Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi

Bab 3a

Ayat 1

(1) Ketika Raja muda Bun dari Negeri Tin masih menjadi putera mahkota, ia pergi ke Negeri Cho. Tatkala melewati Negeri Song, ia menjumpai Bingcu. (IB: 13)

(2) Bingcu mengatakan bahwa Watak Sejati manusia itu baik dan selalu membicarakan serta memuji Raja Giau dan Sun.

(3) Putera mahkota itu ketika kembali dari Negeri Cho juga menemui Bingcu. Bingcu berkata, "Pangeran masih sangsikah akan kata-kataku? Adapun Jalan Suci itu Esa adanya."

(4) "Sing-han pernah berkata kepada Raja Muda King dari Negeri Cee, 'Beliau-Beliau itu (para nabi) orang laki-laki. Akupun orang laki-laki. Mengapakah aku takut kepada beliau-beliau itu?' Gan Yan berkata, 'Bukankah Sun itu manusia? Bukankah akupun manusia ? Bila mau berbuat (hal-hal mulia) apakah bedanya? Kong-bing Gi berkata, Raja Bun itu guruku. Masakan Pangeran Ciu bohong kepadaku.' "

(5) Kini kalau bagian panjang tanah Negeri Tin dipotong lalu ditambahkan pada bagian yang pendek, luasnya ada 50 li; kalau mau, dapat juga dijadikan negeri yang baik. Di dalam Kitab Su King tertulis, 'Obat bila tidak menimbulkan pengaruh apa-apa, niscaya penyakit takkan tersembuhkan.' (Suking IV:8)

Ayat 2

(1) Raja muda Ting dari Negeri Tin mangkat. Putera mahkota berkata kepada Jian Yu, "Dahulu Bingcu pernah bercakap dengan aku di Negeri Song yang kesan-kesannya tak dapat kulupakan. Kini aku menanggung duka yang paling hebat, maka kami ingin mengutus tuan bertanya kepada Bingcu bagaimana menjalankan upacara."

(2) Jian Yu setibanya di Kota Coo (Negeri Lo) bertanya kepada Bingcu.

Bingcu menjawab, "Sungguh baik sekali! Dalam hal berkabung kepada orang tua itu sebenarnya bergantung pada diri sendiri. Cingcu berkata, 'Pada saat hidup layanilah sesuai dengan Kesusilaan, ketika meninggal dunia, makamkanlah sesuai dengan Kesusilaan dan selanjutnya sembahyangilah sesuai dengan kesusilaan.' Dengan demikian dapat disebut berbakti. Hal peradatan para raja muda, aku belum pernah mempelajarinya. Biarpun demikian aku sudah mendengar bahwa kewajiban berkabung selama 3 tahun dengan mengenakan pakaian dari kain kasar dan makan makanan sederhana, dilakukan dari kaisar sampai kepada rakyat jelata. Ketiga dinasti itu mengikuti adat ini." (SS XIX.17 :11.5)

(3) Setelah Jian Yu melaporkan ini, lalu ditetapkan akan dilakukan perkabungan selama 3 tahun, tetapi sanak saudara dan para pembesar tidak menyetujui dan berkata, "Di Negeri Lo yang kita hormati itu, raja-raja yang terdahulupun sudah tidak melakukan hal ini; baginda almarhum pun tidak melakukan pula. Kini sesampai pada baginda, mengapakah akan memakai adat itu pula ? Ini tidak boleh. Bukankah di dalam Kitab Catatan Keluarga pun tertulis, 'Dalam berkabung dan bersembahyang, turutlah seperti yang ditetapkan para leluhur agar dapat dikatakan kita juga menerima warisan (tata upacara).' "

(4) (Putera mahkota) berkata kepada Jian Yu, "Pada hari-hari yang lalu kami belum pernah banyak belajar dan bertanya, hanya suka naik kuda dan bermain pedang. Kini para sanak saudara dan pembesar tidak menganggap kami cukup berpengetahuan. Kami takut tidak dapat menjalankan urusan besar ini sungguh-sungguh, maka wakililah kami bertanya pula kepada Bingcu."

Jian yu kembali ke Kota Coo, bertanya kepada Bingcu.

Bingcu berkata, "Sudah wajar (mereka tidak setuju). Dalam hal ini tidak perlu minta bantuan mereka. Khong-cu bersabda, 'Bila raja mangkat, urusan diserahkan kepada perdana menteri ! Makanlah secara sederhana, dengan wajah duka menangislah di dekat peti jenazah. Bila para pembesar melihat ini, niscaya tidak berani tidak ikut bersedih: maka perlu teladan. Apa yang disukai atasan, niscaya pihak bawahan akan sangat memperhatikan. Kebajikan seorang pembesar laksana angin dan Kebajikan rakyat laksana rumput; kemana angin bertiup, kesitulah rumput mengarah.' Maka urusan ini tergantung kepada putera mahkota sendiri."

(5) Jian Yu memberi laporan. Putera mahkota berkata, "Benar, yang perlu Iman itu aku sendiri" Selama lima bulan ia tetap di ruang besar (tempat peti jenazah) dan tidak pernah memberi perintah- perintah. Para pembesar dan sanak saudara dengan setuju berkata, "Dia sungguh mengerti."

Setelah tiba saat penguburan, para hadir dari empat penjuru melihat betapa kesedihan tercermin pada wajah (putera mahkota) serta cucuran air mata kesedihannya. Para hadir sangat terharu.

Ayat 3

(1) Bingcu menjawab, "Kepentingan rakyat tidak boleh ditangguh-tangguhkan. Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Siang hari ambillah rumput, malam hari anyamlah tali. Betulkan atap yang rusak; segera kita bertanam pula.' " (IA.22)

(3) "Adapun sifat kebanyakan rakyat itu demikian ; Yang mempunyai penghasilan tetap akan mempunyai ketetapan hati, yang tidak mempunyai penghasilan tetap akan tidak mempunyai ketetapan hati. Bila tidak mempunyai ketetapan hati : maka, membuang diri, menyeleweng, berbuat sesat dan liar tidak segan melakukannya. Bila mereka terjerumus kedalam kejahatan sehingga terhukum, bukankah itu seperti pemerintah yang menjebaknya ? Seorang yang berperi Cinta Kasih di dalam kedudukannya, patutkah ia menjebak rakyat ?"

(4) "Maka seorang pembesar yang Bijaksana niscaya berlaku Hormat. Hemat dan susila kepada bawahan serta memungut pajak yang pantas kepada rakyatnya."

(5) "Yang Ho berkata, 'Yang mengejar kekayaan tidak berperi Cinta Kasih, yang berperi Cinta Kasih tidak beroleh kekayaan.' " (S.S.XVII:1)

(6) "Dinasti He menggunakan sistim 50 bau yang dinamai Khong (Upeti), Dinasti len menggunakan sistim 70 bau yang dinamai Co (Gotong-royong), dan Dinasti Ciu menggunakan sistim 100 bau yang dinamai Tiat (Pungutan). Semuanya ini berazas memungut 1/10 bagian. Di dalam sistim Tiat pemerintah memungut berdasarkan hasilnya, sedangkan di dalam Sistim Co rakyat bersama-sama mengerjakan sawah pemerintah."

(7) "Liongcu berkata, 'Dalam mengatur pembagian tanah tiada yang lebih baik dari sistim Co dan tiada yang lebih buruk dari sistim Khong. Sistim Khong menetapkan jumlah hasil yang harus diupetikan diambil rata-rata dari hasil beberapa tahun. Pada musim yang baik, hasil beras dan biji-bijian berlimpah-limpah, diambil banyakpun tidak terasa kejam, pengambilannya terasa sedikit. Tetapi pada waktu musim paceklik yang hasilnya untuk mengganti beaya rabuk raja tidak cukup, penarikan pajaknya tetap penuh. Yang menjadi ibu bapak rakyat tetapi menyebabkan rakyat bermuka masam karena hasil jerih payah setahun tidak dapat untuk memelihara orang tuanya, bahkan harus terpaksa mencari pinjaman untuk menutup kekurangannya, inilah seperti menjadikan rakyat yang tua dan anak-anak kedapatan menggeletak diselokan dan jurang. Bagaimanakah dapat disebut menjadi ayah bunda rakyat ?' " (IA:4/5)

(8) "Memang benar di Negeri Tin ini telah diatur hal gaji (berupa tanah) yang berlaku turun-temurun untuk mereka yang berjasa. (Tetapi peraturan pungutan dan pembagian tanah yang baik belum ada)."

(9) "Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Hujan tercurah di sawah umum (pemerintah), begitupun disawahku sendiri.' (II.6.8.3) Karena yang mempunyai istilah 'sawah umum' hanya sistim Co, maka dapat dilihat disini ternyata Dinasti Ciu-pun banyak menggunakan sistim Co itu."

(10) "Setelah itu dirikanlah badan pendidikan yang dinamai Siang, Si, Hak dan Hau. Badan yang dinamai Siang mengutamakan pendidikan keinsafan memberi perawatan, Hau mengutamakan pendidikan umum, dan Si mengutamakan kecakapan memanah. Dinasti He menamai badan pendidikan itu Hau, Dinasti Ien menamainya Si dan Dinasti Ciu menamainya Siang. Istilah Hak (sekolah negara) dipakai oleh ketiga dinasti itu. Semuanya ini berusaha menyadarkan orang tentang hubungan-hubungan di dalam masyarakat. Bila para pembesar menyadari akan hubungan-hubungan antar manusia ini, niscaya rakyat jelata yang dibawahnya akan saling mencinta." (IA :3/5)

(11) "Kalau muncul seorang raja besar; tentu akan mengambil cara ini sebagai teladan; sehingga dengan demikian baginda akan menjadi guru bagi (calon) raja besar itu."

(12) "Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Negeri Ciu biar negeri tua, Firman itu tetap dipelihara sehingga senantiasa baharu.' Ini, dikatakan untuk Baginda Bun. Bila baginda mau sekuat tenaga melaksanakan, negeri bagindapun dapat menjadi baharu."(III.1.1.1)

(13) Saat lain pangeran itu menyuruh Piet Cian bertanya tentang sistim pembagian tanah menjadi 9 petak. Bingcu menjawab, "Pangeran tuan akan menjalankan pemerintahan berlandas Cinta Kasih dan sudah memilih tuan untuk melaksanakan. Baiklah tuan bekerja sungguh-sungguh. Adapun pemerintahan yang berlandas Cinta Kasih itu, dalam bidang ini harus lebih dahulu melakukan pengukuran tentang batas-batas tanahnya. Kalau batas-batasnya tidak benar pembagian tanah didalam sistim 9 petak itupun tidak sama dan pemungutan hasil buminyapun tidak adil. Adapun raja yang kejam dan pembesar yang tamak tentu alpa tentang penentuan batas-batas tanah ini. Bila Batas-batas ini sudah benar, maka hal pembagian sawah dan pemungutan hasil bumi itu dapat ditetapkan sambil duduk saja."

(14) "Biarpun Negeri Tin negeri kecil, harus pula ada yang menjadi pembesar dan menjadi petani. Bila tiada pembesarnya, bagaimana dapat mengatur para petani dan bila tiada petaninya, bagaimana dapat memelihara para pembesar itu."

(15) "Kuharap sawah-sawah di desa dipungut pajak 1/9 bagian dengan sistim Co dan di kota-kota biarlah rakyat menyerahkan 1/10 penghasilannya."

(16) "Para pembesar dari yang tinggi sampai yang rendah harus diberi 'tanah permata', yang luasnya 50 bau."

(17) "Orang laki-laki yang memelihara saudara-saudaranya harap diberi tanah 25 bau."

(18) "Dengan demikian orang yang kematian kepala keluarganya atau pindah tempat tinggalnya tidak sampai pergi keluar daerah. Daerah-daerah yang sawahnya diatur dengan sistim 9 petak, keluar masuk akan saling bersahabat. Dalam menjaga sawahnya saling membantu dan bila ada yang sakit dapat saling memperhatikan sehingga segenap rakyat hidup rukun saling cinta-mencintai."

(19) "Dengan sistim 9 petak, maka tiap tanah seluas 1 li persegi dapat dibagi menjadi 9 petak, masing-masing 100 bau. Petak yang ditengah dinamai 'sawah umum' dan 8 keluarga yang masing-masing memperoleh 100 bau, bersama-sama memelihara 'sawah umum'. Setelah 'sawah umum' selesai dikerjakan, baharulah mengerjakan sawah sendiri : dengan demikian para petani akan tahu kewajiban masing-masing."

(20) "Inilah pada garis besarnya saja. Mengenai hal-hal lain, mengingat kurus suburnya tanah dan lain-lain kalau diadakan peraturan khusus, terserah kepada pangeran dan tuan sendiri."

Ayat 4

(1) Ada seorang penganut ajaran Sien-long bernama Hi Hing dari Negeri Cho datang ke Negeri Tin. Setelah sampai digerbang istana, melaporkan kepada Raja muda Bun dari Negeri Tin. "Hamba orang dari jauh mendengar baginda menjalankan pemerintahan berlandas Cinta Kasih, maka mohon sebidang tanah untuk tempat tinggal, dan menjadi rakyat baginda." Rajamuda Bun memberikan tempat tinggal itu. Ia dengan beberapa puluh murid, semuanya mengenakan pakaian dari kulit berbulu. Untuk penghidupannya, mereka membuat terompah dari rumput dan tikar.

(2) Tien Siang, seorang penganut ajaran Tien Liang, bersama adiknya yang bernama Tien Sien, dengan memanggul bajak juga datang dari Negeri Song ke Negeri Tin. Ia berkata, "Hamba mendengar baginda menjalankan pemerintahan berlandas ajaran Nabi, maka bagindapun akanndapat berbuat sebagai Nabi. Hamba ingin menjadi rakyat Nabi."

(3) Ketika Tien Siang bertemu dengan Hi Hing, ia sangat gembira dan segera meninggalkan ajaran yang dianutnya dan berganti dengan ajaran baru itu.

Tien Siang menemui Bingcu dan menceritakan tentang ajaran Hi Hing, "Raja Tin memang sungguh seorang raja yang Bijaksana, sayangnya belum mendengar Jalan Suci. Seorang yang Bijaksana akan membajak bersama rakyat untuk makannya. Sambil setiap pagi dan sore memasak sendiri makanannya, ia memerintah negara. Kini Negeri Tin mempunyai lumbung padi, gudang harta benda dan gudang senjata, ini menunjukkan masih menindas rakyat untuk memelihara diri sendiri. Bagaimanakah dapat dikatakan cukup Bijaksana?"

(4) Bingcu berkata, "Hicu menanam padi untuk makanan-nyakah ?"

"ya"

"Hicu tentunya juga menenun kain untuk pakaiannya, bukan ?"

"Tidak. Hicu mengenakan pakaian dari kulit berbulu."

"Hicu mengenakan topi, bukan ?"

"Mengenakan."

"Mengenakan topi apa ?"

"Topi dari kain biasa."

"Ia menenun sendiri, bukan ?"

"Tidak! Ia dapat menukarnya dengan padi."

"Mengapakah Hicu tidak menenunnya sendiri ?"

"Itu akan mengganggu bercocok tanamnya."

"Hicu menggunakan belanga, tempayan dan ujung bajak dari besi bukan ?"

"Ya."

"Dia membuatnya sendiri, bukan ?"

"Tidak. Ia dapat menukarya dengan padi."

(5) "Orang yang menukarkan padi dengan perkakas rumah tangga tidak dapat dikatakan menindas tukang pembuat periuk atau tukang besi. Begitupun tukang pembuat periuk atau tukang besi yang menukarkan barang-barang buatannya dengan padi, tidak dapat dikatakan menindas kaum tani. Lagi pula mengapakah Hicu tidak mau membuat periuk dan alat-alat dari besi sehingga dapat mengambil barang-barang itu dari rumah sendiri untuk dipakai ? Mengapakah perlu repot-repot menukarkan barang dengan para tukang itu, dengan demikian bukankah Hicu tidak usah sibuk?" "Pekerjaan para tukang tidak dapat dicampur-adukkan dengan pekerjaan bercocok tanam."

(6) "Kalau begitu mengapakah hanya pekerjaan mengatur dunia boleh dirangkap dengan bercocok tanam ? Sesungguhnya adalah pekerjaan bagi para pembesar dan pekerjaan bagi rakyat jelata. Maka untuk keperluan tiap-tiap orang, sesungguhnya ada banyak pekerja-pekerja yang harus menyiapkan. Kalau harus membuat sendiri baru boleh memakainya, niscaya akan membuat orang-orang di dunia kalang-kabut berlarian di jalan. Maka dikatakan, ada yang berlelah dengan pikirannya, ada yang berlelah dengan tenaganya. Yang berlelah dengan pikirannya, memimpin orang lain. Yang berlelah dengan tenaganya menerima pimpinan orang lain. Yang dipimpin memberi makan orang, sedangkan yang memimpin diberi makan orang! Inilah Kebenaran umum yang berlaku di dunia."

(7) "Pada jaman Raja Giau, ketika dunia belum tenteram sentosa, banjir melanda ke segala penjuru dunia. Rumput dan pohon-pohonan tumbuh lebat, burung dan hewan liar merajalela. Kelima macam biji-bijian tidak dapat dihasilkan, burung dan hewan liar mendesak manusia,tapak-tapak hewan dan burung nampak di jalan-jalan di seluruh negeri. Giau seorang diri bersedih, lalu mengangkat Sun untuk membereskan kekalutan itu, Sun lalu menyuruh Ik membakar hutan. Setelah gunung-gunung yang berimba dan berpaya-paya dibakar, maka burung dan hewan liar lari menyingkirkan diri. I disuruh mengatur jalan kesembilan sungai, memperdalam dasar sungai Cee dan Liap sehingga dapat mengalir ke laut; membuka halangan jalan Sungai Ji dan Han, mengatur aliran Sungai Hwai dan Su, sehingga semuanya langsung mengalir kesungai besar. Demikianlah baharu kemudian negeri mendapatkan tanah-tanah untuk menyediakan makanan. Pada masa itu, I selama 8 tahun hidup di luar rumah, tiga kali ia melewati pintu rumahnya tanpa singgah. Maka mekipun ia ingin bercocok tanam, dapatkah ia ? (Su King I .II.III).

(8) Ho-chik diperintah mendidik rakyat cara bercocok tanam, terutama untuk menanam kelima macam biji-bijian. Demikianlah setelah ke lima macam biji-bijian itu masak, rakyat beroleh kesejahteraan. Orang perlu Jalan Suci: maka, setelah dapat makan kenyang, pakaian hangat lalu dibiarkan tidak diberi pendidikan, niscaya akan mendekati sifat burung dan hewan liar. Maka Nabi itupun merasa sedih, lalu menyuruh Siat menjadi menteri pendidikan untuk mendidik rakyat tentang Hubungan Kemanusiaan. Antara orang tua dan anak ada Kasih, antara pemimpin dan pembantu ada Kebenaran/Keadilan/Kewajiban, antara suami dan isteri ada pembagian tugas, antara yang tua dan yang muda ada pengertian tentang kedudukan masing-masing dan antara kawan dan sahabat ada sifat Dapat Dipercaya.

Hong Hun (Giau) berkata, 'Giatkanlah, bimbinglah, betulkanlah, luruskanlah, bantulah dan berilah 'sayap' agar masing-masing memiliki pribadinya sendiri dan sadarkanlah pula mereka agar tidak mengalpakan tugas serta selalu berbuat Kebajikan.' Begitulah prihatin seorang Nabi bagi rakyatnya, bagaimanakah ia mempunyai waktu untuk bercocok tanam ?"

(9) "Giau merasa sedih kalau tidak mendapatkan Sun sebagai pembantu, begitupun Sun merasa sedih bila tidak mendapatkan pembantu seperti I dan Koo Yau. Tetapi orang yang sedih hanya karena sawahnya yang seluas 100 bau tidak mudah digarap, itulah seorang petani biasa."

(10) "Memberikan harta kepada orang-orang dinamai murah hati; mendidik orang supaya menjadi baik dinamai Satya; dan dapat membantu dunia mendapatkan seorang pemimpin, dinamai berperi Cinta Kasih. Maka menyerahkan dunia kepada seseorang itu mudah, tetapi mendapatkan seorang pemimpin sejati itulah yang sukar."

(11) "Khongcu bersabda, 'Sungguh besar pribadi Giau sebagai raja. Hanya Tuhanlah Maha Besar, dan hanya Giau-lah dapat mengikutiNya. Sungguh besar (Kebajikannya) maka rakyat tidak tahu bagaimana harus memujinya. Sungguh seorang pemimpinlah Sun, sungguh tinggi dan mulia ia; biar memiliki dunia tidak berubah kelakuannya.' Giau dan Sun dalam mengatur dunia, bagaimanakah dapat tanpa bersungguh hati ? Tentu saja mereka tidak dapat bersawah."

(12) "Aku mendengar, 'Dengan kebudayaan Dinasti He mengubah kebudayaan I'. Tetapi belum mendengar, 'Dengan kebudayaan I berbuat sebaliknya.'

Tien Liang ialah seorang Negeri Cho, ia suka akan Jalan Suci Pangeran Ciu dan Tiong-ni, maka ia pergi ke Utara untuk belajar di negeri ini. Para siswa di daerah Utara belum tentu ada yang dapat menang dari padanya, maka sebenarnyalah ia seorang Siswa yang ulung. Kamu kakak-beradik sudah berpuluh tahun belajar kepadanya, mengapakah sepeninggal gurumu lalu membalik ?"

(13) "Dahulu ketika Khongcu wafat, setelah berkabung selama 3 tahun para murid menyiapkan peralatannya akan pulang ke tempat masing-masing. Mereka terlebih dahulu menghadap menghormat dengan iep kepada Cu-Khong, saling bertangis-tangisan sehingga kehabisan suara baharu pulang. Cu Khong masih belum sampai hati, ia membuat sebuah pondok dekat kuburan, dan berdiam seorang diri selama 3 tahun pula baharu pulang. Hari lain Cu-he, Cu-tiang dan Cu-yu yang melihat sikap Yu Jiak menyerupai sikap Nabi, lalu hendak melayani sebagai kepada Khongcu. Mereka meminta pertimbangan Cingcu. Cingcu menjawab, 'Jangan ! Biarpun sesuatu dicuci dengan seluruh air sungai dan bengawan atau dijemur pada matahari musim rontok, kesuciannya tidak dapat menandingiNya !' "

(14) "Kini akan kubicarakan orang lamban yang lidahnya seperti burung rawa itu. Ia tidak mengajarkan Jalan Suci raja jaman dahulu, mengapakah kamu membaliki ajaran guru sendiri dan belajar kepadanya ? Sungguh berbeda dengan sikap Cingcu tadi !"

(15) "Aku mendengar, 'Terbang keluar dari gua gelap, hinggap di puncak pohon besar', namun belum mendengar, 'Terbang ke bawah dari pohon besar, masuk kedalam gua gelap.' "

(16) "Dalam Sanjak Pujaan Negeri Lo tertulis. 'Usir kembali orang-orang Tik dan hukumlah Negeri King dan Si (di daerah Negeri Cho)' (IV.2.4.6.). Lihatlah Pangeran Ciu sendiri perlu menghukumnya, sedangkan kamu belajar kepadanya; pastilah tidak akan membawa perubahan baik bagimu."

(17) "Kalau kita mengikuti ajaran Hi-cu, harga-harga di pasar tiada perbedaan, di dalam negeri tiada orang berlaku curang; meski kita menyuruh seorang anak yang baru 5 jengkal tingginya ke pasar, ia tidak akan ditipu orang. Kain biasa maupun sutera asal panjangnya sama, harganyapun sama. Rami kasar dan halus, sutera maupun kapas asal beratnya sama; harganyapun sama. Lima macam biji-bijian asal banyaknya sama, harganyapun sama. Sepatu tidak perduli ukurannya asal sepasang; harganyapun sama."

(18) "Kalau barang dibedakan halus kasarnya, itulah berdasar mutu barang itu. Maka harganya saling berbeda, ada yang berlipat dua, berlipat lima, berlipat sepuluh, berlipat seratus, berlipat seribu bahkan sepuluh ribu kali lebih berharga dari yang lain. Kini kamu ingin menyamakan semua, ini akan mengacau dunia. Kalau sepatu besar atau kecil sama harganya, siapakah yang mau membuat (yang besar)? Menurut ajaran Hicu ini berarti mendorong orang berbuat curang. Bagaimanakah dapat untuk mengatur negara?"

Ayat 5

(1) Ada seorang penganut Bikcu bernama I-ci dengan perantaraan Chi Piet ingin bertemu Bingcu. Bingcu berkata, "Aku sebenarnya ingin menemuinya, tetapi kini aku sedang sakit. Kalau sakitku sudah sembuh, aku akan pergi menjumpainya. I-cu tidak usah kemari." (VII.A:26)

(2) Pada hari lain I-ci ingin menjumpai Bingcu pula. Bingcu berkata, "Kini aku dapat menemuinya. Tetapi kalau tidak diluruskan dulu pikirannya, ia tidak dapat mengenal Jalan Suci. Baiklah kuluruskan dulu pikirannya. Kudengar I-cu seorang penganut Bikcu. Di dalam hal berkabung, Bikcu menunjukkan bahwa kesederhanaan itulah paling sesuai Jalan Suci. I-cu berpikir dengan ajaran ini akan mengubah dunia. Mungkinkah ia sudah tidak membenarkan hal itu dan tidak menghargainya lagi, sehingga ia mengubur jenazah orang tuanya dengan cara besar-besaran? Ia telah mengurus jenazah orang tuanya dengan cara yang dipandang rendah oleh kaumnya."

(3) Chicu memberitahukan hal ini kepada I-cu. I-cu berkata, "Menurut Jalan Suci kaum Ji, 'orang jaman kuno memperlakukan orang sebagai melindungi bayi.' Apakah maksud kata-kata ini? Ini tentu bermaksud dalam mencintai seseorang, jangan ada tingkat perbedaan. Tetapi untuk melaksanakan itu, kepada orang tua sendiri itulah yang menjadi permulaan."

Chicu melaporkan hal ini kepada Bingcu. Bingcu berkata, "O, I-cu! percayakah ia bahwa orang mencintai anak kakaknya seperti mencintai bayi tetangganya ? Ia salah menangkap artinya. Bayi yang merangkak-rangkak sehingga akan terjerumus ke dalam perigi, itu bukan kesalahan anak kecil itu. Sesungguhnya Tuhan Yang Maha Esa menciptakan segala Benda ini hanya dengan Satu Pokok, tetapi I-cu menganggapnya punya Dua Pokok. ltulah sebab kesalahannya."

(4) "Pada jaman dahulu ada orang-orang yang tidak mengubur jenazah orang tuanya. Bila orang tuanya meninggal dunia, dipikullah jenazahnya dan dibuang di sebuah jurang. Lewat beberapa hari, dilihatnya rubah dan kucing hutan memakan jenazah itu, lalat dan nyamuk mengerumuni dan menghisapnya. Maka bercucuranlah keringat dari dahi orang-orang itu, tidak tahan melihatnya. Mengalirnya keringat itu bukan bermaksud untuk diperlihatkan kepada orang lain, tetapi timbul dari lubuk hati dan nampak di muka serta di matanya. Mereka segera pulang mengambil keranjang dan cangkul untuk menimbuni jenazah itu. Kalau perbuatan penuh Iman ini benar, maka anak berbakti yang berperi Cinta Kasih, yang mengubur jenazah orang tuanya dengan cara sebaik-baiknya sesuai pula dengan Jalan Suci."

(5) Chicu memberitahukan hal itu kepada I-cu. Mendengar itu I-cu tertegun dan berkata, "Sungguh ia telah memberi pelajaran kepadaku !"