(1) Bingcu meletakkan jabatan dan akan pulang (ke negerinya).
(2) Raja (negeri Cee) segera menemui Bingcu dan berkata, "Dahulu kami ingin bertemu Bapak, tetapi tidak dapat. Kini kita berdampingan, semua isi istanapun menjadi gembira. Kalau sekarang Bapak akan meninggalkan kami dan akan pulang, entah kapan pula kita dapat saling berjumpa." "Hal ini aku tidak berani menetapkan, biarpun aku mengharapkan."
(3) Besoknya raja berkata kepada menteri Sicu, "Kami ingin memberi sebuah rumah di tengah kerajaan ini kepada Bingcu serta membantunya dengan memberi 10.000 ciong padi (tiap tahun) untuk memelihara murid-muridnya, dengan harapan agar semua pembesar dan rakyat mempunyai contoh teladan hidup. Baiklah tuan sampaikan hal ini atas namaku."
(4) Sicu lalu menyuruh Tiencu memberitahukan hal ini kepada Bingcu. Tiencu menyampaikan kata-kata Sicu itu kepada Bingcu.
(5) Bingcu berkata, "Ini baik sekali, Tetapi bagaimanakah Sicu tahu bahwa aku tidak dapat ditahan lagi ? Kalau aku hanya ingin kaya, bagaimanakah aku mau menukarkan yang 100 ribu dengan 10 ribu ? Apakah ini yang dinamakan mencari kekayaan?"
(6) "Kwi-sun pernah berkata, 'Sungguh aneh Cu-siok Gi. Ia menyorongkan dirinya memangku jabatan, tetapi kemudian (Raja Negeri Lo) tidak mau menerimanya; bukankah ini sudah cukup? Masakan ia menyuruh anak dan saudaranya berusaha mendapatkan jabatan itu lagi !' Siapakah yang tidak ingin kaya dan mulia? Tetapi ada orang yang di dalam keinginannya mendapatkan kekayaan dan kemuliaan, lalu menempatkan dirinya di tempat ketinggian, sehingga mudah kelihatan."
(7) "Pasar-pasar pada jaman dahulu ialah tempat untuk menukarkan barang-barang yang kita punyai dengan barang-barang yang tidak kita punyai. Di situ ditempatkan seorang menteri pasar yang bertugas menjaga jangan sampai ada keributan. Tetapi, adalah seorang yang hina, lalu mencari tempat yang tinggi agar mudah kelihatan dan mudah melihat kekiri, kekanan untuk dapat mengeruk keuntungan di pasar itu. Maka orang menganggap perbuatan ini rendah, lalu diadakan pungutan pajak. Jadi pungutan pajak atas barang dagangan ini diawali oleh perbuatan yang hina itu."