan Thi bertanya tentang seorang yang bijaksana. Nabi menjawab, "Ia mengabdi kepada rakyat berlandaskan Kebenaran. Ia menghormati rokh-rokh tetapi dari jauh (dengan hormat yang murni). Demikianlah seorang yang bijaksana." (S.S. II: 5).

(2) Ia bertanya pula tentang seorang yang berperi Cinta Kasih. Dijawab, "Seorang yang berperi Cinta Kasih rela menderita lebih dahulu dan membelakangkan keuntungan. Demikianlah orang yang berperi Cinta Kasih."

Ayat 23

Nabi bersabda; "Yang Bijaksana gemar akan air, yang berperi Cinta Kasih gemar akan gunung. Yang Bijaksana tangkas dalam perbuatan, yang berperi Cinta Kasih tenteram. Yang Bijaksana gembira dan yang berperi Cinta Kasih tahan menderita."

Ayat 24

Nabi bersabda. "Negeri Cee sekali berubah akan dapat menyamai Negeri Lo, dan Negeri Lo sekali berubah akan dapat mencapai Jalan Suci." (T.S. XVII 3).

Ayat 25

Nabi bersabda, "Ko (cawan arak) yang sudah tidak berbentuk ko lagi, apakah itu ko? apakah itu ko?"

Ayat 26

Cai-ngo bertanya, "Seorang yang berperi Cinta Kasih kalau diberitahu bahwa di dalam sumur ada Cinta Kasih, apakah ia akan mengikutinya juga?" (Bc.VA: ¾)

(2) Nabi menjawab, "Mengapa harus melakukan perbuatan semacam itu? Seorang Kuncu dapat dibunuh, tetapi tidak dapat dijerumuskan; dapat dikelabui tetapi tidak dapat dijebak."

Ayat 27

Nabi bersabda, "Seorang Kuncu meluaskan pengetahuannya dengan mempelajari Kitab-kitab dan membatasi diri dengan Kesusilaan. Dengan demikian ia tidak sampai melanggar Kebajikan." (S.S. IX : II ).

Ayat 28

Nabi menemui Lamcu; hal ini menyebabkan Cu-lo tidak senang. Karena itu lalu bersumpah, "Kalau aku berbuat tidak pada tempatnya, Tuhan menghukumku! Tuhan menghukumku!"

Ayat 29

Nabi bersabda, "Sungguh sempurna Kebajikan menjalani laku Tengah Sempurna. Sayang sudah lama jarang di antara rakyat yang menjalani." (T.S. : II).

Ayat 30

(1) Cu-khong bertanya, "Bila ada seorang yang benar-benar dapat memberi berlimpah-limpah kesejahteraan kepada rakyat dan menolong kesemuanya, bagaimanakah ia? Dapatkah ia dinamai seorang yang berperi Cinta-Kasih?

(2) Nabi menjawab, "Itu bukan hanya perbuatan yang berperi Cinta Kasih; bahkan seorang Nabilah dia. Dalam hal ini, bahkan Raja Giau dan Sun masih merasa khawatir belum dapat menjalankannya." (S.S. XIV : 42).

(3) "Seorang yang berperi Cinta Kasih ingin dapat tegak, maka berusaha agar orang lainpun tegak; ia ingin maju, maka berusaha agar orang lainpun maju."

(4) "Yang dapat memperlakukan orang lain dengan contoh yang dekat (diri sendiri), sudah cukup untuk dinamai seorang yang berperi Cinta Kasih."