(1) Raja muda Ting dari Negeri Tin mangkat. Putera mahkota berkata kepada Jian Yu, "Dahulu Bingcu pernah bercakap dengan aku di Negeri Song yang kesan-kesannya tak dapat kulupakan. Kini aku menanggung duka yang paling hebat, maka kami ingin mengutus tuan bertanya kepada Bingcu bagaimana menjalankan upacara."
(2) Jian Yu setibanya di Kota Coo (Negeri Lo) bertanya kepada Bingcu.
Bingcu menjawab, "Sungguh baik sekali! Dalam hal berkabung kepada orang tua itu sebenarnya bergantung pada diri sendiri. Cingcu berkata, 'Pada saat hidup layanilah sesuai dengan Kesusilaan, ketika meninggal dunia, makamkanlah sesuai dengan Kesusilaan dan selanjutnya sembahyangilah sesuai dengan kesusilaan.' Dengan demikian dapat disebut berbakti. Hal peradatan para raja muda, aku belum pernah mempelajarinya. Biarpun demikian aku sudah mendengar bahwa kewajiban berkabung selama 3 tahun dengan mengenakan pakaian dari kain kasar dan makan makanan sederhana, dilakukan dari kaisar sampai kepada rakyat jelata. Ketiga dinasti itu mengikuti adat ini." (SS XIX.17 :11.5)
(3) Setelah Jian Yu melaporkan ini, lalu ditetapkan akan dilakukan perkabungan selama 3 tahun, tetapi sanak saudara dan para pembesar tidak menyetujui dan berkata, "Di Negeri Lo yang kita hormati itu, raja-raja yang terdahulupun sudah tidak melakukan hal ini; baginda almarhum pun tidak melakukan pula. Kini sesampai pada baginda, mengapakah akan memakai adat itu pula ? Ini tidak boleh. Bukankah di dalam Kitab Catatan Keluarga pun tertulis, 'Dalam berkabung dan bersembahyang, turutlah seperti yang ditetapkan para leluhur agar dapat dikatakan kita juga menerima warisan (tata upacara).' "
(4) (Putera mahkota) berkata kepada Jian Yu, "Pada hari-hari yang lalu kami belum pernah banyak belajar dan bertanya, hanya suka naik kuda dan bermain pedang. Kini para sanak saudara dan pembesar tidak menganggap kami cukup berpengetahuan. Kami takut tidak dapat menjalankan urusan besar ini sungguh-sungguh, maka wakililah kami bertanya pula kepada Bingcu."
Jian yu kembali ke Kota Coo, bertanya kepada Bingcu.
Bingcu berkata, "Sudah wajar (mereka tidak setuju). Dalam hal ini tidak perlu minta bantuan mereka. Khong-cu bersabda, 'Bila raja mangkat, urusan diserahkan kepada perdana menteri ! Makanlah secara sederhana, dengan wajah duka menangislah di dekat peti jenazah. Bila para pembesar melihat ini, niscaya tidak berani tidak ikut bersedih: maka perlu teladan. Apa yang disukai atasan, niscaya pihak bawahan akan sangat memperhatikan. Kebajikan seorang pembesar laksana angin dan Kebajikan rakyat laksana rumput; kemana angin bertiup, kesitulah rumput mengarah.' Maka urusan ini tergantung kepada putera mahkota sendiri."
(5) Jian Yu memberi laporan. Putera mahkota berkata, "Benar, yang perlu Iman itu aku sendiri" Selama lima bulan ia tetap di ruang besar (tempat peti jenazah) dan tidak pernah memberi perintah- perintah. Para pembesar dan sanak saudara dengan setuju berkata, "Dia sungguh mengerti."
Setelah tiba saat penguburan, para hadir dari empat penjuru melihat betapa kesedihan tercermin pada wajah (putera mahkota) serta cucuran air mata kesedihannya. Para hadir sangat terharu.