(1) Siem-tong secara pribadi bertanya, "Bolehkah Negeri Yan dihukum?"
Bingcu menjawab, "Boleh, Cu-kwee tidak seharusnya menyerahkan begitu saja Negeri Yan kepada orang lain. Cu-ci pun tidak seharusnya mau begitu saja menerima Negeri Yan dari Cu-kwee. Kalau ada orang menginginkan kedudukan dan tuan suka kepadanya, dengan tanpa memberitahu kepada raja; bolehkah tuan begitu saja menyerahkan kedudukan dan gaji tuan kepadanya? Begitupun tentang orang itu, apakah dengan tanpa perintah raja boleh secara pribadi begitu saja menerima dari tuan? Apakah bedanya perumpamaan ini dengan peristiwa itu?" (IB: 10,11)
(2) Negeri Cee menyerbu Negeri Yan. Ada orang bertanya (kepada Bingcu), "Benarkah Bapak menasehatkan Negeri Cee untuk menyerbu Negeri Yan ?"
"Tidak ! hanya Siem-tong pernah bertanya, 'Bolehkah Negeri Yan dihukum?' dan kujawab, 'Boleh'. Dengan demikian mungkin ia sendiri beranggapan boleh menyerbu ke sana. Kalau ia bertanya tentang siapakah yang boleh menghukum, niscaya akan kujawab, 'Orang yang dapat menjalankan perintah Tuhan-lah boleh menghukumnya.' Kini misalnya ada orang membunuh seseorang, lalu ditanyakan, 'Bolehkah ia dihukum mati?' Niscaya kujawab, 'Boleh.' Tetapi kalau ditanyakan, 'Siapakah yang boleh menjatuhkan putusan hukuman mati ?'
Niscaya kujawab, 'Seorang hakimlah yang boleh menjatuhkan putusan hukuman mati.' Sekarang yang terjadi ialah seperti Negeri Yan yang satu menyerbu Negeri Yan yang lain. Bagaimanakah bisa dituduhkan aku memberi nasehat semacam itu?"