Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi

Bab 2b

Ayat 1

(1) Bingcu berkata, "Kesempatan itu tidak sebanding dengan keuntungan keadaan tempat. Keuntungan keadaan tempat tidak sebanding dengan persatuan orangnya."

(2) "Sebuah kota yang wilayahnya 3 li dikitari tembok kota dalam, dan 7 li dikitari tembok kota luar, bila suatu saat dikurung dan digempur, mungkin musuh tidak beroleh kemenangan. Musuh yang dapat mengurung dan menggempur itu karena telah beroleh kesempatan. Tetapi kalau tidak beroleh kemenangan, ini menunjukkan bahwa kesempatan itu tidak sebanding dengan keuntungan keadaan tempatnya."

(3) "Tetapi biarpun kota itu bukannya tidak tinggi temboknya, bukannya tidak dalam paritnya, bukannya tidak baik senjata dan perisainya dan bukannya tidak banyak beras dan sekoinya mungkin pula penduduk kota itu semua melarikan diri. Maka keuntungan tempat itu tidak sebanding dengan persatuan orangnya."

(4) "Maka dikatakan, Untuk menahan rakyat itu bukan tergantung pada batas negara, kekokohan suatu negara bukan tergantung pada tingginya gunung atau dalamnya jurang dan untuk mendapatkan kewibawaan di dunia itu bukan tergantung pada keunggulan persenjataannya. Adapun yang menyebabkan sesuatu itu berhasil ialah karena beroleh banyak bantuan dan yang menyebabkan sesuatu itu gagal ialah karena kurangnya mendapat bantuan. Puncak kurangnya bantuan itu ialah bila sampai sanak saudara sendiri melawannya. Puncak beroleh bantuan itu ialah bila seluruh dunia mematuhinya."

(5) "Yang dipatuhi seluruh dunia, bila menggempur negara yang sanak saudaranya sendiri saja melawannya, niscaya menang. Maka seorang Kuncu tidak ingin berperang, tetapi sekali berperang niscaya menang."

Ayat 2

(1) Bingcu bermaksud menghadap raja di istana. Ketika itu raja menyuruh orang datang kepadanya dan menyampaikan kata-katanya demikian, "Kami sebenarnya akan kemari, tetapi mendadak menggigil kedinginan dan tidak boleh kena angin. Dalam sidang istana besok pagi-pagi, kami akan hadir, maka dapatkah besok kami bertemu dengan Bapak ?" (S.S. XVII :20)

Dijawab, "Sayang ! Sayapun sedang sakit, maka tidak dapat menghadap ke istana."

(2) Keesokan harinya Bingcu pergi meninjau ke rumah keluarga Tong-kok yang kematian. Kong-sun Thio berkata, "Kemarin guru berkata sakit, kini dapat meninjau ke rumah kematian. Bukankah ini kurang layak?" "Kemarin memang sakit, kini sudah sembuh. Mengapakah tidak boleh menjenguk ke rumah yang kematian?"

(3) Raja menyuruh orang bertanya tentang sakitnya dan mengirimkan seorang tabib. Bing Tiongcu memberi tahu utusan itu, "Kemarin ketika raja memanggilnya, karena agak sakit maka tidak dapat menyanggupi hadir. Hari ini sakitnya sudah berkurang, maka ia pergi menghadap ke istana. Tetapi aku tidak tahu apakah ia dapat sampai di sana." (VI A: 5.1) Kemudian dia menyuruh orang menjumpai (Bingcu) di jalan dan mengharap bagaimanapun juga jangan terus pulang, tetapi lebih dahulu menghadap ke istana.

(4) Tetapi (Bingcu) tidak sependapat, bahkan pergi ke rumah keluarga King Thio dan menginap di sana.

Kingcu berkata, "Di rumah ada hubungan antara bapak dan anak, di luar ada hubungan antara raja dan menteri; inilah hubungan besar dalam pergaulan manusia. Antara bapak dan anak mengutamakan kasih sayang dan antara raja dan menteri mengutamakan kehormatan. Kini King Thio hanya melihat raja menghormati guru, tetapi belum nampak guru hormat kepada raja."

"Tidak layak kata-kata ini ! Orang-orang negeri Cee tidak ada yang mau berbicara tentang peri Cinta Kasih dan Kebenaran kepada raja. Adakah mereka diam itu karena menganggap Cinta Kasih dan Kebenaran itu tidak indah? Kiranya karena di dalam hati berkata, 'Apakah gunanya berbicara tentang Cinta Kasih dan Kebenaran kepada orang semacam itu !' Inilah suatu sikap yang sangat tidak hormat. Sedangkan aku, yang bukan Jalan Suci Raja Giau dan Sun tidak berani membicarakan di hadapan raja. Maka, dapatkah orang-orang Negeri Cee melebihi aku dalam menghormati raja?"

(5) Kingcu berkata, "Bukan ini yang kumaksudkan. Di dalam Kitab Lee King tertulis, 'Mendapat panggilan ayah tak boleh berlambat-lambat menyahut. Mendapat panggilan raja tidak boleh menanti kereta baru berangkat.' Kini, guru akan pergi menghadap ke istana, tetapi ketika mendengar raja memanggil lalu guru tidak jadi pergi. Hal ini kalau diterapkan pada kitab Lee King itu, kiranya tidak selaras."

(6) "Masakan begitu ? Cingcu pernah berkata, 'Kekayaan Negeri Cien dan Cho memang tiada bandingnya. Tetapi biarpun mereka punya kekayaan, aku punya Cinta Kasih. Mereka punya kedudukan tinggi, aku punya Kebenaran. Bagaimanakah aku tidak puas?' Kata-kata ini sukar dikatakan tidak berdasar Kebenaran maka diucapkan Cingcu. Sesungguhnya ini sudah satu dengan Jalan Suci. Di dunia ini ada tiga hal yang dimuliakan, yakni ke satu : kedudukan, kedua : usia, dan ketiga : Kebajikan. Yang dihormati di istana tiada yang melebihi kedudukan; yang dihormati di kampung tiada yang melebihi usia; dan yang dihormati di dalam membantu dunia, menjadi tua-tuanya rakyat, tiada yang melebihi Kebajikan. Maka tidak layak yang hanya mempunyai satu itu boleh meremehkan yang mempunyai dua."

(7) "Maka seorang raja yang hendak melakukan pekerjaan besar niscaya mempunyai menteri yang tidak boleh dipanggil datang. Bila ingin berbicara, ia sendiri datang kepadanya. Demikianlah ia dapat memuliakan Kebajikan dan gembira di dalam Jalan Suci. Bila tidak demikian, mustahil tercapai pekerjaan yang dicita-citakannya."

(8) "Maka Sing Thong kepada I-ien, lebih dahulu ia belajar kepadanya baharu kemudian mengangkatnya sebagai menterinya. Maka dengan tanpa berpayah-payah ia menjadi raja besar. Begitu pula Raja muda Hwan kepada Kwan Tiong, lebih dahulu ia belajar kepadanya baru kemudian mengangkatnya sebagai menterinya. Maka dengan tanpa berpayah-payah ia menjadi raja muda pemimpin."

(9) "Kini negara-negara di dunia, daerahnya hampir bersamaan. Kebajikannya juga sebanding saja; tiada yang dapat benar-benar lebih dari yang lain. Ini sebabnya tidak lain karena masing-masing hanya mau 'mendidik' menteri-menterinya, tidak suka menerima pendidikan dari menteri-menterinya."

(10) "Inilah sebabnya Sing Thong kepada I-ien dan Raja Muda Hwan kepada Kwan Tiong tidak berani memanggilnya datang. Kepada Kwan Tiong saja orang masih tidak berani memanggilnya datang, dapatkah aku tidak berbuat seperti Kwan Tiong?"

Ayat 3

(1) Tien Cien bertanya, "Dahulu ketika di Negeri Cee raja menyerahkan 100 iet (2400 tail) emas murni, guru tidak mau menerima. Kemudian di Negeri Song diserahkan 70 iet (1680 tail), guru menerimanya ; begitu pula di Negeri Siat diserahkan 50 iet (1200 tail), gurupun mau menerimanya. Kalau hal tidak mau menerima yang terdahulu itu dibenarkan, maka hal mau menerima yang kemudian itu salah. Kalau hal mau menerima yang kemudian itu dibenarkan, tentu hal tidak mau menerima yang terdahulu itu salah. Mengapakah guru bersikap demikian?" (VI B:14)

(2) Bingcu menjawab, "Semuanya benar."

(3) "Ketika di Negeri Song, aku akan melakukan perjalanan jauh. Kepada orang yang akan melakukan perjalanan jauh, sudah selayaknya diberi ongkos jalan. Dalam penyerahannya juga dikatakan sebagai ongkos jalan. Mengapakah aku tidak mau menerimanya?"

(4) "Ketika di Negeri Siat, didengar berita ada orang yang hendak bermaksud jahat, maka di dalam surat pengantarnya dikatakan bahwa karena mendengar ada orang yang hendak bermaksud jahat, lalu diserahkanlah sejumlah emas untuk biaya beberapa orang pengawal. Mengapakah aku tidak mau menerimanya?"

(5) "Di Negeri Cee, ketika itu aku belum bertujuan ke mana-mana. Dengan tanpa ada keperluan ke mana-mana aku diserahi sejumlah emas ; inilah penyuapan. Adakah seorang Kuncu mau menerima suap ?"

Ayat 4

(1) Bingcu ketika sampai di Ping-liok berkata kepada pembesar kota itu, "Bila dalam suatu medan pertempuran mendapati salah seorang pemimpin pasukan dalam sehari sampai tiga kali meninggalkan pasukannya, akan tuan hukum mati atau tidak'?" "Tidak usah menanti sampai tiga kali."

(2) "Sesungguhnya kedudukan tuan sekarang ini sama dengan pemimpin pasukan yang meninggalkan tugasnya, bahkan lebih dari itu. Pada saat timbul paceklik dan bahaya kelaparan, rakyat tuan yang tua dan lemah banyak yang menggeletak mati di selokan-selokan dan jurang-jurang ; sedangkan yang kuat bertebaran mengembara keempat penjuru, entah berapa ribu saja jumlahnya." "Ini bukan kemampuan Ki-siem untuk mengatasinya." (I B:12.2)

(3) "Kini kalau ada orang menerima lembu atau kambing untuk digembalakan, tentulah ia akan berusaha mencari ladang penggembalaan dan rumput kering. Bila ia tidak dapat memperoleh ladang penggembalaan dan rumput kering, ia akan mengembalikan hewan-hewan itu kepada pemiliknya ataukah akan tetap berdiri diam sambil melihat hewan-hewan itu mati?" "Ya, ini memang kesalahan Ki-siem."

(4) Pada hari lain (Bingcu) menemui raja (Negeri Cee) dan berkata, "Di antara pembesar-pembesar kota baginda, sudah lima orang kukenal ; tetapi yang mengetahui kesalahan sendiri hanya Khong Ki-siem seorang." Lalu diceritakanlah kepada raja pengalamannya yang lalu itu. Raja berkata, "Inilah dosaku !"

Ayat 5

(1) Bingcu berkata kepada Ti Wa, "Tuan menolak diberi pangkat di Kota Ling-khiu dan minta diangkat menjadi pembesar pengadilan, karena dengan demikian dapat memberi buah pikiran baik (kepada raja). Kini sudah berjalan beberapa bulan, mengapakah belum juga pernah memberi buah pikiran?"

(2) Ti Wa memberi nasehat kepada raja, tetapi tidak dapat diterima; ia lalu meletakkan jabatan dan pergi.

(3) Orang-orang Negeri Cee saling berkata, "Apa yang dilakukan terhadap Ti Wa sesungguhnya baik. Tetapi apa sikapnya terhadap dirinya sendiri, aku tidak tahu !"

(4) Kongtocu melaporkan hal ini (III B: 9)

(5) (Bingcu berkata), "Apa yang kudengar ialah, 'Orang memangku jabatan, bila tidak diperkenankan melaksanakan baik-baik tugasnya; sebaiknya ia pergi.

Bila memperoleh tugas menyampaikan buah pikiran, tetapi buah pikirannya tidak diterima, ia pergi pula.' Aku tidak memangku jabatan, aku juga tidak di tugaskan menyampaikan buah pikiran, maka aku datang atau pergi adalah bebas menurut keinginan hatiku."

Ayat 6

(1) Ketika Bingcu menjadi tamu kehormatan di Negeri Cee, ia diutus raja pergi ke Negeri Tin untuk menyampaikan Bela sungkawa raja. Raja menyuruh pembesar Kota Khap, Ong-hwan, menjadi pembantu dalam perjalanan. Ong-hwan tiap-tiap pagi dan sore menjumpai Bingcu, tetapi sampaipun sudah dalam perjalanan pulang ke Negeri Cee, Bingcu belum pernah mengajaknya berbicara tentang jalan urusannya.

(2) Kong-sun Thio berkata, "Kedudukannya (Ong-hwan) di Negeri Cee tidaklah kecil, jarak perjalanan antara Negeri Cee dan Tin tidaklah dekat; mengapakah dari saat berangkat sampai pulang belum pernah juga guru mengajaknya berbicara tentang jalan urusan ? Mengapakah?" "Dalam hal ini sudah ada petugas-petugasnya sendiri. Mengapakah aku harus membicarakannya pula?"

Ayat 7

(1) Bingcu dari Negeri Cee melakukan pemakaman (jenazah ibunya) ke Negeri Lo. Ketika kembali ike Negeri Cee ia bermalam di Kota Ing. Chiong Gi mohon bertanya, "Beberapa hari yang lalu guru dengan tidak memandang kebodohan Gi, sudah menyuruh Gi menilik pekerjaan tukang kayu membuat peti mati. Karena guru amat sibuk, Gi tidak berani bertanya. Kini ingin murid bertanya, bukankah kayunya terlalu bagus?" (IB:16).

(2) "Pada jaman kuno tiada Batas ukuran untuk peti mati dalam maupun peti mati luar. Kemudian di jaman pertengahan ditetapkan peti mati dalam 7 cun tebalnya dan peti mati luar disesuaikan dengan peti mati dalam. Ini berlaku dari kaisar sampai kepada rakyat jelata. Ini bukan sekedar untuk keindahan pandangan, melainkan menuruti rasa hati manusia." (Lee Ki XIX:2)

(3) "Kalau tidak diperkenankan, orang tidak boleh berbuat demikian kalau tiada harta, orang tidak boleh berbuat demikian pula. Tetapi bila peraturan memperkenankan dan ada harta, maka semua orang jaman dahulu berbuat demikian. Mengapakah hanya aku tidak boleh berbuat demikian?"

(4) "Lebih-lebih pula dengan dapat menjaga jenazah orang tua tidak sampai bersentuhan dengan tanah, bukankah ini melegakan hati?"

(5) "Aku mendengar bahwa seorang Kuncu tidak mau karena cintanya kepada harta lalu berhemat-hematan untuk kepentingan orang tuanya!"

Ayat 8

(1) Siem-tong secara pribadi bertanya, "Bolehkah Negeri Yan dihukum?"

Bingcu menjawab, "Boleh, Cu-kwee tidak seharusnya menyerahkan begitu saja Negeri Yan kepada orang lain. Cu-ci pun tidak seharusnya mau begitu saja menerima Negeri Yan dari Cu-kwee. Kalau ada orang menginginkan kedudukan dan tuan suka kepadanya, dengan tanpa memberitahu kepada raja; bolehkah tuan begitu saja menyerahkan kedudukan dan gaji tuan kepadanya? Begitupun tentang orang itu, apakah dengan tanpa perintah raja boleh secara pribadi begitu saja menerima dari tuan? Apakah bedanya perumpamaan ini dengan peristiwa itu?" (IB: 10,11)

(2) Negeri Cee menyerbu Negeri Yan. Ada orang bertanya (kepada Bingcu), "Benarkah Bapak menasehatkan Negeri Cee untuk menyerbu Negeri Yan ?"

"Tidak ! hanya Siem-tong pernah bertanya, 'Bolehkah Negeri Yan dihukum?' dan kujawab, 'Boleh'. Dengan demikian mungkin ia sendiri beranggapan boleh menyerbu ke sana. Kalau ia bertanya tentang siapakah yang boleh menghukum, niscaya akan kujawab, 'Orang yang dapat menjalankan perintah Tuhan-lah boleh menghukumnya.' Kini misalnya ada orang membunuh seseorang, lalu ditanyakan, 'Bolehkah ia dihukum mati?' Niscaya kujawab, 'Boleh.' Tetapi kalau ditanyakan, 'Siapakah yang boleh menjatuhkan putusan hukuman mati ?'

Niscaya kujawab, 'Seorang hakimlah yang boleh menjatuhkan putusan hukuman mati.' Sekarang yang terjadi ialah seperti Negeri Yan yang satu menyerbu Negeri Yan yang lain. Bagaimanakah bisa dituduhkan aku memberi nasehat semacam itu?"

Ayat 9

(1) Rakyat Negeri Yan memberontak. Raja (Negeri Cee) berkata, "Aku sangat malu kepada Bingcu." (IB: 10,11).

(2) Tien Ke menjawab, "Tidak perlu baginda menyesali diri. Kalau baginda membandingkan diri dengan Pangeran Ciu siapakah lebih berperi Cinta Kasih dan Bijaksana?"

Raja berkata, "0, kata-kata apakah itu?" "Dahulu Pangeran Ciu pernah menyuruh Kwan-siok mengawasi keturunan Dinasti Ien (Bu-king), tetapi ternyata kemudian Kwan-siok bahkan membantu keturunan

Dinasti Ien itu memberontak. Ketika Pangeran Ciu menyuruhnya, bila sebenarnya ia sudah tahu akan terjadi hal itu; maka ia tidak berperi Cinta Kasih. Kalau ia belum tahu pada saat menyuruhnya, ini menunjukkan ia tidak Bijaksana. Nyata dalam hal peri Cinta Kasih dan Kebijaksanaan, Pangeran Ciu pun belum dapat melakukan dengan sempurna, apalagi seorang sebagai baginda Baiklah nanti Ke menemuinya untuk menjelaskan hal ini."

(3) Setelah bertemu dengan Bingcu lalu bertanya, "Orang yang bagaimanakah Pangeran Ciu itu?" (SS VII:5)

"Dia seorang Nabi jaman purba !"

"Dia menyuruh Kwan-siok mengawasi keturunan Dinasti Ien dan kemudian malahan membantu mereka berontak. Benarkah itu?"

"Benar !"

"Ketika Pangeran Ciu menyuruhnya. tahukah kalau ia akan membantu berontak ?"

"Belum tahu !"

"Kalau begitu seorang Nabipun masih dapat berbuat salah !"

"Pangeran Ciu ialah adik dan Kwansiok ialah kakaknya. Maka kesalahan Pangeran Ciu itu bukanlah hal yang luar biasa."

(4) "Hanya saja seorang Kuncu jaman dahulu, bila berbuat salah segera memperbaikinya; tetapi seorang 'Kuncu' jaman sekarang, bila berbuat salah bahkan dilanjut-lanjutkan. Seorang Kuncu jaman dahulu, bila berbuat salah ; seperti gerhana matahari atau bulan. Semua rakyat yang melihatnya, menanti akan perubahannya dengan segera. Mereka semua memandang ke arahnya. Tetapi seorang 'Kuncu' jaman sekarang, bukan saja melanjutkan kesalahannya, bahkan menggunakan kepandaian berbicara untuk memaafkan dirinya."

Ayat 10

(1) Bingcu meletakkan jabatan dan akan pulang (ke negerinya).

(2) Raja (negeri Cee) segera menemui Bingcu dan berkata, "Dahulu kami ingin bertemu Bapak, tetapi tidak dapat. Kini kita berdampingan, semua isi istanapun menjadi gembira. Kalau sekarang Bapak akan meninggalkan kami dan akan pulang, entah kapan pula kita dapat saling berjumpa." "Hal ini aku tidak berani menetapkan, biarpun aku mengharapkan."

(3) Besoknya raja berkata kepada menteri Sicu, "Kami ingin memberi sebuah rumah di tengah kerajaan ini kepada Bingcu serta membantunya dengan memberi 10.000 ciong padi (tiap tahun) untuk memelihara murid-muridnya, dengan harapan agar semua pembesar dan rakyat mempunyai contoh teladan hidup. Baiklah tuan sampaikan hal ini atas namaku."

(4) Sicu lalu menyuruh Tiencu memberitahukan hal ini kepada Bingcu. Tiencu menyampaikan kata-kata Sicu itu kepada Bingcu.

(5) Bingcu berkata, "Ini baik sekali, Tetapi bagaimanakah Sicu tahu bahwa aku tidak dapat ditahan lagi ? Kalau aku hanya ingin kaya, bagaimanakah aku mau menukarkan yang 100 ribu dengan 10 ribu ? Apakah ini yang dinamakan mencari kekayaan?"

(6) "Kwi-sun pernah berkata, 'Sungguh aneh Cu-siok Gi. Ia menyorongkan dirinya memangku jabatan, tetapi kemudian (Raja Negeri Lo) tidak mau menerimanya; bukankah ini sudah cukup? Masakan ia menyuruh anak dan saudaranya berusaha mendapatkan jabatan itu lagi !' Siapakah yang tidak ingin kaya dan mulia? Tetapi ada orang yang di dalam keinginannya mendapatkan kekayaan dan kemuliaan, lalu menempatkan dirinya di tempat ketinggian, sehingga mudah kelihatan."

(7) "Pasar-pasar pada jaman dahulu ialah tempat untuk menukarkan barang-barang yang kita punyai dengan barang-barang yang tidak kita punyai. Di situ ditempatkan seorang menteri pasar yang bertugas menjaga jangan sampai ada keributan. Tetapi, adalah seorang yang hina, lalu mencari tempat yang tinggi agar mudah kelihatan dan mudah melihat kekiri, kekanan untuk dapat mengeruk keuntungan di pasar itu. Maka orang menganggap perbuatan ini rendah, lalu diadakan pungutan pajak. Jadi pungutan pajak atas barang dagangan ini diawali oleh perbuatan yang hina itu."

Ayat 11

(1) Bingcu meninggalkan Negeri Cee dan bermalam di Kota Tiu.

(2) Ada orang yang ingin mewakili raja menahan perjalanannya. Ia duduk dan mengajaknya bercakap-cakap tetapi tidak dijawab, bahkan sambil bersandar pura-pura tidur.

(3) Orang itu dengan kurang senang berkata "Murid lebih dahulu bersuci diri dan berjaga semalam baharu berani menyampaikan pembicaraan. Mengapakah guru tidak mau mendengarkan dan bahkan tidur ? Murid akan tidak berani berjumpa pula."

(4) "Duduklah ! Akan kuterangkan kepadamu. Dahulu kalau tidak Raja muda Bok dari Negeri Lo selalu menyuruh wakilnya mendampingi Cu-su, niscaya tidak dapat menjadikan Cu-su merasa tenteram. Begitupun Siat Liu dan Sien Siang kalau tidak mempunyai teman yang selalu dekat dengan Raja muda Bok, niscaya mereka juga tidak akan dapat merasa tenteram."

(5) "Kini perbuatanmu untuk mengharap aku yang tua ini berpikir lagi adalah tidak seperti yang telah diterima oleh Cu-su. Maka sebenarnya kamu yang memutuskan hubungan dengan orang tua ini ataukah aku orang tua yang memutuskan hubungan denganmu?"

Ayat 12

(1) Bingcu meninggalkan Negeri Cee, Ien-su berkata kepada orang-orang, "Kalau dia tidak tahu bahwa raja kita tidak dapat disamakan dengan Sing Thong dan Raja Bu, ini menunjukkan bahwa dia kurang awas. Kalau dia sudah tahu akan hal itu, tetapi dia datang juga; terang dia hanya menginginkan kedudukan. Dia menempuh beribu li untuk menemui raja, setelah tidak bersesuaian lalu pergi. Tetapi, dia tiga hari bermalam di Kota Tiu. Mengapakah dia berlambat-lambat? Ini sungguh menyebabkan aku tidak senang !"

(2) Koocu melaporkan hal ini.

(3) Bingcu berkata, "0, bagaimana Ien-su tahu isi hatiku. Menempuh beribu li menjumpai raja, itu memang keinginanku sendiri. Setelah tidak bersesuaian lalu pergi, ini bukanlah keinginanku; hanya karena terpaksa."

(4) "Kalau aku sampai 3 malam menginap di Kota Tiu baharu berangkat pula, ialah karena dalam hatiku masih merasakan terlalu cepat. Aku masih mengharapkan raja mengubah pendiriannya. Kalau raja menyesal dan mengubah pendiriannya, niscaya akan menyusul aku untuk kembali."

(5) "Setelah aku meninggalkan Kota Tiu dan ternyata raja tidak menyusul, baharulah aku berketetapan teguh untuk pulang. Tetapi biarpun begitu, bagaimanakah aku dapat melepaskan pikiranku ? Raja mempunyai cukup sifat-sifat yang baik, bila raja menggunakan aku, bukan saja rakyat Negeri Cee beroleh tenteram sentosa; rakyat seduniapun akan beroleh tenteram sentosa. Semoga raja dapat mengubah pendiriannya, inilah tiap hari masih kuharapkan."

(6) "Bagaimanakah aku dapat bersikap sebagai orang-orang yang berpandangan sempit, setelah nasehatnya tidak diterima raja lalu marah, wajahnya lalu berubah tidak senang dan hari itu juga segera pergi sejauh-jauhnya baharu mau berhenti sekedar untuk menginap?" Mendengar hal itu Ien-su berkata, "Su sungguh seorang rendah budi."

Ayat 13

(1) Bingcu meninggalkan Negeri Cee. Chiong Gi bertanya, "Mengapakah wajah guru selalu nampak murung? Dahulu Gi mendengar guru berkata, 'Seorang Kuncu tidak menggerutu kepada Tuhan YME, tidak pula menyesali manusia.' " (S.S.XIV :35)

(2) "Yang dahulu itu adalah suatu persoalan, dan yang kini soal lain pula."

(3) "Tiap 500 tahun seharusnya muncul seorang raja besar dan bertepatan dengan saat itupun akan muncul orang-orang besar."

(4) "Sejak mula Dinasti Ciu sampai kini sudah 700 tahun lebih, maka sudah melebihi waktu yang seharusnya. Begitupun kalau kuperiksa keadaan saat ini, keadaannya sudah memungkinkan." (VII B:38)

(5) "0, Tuhan Yang Maha Esa nampaknya belum juga menghendaki damai sejahtera di dunia ini. Kalau dikehendaki damai sejahtera di dunia saat ini, selain aku siapa pulakah (dapat membawakannya) ? Betapa aku tidak bermurung?" (S.S.IX:5)

Ayat 14

(1) Bingcu meninggalkan Negeri Cee dan bertempat tinggal di daerah Hiu. Kong-sun Thio bertanya, "Memangku jabatan dengan tanpa menerima gaji, benarkah peraturan sejak jaman purba?"

(2) "Bukan ! Ketika aku bertemu raja di Kota Cong, sesungguhnya berniat segera pergi lagi. Karena niatku ini sudah tetap, maka aku tidak mau menerima gaji."

(3) "Saat itu mendadak ada perintah siap siaga berperang, tidak layak aku mohon diri; maka lama aku di Negeri Cee, meskipun itu bukan maksudku."