Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi · Bab 3b

Ayat 1

(1) Tien Tai bertanya, "Tidak mau menemui para rajamuda itu bukankah suatu sikap yang sempit? Kalau dengan sekali menemui akan dapat mengangkatnya, besar sebagai raja besar atau kecil sebagai raja muda pemimpin; bukankah di dalam Kitab tertulis, 'Dengan membengkokkan yang sejengkal akan dapat memperoleh delapan jengkal yang lurus' bukankah ini boleh dilakukan?"

(2) Bingcu menjawab, "Dahulu tatkala Rajamuda King dari Negeri Cee berburu pernah memanggil Penjaga Hutannya dengan mengirim panji-panji. Penjaga Hutan itu tidak mau datang sehingga akan dihukum mati. (Khongcu memuji Penjaga Hutan itu); 'Seorang yang keras kemauannya itu tidak lupa bahwa sikapnya mungkin menyebabkan jenazahnya akan dilempar ke selokan atau jurang; seorang pemberani tidak lupa bahwa mungkin suatu ketika ia akan kehilangan kepala.' Mengapakah Khongcu memujinya? Orang itu, karena tidak dipanggil dengan cara yang benar, ia tidak mau datang; bagaimanakah aku harus datang tanpa undangan?"

(3) "Kata-kata, 'Dengan membengkokkan yang sejengkal akan dapat memperoleh delapan jengkal yang lurus' itu hanya peribahasa hal mencari keuntungan. Kalau berbicara hal keuntungan saja, maka biar membengkokkan yang delapan jengkal untuk dapat memperoleh satu jengkal yang lurus; asal menguntungkan tentu saja akan dilakukan."

(4) "Pada jaman dahulu Thio Kancu pernah menyuruh Ong-liang menyaisi kereta untuk Pi Hee pergi berburu. Seharian penuh ternyata tidak dapat memperoleh seekor burungpun. Pi Hee melaporkan, 'Dia seorang sais terbodoh di dunia'. Ada orang memberitahu hal ini kepada Ong-Liang. Liang berkata 'Mohon diulangi !' Ketika sudah diulangi ternyata sepagian saja telah mendapat sepuluh ekor burung. Setelah kembali Pi Hee melaporkan, 'Dia seorang sais terbaik di dunia.' Kancu berkata, 'Baiklah selanjutnya kusuruh ia menyaisi kendaraanmu!' Ketika hal ini diberitahukan kepada Ong Liang, ia tidak mau dan berkata, 'Ketika saya jalankan kereta sebagai mestinya, sepanjang hari ia tidak memperoleh seekor burungpun; namun setelah saya jalankan kereta tidak menurut semestinya, baharu sepagian saja ia telah mendapat sepuluh hasil buruan.' Di dalam Kitab Sanjak tertulis,'Tidak melanggar cara mengendarai, anak panah tepat mengenai sasaran' (II. 3.5.6). Saya tidak mau menjadi sais untuk seorang rendah budi. Mohon tidak diangkat"

(5) "Seorang sais saja malu menjalankan kereta untuk pemanah yang tidak patut. Meskipun dengan cara itu bisa mendapatkan burung dan hewan setumpuk gunung, ia tidak mau melakukan. Mengapakah aku harus mau menempuh jalan bengkok menuruti yang berbuathina? Sungguh kamu berpikir salah ! Orang yang mau membengkokkan diri, belum pernah dapat meluruskan orang lain."(VA :7/7)