(1) Ada seorang penganut ajaran Sien-long bernama Hi Hing dari Negeri Cho datang ke Negeri Tin. Setelah sampai digerbang istana, melaporkan kepada Raja muda Bun dari Negeri Tin. "Hamba orang dari jauh mendengar baginda menjalankan pemerintahan berlandas Cinta Kasih, maka mohon sebidang tanah untuk tempat tinggal, dan menjadi rakyat baginda." Rajamuda Bun memberikan tempat tinggal itu. Ia dengan beberapa puluh murid, semuanya mengenakan pakaian dari kulit berbulu. Untuk penghidupannya, mereka membuat terompah dari rumput dan tikar.
(2) Tien Siang, seorang penganut ajaran Tien Liang, bersama adiknya yang bernama Tien Sien, dengan memanggul bajak juga datang dari Negeri Song ke Negeri Tin. Ia berkata, "Hamba mendengar baginda menjalankan pemerintahan berlandas ajaran Nabi, maka bagindapun akanndapat berbuat sebagai Nabi. Hamba ingin menjadi rakyat Nabi."
(3) Ketika Tien Siang bertemu dengan Hi Hing, ia sangat gembira dan segera meninggalkan ajaran yang dianutnya dan berganti dengan ajaran baru itu.
Tien Siang menemui Bingcu dan menceritakan tentang ajaran Hi Hing, "Raja Tin memang sungguh seorang raja yang Bijaksana, sayangnya belum mendengar Jalan Suci. Seorang yang Bijaksana akan membajak bersama rakyat untuk makannya. Sambil setiap pagi dan sore memasak sendiri makanannya, ia memerintah negara. Kini Negeri Tin mempunyai lumbung padi, gudang harta benda dan gudang senjata, ini menunjukkan masih menindas rakyat untuk memelihara diri sendiri. Bagaimanakah dapat dikatakan cukup Bijaksana?"
(4) Bingcu berkata, "Hicu menanam padi untuk makanan-nyakah ?"
"ya"
"Hicu tentunya juga menenun kain untuk pakaiannya, bukan ?"
"Tidak. Hicu mengenakan pakaian dari kulit berbulu."
"Hicu mengenakan topi, bukan ?"
"Mengenakan."
"Mengenakan topi apa ?"
"Topi dari kain biasa."
"Ia menenun sendiri, bukan ?"
"Tidak! Ia dapat menukarnya dengan padi."
"Mengapakah Hicu tidak menenunnya sendiri ?"
"Itu akan mengganggu bercocok tanamnya."
"Hicu menggunakan belanga, tempayan dan ujung bajak dari besi bukan ?"
"Ya."
"Dia membuatnya sendiri, bukan ?"
"Tidak. Ia dapat menukarya dengan padi."
(5) "Orang yang menukarkan padi dengan perkakas rumah tangga tidak dapat dikatakan menindas tukang pembuat periuk atau tukang besi. Begitupun tukang pembuat periuk atau tukang besi yang menukarkan barang-barang buatannya dengan padi, tidak dapat dikatakan menindas kaum tani. Lagi pula mengapakah Hicu tidak mau membuat periuk dan alat-alat dari besi sehingga dapat mengambil barang-barang itu dari rumah sendiri untuk dipakai ? Mengapakah perlu repot-repot menukarkan barang dengan para tukang itu, dengan demikian bukankah Hicu tidak usah sibuk?" "Pekerjaan para tukang tidak dapat dicampur-adukkan dengan pekerjaan bercocok tanam."
(6) "Kalau begitu mengapakah hanya pekerjaan mengatur dunia boleh dirangkap dengan bercocok tanam ? Sesungguhnya adalah pekerjaan bagi para pembesar dan pekerjaan bagi rakyat jelata. Maka untuk keperluan tiap-tiap orang, sesungguhnya ada banyak pekerja-pekerja yang harus menyiapkan. Kalau harus membuat sendiri baru boleh memakainya, niscaya akan membuat orang-orang di dunia kalang-kabut berlarian di jalan. Maka dikatakan, ada yang berlelah dengan pikirannya, ada yang berlelah dengan tenaganya. Yang berlelah dengan pikirannya, memimpin orang lain. Yang berlelah dengan tenaganya menerima pimpinan orang lain. Yang dipimpin memberi makan orang, sedangkan yang memimpin diberi makan orang! Inilah Kebenaran umum yang berlaku di dunia."
(7) "Pada jaman Raja Giau, ketika dunia belum tenteram sentosa, banjir melanda ke segala penjuru dunia. Rumput dan pohon-pohonan tumbuh lebat, burung dan hewan liar merajalela. Kelima macam biji-bijian tidak dapat dihasilkan, burung dan hewan liar mendesak manusia,tapak-tapak hewan dan burung nampak di jalan-jalan di seluruh negeri. Giau seorang diri bersedih, lalu mengangkat Sun untuk membereskan kekalutan itu, Sun lalu menyuruh Ik membakar hutan. Setelah gunung-gunung yang berimba dan berpaya-paya dibakar, maka burung dan hewan liar lari menyingkirkan diri. I disuruh mengatur jalan kesembilan sungai, memperdalam dasar sungai Cee dan Liap sehingga dapat mengalir ke laut; membuka halangan jalan Sungai Ji dan Han, mengatur aliran Sungai Hwai dan Su, sehingga semuanya langsung mengalir kesungai besar. Demikianlah baharu kemudian negeri mendapatkan tanah-tanah untuk menyediakan makanan. Pada masa itu, I selama 8 tahun hidup di luar rumah, tiga kali ia melewati pintu rumahnya tanpa singgah. Maka mekipun ia ingin bercocok tanam, dapatkah ia ? (Su King I .II.III).
(8) Ho-chik diperintah mendidik rakyat cara bercocok tanam, terutama untuk menanam kelima macam biji-bijian. Demikianlah setelah ke lima macam biji-bijian itu masak, rakyat beroleh kesejahteraan. Orang perlu Jalan Suci: maka, setelah dapat makan kenyang, pakaian hangat lalu dibiarkan tidak diberi pendidikan, niscaya akan mendekati sifat burung dan hewan liar. Maka Nabi itupun merasa sedih, lalu menyuruh Siat menjadi menteri pendidikan untuk mendidik rakyat tentang Hubungan Kemanusiaan. Antara orang tua dan anak ada Kasih, antara pemimpin dan pembantu ada Kebenaran/Keadilan/Kewajiban, antara suami dan isteri ada pembagian tugas, antara yang tua dan yang muda ada pengertian tentang kedudukan masing-masing dan antara kawan dan sahabat ada sifat Dapat Dipercaya.
Hong Hun (Giau) berkata, 'Giatkanlah, bimbinglah, betulkanlah, luruskanlah, bantulah dan berilah 'sayap' agar masing-masing memiliki pribadinya sendiri dan sadarkanlah pula mereka agar tidak mengalpakan tugas serta selalu berbuat Kebajikan.' Begitulah prihatin seorang Nabi bagi rakyatnya, bagaimanakah ia mempunyai waktu untuk bercocok tanam ?"
(9) "Giau merasa sedih kalau tidak mendapatkan Sun sebagai pembantu, begitupun Sun merasa sedih bila tidak mendapatkan pembantu seperti I dan Koo Yau. Tetapi orang yang sedih hanya karena sawahnya yang seluas 100 bau tidak mudah digarap, itulah seorang petani biasa."
(10) "Memberikan harta kepada orang-orang dinamai murah hati; mendidik orang supaya menjadi baik dinamai Satya; dan dapat membantu dunia mendapatkan seorang pemimpin, dinamai berperi Cinta Kasih. Maka menyerahkan dunia kepada seseorang itu mudah, tetapi mendapatkan seorang pemimpin sejati itulah yang sukar."
(11) "Khongcu bersabda, 'Sungguh besar pribadi Giau sebagai raja. Hanya Tuhanlah Maha Besar, dan hanya Giau-lah dapat mengikutiNya. Sungguh besar (Kebajikannya) maka rakyat tidak tahu bagaimana harus memujinya. Sungguh seorang pemimpinlah Sun, sungguh tinggi dan mulia ia; biar memiliki dunia tidak berubah kelakuannya.' Giau dan Sun dalam mengatur dunia, bagaimanakah dapat tanpa bersungguh hati ? Tentu saja mereka tidak dapat bersawah."
(12) "Aku mendengar, 'Dengan kebudayaan Dinasti He mengubah kebudayaan I'. Tetapi belum mendengar, 'Dengan kebudayaan I berbuat sebaliknya.'
Tien Liang ialah seorang Negeri Cho, ia suka akan Jalan Suci Pangeran Ciu dan Tiong-ni, maka ia pergi ke Utara untuk belajar di negeri ini. Para siswa di daerah Utara belum tentu ada yang dapat menang dari padanya, maka sebenarnyalah ia seorang Siswa yang ulung. Kamu kakak-beradik sudah berpuluh tahun belajar kepadanya, mengapakah sepeninggal gurumu lalu membalik ?"
(13) "Dahulu ketika Khongcu wafat, setelah berkabung selama 3 tahun para murid menyiapkan peralatannya akan pulang ke tempat masing-masing. Mereka terlebih dahulu menghadap menghormat dengan iep kepada Cu-Khong, saling bertangis-tangisan sehingga kehabisan suara baharu pulang. Cu Khong masih belum sampai hati, ia membuat sebuah pondok dekat kuburan, dan berdiam seorang diri selama 3 tahun pula baharu pulang. Hari lain Cu-he, Cu-tiang dan Cu-yu yang melihat sikap Yu Jiak menyerupai sikap Nabi, lalu hendak melayani sebagai kepada Khongcu. Mereka meminta pertimbangan Cingcu. Cingcu menjawab, 'Jangan ! Biarpun sesuatu dicuci dengan seluruh air sungai dan bengawan atau dijemur pada matahari musim rontok, kesuciannya tidak dapat menandingiNya !' "
(14) "Kini akan kubicarakan orang lamban yang lidahnya seperti burung rawa itu. Ia tidak mengajarkan Jalan Suci raja jaman dahulu, mengapakah kamu membaliki ajaran guru sendiri dan belajar kepadanya ? Sungguh berbeda dengan sikap Cingcu tadi !"
(15) "Aku mendengar, 'Terbang keluar dari gua gelap, hinggap di puncak pohon besar', namun belum mendengar, 'Terbang ke bawah dari pohon besar, masuk kedalam gua gelap.' "
(16) "Dalam Sanjak Pujaan Negeri Lo tertulis. 'Usir kembali orang-orang Tik dan hukumlah Negeri King dan Si (di daerah Negeri Cho)' (IV.2.4.6.). Lihatlah Pangeran Ciu sendiri perlu menghukumnya, sedangkan kamu belajar kepadanya; pastilah tidak akan membawa perubahan baik bagimu."
(17) "Kalau kita mengikuti ajaran Hi-cu, harga-harga di pasar tiada perbedaan, di dalam negeri tiada orang berlaku curang; meski kita menyuruh seorang anak yang baru 5 jengkal tingginya ke pasar, ia tidak akan ditipu orang. Kain biasa maupun sutera asal panjangnya sama, harganyapun sama. Rami kasar dan halus, sutera maupun kapas asal beratnya sama; harganyapun sama. Lima macam biji-bijian asal banyaknya sama, harganyapun sama. Sepatu tidak perduli ukurannya asal sepasang; harganyapun sama."
(18) "Kalau barang dibedakan halus kasarnya, itulah berdasar mutu barang itu. Maka harganya saling berbeda, ada yang berlipat dua, berlipat lima, berlipat sepuluh, berlipat seratus, berlipat seribu bahkan sepuluh ribu kali lebih berharga dari yang lain. Kini kamu ingin menyamakan semua, ini akan mengacau dunia. Kalau sepatu besar atau kecil sama harganya, siapakah yang mau membuat (yang besar)? Menurut ajaran Hicu ini berarti mendorong orang berbuat curang. Bagaimanakah dapat untuk mengatur negara?"