Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi · Bab 4a

Ayat 1

(1) Bingcu berkata, "Ketajaman mata Li Lo dan kecekatan Kongsicu itu bila tidak dibantu dengan jangka dan penyiku, tidak akan dapat melukis segi empat dan lingkaran. Ketajaman pendengaran Su-khong itu, bila tanpa pengukur nada, takkan dapat tepat dalam menetapkan panca nada itu. Jalan Suci Giau dan Sun itu bila tidak didasari pemerintahan yang bersifat Cinta Kasih, takkan dapat mendamaikan dan mengatur dunia."

(2) "Kini meskipun ada yang berhati Cinta Kasih serta termasyur berperi Cinta Kasih, tetapi rakyat tidak dapat langsung turut merasakan; maka tidak dapat berpengaruh pada generasi yang mendatang. Hal ini karena tidak menjalankan Jalan Suci raja-raja jaman dahulu."

(3) "Maka dikatakan, 'Hanya berhati baik itu belum cukup untuk menjalankan pemerintahan; hanya menetapkan undang-undang, itu belum pula dapat terlaksana dengan sendirinya.'"

(4) "Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Jangan melampaui, jangan melupakan, ikutilah anggaran yang asli.' Kalau sudah benar-benar melaksanakan hukum raja jaman dahulu itu tetapi ternyata masih salah juga, itu belum pernah terjadi." (III.2.5.2)

(5) "Para Nabi itu sudah menggunakan kekuatan matanya, masih menggunakan jangka, penyiku, pelurus horizontal dan pelurus vertikal untuk membentuk barang yang persegi, lingkaran, rata dan tegak lurus; demikianlah (faedah alat itu) tiada tandingnya. Mereka sudah menggunakan kekuatan telinganya masih menggunakan pengukur nada untuk menetapkan panca nada, demikianlah (faedah alat itu) tiada tandingnya. Sudah menggunakan benar-benar daya pikirannya, masih menggunakan pemerintahan yang berdasar sifat hati tidak tega terhadap sesama manusia; maka Cinta Kasihnya dapat memenuhi dunia." (IIA: 4/1).

(6) "Maka dikatakan, 'Kalau hendak tinggi, mulailah dari puncak gunung; kalau hendak rendah, mulailah dari dasar sungai atau rawa.' (Lee Ki VIII. 2) Maka yang menjalankan pemerintahan, bila tidak mau menggunakan Jalan Suci raja jaman dahulu itu; bagaimanakah dapat disebut Bijaksana?"

(7) "Maka hanya orang yang berperi Cinta Kasih patut berkedudukan tinggi. Orang yang tidak berperi Cinta Kasih bila berkedudukan tinggi, niscaya akan menyengsarakan rakyat."

(8) "Bila yang diatas tidak memikirkan Jalan Suci, yang di bawah tidak menempatkan diri di dalam hukum, yang diistana tidak percaya kepada Jalan Suci, yang bekerja tidak percaya kepada ukuran, pemimpinnya melanggar Kebenaran, rakyatnya melanggar hukum; dalam keadaan demikian kalau negara masih dapat terpelihara, itu hanya suatu kebetulan saja."

(9) "Maka dikatakan. 'Benteng kota luar dan kota dalam tidak teguh, persediaan senjata tidak banyak; itu bukan bencana bagi negara. Sawah ladang tidak luas, kekayaan tidak bertumpuk-tumpuk, itu bukan hal yang membahayakan bagi negara. Bila yang di atas tidak susila, yang di bawah tidak belajar, sehingga perampok-perampok bangkit; maka kemusnaannya sudah tidak menunggu hari lagi.'" (VB: ½)

(10) "Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Bila Tuhan YME hendak menghukum robohkan negerimu,

janganlah kamu enak-enak.'" (III.2.10.2)

(11) "Kata 'enak-enak' itu berarti sikap 'masa bodoh'

(12) "Mengabdi kepada pemimpin tidak berlandas Kebenaran, maju mundur tidak berlandas Kesusilaan, kata-kata tidak berlandas Jalan Suci raja jaman dahulu; ini dinamai sikap 'masa bodoh'."

(13) "Maka dikatakan. 'Yang dapat mendorong pemimpinnya mau menempuh kesukaran, itulah orang yang menghormatinya. Yang dapat memberi nasehat baik dan mengecam kekeliruan pemimpinnya, itulah orang yang mengindahkannya. Tetapi orang yang mengatakan bahwa pemimpinnya tidak mungkin dapat melakukan itu, dialah seorang pencuri.'" (IIB: 2/4)