Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi

Bab 3b

Ayat 1

(1) Tien Tai bertanya, "Tidak mau menemui para rajamuda itu bukankah suatu sikap yang sempit? Kalau dengan sekali menemui akan dapat mengangkatnya, besar sebagai raja besar atau kecil sebagai raja muda pemimpin; bukankah di dalam Kitab tertulis, 'Dengan membengkokkan yang sejengkal akan dapat memperoleh delapan jengkal yang lurus' bukankah ini boleh dilakukan?"

(2) Bingcu menjawab, "Dahulu tatkala Rajamuda King dari Negeri Cee berburu pernah memanggil Penjaga Hutannya dengan mengirim panji-panji. Penjaga Hutan itu tidak mau datang sehingga akan dihukum mati. (Khongcu memuji Penjaga Hutan itu); 'Seorang yang keras kemauannya itu tidak lupa bahwa sikapnya mungkin menyebabkan jenazahnya akan dilempar ke selokan atau jurang; seorang pemberani tidak lupa bahwa mungkin suatu ketika ia akan kehilangan kepala.' Mengapakah Khongcu memujinya? Orang itu, karena tidak dipanggil dengan cara yang benar, ia tidak mau datang; bagaimanakah aku harus datang tanpa undangan?"

(3) "Kata-kata, 'Dengan membengkokkan yang sejengkal akan dapat memperoleh delapan jengkal yang lurus' itu hanya peribahasa hal mencari keuntungan. Kalau berbicara hal keuntungan saja, maka biar membengkokkan yang delapan jengkal untuk dapat memperoleh satu jengkal yang lurus; asal menguntungkan tentu saja akan dilakukan."

(4) "Pada jaman dahulu Thio Kancu pernah menyuruh Ong-liang menyaisi kereta untuk Pi Hee pergi berburu. Seharian penuh ternyata tidak dapat memperoleh seekor burungpun. Pi Hee melaporkan, 'Dia seorang sais terbodoh di dunia'. Ada orang memberitahu hal ini kepada Ong-Liang. Liang berkata 'Mohon diulangi !' Ketika sudah diulangi ternyata sepagian saja telah mendapat sepuluh ekor burung. Setelah kembali Pi Hee melaporkan, 'Dia seorang sais terbaik di dunia.' Kancu berkata, 'Baiklah selanjutnya kusuruh ia menyaisi kendaraanmu!' Ketika hal ini diberitahukan kepada Ong Liang, ia tidak mau dan berkata, 'Ketika saya jalankan kereta sebagai mestinya, sepanjang hari ia tidak memperoleh seekor burungpun; namun setelah saya jalankan kereta tidak menurut semestinya, baharu sepagian saja ia telah mendapat sepuluh hasil buruan.' Di dalam Kitab Sanjak tertulis,'Tidak melanggar cara mengendarai, anak panah tepat mengenai sasaran' (II. 3.5.6). Saya tidak mau menjadi sais untuk seorang rendah budi. Mohon tidak diangkat"

(5) "Seorang sais saja malu menjalankan kereta untuk pemanah yang tidak patut. Meskipun dengan cara itu bisa mendapatkan burung dan hewan setumpuk gunung, ia tidak mau melakukan. Mengapakah aku harus mau menempuh jalan bengkok menuruti yang berbuathina? Sungguh kamu berpikir salah ! Orang yang mau membengkokkan diri, belum pernah dapat meluruskan orang lain."(VA :7/7)

Ayat 2

(1) King Chun berkata, "Kong sun Yan dan Tio Gi itu, bukankah mereka sungguh-sungguh orang besar? Kalau mereka sekali marah, dapat menggetarkan semua rajamuda; dan kalau hati mereka tenteram, duniapun ikut menghentikan perang."

(2) Bingcu berkata, "Masakan begitu orang besar? Belumkah kamu rnempelajari Kitab Lee King? Setelah seorang anak laki-laki menjalankan upacara mengenakan topi (tanda sudah akil-baliq), sang bapak memberi petuah-petuahnya. Seorang anak perempuan ketika akan berangkat menikah, sang ibu memberi petuah-petuahnya. Ketika akan berangkat, diantar sampai di pintu lalu dinasehati : 'Anakku yang berangkat menikah, berlakulah hormat, berlakulah hati-hati, janganlah berlawan-lawanan dengan suamimu.' Memegang teguh sifat menurut di dalam kelurusan itulah Jalan Suci seorang wanita." (VII A :36).

(3) "Berdiam di 'Rumah Luas' nya dunia, berdiri pada 'Tempat Lurus' nya dunia, berjalan di 'Jalan Agung' nya dunia; bila berhasil cita-citanya dapat mengajak rakyat berbuat yang sama, dan bila tidak berhasil cita-citanya tetap berjalan seorang diri di dalam Jalan Suci. Di dalam keadaan kaya dan berkedudukan tinggi tidak dapat tercemar, didalam keadaan miskin dan tanpa kedudukan tidak bergelisah, ancaman senjata tidak dapat menyebabkannya takluk; demikianlah seorang besar itu."

Ayat 3

(1) Ciu Siau bertanya, "Memangku jabatankah seorang Kuncu jaman dahulu itu ?" Bingcu menjawab, "Memangku jabatan ! Di dalam Hikayat ditulis bahwa bila Khongcu selama 3 bulan tidak memangku jabatan, nampak terlongong-longong. Bila pergi ke negeri lain, niscaya membawa barang persembahan. Kong-bing Gi berkata, 'Orang jaman kuno bila selama 3 bulan tidak memangku jabatan, ia perlu dihibur.'"

(2) "Kalau selama 3 bulan tidak memangku jabatan perlu dihibur, bukankah itu menunjukkan sangat pentingnya?"

(3) "Seorang Siswa yang kehilangan kedudukan adalah sama dengan seorang rajamuda yang kehilangan negaranya. Di dalam Kitab Kesusilaan tertulis, 'Raja muda bertanam dibantu rakyat, hasil yang berlimpah itu untuk sembahyang. Permaisurinya memelihara dan menenun sutera untuk pakaian upacara.' Kalau tidak mempunyai hewan korban yang baik, hasil bumi tidak bagus, pakaian upacara belum siap; ia tidak berani melakukan Sembahyang Besar kepada leluhur. Begitupun seorang siswa yang tidak mempunyai sawah, tidak dapat melakukan Sembahyang Besar kepada leluhur. Hewan korban, alat sembahyang dan pakaian upacara bila belum siap; ia tidak berani melakukan Sembahyang Besar kepada leluhur, iapun tidak berani bersenang-senang. Maka tidakkah benar harus mendapat hiburan?"

(4) "Apakah maksudnya bila Ia keluar negeri, niscaya membawa barang persembahan?"

(5) "Memangku jabatan bagi seorang Siswa adalah sama dengan bercocok tanam bagi seorang petani. Seorang petani yang keluar negeri apakah ia akan meninggalkan alat bercocok tanamnya?"

(6) "Negeri Cien adalah negeri yang banyak menyediakan pangkat, tetapi saya belum pernah mendengar pangkat dianggap begitu penting. Kalau pangkat dianggap begitu penting, mengapakah seorang Kuncu segan memangku jabatan?" (IA:5/1)

"Begitu seorang anak laki-laki lahir, orang tuanya tentu berharap kelak ia memperoleh seorang isteri. Dan begitu seorang anak perempuan lahir, orang tuanya tentu berharap kelak ia memperoleh seorang suami. Hati orang tua yang demikian ini semua orang mempunyainya. Tetapi kalau tanpa menanti perkenan orang tuanya, tanpa perantara, melainkan diam-diam saling mengintip dari celah-celah dinding lalu melompati pagar dan lari, niscaya orang tuanya bahkan orang seluruh negeri akan memandang rendah perbuatan mereka. Orang jaman dahulu bukannya tidak ingin menjabat kedudukan, tetapi khawatir tidak sesuai dengan Jalan Suci. Kalau mengerjakan hal itu tanpa ingat akan Jalan Suci, itu sama saja dengan orang yang diam-diam saling mengintip dari celah-celah dinding itu." (Siking I.8.6.4).

Ayat 4

(1) Phing-king bertanya, "Di belakang ada berpuluh kereta dan diikuti beratus orang, dengan di manapun mendapat makanan dari para raja muda; tidakkah ini keterlaluan?" (VIIA:32) Bingcu berkata, "Bila tidak sesuai dengan Jalan Suci, biar hanya sebakul nasi, tidak boleh diterima. Kalau sesuai dengan Jalan Suci, seperti Sun menerima dunia dari Giau, tidak juga dianggap keterlaluan. Menurut pendapatmu, apakah perbuatan itu keterlaluan?"

(2) "Tidak ! Para Siswa itu tidak mempunyai pekerjaan, tetapi mendapat makanan; ini kiranya tidak layak !"

(3) "Kalau tiada saling kerja sama bertukar barang yang berlebihan, mencukupi yang berkekurangan; niscaya para petani akan berkelebihan beras dan para wanita yang menenun akan berlebihan kain. Bukankah kamu juga selalu saling bertukar dengan orang lain? Maka adalah orang yang menjadi tukang kayu, tukang membuat kereta supaya mendapat makanan darimu. Kini kalau ada orang yang di rumah dapat berlaku bakti, di luar berendah hati, memelihara Jalan Suci raja-raja jaman dahulu untuk diajarkan kepada generasi yang lebih muda, lalu mengapakah kamu tidak mau memberinya makan? Mengapakah kamu menjunjung para tukang kayu dan tukang membuat kereta, dan sebaliknya merendahkan orang yang menyiarkan ajaran tentang Cinta Kasih dan Kebenaran?"

(4) "Tukang kayu dan tukang membuat kereta itu memang bekerja dengan maksud mendapat makan. Apakah seorang Kuncu yang menyiarkan Jalan Suci itu juga dengan maksud mendapat makan?" "Mengapakah kamu membicarakan tentang maksud hatinya? Tiap orang yang berbuat jasa kepadamu, adalah patut mendapat makan. Kamu memberi makan seseorang itu karena maksud hatinya atau karena jasanya?" "Karena maksud hatinya yang ingin mendapat makan!"

(5) "Kalau kini ada orang yang menghancurkan genting-genting dan mencoret-coret dinding, maksud agar mendapat makan, apakah kamu akan memberinya makan?"

"Tidak!"

"Nyata disini, kamu tidak memberi makan karena maksud hati orang itu; tetapi memberi makan karena jasanya!"

Ayat 5

(1) Ban Ciang bertanya, "Negeri Song ialah sebuah negeri kecil, kini ingin menjalankan pemerintahan raja-raja besar; tetapi khawatir kalau nanti Negeri Cee dan Cho menyerbunya. Bagaimanakah sebaiknya?"

(2) Bingcu berkata, "(Dahulu) Sing Thong di Negeri Pok, bertetangga dengan Negeri Kat. Pangeran Kat berbuat sewenang-wenang dan tidak melakukan sembahyang. Sing Thong menyuruh orang bertanya, mengapakah tidak melakukan upacara sembahyang. Dijawab, tidak punya hewan korban. Kemudian Sing Thong menyuruh orangnya mengirim kerbau dan kambing, Pangeran Kat memakannya dan tidak untuk upacara sembahyang. Sing Thong menyuruh orang untuk bertanya pula, mengapakah tidak dilakukan upacara sembahyang. Dijawab, tidak punya beras yang baik untuk itu! Sing Thong menyuruh rakyat Negeri Pok pergi bercocok tanam disana dan menyuruh orang-orang yang tua dan lemah untuk mengantar makanan. Pangeran Kat lalu membawa rakyatnya dan merampok arak, nasi, sekoi dan beras yang diantar sebagai rangsum itu; yang tidak mau menyerahkan lalu dibunuh, diantaranya ada seorang anak yang membawa sekoi dan daging yang sudah masak ; setelah dirampok kemudian dibunuh.

Di dalam Kitab Su King tertulis, 'Pangeran Kat memusuhi orang yang mengirim rangsum ke sawah' Ini hendak mengatakan kejadian itu." (Su King IV.2)

(3) "Dengan dasar pembunuhan terhadap anak inilah kemudian digerakkan tentara untuk menghukum. Orang-orang di empat penjuru lautan semua berkata, 'Dia bukan bermaksud merampas kekayaan dunia, tetapi hendak membalaskan dendam seorang ayah dan seorang ibu rakyat jelata.'"

(4) "Sing Thong ketika pertama melakukan penghukuman, ialah mulai dari Negeri Kat ini. Dia menghukum sampai sebelas kali penyerbuan, tetapi tiada orang yang memusuhinya. Daerah Timur dihukum, suku bangsa I di Barat merasa menyesal. Daerah Selatan dihukum, suku bangsa Tik di Utara merasa menyesal dan berkata, 'Mengapakah kita dibelakangkan?' Rakyat mengharapkan kedatangannya sebagai di musim kemarau mengharapkan hujan. Orang di pasar tidak menghentikan pekeraannya, di sawah tidak menunda pekerjaannya pula. Jadi dengan membunuh raja yang jahat untuk menolong rakyatnya adalah seperti hujan yang turun pada saatnya, sehingga rakyat bersukaria. Di dalam Kitab Su King tertulis, 'Aku menantikan rajaku, kedatangannya membebaskan diriku.' "(IB:11/2)

(5) "(Peristiwa lain). Ada segolongan pangeran yang tetap tidak mau tunduk (kepada Dinasti Ciu), maka dilakukan penghukuman ke Timur (oleh Raja Bu); lalu bergembiralah orang laki-laki maupun perempuan di sana. Dengan membawa keranjang bambu berisi kain sutera hitam dan kuning menyambutnya dan berkata, 'Kusambut Raja Dinasti Ciu karena akan kuperoleh sentosa'. Para menterinya saling menganjurkan tunduk kepada Dinasti Ciu yang besar itu. Maka para pembesarnya menaruh kain sutera hitam dan kuning penuh-penuh di dalam keranjang dan menyambut para pembesar Dinasti Ciu. Rakyatnya dengan bakul berisi nasi dan periuk berisi kuah menyambut rakyat Dinasti Ciu. Demikianlah sebagai menolong rakyat dari bahaya api dan banjir, dan hanya menangkap orang-orang yang durhaka."(Su King V:3.7.)

(6) "Di dalam Kitab Thay Si (Pernyataan Besar) tertulis, 'Aku, dengan balatentara melakukan penghukuman hanya akan menangkap orang-orang yang durhaka dan menghukum mati orang-orang yang sewenang-wenang. Semoga ini lebih gemilang dari tindakan yang dilakukan Sing Thong.' " (Su King V.1)

(7) "Nyatalah yang kau katakan tadi tidak benar-benar menjalankan pemerintahan raja-raja besar. Kalau menjalankan pemerintahan raja-raja besar, niscaya segenap rakyat di empat penjuru lautan semuanya akan mengangkat kepala, mengharapkan ia menjadi rajanya.

Betapapun besar Negeri Cee dan Cho, apakah yang perlu ditakutkan?"

Ayat 6

(1) Bingcu berkata kepada Tai Put-sing, Tuan ingin raja tuan menjadi raja yang baik, bukan? Aku hendak memberi sedikit penjelasan. Kalau ada seorang pembesar Negeri Cho menginginkan anaknya belajar bahasa Cee, ia akan menyuruh orang Cee atau orang negeri Cho memberinya pelajaran? Tentu akan menyuruh orang Negeri Cee mengajarnya. Seorang Negeri Cee memberi pelajaran, tetapi banyak orang Negeri Cho mengoceh dengannya. Walaupun tiap hari dipukul, disuruh belajar berbicara bahasa Cee, niscaya tidak akan berhasil. Begitupun bila anak itu ditaruh di jalan Cong Gak (di Negeri Cee) beberapa tahun, meskipun tiap hari dipukul supaya bercakap bahasa Cho juga tidak akan berhasil baik.

(2) Tuan berkata Siat Ki-ciu seorang Siswa yang baik, maka tuan menyuruhnya berdiam di tempat raja. Kalau semua orang di sekeliling raja, tua-muda, tinggi-rendah kedudukannya seperti Siat Ki-ciu; siapakah akan diajak raja berbuat tidak baik? Kalau di sekeliling raja, tua-muda, tinggi-rendah kedudukannya, semua tidak seperti Siat Ki-ciu; dengan siapakah raja akan berbuat baik? Dengan hanya ada satu Siat Ki-ciu seorang diri, apakah artinya bagi raja Negeri Song itu?

Ayat 7

(1) Kong-sun Thio bertanya, "Berlandas Kebenaran apakah guru tidak mau menerima para rajamuda?" Bingcu menjawab, "Pada jaman duhulu orang yang tidak menjadi menterinya tidak mau bertemu."

(2) Twan Kan-bok lari melompati pagar rumahnya (ketika didatangi Pangeran Bun dari Negeri Gwi) dan Siat Liu menutup pintu rumahnya agar tak dapat dimasuki (ketika didatangi Raja muda Bok dari Negeri Lo). Ini adalah keterlaluan. Kalau datangnya dengan sungguh hati, sebaiknyalah ditemui. (IIB:11/4)

(3) Ketika Yang Ho ingin menemui Khongcu, karena takut melanggar Kesusilaan, maka menggunakan Kesusilaan cara seorang pembesar memberi antaran kepada seorang Siswa, yaitu bila tidak dapat menerimanya sendiri barang antaran itu dirumah; orang itu harus datangsendiri ke rumah yang memberi untuk mengucapkan terima kasih. Yang Ho menyelidiki saatKhongcu tidak di rumah, lalu mengantariNya seekor babi panggang. Khongcu kemudian menyelidiki pula saat-saat ia (Yang Ho) tidak di rumah, lalu pergi mengucapkan terima kasih. Terjadinya hal ini ialah karena Yang Ho telah melakukan lebih dahulu. Sukar dikatakan bahwa Khongcu tidak mau menjumpainya. (SS.XVII :1)

(4) "Cingcu berkata, 'Orang yang sampai menggerak-gerakkan bahunya dan pura-pura tertawa manis itu, sesungguhnya lebih sengsara dari orang tani yang mencangkul pada musim kering.' Cu-lo berkata, 'Tidak disepakati, tetapi ikut-ikut menyela bicara, sehingga nampak wajahnya merah biru menahan malu; Yu tidak ingin mengenal orang semacam itu.' Dengan melihat hal-hal ini, dapatlah diketahui bagaimanakah seorang Kuncu harus memelihara sikapnya."

Ayat 8

(1) Tai Ing-ci berkata, "Aku ingin menjalankan pemungutan pajak bumi hanya 1/10 bagian hasil dan menghapuskan pajak pintu dan pasar, tetapi keadaan sekarang belum memungkinkan. Hanya kumohonkan agar diperingan dahulu dan tahun yang akan datang dilaksanakan semua. Baikkah ini?" (IB:5/3;IIA:5/3;IIIA:3)

(2) Bingcu menjawab, "Kini kalau ada seseorang yang tiap hari mencuri ayam tetangganya, lalu ada orang berkata kepadanya, 'Itu bukan Jalan Suci seorang Kuncu.' Dijawab, 'Baiklah, mulai sekarang akan kukurangi, sebulan seekor ayam saja dan tahun yang akan datang kuakhiri sama sekali.' "

(3) "Kalau mengetahui bahwa sesuatu itu tidak berdasarkan Kebenaran, segeralah hentikan. Mengapakah mesti menanti tahun lain?"

Ayat 9

(1) Kongtocu bertanya, "Orang luar menyebut guru sebagai orang yang suka berdebat. Memberanikan bertanya, apakah alasannya? "(IIA :2/17) Bingcu berkata, "Masakan aku suka berdebat? Sesungguhnya aku sangat terpaksa."

(2) "Sudah lama dunia ini ada kehidupan. Adakalanya teratur beres dan adakalanya kacau-balau."

(3) "Pada jaman Raja Giau, karena jalan air tertutup, terjadilah banjir besar melanda seluruh negeri. Ular dan naga bersarang dimana-mana. Rakyat tidak mempunyai tempat kediaman untuk menetap. Yang di dataran rendah membuat sarang di pohon-pohon dan yang di dataran tinggi berdiam di gua-gua. Di dalam Kitab Su King tertulis, 'Tercurahnya air sungguh mengejutkan!' Curahan air inilah yang menimbulkan banjir besar itu." (VIB:11)

(4) "Maka I disuruhnya mengatasi bencana alam itu. I lalu menggali saluran-saluran untuk mengalirkan air ke laut. Ular dan naga di usir ke tempat yang berawa-rawa. Demikianlah air dapat mengalir dengan baiknya, sehingga aliran Sungai Kang, Hwai, Hoo dan Han dapat teratur. Maka setelah bencana alam ini dapat diatasi, burung dan hewan liar yang membahayakan manusia dibersihkan; orang mendapatkan tanah-tanah datar untuk tempat kediamannya." (Su King II.2)

(5) "Setelah Giau dan Sun mangkat, Jalan Suci para Nabi itu makin melemah. Raja-raja yang sewenang-wenang bermunculan. Rumah-rumah, gedung-gedung diubah menjadi kolam-kolam, sehingga rakyat tidak mempunyai kesempatan beristirahat dan hidup tenteram. Sawah dan ladang diubah menjadi kebun bunga dan kebun binatang sehingga rakyat tidak beroleh sandang pangan. Kata-kata yang jahat dan perbuatan yang sewenang-wenang terjadi di mana-mana. Kebun bunga, kebun binatang dan kolam-kolam itu, karena amat rimbunnya, akhirnya mendatangkan banyak burung-burung dan hewan-hewan liar. Demikianlah setelah sampai jaman Raja Tiu, dunia menjadi sangat kacau."

(6) "Maka Pangeran Ciu lalu membantu Raja Bu menghukum Tiu dan menyerbu Negeri Yam. Setelah tiga tahun baru dapat mengalahkannya. Begitupun Hwi-liam dikejar sampai ke tepi laut, lalu ditangkap dan dihukum. Ada 50 negeri semuanya yang dihancurkan. Harimau, badak dan gajah dihalau jauh - jauh, maka seluruh dunia gembira sekali. Di dalam Kitab Su King tertulis,- Betapa gemilang karya yang dirintis Raja Bun. Betapa besar warisan yang diperjuangkan Raja Bu. Semuanya itu mendorong aku sebagai orang yang kemudian, memegang teguh kelurusan dan tidak menyeleweng." (Su King V.25)

(7) "Setelah turun-temurun, Jalan Suci itu menjadi lemah pula. Kata-kata jahat, laku sewenang-wenang, menteri membunuh raja dan anak membunuh ayah terjadi di mana-mana."

(8) "Khongcu merasa khawatir kejadian itu menjadi berlarut-larut, lalu Beliau menyusun Kitab Chun Chiu. Menulis Kitab Chun Chiu itu seharusnya pekerjaan seorang kaisar. Maka Khongcu berkata, "Kalau orang dapat memahami diriKu, tentu karena Kitab Chun Chiu dan kalau orang menyalahkan diriku, tentu karena Kitab Chun Chiu pula." (IVB: 21,22)

(9) Sejak saat itu tidak ada lagi raja yang bersifat Nabi, sehingga banyak di antara para rajamuda yang berbuat sewenang-wenang. Orang-orang terpelajar banyak pula yang mengungkap-ungkap perkara yang bersifat mengacaukan. Ajaran Yang Cu dan Bik Tik memenuhi dunia sehingga kata-kata yang memenuhi dunia saat ini, kalau tidak berdasar ajaran Yangcu tentu berdasar ajaran Bikcu. Ajaran Yangcu hanya mengutamakan diri sendiri : tidak mau mengakui adanya pemimpin. Bikcu mengajarkan cinta yang menyeluruh sama; tidak mengakui adanya orang tua sendiri! Yang tidak mengakui adanya orang tua sendiri, yang tidak mengakui adanya pemimpin, sesungguhnya hanya burung atau hewan saja. Kong-bing Gi berkata, 'Lemari dapur istana penuh daging gemuk, kandang-kandang didiami kuda tambun, tetapi wajah rakyat menampakkan kelaparan, di hutan dan ladang bergelimpangan mayat-mayat yang mati kelaparan. Ini berarti menuntun binatang memakan manusia.' (IA:4/4;VIIA:26)

Kalau ajaran Yangcu dan Bikcu tidak dipadamkan. Jalan Suci Khongcu tidak akan dapat bersemi; kata-kata jahat itu akan membodohkan rakyat, menimbuni Cinta Kasih dan Kebenaran. Bila Cinta Kasih dan Kebenaran tertimbun, ini seperti menuntun binatang memakan manusia; bahkan mungkin manusia memakan manusia.

(10) "Aku merasa khawatir akan hal ini, maka berusaha melindungi Jalan Suci para Nabi, melawan ajaran Yang dan Bik serta menyingkirkan perbuatan yang tidak bermoral ; agar kata-kata jahat tidak dapat berkembang. Kalau itu berkembang dan mengenai hati, niscaya akan dapat merusak urusan; kalau berkembang dan merusak urusan, niscaya akan merusak pemerintahan. Meskipun kelak hidup pula seorang Nabi, niscaya tidak akan dapat mengubah kata-kataku ini."

(11) "Pada jaman dahulu, I setelah mengatasi bahaya banjir lalu dunia menjadi damai. Pangeran Ciu menundukkan orang-orang I dan Tik serta menghalau hewan-hewan buas, lalu rakyat sejahtera. Khongcu menyelesaikan Kitab Chun Chiu, lalu para menteri jahat dan anak-anak durhaka menjadi ketakutan."

(12) "Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Usir kembali orang-orang Tik, dan hukumlah. Negeri-negeri King dan Si : dengan demikian, siapa berani menyesalkan?' Ajaran yang tidak mengakui adanya orang tua dan tidak mengakui adanya pemimpin, berasal dari daerah yang dihukum Pangeran Ciu itu."(IV A:4/16)

(13) "Aku hanya ingin meluruskan hati orang-orang, memadamkan kata-kata jahat, melawan perbuatan yang pincang dan menyingkirkan perbuatan yang tidak bermoral. Aku ini hanya melanjutkan pekerjaan ke-tiga Nabi itu. Bagaimana boleh dikatakan aku suka berdebat? Aku hanya sangat terpaksa."

(14) "Yang dapat mengenyahkan ajaran Yang dan Bik, dialah penganut Nabi."

Ayat 10

(1) Khong Ciang bertanya, "Bukankah Tien Tiongcu itu benar-benar seorang suci yang mengingkari akunya. Dia berdiam didaerah O-ling; pada suatu ketika menderita tidak mendapat makan sampai tiga hari lamanya, sehingga telinganya tuli dan matanya tidak dapat melihat lagi. Dipinggir periginya tumbuh sebatang pohon li (pir) yang buahnya sudah dimakan ulat separuh lebih. Dia merayap-rayap lalu mengambil buah itu dan memakannya. Setelah 3 kali menelannya, baharulah telinganya dapat mendengar dan matanya dapat melihat pula."

(2) Bingcu menjawab, "Diantara para Siswa di Negeri Cee, harus kupandang Tiongcu-lah paling besar. Meskipun begitu aku masih khawatir apakah Tiongcu benar-benar dapat berlaku suci." Dan untuk dapat benar-benar menyamai Tiongcu, kiranya hanya cacing dapat mengikuti.

(3) "Adapun cacing itu di atas memakan tanah kering dan di bawah meminum air keruh. Adakah rumah yang ditempati Tiongcu itu dibangun oleh Pik-i (yang suci) atau oleh perampok Cik itu? Sekoi yang dimakannya itu hasil tanaman Pik-i atau perampok Cik, belumlah kuketahui!"(VIIA:25)

(4) "Sekalipun begitu, apakah cacatnya? Dia menganyam terompah rumputnya sendiri dan isterinya membuat tali dari serat untuk ditukarkan dengan kebutuhannya!"

(5) "Tiongcu adalah anak menteri yang turun-temurun di Negeri Cee. Kakaknya bernama Tai, tanahnya di daerah Khap dapat menghasilkan 10.000 ciong: tetapi hasil kakaknya ini dianggap sebagai hasil tidak berdasar Kebenaran, maka ia tidak mau memakannya. Rumah kakaknya dianggap sebagai rumah yang didapat tidak berdasar Kebenaran, maka ia tidak mau mendiaminya. Dia memisahkan diri dari kakak dan ibunya, lalu bertempat tinggal di O-ling. Pada suatu hari tatkala ia pulang, kakaknya diberi seseorang seekor angsa. Ia lalu mengerutkan dahi memperdengarkan suara hidung dan berkata, 'Mengapa orang memberi barang yang suaranya begitu!' Lain harinya, ibunya menyembelih angsa itu; ketika disajikan kepadanya, lalu dimakan. Dari luar kakaknya datang dan berkata, 'Itu adalah daging angsa yang bersuara buruk itu !' Mendengar itu ia segera keluar dan memuntahkan daging yang akan ditelannya itu."

(6) "Yang dimasak ibunya tidak mau memakan, yang dimasak isterinya mau memakan. Rumah kakaknya tidak mau mendiami, sebaliknya mau mendiami rumah di O-ling. Dapatkah perbuatan ini menggambarkan kesuciannya? Perbuatan semacam Tiongcu ini, benar-benar hanya cacing dapat mengikuti laku sucinya. " (VIIA;34)