Nabi Khongcu berkata tentang keluarga Kwi, Mereka mementaskan tarian Pat Iet di balai rumahnya. Ini keterlaluan. Kalau hal ini dapat dilakukan, apa lagi yang tidak akan dilakukan?"(S.S. II: 5).
Bab 3
Ketiga Keluarga Besar Negeri Lo (Bing, Siok dan Kwi) pada saat melakukan upacara sembahyang kepada leluhurnya menggunakan lagu pujian 'Yong'. Nabi bersabda, "Di dalam lagu itu tercantum 'Dengan dibantu para pangeran, kaisar hening hormat memuja'. Bagaimanakah kalimat ini digunakan di ruang rumah ke tiga Keluarga itu?" (Siking IV. 1 B.7).
Nabi bersabda, "Bagi seorang yang tidak berperi Cinta Kasih, apa arti kesusilaan? Bagi seorang yang tidak berperi Cinta Kasih, apa arti Musik?"
Liem Hong bertanya tentang Pokok Kesusilaan.
(2) Nabi menjawab, "Sungguh sebuah pertanyaan besar!"
(3) "Di dalam upacara, daripada mewah menyolok, lebih baik sederhana. Di dalam upacara duka, daripada meributkan perlengkapan upacara, lebih baik ada rasa sedih yang benar."
Nabi bersabda, "Bangsa I dan Tik masih mempunyai raja, tidak seperti waris Kerajaan He ini yang seolah-olah sudah tidak mempunyainya." (S.S. IX : 14).
Tatkala Keluarga Kwi melakukan upacara sembahyang di Gunung Thai, Nabi bertanya kepada Jiam Yu, "Tidak dapatkah engkau mencegahnya?" Dijawab, "Tidak dapat!" Nabi bersabda, "Ah, akan dikatakankah, bahwa Gunung Thai tidak dapat menyamai Liem Hong?"
Nabi bersabda, "Seorang Kuncu tidak mau berebut. Kalau berebut, itu hanya pada saat berlomba memanah. Mereka saling mengalah dan memberi hormat dengan cara Iep, lalu naik ke panggung dan berlomba; kemudian turun dan yang kalah meminum anggur. Meskipun berebut tetap seorang Kuncu." (T.S. XIII: 5; Bc IIA : 7/5).
(1) Cu-he bertanya, "Apakah arti kalimat 'Betapa manis tawanya, betapa elok cahaya matanya, semua dari dasar putih dibubuhi warna'?"
(2) Nabi menjawab, "Itulah cara orang menggambar, lebih dahulu didasari putih, lalu dibubuhi warna-warna."
(3) Cu-he bertanya, "Kalau begitu. Tata Susilakah yang harus didasari (Cinta Kasih)?" Nabi menjawab, "Engkaulah Siang yang menyedarkanKu! Sekarang dapat Kuajak engkau merundingkan isi Kitab Sanjak"
Nabi bersabda, "Kesusilaan Kerajaan He dapat Kubicarakan, tetapi Negeri Ki kurang memberi bukti-bukti. Kesusilaan Kerajaan Ien dapat Kubicarakan, tetapi Negeri Song kurang memberi bukti-bukti. Itu disebabkan di sana tidak mempunyai cukup dokumen-dokumen serta orang-orang yang dapat menjelaskannya. Kalau cukup, niscaya Aku dapat memperoleh bukti-buktinya." (T.S. XXVII : 5; S.S. II:23).
Nabi bersabda, "Di dalam upacara Sembahyang Tee (Upacara sembahyang Besar kepada Tuhan) itu, setelah dilakukan upacara menuang anggur Aku sudah tidak ingin melihatnya lagi."(T.S. XVIII:6).
Ada orang bertanya tentang upacara Sembahyang Tee. Nabi menjawab, "Aku tidak tahu. Yang tahu akan hal itu, ia akan dapat mengatur dunia semudah orang melihat ini!" Sambil menunjuk tapak tangannya.
(1) Pada waktu sembahyang kepada leluhur, hayatilah akan kehadirannya dan waktu sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Rokh, hayatilah pula akan kehadiranNya.
(2) Nabi bersabda, "Kalau Aku tidak ikut sembahyang sendiri, Aku tidak merasa sudah bersembahyang."
(1) Ong Sun-ke bertanya, "Apakah maksud peribahasa 'Daripada bermuka-muka kepada malaikat Oo (malaikat ruang Barat Daya rumah), lebih baik bermuka-muka kepada Malaikat Co (Malaikat Dapur)' itu?"
(2) Nabi bersabda, "Itu tidak benar. Siapa berbuat dosa kepada Tuhan, tiada tempat (lain) ia dapat meminta do'a."
Nabi bersabda, "Kerajaan Ciu meneladan kedua kerajaan yang mendahuluinya dan ternyata megah kebudayaannya. Maka Akupun mengikuti jejak Kerajaan Ciu." (T.S. XXVII : 5).
Tatkala Nabi masuk ke dalam Bio Besar (untuk memperingati Pangeran Ciu), segenap hal ditanyakan. Ada orang berkata, "Siapa berkata anak Negeri Co itu mengerti Kesusilaan? Masuk ke dalam Bio Besar segenap hal ditanyakan. "Mendengar itu Nabi bersabda, "Justru demikian inilah Kesusilaan." (S.S. X:1)
Nabi bersabda, "Di dalam perlombaan memanah, tidak diutamakan tembusnya kulit bulan-bulannya, karena tenaga seseorang tidaklah sama. Ini sudah diadatkan sejak dahulu kala." (Bc. IIA. 7/5).
(1) Cu-khong ingin menghapus korban kambing pada upacara Bulan Baru.
(2) Nabi bersabda, "Su, engkau menyayangkan kambingnya, Aku menyayangkan upacaranya."
Nabi bersabda, "Bila mengabdi kepada pemimpin dengan benar-benar menjalankan upacaranya, orang lain menganggapnya penjilat."
(1) Pangeran Ting bertanya, "Bagaimanakah hendaknya seorang pemimpin memerintah pembantunya dan seorang pembantu mengabdi pemimpinnya?"
(2) Nabi menjawab, "Seorang pemimpin hendaknya memerintah pembantunya sesuai dengan Kesusilaan dan seorang pembantu mengabdi pemimpinnya dengan Kesatyaan."
Nabi bersabda, "Sanjak Kwan-chi itu menggembirakan, tetapi tidak melanggar kesopanan; mengharukan tetapi tidak membuat merana." (Siking I.1.1).
(1) Pangeran Ai bertanya kepada Cai-ngo tentang keistimewaan pohon yang ditanam di tempat sembahyang kepada Malaikat Bumi.
Cai-ngo menjawab, Pada jaman Kerajaan He ditanam pohon Siong, pada jaman Kerajaan Ien ditanam pohon Pik, tetapi pada jaman Kerajaan Ciu ini ditanam pohon Lik dan dikatakan supaya rakyat gemetar ketakutan." (Bc. II A. 1/10).
(2) Ketika mendengar hal itu, Nabi bersabda, "Hal yang sudah terjadi tidak perlu dipercakapkan, hal yang sudah terlanjur tidak perlu dicegah, dan hal yang sudah lampau tidak perlu disalah-salahkan.' (S.S. II:19 ; V:10).
(1) Nabi bersabda, Sesungguhnya sangat kecil kepribadian Kwan-tiong. (S.S. XIV:9).
(2) Ada orang bertanya, "Bukankah itu disebabkan Kwan-tiong sangat hemat?" Nabi menjawab, "Kwan-tiong mempunyai panggung Sam-kui, dan mempunyai banyak pegawai yang khusus mengerjakan satu tugas saja. Bagaimanakah ia dapat dikatakan hemat?"
(3) "Tetapi bukankah itu menunjukkan Kwan-tiong banyak mengerti Kesusilaan?" Nabi menjawab pula, "Para raja muda membangun tembok di muka pintu gerbang istananya, Kwan-tiong juga membangun tembok di muka pintu rumahnya. Para raja muda membangun panggung untuk menerima raja muda lain yang datang berkunjung ke istananya, Kwan-tiong membangunnya juga. Maka, kalau Kwan-tiong dikatakan mengerti Kesusilaan, siapakah yang tidak mengerti Kesusilaan?"
Nabi bersabda kepada guru besar musik Negeri Lo, "Hal yang dapat diketahui tentang musik, ialah : Pada permulaannya suara harus cocok. Selanjutnya suara musik itu harmonis meninggi menurun dengan nada jernih dan tidak terputus-putus; demikianlah sampai akhirnya."
Penjaga tapal Batas Negeri Gi mohon bertemu dengan Nabi dan berkata, "Setiap ada seorang Kuncu lewat di sini, aku tidak pernah tidak menemuinya."
(2) Oleh para murid ia disilakan menemuiNya.
(3) Setelah keluar , ia berkata, "Saudara-saudaraku, mengapa kalian nampak bermuram durja karena kehilangan kedudukan? Sudah lama dunia ingkar dari Jalan Suci, kini Tuhan YME menjadikan Guru selaku Bok-tok (Genta)." (S.S. VII: 23; IX : 5).
Tentang musik Siau, Nabi bersabda, "Sungguh indah dan sempurna." Tentang musik Bu, Nabi bersabda, "Sungguh indah, namun belum sempurna." (S.S. VII : 14).
Nabi bersabda, "Seorang berkedudukan tinggi yang tidak dapat berlapang hati; menjalankan upacara tiada rasa hormat; dan, di dalam hal kematian tiada rasa sedih; bagaimana Aku tahan melihatnya?"