(1) Ketika Raja muda Bun dari Negeri Tin masih menjadi putera mahkota, ia pergi ke Negeri Cho. Tatkala melewati Negeri Song, ia menjumpai Bingcu. (IB: 13)
(2) Bingcu mengatakan bahwa Watak Sejati manusia itu baik dan selalu membicarakan serta memuji Raja Giau dan Sun.
(3) Putera mahkota itu ketika kembali dari Negeri Cho juga menemui Bingcu. Bingcu berkata, "Pangeran masih sangsikah akan kata-kataku? Adapun Jalan Suci itu Esa adanya."
(4) "Sing-han pernah berkata kepada Raja Muda King dari Negeri Cee, 'Beliau-Beliau itu (para nabi) orang laki-laki. Akupun orang laki-laki. Mengapakah aku takut kepada beliau-beliau itu?' Gan Yan berkata, 'Bukankah Sun itu manusia? Bukankah akupun manusia ? Bila mau berbuat (hal-hal mulia) apakah bedanya? Kong-bing Gi berkata, Raja Bun itu guruku. Masakan Pangeran Ciu bohong kepadaku.' "
(5) Kini kalau bagian panjang tanah Negeri Tin dipotong lalu ditambahkan pada bagian yang pendek, luasnya ada 50 li; kalau mau, dapat juga dijadikan negeri yang baik. Di dalam Kitab Su King tertulis, 'Obat bila tidak menimbulkan pengaruh apa-apa, niscaya penyakit takkan tersembuhkan.' (Suking IV:8)