Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi

Bab 2a

Ayat 1

(1) Kong-sun Thio bertanya, "Bila guru beroleh jabatan tertinggi di Negeri Cee, dapatkah pekerjaan-pekerjaan besar seperti yang telah dilakukan oleh Kwan Tiong dan Yancu itu terulang kembali?"

(2) Bingcu menjawab, "Kamu sungguh-sungguh seorang Negeri Cee, maka hanya Kwan Tiong dan Yancu kamu ketahui."

(3) "Dahulu ada seorang bertanya kepada Cing See demikian, 'Antara guru dan Culo, siapakah lebih Bijaksana?' Cing See dengan wajah gelisah menjawab, 'Beliau ialah orang yang bahkan sangat dihormati oleh nenekku.' 'Tetapi, bagaimanakah kalau guru dibandingkan dengan Kwan Tiong, siapakah lebih Bijaksana?' Cing See dengan wajah agak marah dan kurang senang menjawab, 'Bagaimana kamu berani membandingkan aku dengan Kwan Tiong? Kwan Tiong mendapat kepercayaan dari raja muda, sehingga ia dapat menjalankan kekuasaan dan mengatur pemerintahan. Ia begitu lama memangku jabatan, tetapi akan jasanya, tidak lebih hanya demikian saja! Mengapakah kamu membandingkan aku dengannya?' "

(4) "Orang semacam Kwan Tiong, Cing See pun tidak mau menjadikannya sebagai teladan, bagaimanakah sekarang aku akan meneladan kepadanya?"

(5) "Kwan Tiong dapat mengangkat tuannya menjadi raja muda pemimpin di antara para raja muda. Yancu dapat memasyhurkan nama tuannya. Mengapakah perbuatan sebagai yang telah dilakukan oleh Kwan Tiong dan Yancu masih guru anggap tidak mencukupi?"

(6) "Pada saat itu sesungguhnya untuk menjadikan Raja Cee menjadi raja besar adalah semudah orang membalikkan tapak tangan."

(7) "Keterangan ini menyebabkan murid lebih tidak mengerti. Sedangkan Raja Bun yang sedemikian besar Kebajikannya dan hidup hampir seratus tahun, belum juga dapat pengaruhnya menjalar ke seluruh dunia. Setelah dilanjutkan Raja Bu dan Pangeran Ciu barulah pengaruhnya itu terlaksana penuh. Kini guru berkata, bahwa untuk mengangkatnya menjadi raja besar adalah sedemikian mudahnya. Apakah jasa-jasa Raja Bun itu juga masih belum memadai?".

(8) "Siapakah dapat menandingi Raja Bun? (Kalau ia tidak dapat cepat berhasil itu, ialah karena) sejak Raja Sing Thong sampai Raja Bu-ting telah memerintah enam atau tujuh orang raja suci dan bijaksana; maka seluruh dunia sudah lama tunduk kepada Dinasti Ien. Karena sudah lama, maka sukarlah terjadi perubahan. Bahkan Raja Bu-ting sendiri masih dapat mengumpulkan dan mengatur para raja muda sedunia semudah memutar barang di atas tapak tangan. Pindahnya kekuasaan dari Bu-ting kepada Tiu belum begitu lama, maka keluarga menteri-menteri yang setia serta adat lembaganya, pengaruh pendidikan dan pemerintahannya yang baik, masih terpelihara. Bahkan masih ada Bicu, Bitiong, Pangeran Pi-kan, Kicu dan Kau-kik yang semuanya ialah orang-orang bijaksana; semuanya dengan segenap hati membantunya; maka, membutuhkan waktu lama untuk memusnahkan kekuasaannya. Pada waktu itu tiap jengkal tanah masih menjadi miliknya dan tiap orang tiada yang bukan rakyatnya. Lagi pula pada saat itu Raja Bun hanya menduduki tanah seluas 100 li, maka sukarlah pekerjaan yang akan dilaksanakan itu." (SS. XVIII:1).

(9) "Orang Negeri Cee mempunyai peribahasa, 'Walaupun punya kecakapan dan kecerdikan, sesungguhnya tidak sebanding dengan yang dapat menggunakan kesempatan. Walaupun punya cangkul dan bajak, sesungguhnya tidak sebanding dengan yang dapat menggunakan musim. Dan saat itu (bagi Kwan Tiong) ialah waktu yang sebaik-baiknya.' "

(10) "Ketika Dinasti He, Ten dan Ciu sedang jaya-jayanya, tanahnya tidak lebih dari 1000 li luasnya; sedangkan Negeri Cee sudah mempunyai tanah seluas itu. Suara ayam berkokok dan anjing menyalak terdengar di mana-mana, sampai ke empat penjuru negara; ini menunjukkan kepadatan penduduk Negeri Cee. Maka dengan tanpa mengubah batas negara, tanpa mengubah jumlah penduduk, asalkan dijalankan pemerintahan yang berlandas Cinta Kasih; niscaya dapat menjadi raja besar dan tiada yang dapat menahannya." (SS.III.21)

(11) "Apalagi sudah lama tidak ada raja yang benar-benar menjalankan tugasnya, dan rakyat yang ditindas pemerintahnya tiada yang pernah lebih hebat dari saat itu kesengsaraannya. Orang yang lapar akan puas dengan segala makanan dan orang yang haus akan puas dengan sembarang minuman." (VII A:27)

(12) "Khongcu bersabda, 'Menjalarnya Kebajikan itu sesungguhnya lebih cepat dari kereta atau orang pengantar surat perintah raja'."

(13) "Ketika itu ialah saatnya! Bila ada negara yang mempunyai 10.000 kereta perang, dapat menjalankan pemerintahan yang berlandas Cinta Kasih; niscaya rakyat akan sangat bersuka-ria sebagai orang yang dilepaskan dari tiang gantungan. Maka saat itu bila dapat dilakukan separuh saja dari usaha yang dilakukan orang kuno itu, niscaya hasilnya dapat berlipat ganda. Dan hanya saat itulah sebaik-baiknya dapat dilaksanakan hal itu"

Ayat 2

(1) Kong-sun Thio bertanya, "Bila guru diangkat sebagai perdana menteri Negeri Cee sehingga dapat melaksanakan Jalan Suci, tidak mengherankan guru akan dapat mengangkat raja disini menjadi raja muda pemimpin di antara para raja muda, bahkan menjadi raja besar. Namun tiadakah sedikitpun kebimbangan hati?" Bingcu menjawab, "Tidak ! Sejak usia 40 tahun, aku sudah tiada kebimbangan hati."

(2) "Kalau begitu guru jauh melampaui Bing Phun?"

"Ini tidak sukar. Kocu itu bahkan lebih mendahului aku mencapai tiada kebimbangan hati."

(3) "Adakah cara memperoleh tiada kebimbangan hati itu?" "Ada."

(4) "Pak-kiong Yu memelihara Keberaniannya demikian : Ia tidak mengerutkan kulit oleh pukulan atau mengejapkan mata oleh tusukan. Ia berpendapat, bila sehelai rambutnya saja disinggung orang, ia merasa seperti dipukul dan dimaki ditengah pasar. Ia tidak mau menerima hinaan, biar dari seorang miskin yang berpakaian jembel maupun dari seorang raja yang punya selaksa kereta perang. Baginya, menikam seorang raja yang mempunyai selaksa kereta perang adalah sama saja dengan menikam seorang yang berpakaian jembel. Ia tidak merasa takut biar kepada para raja muda. Bila mendengar kata-kata yang tidak baik, segera membalasnya."

(5) "Bing See-sia didalam memelihara Keberaniannya, berkata demikian, 'Aku memandang kemenangan atau kekalahan itu sama saja. Kalau harus lebih dahulu menimbang-nimbang kekuatan musuh baharu berani maju atau setelah berpikir dapat menang baru menyerbu, ini tandanya takut kepada barisan musuh. Aku tidak dapat memastikan beroleh kemenangan, tetapi aku dapat menjamin tiada rasa takut.'"

(6) "Bing See-sia ini menyerupai Cingcu dan Pak-kiong Yu menyerupai Cuhe. Dan kedua orang yang berani ini, belum kuketahui siapa lebih bijaksana. Hanya saja, nampaknya Bing See-sia lebih dapat menjaga apa yang lebih perlu."

(7) " Dahulu Cingcu pernah berkata kepada Cu-Siang, 'Kamu suka Keberanian, bukan ? Aku pernah dengar Keberanian yang benar dari Guru. Bila Kuperiksa diri-Ku ternyata tidak pada pihak yang benar, meski kepada seorang miskin yang berpakaian buruk, dapatkah Aku tidak merasa gentar? Bila Kuperiksa diriKu ternyata pada pihak yang benar, biar menghadapi beribu-berlaksa orang, Aku akan melawannya.' " (8) "Disini ternyata, cara Bing See-sia memelihara Hawa/Semangatnya belum sebanding dengan cara Cingcu menjaga apa yang lebih perlu."

(9) "Memberanikan bertanya, bagaimanakah hal ketidak bimbangan hati guru dan hal ketidak bimbangan hati Kocu ?" "Kocu pernah berkata, 'Apa yang tidak dapat diterima dalam pembicaraan, janganlah dicarikan pertimbangan pada pikiran; dan apa yang tidak dapat diterima pikiran, janganlah dicarikan pertimbangan pada Semangat.' Hal yang tidak dapat diterima pikiran jangan dicarikan pertimbangan pada Semangat, ini masih boleh juga. Tetapi, hal yang tidak dapat diterima dalam pembicaraan jangan dicarikan pertimbangan pada pikiran, ini tidak boleh. Adapun Cita itu ialah panglimanya Semangat, dan Semangat ini ialah hal yang memenuhi jasmani. Maka Cita itulah yang utama dan Semangat itulah yang kedua. Maka dikatakan; 'Pegang teguhlah Cita dan jangan memperkosa Semangat.' "

(10) "Tadi dikatakan, 'Cita itulah yang utama dan Semangat itulah yang kedua', mengapakah dikatakan pula: 'Pegang teguhlah Cita dan jangan memperkosa semangat'?" "Cita yang telah menyatu dapat menggerakkan Semangat, dan Semangat yang telah menyatu dapat menggerakkan Cita. Orang jatuh atau berjalan cepat, itu dikarenakan Semangat, tetapi ternyata mempengaruhi gerak Hati/Pikiran."

(11) "Memberanikan bertanya, dalam hal apakah guru lebih menang?"

"Aku mengerti makna perkataan, aku baik-baik memelihara Semangat yang menggelora."

(12) "Memberanikan bertanya, apakah Semangat yang menggelora itu?"

(13) "Itu sukar kukatakan. Semangat itu sangat besar dan sangat kuat. Bila dipelihara benar-benar sehingga tidak terusakkan, ia dapat memenuhi ruang antara langit dan bumi ini."

(14) "Semangat ini adalah jodoh dan pembantu Kebenaran dan Jalan Suci; tanpa itu akan kelaparan."

(15) "Dia tumbuh hidup karena berkumpul dengan Kebenaran yang terus-menerus, bukan karena satu dua kali berbuat Benar. Bila perbuatan tidak benar-benar sesuai dengan Hati, akan kelaparan juga. Maka aku berkata bahwa Kocu masih belum tahu jelas akan Kebenaran, karena ia menganggap hal itu sebagai sesuatu di luar dirinya." (VI A.5) (16) "Usahakanlah hal itu terus-menerus tanpa lebih dahulu mengharapkan hasilnya. Hati janganlah lengah, jangan pula membantu tumbuh; janganlah berbuat seperti orang Negeri Song itu. Di Negeri Song ada seseorang yang karena tidak sabar melihat tumbuh tanam-tanaman padinya lalu menariki pucuk tanaman itu. Kemudian ia bergegas-gegas pulang dan berkata kepada keluarganya, 'Hari ini aku sungguh lelah. Aku sudah membantu padi-padi itu tumbuh lebih panjang.' Anaknya segera lari melihatnya, ternyata padi-padi itu sudah layu semua. Sesungguhnya orang di dunia ini yang tidak 'membantu tumbuh' padinya, sangat jaranglah. Orang yang tidak melihat faedah mengusahakannya dan membiarkannya saja ialah seperti orang yang tidak mau menyiangi padinya. Tetapi orang yang membantunya tumbuh, ialah seperti menariki pucuk tanaman padinya. Bukan saja tidak berfaedah, bahkan merusaknya."

(17) "Apakah yang dimaksud dengan 'mengerti makna perkataan' itu?" "Bila orang kata-katanya menyebelah, aku tahu ia merahasiakan sesuatu. Bila orang kata-katanya berlebih-lebihan, aku tahu ia tenggelam dalam persoalan itu. Bila orang kata-katanya menyasar, aku tahu ia sudah meninggalkan Kebenaran. Bila orang kata-katanya meloncat-loncat, aku tahu ia dalam keputusasaan. Bila hal ini tumbuh hidup dihati seseorang, niscaya akan merusak perkara. Bila hal ini sampai terjadi dalam pemerintahan, niscaya akan merusak urusan negara. Tentang hal ini, biarpun kelak hidup pula seorang Nabi, niscaya ia akan membenarkan kata-kataku ini," (TS. XXVIII.3)

(18)"Cai-ngo dan Cu-khong itu pandai sekali dalam berbicara; Jiam Giu, Biencu dan Gan Yan baik dalam pembicaraannya dan menjalankan Kebajikan. Tetapi, Khongcu masih bersabda, 'Dalam pembicaraan tentang Firman, Aku masih belum mampu.' Kalau begitu seorang Nabikah guru?" (SS.XI.3)

(19) "Sungguh tidak patut kata-katamu. Dahulu Cu-khong pernah bertanya kepada Khongcu, 'Seorang nabikah Guru?' Khongcu menjawab: 'Untuk menjadi seorang Nabi, Aku tidak mampu. Aku hanya belajar dengan tidak merasa jemu dan mendidik dengan tidak merasa capai.' Cu-khong berkata pula, 'Belajar dengan tidak merasa jemu itu Bijaksana, mendidik dengan tidak merasa capai itulah Cinta Kasih. Dengan mempunyai sifat Cinta Kasih dan Bijaksana sesungguhnya Guru ialah seorang Nabi.' Nah, Nabi Khongcu sendiri tidak mau mengakukan diriNya ! Sungguh terlalu kata-katamu!" (SS. VII : 2)

(20) "Dahulu murid pernah mendengar bahwa Cu-he, Cu-yu dan Cu-tiang sudah mempunyai sebagian sifat-sifat Nabi, Jiam Giu, Biencu dan Gan Yan sudah mempunyai selengkapnya walaupun dalam ukuran kecil. Memberanikan bertanya, setingkat dengan siapakah, guru?" (SS.VII.26).

(21) "Marilah kita tidak usah membicarakan mereka itu."

(22) "Bagaimanakah dengan Pik-i dan l-ien ?" "Jalan mereka lain dariku. Tidak mau mengabdi yang bukan rajanya, tidak mau memerintah yang bukan rakyatnya; negara dalam keadaan teratur memangku jabatan, negara dalam keadaan kalut, mengundurkan diri; demikianlah Pik-i. Apakah arti mengabdi bukan rajanya? Apakah arti memerintah bukan rakyatnya? Negara teratur, memangku jabatan; negara kalutpun memangku jabatan; demikianlah I-en. (SS.XII:22). Bila sebaiknya memangku jabatan, memangku jabatan; bila sebaiknya berhenti, berhenti; bila sebaiknya berlama-lama, berlama-lama; bila sebaiknya bercepat-cepat, bercepat-cepat; demikianlah Nabi Khongcu. Semuanya itu ialah nabi-nabi jaman dahulu dan aku belum dapat menjalani, tetapi bila harus memilih, aku akan belajar seperti Khongcu."

(23) "Pik-i, I-ien dan Khongcu dapatkah mereka disamakan tingkatnya?" "Tidak dapat ! Sejak adanya manusia sampai kini, belum ada yang seperti Khongcu!"

(24) "Tetapi adakah persamaannya?" "Ada ! Bila mendapat tanah seluas seratus li dan menjadi raja, mereka akan dapat menundukkan para raja muda dan akhirnya menguasai dunia. Bila untuk dapat menguasai dunia mereka harus melakukan suatu perbuatan yang tidak berdasar Kebenaran atau menghukum mati seseorang yang tak bersalah, mereka sama-sama tidak akan melakukan. Dalam hal ini mereka sama."

(25) "Memberanikan bertanya, adakah perbedaannya?" "Cai-ngo, Cu-khong dan Yu Jiak kiranya cukup Bijaksana untuk mengerti tentang seorang Nabi. Walaupun tidak sempurna, kiranya tidak akan hanya menonjolkan kebaikan orang yang disukainya."

(26) "Cai-ngo berkata, 'Menurut penglihatanku, Nabi jauh melebihi Giau ataupun Sun.' " (TS.XXIX-XXXI;SS 23-25)

(27) "Cu-khong berkata, 'Dengan melihat peri Kesusilaannya dapat diketahui pemerintahannya. Dengan mendengar lagu-lagu musiknya dapat diketahui tentang Kebajikannya. Sejak beratus jaman yang lalu itu dan membandingkan raja-raja sepanjang ratusan jaman, kiranya tidaklah salah bahwa sejak adanya manusia hingga kini, belum ada yang seperti Guru!' "

(28) "Yu Jiak berkata, 'Apakah hanya pada manusia saja ada perbedaan tingkat? Bukankah Kilien itu yang terlebih di antara hewan, Hong-hong di antara burung, Thai San di antara gunung dan bukit, dan bengawan-lautan di antara selokan-selokan? Nabi dan rakyat jelata ialah umat sejenis, tetapi dia mempunyai kelebihan di antara jenisnya. Dialah yang terpilih dan terlebih mulia. Sejak ada manusia hingga kini, sungguh belum ada yang lebih sempurna dari Khongcu.' " (S S .IX : 9)

Ayat 3

(1) Bingcu berkata, "Seorang raja muda pemimpin ialah yang menggunakan kekuatan untuk memalsukan Cinta Kasih, maka seorang raja muda pemimpin harus lebih dahulu mempunyai kerajaan yang luas. Seorang raja besar ialah yang mengembangkan Kebajikan dan melaksanakan Cinta Kasih, ia tidak harus mempunyai kerajaan yang luas lebih dahulu. Sing Thong mula-mula hanya mempunyai daerah seluas 70 li dan Raja Bun hanya mempunyai 100 li."

(2)" Bila dengan kekuatan menaklukkan orang, takluknya itu bukan karena hatinya sudah tunduk, melainkan karena kekuatannya tidak mampu melawan. Tetapi bila dengan Kebajikan menundukkan orang, benar-benar hatinya gembira dan sungguh-sungguh tunduk. Itulah seperti ketujuh puluh murid yang tunduk kepada Khongcu. Di dalam Kitab Si King tertulis, 'Dari Barat, Timur, Selatan dan Utara; tiadalah yang tak bermaksud tunduk.' (III. 1.10.b) Dernikianlah kata-kata yang menggambarkan hal itu."

Ayat 4

(1) Bingcu berkata, "Yang berperi Cinta Kasih akan di muliakan, yang tidak berperi Cinta Kasih

akan dihinakan. Kini, orang yang tidak suka terhina, tetapi tidak hidup dalam Cinta Kasih; ialah seperti orang yang tidak suka basah namun berdiam ditempat yang rendah-rendah."

(2) "Kalau benar-benar tidak suka (terhina), niscaya tiada yang lebih dihargai selain dari Kebajikan dan memuliakan para Siswa; sehingga yang Bijaksana beroleh kedudukan dan yang pandai beroleh pekerjaan. Setelah negara beres, ia menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki hukum pemerintahannya. Dengan demikian biar sebuah negara besar, niscaya menaruh segan kepadanya."

(3) "Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Sebelum udara mendung dan hujan, kukumpulkan akar berlumpur, untuk menambal, menutup pintu sarangku. Kini, hai, manusia dibawah; beranikah menghinaku?' (I.15.2.2)

Khongcu bersabda, 'Penggubah sanjak ini sudah tahu akan Jalan Suci, bahwa kepada yang dapat mengatur negara, siapakah berani menghinanya?' "

(4) "Tetapi kini bila negara beres, orang bahkan menggunakan waktunya untuk berfoya-foya dan bermalas-malas; ini mencari kecelakaan bagi diri sendiri."

(5) "Celaka dan bahagia tiada yang bukan dicari sendiri."

(6) "Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Tekun hidup sesuai Firman, memberkati diri banyak bahagia.' (III. I.1.6). Di dalam Kitab Thay-kak tertulis, 'Bahaya yang datang oleh ujian Tuhan dapat dihindari, tetapi bahaya yang dibuat sendiri tidak dapat dihindari'. Ini kiranya memaksudkan hal itu." (Su King IV.5B)

Ayat 5

(1) Bingcu berkata, "Muliakanlah yang bijaksana, berikanlah jabatan kepada yang berkepandaian, sehingga jabatan-jabatan diduduki oleh orang-orang yang tepat. Dengan demikian menyenangkan para Siswa di dunia sehingga mau memangku jabatan." (TS.XIX.5)

(2) "Barang-barang di pasar cukup dikenakan sewa tempat, janganlah dipungut dengan bermacam-macam pajak; dan barang-barang yang sudah dikenakan peraturan tertentu tidak usah dikenakan sewa tempat. Dengan demikian semua pedagang di dunia akan senang dan ingin datang ke pasar untuk berjual-beli."

(3) "Jagalah pintu kota untuk menilik orang-orang yang lewat, tetapi janganlah untuk memungut bermacam-macam pajak. Dengan demikian para pengembara di dunia ini akan senang dan ingin melewati jalan itu."(I B:5.3)

(4) "Para petani cukup disuruh membantu (mengerjakan sawah negara), janganlah ditambah dengan bermacam-macam pajak. Dengan demikian para petani di dunia ini akan senang dan ingin membajak sawah-sawah itu."

(5) "Orang-orang yang diam di sekitar pasar yang memiliki toko, janganlah dikenakan denda sebagai pemalas, dan yang tidak bercocok tanam, janganlah dikenakan denda berupa potongan-potongan kain. Dengan demikian orang-orang di dunia ini akan senang dan ingin menjadi rakyatnya."

(6) "Bila dengan penuh tanggung jawab dapat menjalankan ke-lima hal ini, biarpun rakyat negeri tetangga, akan menganggapnya (raja itu) sebagai ayah-bunda nya dan ingin menurut sebagai anak atau adiknya. Kalau mereka disuruh menyerang kepada yang dipandang sebagai ayah-bundanya, sejak ada manusia hingga kini, belum pernah terjadi dapat berhasil. Dengan demikian akan tiada musuhnya di dunia ini. Dengan tiada musuhnya di dunia ini, berarti ia berlaku sebagai menteri/pembantu Tuhan YME. Kalau sudah demikian tetapi tidak dapat juga menjadi raja besar, itu belum pernah ada."

Ayat 6

(1) Bingcu berkata, "Orang tentu mempunyai perasaan tidak tega akan sesama manusia." (I A:7.4-6)

(2) "Raja-raja jaman dahulu itu juga mempunyai perasaan tidak tega akan sesama manusia. Maka pemerintahan nya juga berdasarkan perasaan tidak tega itu. Dengan mempunyai perasaan tidak tega, menjalankan pemerintahan yang berdasar perasaan tidak tega pula, maka memerintah dunia ialah semudah memutar benda diatas tapak tangan."

(3) "Mengapakah kukatakan tiap orang mempunyai perasaan tidak tega akan sesama manusia? Kini bila ada orang sekonyong-konyong melihat seorang anak kecil hampir terjerumus kedalam perigi, niscaya dari lubuk hatinya timbullah rasa terkejut dan belas kasihan. Ini bukanlah karena dalam hatinya timbul keinginan untuk dapat berhubungan dengan orang tua anak itu, bukan karena ingin mendapat pujian kawan-kawan sekampung, bukan pula karena khawatir mendapat celaan." (VI A. 6.5)

(4) "Dari hal ini kelihatan bahwa yang tidak mempunyai perasaan berbelas kasihan itu bukan orang lagi. Yang tidak mempunyai perasaan malu dan tidak suka itu bukan orang lagi. Yang tidak mempunyai perasaan rendah hati dan mau mengalah itu bukan orang lagi. Dan yang tidak mempunyai perasaan membenarkan dan menyalahkan itu bukan orang lagi."

(5) "Perasaan belas kasihan itulah benih Cinta Kasih. Perasaan malu dan tidak suka itulah benih Kebenaran. Perasaan rendah hati dan mau mengalah itulah benih Kesusilaan. Dan perasaan membenarkan dan menyalahkan itulah benih Kebijaksanaan." (VI A. 7.7)

(6) "Orang mempunyai ke-empat benih itu ialah seperti mempunyai ke-empat anggota badan. Mempunyai ke-empat benih itu, tetapi berkata bahwa dirinya tidak mampu, itulah pencuri terhadap diri sendiri. Bila berkata bahwa pemimpinnya tidak akan mampu, ia adalah pencuri terhadap pemimpinnya." (IB:8.3)

(7) "Karena ke-empat benih itu ada pada kita, maka yang mengerti itu harus sekuat mungkin mengembangkannya, seperti mengobarkan api yang baru menyala atau mengalirkan sumber yang baru muncul. Siapa dapat benar-benar mengembangkan, ia akan sanggup melindungi empat penjuru lautan; tetapi yang tidak dapat mengembangkan, ia tidak mampu meskipun hanya mengabdi kepada ayah-bundanya."

Ayat 7

(1) Bingcu berkata, "Seorang pembuat anak panah itu sukar dikatakan ia kalah sifat Cinta Kasihnya dari pada seorang pembuat pakaian perang. Seorang pembuat anak panah selalu khawatir kalau hasil pekerjaannya tidak dapat melukai orang. Sebaliknya seorang pembuat pakaian perang selalu khawatir kalau pemakainya sampai terlukakan. Begitu pula pekerjaan antara seorang tabib dan pembuat peti mati. Maka dalam memilih pekerjaan janganlah tidak berhati-hati."

(2) "Khongcu bersabda, 'Bertempat tinggal dekat tempat kediaman orang yang berperi Cinta Kasih, itulah yang sebaik-baiknya. Bila tidak mau memilih tempat yang disuasanai Cinta Kasih itu, bagaimana ia memperoleh Kebijaksanaan?' Sesungguhnya Cinta Kasih itu ialah Anugerah Thian, Tuhan YME yang sangat mulia, dan Rumah sentosa bagi manusia. Karena orang tidak dapat menghalangi kita berbuat demikian, bila mana kita tidak berperi Cinta Kasih, itu tidak Bijaksana." (SS.IV:1)

(3) "Orang yang tidak berperi Cinta Kasih, tidak Bijaksana, tidak Susila dan tidak berlaku Benar; ia tidak lebih ialah seorang budak. Kalau seorang budak malu diperbudak ialah seperti pembuat busur malu membuat busur atau pembuat anak panah malu membuat anak panah."

(4) "Kalau benar-benar merasa malu, hendaklah berusaha hidup berperi Cinta Kasih."

(5) "Cinta Kasih itu seperti laku orang memanah. Pemanah itu lebih dahulu meluruskan diri baharu membidik. Bila bidikannya tidak tepat pada sasarannya, ia tidak menyesali lawan yang mengalahkan dirinya; melainkan mencari kekurangan pada diri sendiri." (SS.III:7.16)

Ayat 8

(1) Bingcu berkata, "Cu-lo bila diberitahu orang akan kesalahannya, ia senang sekali."

(2) "Raja I bila mendengar kata-kata yang baik, segera memberi hormat dengan pai." (Suking II.3)

(3) "Raja Sun Agung itu lebih besar lagi. Kebaikan itu dari siapapun sama, ia suka menerima petunjuk seseorang. Ia gembira bila dapat belajar berbuat baik dari orang lain."

(4) "Sejak masih membajak, bercocok tanam, membuat periuk dan menangkap ikan sampai menjadi raja besar, ia tidak segan belajar dari orang lain."

(5) "Dengan mengambil contoh Kebaikan orang lain, berarti membantu orang lain itu berbuat baik. Maka laku seorang Kuncu itu tiada yang lebih besar dari pada membantu orang berbuat baik."

Ayat 9

(1) Bingcu berkata, "Pik-i tidak mau mengabdi yang bukan rajanya, tidak mau bersahabat dengan yang bukan sahabatnya, tidak mau memangku jabatan di istana orang jahat, tidak mau berbicara dengan orang jahat. Berdiri di istana orang jahat, ia merasa seperti dengan mengenakan pakaian dan topi kerajaan duduk diantara lumpur dan abu. Untuk menunjukkan betapa bencinya akan hal-hal yang buruk, bila ia kebetulan berdiri bersama-sama orang di kampung, kalau ada yang topinya tidak lurus pada tempatnya; segera ia pergi dari tempat itu seolah-olah khawatir dirinya ikut ternoda. Maka biarpun ada diantara para rajamuda yang dengan baik menyampaikan undangan, ia tidak mau menerimanya. Ia tidak mau menerima ini ialah karena ia tidak mau melakukan hal-hal yang dapat menodakan dirinya."

(2) "Liu-he Hwi tidak malu bekerja pada raja yang buruk, ia tidak memandang apakah kedudukannya itu rendah. Bila memangku jabatan ia tidak menyembunyikan Kebijaksanaannya. Dia tentu berusaha melaksanakan Jalan Suci. Bila kehilangan jabatan, iapun tidak menyesal. Biarpun kehidupannya terjepit oleh kesengsaraan, iapun tidak bersedih. Maka ia berkata, 'Kamu, ialah kamu, aku ialah aku. Walau kamu berdiri disampingku dengan dada dan lengan terbuka, bahkan bertelanjangpun; masakan kamu dapat menodai diriku.' Maka ia dapat berkumpul dengan siapapun dengan tidak kehilangan diri. Bila ia akan menyingkirkan diri, lalu ada orang menahannya berhenti; iapun berhenti. Ini ialah karena ia yakin kesuciannya tidak memerlukan ia harus pergi." (SS.XV:14; XVIII: 2.8)

(3) Bingcu berkata, "Pik-i berpandangan sempit, sedangkan Liu-he Hwi kurang menghargai kehormatan. Berpandangan sempit maupun tidak menghargai kehormatan, seorang Kuncu tidak akan mengikutinya."