Si Shu

Kitab Empat · 四书

Lun Yu · Sabda Suci

Bab 5

Ayat 1

Nabi membicarakan tentang Kong-ya Tiang, "Ia boleh diterima menjadi menantu. Sekalipun pernah dipenjara, itu bukan karena ia telah berbuat jahat." Maka diterimalah sebagai menantuNya.

Ayat 2

Nabi membicarakan tentang Lamyong, "Bila negara di dalam Jalan Suci, ia tidak akan tersia-sia. Bila negara ingkar dari Jalan Suci, ia akan terhindar dari hukuman." Maka diterimalah ia sebagai menantu kakakNya. (S.S. VI : 1,2; XI: 5).

Ayat 3

Nabi membicarakan tentang Cu-cian, "Sebenarnyalah ia seorang Kuncu! Apabila di negeri Lo tiada orang yang berwatak Kuncu, dari manakah ia dapat meneladan?"

Ayat 4

Cu-khong bertanya, "Bagaimanakah tentang diri Su?" Nabi menjawab, "Engkau dapat diumpamakan sebagai suatu alat." "Sebagai alat apakah?" "Sebagai Ho Lian (alat sembahyang yang sangat berharga)." (S.S. I : 10; II : 12, 13).

Ayat 5

(1) Ada orang berkata, "Sesungguhnya Jiamyong seorang yang berperi Cinta Kasih, sayang tidak pandai bicara.

(2) Nabi menjawab, "Mengapakah mesti pandai bicara? Orang yang pandai berdebat bahkan sering dibenci orang. Aku tidak tahu apakah ia berperi Cinta Kasih, tetapi mengapa ia mesti pandai bicara?" (S.S. VI : 1,2).

Ayat 6

Nabi menyuruh Chiet-tiau Khai memangku jabatan negara. Ia menjawab, "Murid belum mempunyai kepercayaan diri untuk jabatan itu." Mendengar jawaban itu Nabi gembira.

Ayat 7

(1) Nabi bersabda, "Jalan Suci bila tidak dapat dijalankan, Kukira lebih baik dengan naik rakit pergi ke laut lepas. Dalam hal ini hanya Tiong-yulah dapat mengikuti Aku."

(2) Mendengar itu Cu-lo sangat gembira. Nabi bersabda, "Yu, sungguh keberanianmu melebihi Aku; sayang kurang pandai memikirkan persoalannya." (S.S. IX : 14).

Ayat 8

(1) Bing Bu-pik bertanya apakah Cu-lo seorang yang berperi Cinta Kasih. Nabi menjawab, "Aku tidak tahu." (S.S. II : 6).

(2) Ketika ditanya lagi, Nabi bersabda, Yu boleh disuruh mengatur angkatan perang suatu negara yang mempunyai seribu kereta perang, tetapi entahlah tentang Peri Cinta Kasihnya." (T.S. VIII).

(3) "Bagaimanakah tentang Kiu (Jiamkiu)?" "Kiu boleh disuruh menjadi kepala daerah yang mempunyai seribu keluarga atau suatu marga dengan seratus kereta perang. Tetapi entahlah tentang Peri Cinta Kasihnya."

(4) "Bagaimana dengan Chik (Kong-see Chik)?" "Chik boleh disuruh memakai pakaian upacara berdiri di istana untuk melayani atau menemui para tamu; namun, entahlah tentang Peri Cinta Kasihnya." (S.S. VI : 4).

Ayat 9

(1) Nabi bertanya kepada Cu-khong, "Engkau dengan Hwee, siapakah kiranya lebih tangkas berpikir?"

(2) Cu-khong menjawab, "Bagaimana Su berani membandingkan diri dengan Hwee? Hwee bila mendengar satu dapat mengerti sepuluh, sedangkan Su bila mendengar satu dapat mengerti paling-paling dua."

(3) Nabi bersabda, "Memang tidak sebanding. Bahkan Aku denganmu tidak sebanding dengannya."

Ayat 10

(1) Cai-i tidur pada siang hari. Nabi bersabda, "Kayu lapuk tidak dapat diukir, dinding dari tanah liat tidak dapat dikapur; kepada I tidak perlu kusesalkan."

(2) Nabi bersabda, "Dahulu Aku terhadap seseorang, setelah mendengar kata-katanya, Aku percaya akan perbuatannya; tetapi, sekarang bila Aku mendengar kata-katanya, lalu Kuperiksa perbuatannya. I-lah yang menyebabkan Aku mengubah pendirian." (S.S. III : 21).

Ayat 11

Nabi bersabda, "Aku belum pernah melihat orang yang benar-benar berkemauan keras." Ada orang berkata, "Sien Ting!" Nabi bersabda, "Ting terlalu banyak berkeinginan. Bagaimana dapat berkemauan keras?"

Ayat 12

Cu-khong berkata, "Aku tak ingin orang lain merecoki aku, maka akupun tak ingin merecoki orang lain." Nabi bersabda, "Su, itu kiranya belum menjadi kemampuanmu." (A.B. IX : 4).

Ayat 13

Cu-khong berkata, "Ajaran Guru tentang Kitab-kitab, dapat kuperoleh dengan mendengar; tetapi Ajaran Guru tentang Watak Sejati dan Jalan Suci Tuhan, tidak dapat kuperoleh (hanya) dengan mendengar."

Ayat 14

Cu-lo bila mendengar suatu ajaran dan belum berhasil menjalankannya, ia takut kalau-kalau mendengar ajaran baru pula.

Ayat 15

Cu-khong bertanya, "Mengapakah Khong Buncu diberi gelar Bun (Pujangga)?" Nabi menjawab, "Ia seorang yang pandai, tetapi suka belajar dan tidak malu bertanya sekalipun kepada bawahannya. Maka ia diberi gelar Pujangga."

Ayat 16

Nabi bersabda tentang Cu-san, "Ia telah dapat melaksanakan empat syarat Jalan Suci seorang Kuncu. Di dalam perbuatannya sehari-hari ia selalu bersikap hormat, di dalam mengabdi kepada atasannya selalu dengan sikap sungguh-sungguh, di dalam memelihara kesejahteraan rakyat ia selalu bermurah hati, dan di dalam memerintah rakyat selalu berdasar Kebenaran." (S.S. XIV : 9; Bc. IV B.2).

Ayat 17

Nabi bersabda, "Sungguh pandai bergaul Yan Ping-tiong; semakin lama semakin menumbuhkan sikap hormat."

Ayat 18

Nabi bersabda, "Cong Bun-tiong mendirikan rumah untuk seekor kura-kura besar, puncak tiang utamanya diukir bentuk gunung-gunungan dan pada tiang-tiang lainnya dilukisi gambar-gambar ganggeng. Entah orang pandai macam apa ia!"

Ayat 19

Cu-tiang bertanya, "Ling Ien (menteri) Cu-bun tiga kali diangkat menjadi Ling Ien, wajahnya tidak pernah menunjukkan gembira karenanya; tiga kali dihentikan dari jabatannya juga tidak kelihatan kecewa, bahkan segenap hal yang diurus kementeriannya diterangkan satu per satu kepada menteri yang Baru. Bagaimanakah dia itu?" Nabi menjawab, "la seorang yang Satya." "Bukankah dia seorang Yang berperi Cinta Kasih?"

"Aku belum tahu ia dalam hal-hal lain. Bagaimana Aku dapat mengatakan ia berperi Cinta Kasih?"

(2) "Ketika Cweecu membunuh pangeran Negeri Cee, Tien Buncu sekalipun mempunyai sepuluh kereta serta kudanya, ia rela meninggalkan negerinya dan mengembara. Setiba di negeri lain ia berkata, 'Di sini pun ada orang semacam Cweecu.' Ia lalu mengembara lagi. Setiba di negeri lain, ia berkata pula, 'Di sini pun ada orang semacam Cweecu.' Dan iapun mengembara lagi."Bagaimanakah dia ini?" Nabi menjawab, "Ia seorang yang bersih." "Bukankah ia seorang yang berperi Cinta Kasih?" "Aku belum tahu ia dalam hal-hal lain. Bagaimana aku dapat mengatakan ia berperi Cinta Kasih?"

Ayat 20

Kwi Buncu setelah tiga kali berpikir barulah berani melaksanakan hasratnya. Mendengar itu Nabi bersabda, "Cukup dua kali saja."

Ayat 21

Nabi bersabda, "Ling Bucu pada saat negeri di dalam Jalan Suci ia berlaku Bijaksana, tetapi pada waktu negeri ingkar dari Jalan Suci ia membodoh. Kebijaksanaannya orang masih dapat menyamai, tetapi sikap membodohnya, orang lain tidak dapat menyamai."

Ayat 22

Ketika di negeri Tien, Nabi bersabda, "Marilah pulang! Marilah pulang! Murid-muridKu di sana masih banyak yang bercita-cita tinggi, berkemauan besar dan pandai dalam kesusasteraan; tetapi belum mengetahui bagaimana harus menyempurnakan dirinya." (S.S. XV : 2; Bc. VII B : 37).

Ayat 23

Nabi bersabda, "Pik-i dan Siok-cee tidak mengingat-ingat kejahatan lama orang lain, maka sedikitlah orang yang menyesalinya." (Bc. II. A : 2; S.S. VII: 15).

Ayat 24

Nabi bersabda, "Siapa berkata Bising Koo jujur? Ketika ada orang meminta cuka, ia memintakan dari tetangganya untuk memberinya."

Ayat 25

Nabi berkata, "Pandai memutar kata-kata, bermanis muka dan hormat yang berlebih-lebihan; Coo Khiubing merasa malu untuk melakukan, Aku juga merasa malu. Di dalam hati membenci, tetapi berpura-pura baik dan bersahabat; Coo Khiubing merasa malu untuk melakukan, Akupun malu." (S.S. I : 3).

Ayat 26

Nabi duduk, Gan Yan dan Kwi-lo mendampinginya. Nabi bersabda, "Mengapa kalian tidak menyatakan cita-citamu?"

(2) Cu-lo berkata, "Murid ingin mempunyai kereta berkuda dan pakaian indah berbulu ringan untuk murid pakai bersama kawan-kawan; dan, sekalipun terusakkan, murid tidak menyesal."

(3) Gan Yan berkata, "Murid ingin tidak menonjolkan kebaikan diri dan memamerkan jasa."

(4) Cu-lo berkata pula, "Murid ingin pula mendengar cita-cita Guru."

Nabi bersabda, "Aku ingin membahagiakan orang-orang yang sudah lanjut usianya, bersikap Dapat Dipercaya kepada kawan dan sahabat, dan mengasuh para muda dengan kasih sayang."

Ayat 27

Nabi bersabda, "Sayang, Aku belum menemukan orang yang setelah dapat melihat kesalahan sendiri lalu benar-benar menyesali dan memperbaiki diri."

Ayat 28

Nabi bersabda, "Setiap desa yang terdiri dari sepuluh keluarga, niscaya ada orangnya yang sama Satya dan Dapat Dipercaya seperti Khiu; tetapi, belum tentu ada yang dapat menyamai kesukaan Khiu dalam belajar."