Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi · Bab 3b

Ayat 10

(1) Khong Ciang bertanya, "Bukankah Tien Tiongcu itu benar-benar seorang suci yang mengingkari akunya. Dia berdiam didaerah O-ling; pada suatu ketika menderita tidak mendapat makan sampai tiga hari lamanya, sehingga telinganya tuli dan matanya tidak dapat melihat lagi. Dipinggir periginya tumbuh sebatang pohon li (pir) yang buahnya sudah dimakan ulat separuh lebih. Dia merayap-rayap lalu mengambil buah itu dan memakannya. Setelah 3 kali menelannya, baharulah telinganya dapat mendengar dan matanya dapat melihat pula."

(2) Bingcu menjawab, "Diantara para Siswa di Negeri Cee, harus kupandang Tiongcu-lah paling besar. Meskipun begitu aku masih khawatir apakah Tiongcu benar-benar dapat berlaku suci." Dan untuk dapat benar-benar menyamai Tiongcu, kiranya hanya cacing dapat mengikuti.

(3) "Adapun cacing itu di atas memakan tanah kering dan di bawah meminum air keruh. Adakah rumah yang ditempati Tiongcu itu dibangun oleh Pik-i (yang suci) atau oleh perampok Cik itu? Sekoi yang dimakannya itu hasil tanaman Pik-i atau perampok Cik, belumlah kuketahui!"(VIIA:25)

(4) "Sekalipun begitu, apakah cacatnya? Dia menganyam terompah rumputnya sendiri dan isterinya membuat tali dari serat untuk ditukarkan dengan kebutuhannya!"

(5) "Tiongcu adalah anak menteri yang turun-temurun di Negeri Cee. Kakaknya bernama Tai, tanahnya di daerah Khap dapat menghasilkan 10.000 ciong: tetapi hasil kakaknya ini dianggap sebagai hasil tidak berdasar Kebenaran, maka ia tidak mau memakannya. Rumah kakaknya dianggap sebagai rumah yang didapat tidak berdasar Kebenaran, maka ia tidak mau mendiaminya. Dia memisahkan diri dari kakak dan ibunya, lalu bertempat tinggal di O-ling. Pada suatu hari tatkala ia pulang, kakaknya diberi seseorang seekor angsa. Ia lalu mengerutkan dahi memperdengarkan suara hidung dan berkata, 'Mengapa orang memberi barang yang suaranya begitu!' Lain harinya, ibunya menyembelih angsa itu; ketika disajikan kepadanya, lalu dimakan. Dari luar kakaknya datang dan berkata, 'Itu adalah daging angsa yang bersuara buruk itu !' Mendengar itu ia segera keluar dan memuntahkan daging yang akan ditelannya itu."

(6) "Yang dimasak ibunya tidak mau memakan, yang dimasak isterinya mau memakan. Rumah kakaknya tidak mau mendiami, sebaliknya mau mendiami rumah di O-ling. Dapatkah perbuatan ini menggambarkan kesuciannya? Perbuatan semacam Tiongcu ini, benar-benar hanya cacing dapat mengikuti laku sucinya. " (VIIA;34)