(1) Rakyat Negeri Yan memberontak. Raja (Negeri Cee) berkata, "Aku sangat malu kepada Bingcu." (IB: 10,11).
(2) Tien Ke menjawab, "Tidak perlu baginda menyesali diri. Kalau baginda membandingkan diri dengan Pangeran Ciu siapakah lebih berperi Cinta Kasih dan Bijaksana?"
Raja berkata, "0, kata-kata apakah itu?" "Dahulu Pangeran Ciu pernah menyuruh Kwan-siok mengawasi keturunan Dinasti Ien (Bu-king), tetapi ternyata kemudian Kwan-siok bahkan membantu keturunan
Dinasti Ien itu memberontak. Ketika Pangeran Ciu menyuruhnya, bila sebenarnya ia sudah tahu akan terjadi hal itu; maka ia tidak berperi Cinta Kasih. Kalau ia belum tahu pada saat menyuruhnya, ini menunjukkan ia tidak Bijaksana. Nyata dalam hal peri Cinta Kasih dan Kebijaksanaan, Pangeran Ciu pun belum dapat melakukan dengan sempurna, apalagi seorang sebagai baginda Baiklah nanti Ke menemuinya untuk menjelaskan hal ini."
(3) Setelah bertemu dengan Bingcu lalu bertanya, "Orang yang bagaimanakah Pangeran Ciu itu?" (SS VII:5)
"Dia seorang Nabi jaman purba !"
"Dia menyuruh Kwan-siok mengawasi keturunan Dinasti Ien dan kemudian malahan membantu mereka berontak. Benarkah itu?"
"Benar !"
"Ketika Pangeran Ciu menyuruhnya. tahukah kalau ia akan membantu berontak ?"
"Belum tahu !"
"Kalau begitu seorang Nabipun masih dapat berbuat salah !"
"Pangeran Ciu ialah adik dan Kwansiok ialah kakaknya. Maka kesalahan Pangeran Ciu itu bukanlah hal yang luar biasa."
(4) "Hanya saja seorang Kuncu jaman dahulu, bila berbuat salah segera memperbaikinya; tetapi seorang 'Kuncu' jaman sekarang, bila berbuat salah bahkan dilanjut-lanjutkan. Seorang Kuncu jaman dahulu, bila berbuat salah ; seperti gerhana matahari atau bulan. Semua rakyat yang melihatnya, menanti akan perubahannya dengan segera. Mereka semua memandang ke arahnya. Tetapi seorang 'Kuncu' jaman sekarang, bukan saja melanjutkan kesalahannya, bahkan menggunakan kepandaian berbicara untuk memaafkan dirinya."