Si Shu

Kitab Empat · 四书

Lun Yu · Sabda Suci

Bab 4

Ayat 1

Nabi bersabda, "Bertempat tinggal dekat tempat kediaman orang yang berperi Cinta Kasih, itulah yang sebaik-baiknya. Bila tidak mau memilih tempat yang disuasanai Cinta Kasih itu, bagaimana memperoleh Kebijaksanaan?" (Bc. IIA. 7/2).

Ayat 2

Nabi bersabda, "Seorang yang tidak berperi Cinta Kasih, tidak tahan lama di dalam penderitaan, dan tidak tahan lama di dalam kesenangan. Seorang yang berperi Cinta Kasih, merasakan sentosa di dalam Cinta Kasih dan seorang yang Bijaksana, merasakan beruntung di dalam Cinta Kasih." (S.S. XV. 9).

Ayat 3

Nabi bersabda, "Hanya seorang yang penuh Cinta Kasih saja dapat mencintai dan membenci orang." (A.B. X 15).

Ayat 4

Nabi bersabda, "Bila cipta selalu ditujukan kepada Cinta Kasih, tiada sarang bagi kejahatan." (S.S. XIV : 6)

Ayat 5

(1) Nabi bersabda, "Kaya dan berkedudukan mulia ialah keinginan tiap orang, tetapi bila tidak dapat dicapai dengan Jalan Suci, janganlah ditempati. Miskin dan berkedudukan rendah ialah kebencian tiap orang, tetapi bila tidak dapat disingkiri dengan Jalan Suci, janganlah ditinggalkan."

(2) "Seorang Kuncu bila meninggalkan Cinta Kasih, bagaimanakah memperoleh sebutan itu?"

(3) "Seorang Kuncu sekalipun sesaat makan tidak melanggar Cinta Kasih; di dalam kesibukan juga demikian, bahkan di dalam topan dan bahayapun ia tetap demikian."

Ayat 6

(1) Nabi bersabda, "Aku belum pernah melihat orang yang benar-benar menyukai Cinta Kasih dan benar-benar membenci laku yang tidak Cinta Kasih. Seorang yang benar-benar menyukai Cinta Kasih, tidak ada hal lain yang lebih dimuliakan daripadanya. Seorang yang benar-benar membenci laku yang tidak Cinta Kasih selalu berusaha melaksanakan Cinta Kasih sedemikian rupa, sehingga tidak memungkinkan barang sesuatu yang tidak berperi Cinta Kasih melekat pada dirinya.

(2) Bila suatu hari seseorang mengerahkan seluruh kekuatannya dalam Cinta Kasih, Aku belum pernah melihat ia akan kekurangan tenaga. Mungkin ada juga, tetapi Aku belum pernah melihatnya."

Ayat 7

Nabi bersabda, "Adapun kesalahan seseorang itu masing-masing sesuai dengan sifatnya. Bahkan dari kesalahannya dapat diketahui apakah ia seorang yang berperi Cinta Kasih. (S.S. I : 8).

Ayat 8

Nabi bersabda, "Pagi mendengar akan Jalan Suci, sore hari matipun ikhlas."

Ayat 9

Nabi bersabda, "Seorang siswa yang benar-benar hendak hidup di dalam Jalan Suci, tetapi masih malu berpakaian buruk dan makan tidak enak, sesungguhnya ia belum masuk hitungan." (S.S. XIV : 2).

Ayat 10

Nabi bersabda, "Seorang Kuncu terhadap persoalan di dunia tidak mengiakan atau menolak mentah-mentah. Hanya Kebenaranlah yang dijadikan ukuran."

Ayat 11

Nabi bersabda, "Seorang Kuncu senantiasa ingat akan Kebajikan, sedangkan seorang rendah budi hanya ingat kenikmatan; seorang Kuncu senantiasa ingat akan hukum, sedangkan seorang rendah budi hanya mengharapkan belas kasihan orang." (S.S. XIV : 2).

Ayat 12

Nabi bersabda, "Seorang yang hanya mengejar keuntungan saja, niscaya banyak yang menyesalkan." (A.B. X : 23).

Ayat 13

Nabi bersabda, "Bila orang dapat menggunakan Kesusilaan dan Kerendahan Hati di dalam mengatur negara, apakah kesukarannya? Kalau tidak dapat menggunakan Kesusilaan dan Kerendahan Hati di dalam mengatur negara, apakah guna Kesusilaan?" (S.S. I : 12).

Ayat 14

Nabi bersabda, "Janganlah khawatir tiada kedudukan, berkhawatirlah kalau tidak mempunyai kecakapan untuk suatu kedudukan; janganlah khawatir tiada orang yang mengetahui dirimu, tetapi berusahalah agar mempunyai kecakapan yang patut diketahui."

Ayat 15

Nabi bersabda, "Cham, ketahuilah, Jalan SuciKu itu satu, tetapi menembusi semuanya." Cingcu menjawab, "Ya, Guru."

(2) Setelah Nabi pergi, murid-murid lain bertanya, "Apakah maksud kata-kata tadi?" (A.B. X 1,2; T.S. XII S.S. VI : 30; XII : 2; XV : 3).

(3) Cingcu menjawab, "Jalan Suci Guru, tidak lebih tidak kurang ialah Satya dan tepasarira." (T.S. XII 4).

Ayat 16

Nabi bersabda, "Seorang Kuncu hanya mengerti akan Kebenaran, sebaliknya seorang rendah budi hanya mengerti akan keuntungan."

Ayat 17

Nabi bersabda, "Bila melihat seorang yang Bijaksana, berusahalah menyamainya; dan, bila melihat seorang yang tidak Bijaksana, periksalah dirimu sendiri."

Ayat 18

Nabi bersabda, "Di dalam melayani ayah bunda, boleh memperingatkan (tetapi hendaklah lemah lembut). Bila tidak diturut, bersikaplah lebih hormat dan janganlah melanggar. Meskipun harus bercapai lelah, janganlah menggerutu." (S.S. XX : 2).

Ayat 19

Nabi bersabda, "Pada saat orang tua masih hidup, janganlah jauh mengembara. Bila terpaksa mengembara, haruslah mempunyai tujuan yang tertentu."

Ayat 20

Nabi bersabda, "Bila seseorang selama tiga tahun tidak mengubah Jalan Suci ayahnya, bolehlah ia dinamai berbakti." (S.S. I : 11).

Ayat 21

Nabi bersabda, "Usia ayah bunda tidak boleh tidak diketahui; di satu pihak boleh merasa gembira, di lain pihak harus merasa khawatir."

Ayat 22

Nabi bersabda, "Adapun sebabnya orang jaman dahulu merasa sukar mengucapkan kata-kata, ialah karena merasa malu kalau tidak dapat melaksanakannya." (S.S. XIV : 20).

Ayat 23

Nabi bersabda, "Seseorang yang dapat membatasi dirinya, sekalipun mungkin berbuat salah, pasti jaranglah terjadi."

Ayat 24

Nabi bersabda, "Seorang Kuncu lambat bicara tetapi tangkas bekerja." (S.S. XIII : 27).

Ayat 25

Nabi bersabda, "Kebajikan tidak akan terpencil, ia pasti beroleh tetangga."

Ayat 26

Cu-yu berkata, "Dalam mengabdi kepada pemimpin bila berkali-kali memperingatkan, niscaya akan beroleh malu. Dalam bersahabat, bila berkali-kali memperingatkan, niscaya akan renggang."