Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi · Bab 2b

Ayat 2

(1) Bingcu bermaksud menghadap raja di istana. Ketika itu raja menyuruh orang datang kepadanya dan menyampaikan kata-katanya demikian, "Kami sebenarnya akan kemari, tetapi mendadak menggigil kedinginan dan tidak boleh kena angin. Dalam sidang istana besok pagi-pagi, kami akan hadir, maka dapatkah besok kami bertemu dengan Bapak ?" (S.S. XVII :20)

Dijawab, "Sayang ! Sayapun sedang sakit, maka tidak dapat menghadap ke istana."

(2) Keesokan harinya Bingcu pergi meninjau ke rumah keluarga Tong-kok yang kematian. Kong-sun Thio berkata, "Kemarin guru berkata sakit, kini dapat meninjau ke rumah kematian. Bukankah ini kurang layak?" "Kemarin memang sakit, kini sudah sembuh. Mengapakah tidak boleh menjenguk ke rumah yang kematian?"

(3) Raja menyuruh orang bertanya tentang sakitnya dan mengirimkan seorang tabib. Bing Tiongcu memberi tahu utusan itu, "Kemarin ketika raja memanggilnya, karena agak sakit maka tidak dapat menyanggupi hadir. Hari ini sakitnya sudah berkurang, maka ia pergi menghadap ke istana. Tetapi aku tidak tahu apakah ia dapat sampai di sana." (VI A: 5.1) Kemudian dia menyuruh orang menjumpai (Bingcu) di jalan dan mengharap bagaimanapun juga jangan terus pulang, tetapi lebih dahulu menghadap ke istana.

(4) Tetapi (Bingcu) tidak sependapat, bahkan pergi ke rumah keluarga King Thio dan menginap di sana.

Kingcu berkata, "Di rumah ada hubungan antara bapak dan anak, di luar ada hubungan antara raja dan menteri; inilah hubungan besar dalam pergaulan manusia. Antara bapak dan anak mengutamakan kasih sayang dan antara raja dan menteri mengutamakan kehormatan. Kini King Thio hanya melihat raja menghormati guru, tetapi belum nampak guru hormat kepada raja."

"Tidak layak kata-kata ini ! Orang-orang negeri Cee tidak ada yang mau berbicara tentang peri Cinta Kasih dan Kebenaran kepada raja. Adakah mereka diam itu karena menganggap Cinta Kasih dan Kebenaran itu tidak indah? Kiranya karena di dalam hati berkata, 'Apakah gunanya berbicara tentang Cinta Kasih dan Kebenaran kepada orang semacam itu !' Inilah suatu sikap yang sangat tidak hormat. Sedangkan aku, yang bukan Jalan Suci Raja Giau dan Sun tidak berani membicarakan di hadapan raja. Maka, dapatkah orang-orang Negeri Cee melebihi aku dalam menghormati raja?"

(5) Kingcu berkata, "Bukan ini yang kumaksudkan. Di dalam Kitab Lee King tertulis, 'Mendapat panggilan ayah tak boleh berlambat-lambat menyahut. Mendapat panggilan raja tidak boleh menanti kereta baru berangkat.' Kini, guru akan pergi menghadap ke istana, tetapi ketika mendengar raja memanggil lalu guru tidak jadi pergi. Hal ini kalau diterapkan pada kitab Lee King itu, kiranya tidak selaras."

(6) "Masakan begitu ? Cingcu pernah berkata, 'Kekayaan Negeri Cien dan Cho memang tiada bandingnya. Tetapi biarpun mereka punya kekayaan, aku punya Cinta Kasih. Mereka punya kedudukan tinggi, aku punya Kebenaran. Bagaimanakah aku tidak puas?' Kata-kata ini sukar dikatakan tidak berdasar Kebenaran maka diucapkan Cingcu. Sesungguhnya ini sudah satu dengan Jalan Suci. Di dunia ini ada tiga hal yang dimuliakan, yakni ke satu : kedudukan, kedua : usia, dan ketiga : Kebajikan. Yang dihormati di istana tiada yang melebihi kedudukan; yang dihormati di kampung tiada yang melebihi usia; dan yang dihormati di dalam membantu dunia, menjadi tua-tuanya rakyat, tiada yang melebihi Kebajikan. Maka tidak layak yang hanya mempunyai satu itu boleh meremehkan yang mempunyai dua."

(7) "Maka seorang raja yang hendak melakukan pekerjaan besar niscaya mempunyai menteri yang tidak boleh dipanggil datang. Bila ingin berbicara, ia sendiri datang kepadanya. Demikianlah ia dapat memuliakan Kebajikan dan gembira di dalam Jalan Suci. Bila tidak demikian, mustahil tercapai pekerjaan yang dicita-citakannya."

(8) "Maka Sing Thong kepada I-ien, lebih dahulu ia belajar kepadanya baharu kemudian mengangkatnya sebagai menterinya. Maka dengan tanpa berpayah-payah ia menjadi raja besar. Begitu pula Raja muda Hwan kepada Kwan Tiong, lebih dahulu ia belajar kepadanya baru kemudian mengangkatnya sebagai menterinya. Maka dengan tanpa berpayah-payah ia menjadi raja muda pemimpin."

(9) "Kini negara-negara di dunia, daerahnya hampir bersamaan. Kebajikannya juga sebanding saja; tiada yang dapat benar-benar lebih dari yang lain. Ini sebabnya tidak lain karena masing-masing hanya mau 'mendidik' menteri-menterinya, tidak suka menerima pendidikan dari menteri-menterinya."

(10) "Inilah sebabnya Sing Thong kepada I-ien dan Raja Muda Hwan kepada Kwan Tiong tidak berani memanggilnya datang. Kepada Kwan Tiong saja orang masih tidak berani memanggilnya datang, dapatkah aku tidak berbuat seperti Kwan Tiong?"