(1) Ada seorang penganut Bikcu bernama I-ci dengan perantaraan Chi Piet ingin bertemu Bingcu. Bingcu berkata, "Aku sebenarnya ingin menemuinya, tetapi kini aku sedang sakit. Kalau sakitku sudah sembuh, aku akan pergi menjumpainya. I-cu tidak usah kemari." (VII.A:26)
(2) Pada hari lain I-ci ingin menjumpai Bingcu pula. Bingcu berkata, "Kini aku dapat menemuinya. Tetapi kalau tidak diluruskan dulu pikirannya, ia tidak dapat mengenal Jalan Suci. Baiklah kuluruskan dulu pikirannya. Kudengar I-cu seorang penganut Bikcu. Di dalam hal berkabung, Bikcu menunjukkan bahwa kesederhanaan itulah paling sesuai Jalan Suci. I-cu berpikir dengan ajaran ini akan mengubah dunia. Mungkinkah ia sudah tidak membenarkan hal itu dan tidak menghargainya lagi, sehingga ia mengubur jenazah orang tuanya dengan cara besar-besaran? Ia telah mengurus jenazah orang tuanya dengan cara yang dipandang rendah oleh kaumnya."
(3) Chicu memberitahukan hal ini kepada I-cu. I-cu berkata, "Menurut Jalan Suci kaum Ji, 'orang jaman kuno memperlakukan orang sebagai melindungi bayi.' Apakah maksud kata-kata ini? Ini tentu bermaksud dalam mencintai seseorang, jangan ada tingkat perbedaan. Tetapi untuk melaksanakan itu, kepada orang tua sendiri itulah yang menjadi permulaan."
Chicu melaporkan hal ini kepada Bingcu. Bingcu berkata, "O, I-cu! percayakah ia bahwa orang mencintai anak kakaknya seperti mencintai bayi tetangganya ? Ia salah menangkap artinya. Bayi yang merangkak-rangkak sehingga akan terjerumus ke dalam perigi, itu bukan kesalahan anak kecil itu. Sesungguhnya Tuhan Yang Maha Esa menciptakan segala Benda ini hanya dengan Satu Pokok, tetapi I-cu menganggapnya punya Dua Pokok. ltulah sebab kesalahannya."
(4) "Pada jaman dahulu ada orang-orang yang tidak mengubur jenazah orang tuanya. Bila orang tuanya meninggal dunia, dipikullah jenazahnya dan dibuang di sebuah jurang. Lewat beberapa hari, dilihatnya rubah dan kucing hutan memakan jenazah itu, lalat dan nyamuk mengerumuni dan menghisapnya. Maka bercucuranlah keringat dari dahi orang-orang itu, tidak tahan melihatnya. Mengalirnya keringat itu bukan bermaksud untuk diperlihatkan kepada orang lain, tetapi timbul dari lubuk hati dan nampak di muka serta di matanya. Mereka segera pulang mengambil keranjang dan cangkul untuk menimbuni jenazah itu. Kalau perbuatan penuh Iman ini benar, maka anak berbakti yang berperi Cinta Kasih, yang mengubur jenazah orang tuanya dengan cara sebaik-baiknya sesuai pula dengan Jalan Suci."
(5) Chicu memberitahukan hal itu kepada I-cu. Mendengar itu I-cu tertegun dan berkata, "Sungguh ia telah memberi pelajaran kepadaku !"