(1) Bingcu berkata, "Pik-i tidak mau mengabdi yang bukan rajanya, tidak mau bersahabat dengan yang bukan sahabatnya, tidak mau memangku jabatan di istana orang jahat, tidak mau berbicara dengan orang jahat. Berdiri di istana orang jahat, ia merasa seperti dengan mengenakan pakaian dan topi kerajaan duduk diantara lumpur dan abu. Untuk menunjukkan betapa bencinya akan hal-hal yang buruk, bila ia kebetulan berdiri bersama-sama orang di kampung, kalau ada yang topinya tidak lurus pada tempatnya; segera ia pergi dari tempat itu seolah-olah khawatir dirinya ikut ternoda. Maka biarpun ada diantara para rajamuda yang dengan baik menyampaikan undangan, ia tidak mau menerimanya. Ia tidak mau menerima ini ialah karena ia tidak mau melakukan hal-hal yang dapat menodakan dirinya."
(2) "Liu-he Hwi tidak malu bekerja pada raja yang buruk, ia tidak memandang apakah kedudukannya itu rendah. Bila memangku jabatan ia tidak menyembunyikan Kebijaksanaannya. Dia tentu berusaha melaksanakan Jalan Suci. Bila kehilangan jabatan, iapun tidak menyesal. Biarpun kehidupannya terjepit oleh kesengsaraan, iapun tidak bersedih. Maka ia berkata, 'Kamu, ialah kamu, aku ialah aku. Walau kamu berdiri disampingku dengan dada dan lengan terbuka, bahkan bertelanjangpun; masakan kamu dapat menodai diriku.' Maka ia dapat berkumpul dengan siapapun dengan tidak kehilangan diri. Bila ia akan menyingkirkan diri, lalu ada orang menahannya berhenti; iapun berhenti. Ini ialah karena ia yakin kesuciannya tidak memerlukan ia harus pergi." (SS.XV:14; XVIII: 2.8)
(3) Bingcu berkata, "Pik-i berpandangan sempit, sedangkan Liu-he Hwi kurang menghargai kehormatan. Berpandangan sempit maupun tidak menghargai kehormatan, seorang Kuncu tidak akan mengikutinya."