Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi

Bab 4a

Ayat 1

(1) Bingcu berkata, "Ketajaman mata Li Lo dan kecekatan Kongsicu itu bila tidak dibantu dengan jangka dan penyiku, tidak akan dapat melukis segi empat dan lingkaran. Ketajaman pendengaran Su-khong itu, bila tanpa pengukur nada, takkan dapat tepat dalam menetapkan panca nada itu. Jalan Suci Giau dan Sun itu bila tidak didasari pemerintahan yang bersifat Cinta Kasih, takkan dapat mendamaikan dan mengatur dunia."

(2) "Kini meskipun ada yang berhati Cinta Kasih serta termasyur berperi Cinta Kasih, tetapi rakyat tidak dapat langsung turut merasakan; maka tidak dapat berpengaruh pada generasi yang mendatang. Hal ini karena tidak menjalankan Jalan Suci raja-raja jaman dahulu."

(3) "Maka dikatakan, 'Hanya berhati baik itu belum cukup untuk menjalankan pemerintahan; hanya menetapkan undang-undang, itu belum pula dapat terlaksana dengan sendirinya.'"

(4) "Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Jangan melampaui, jangan melupakan, ikutilah anggaran yang asli.' Kalau sudah benar-benar melaksanakan hukum raja jaman dahulu itu tetapi ternyata masih salah juga, itu belum pernah terjadi." (III.2.5.2)

(5) "Para Nabi itu sudah menggunakan kekuatan matanya, masih menggunakan jangka, penyiku, pelurus horizontal dan pelurus vertikal untuk membentuk barang yang persegi, lingkaran, rata dan tegak lurus; demikianlah (faedah alat itu) tiada tandingnya. Mereka sudah menggunakan kekuatan telinganya masih menggunakan pengukur nada untuk menetapkan panca nada, demikianlah (faedah alat itu) tiada tandingnya. Sudah menggunakan benar-benar daya pikirannya, masih menggunakan pemerintahan yang berdasar sifat hati tidak tega terhadap sesama manusia; maka Cinta Kasihnya dapat memenuhi dunia." (IIA: 4/1).

(6) "Maka dikatakan, 'Kalau hendak tinggi, mulailah dari puncak gunung; kalau hendak rendah, mulailah dari dasar sungai atau rawa.' (Lee Ki VIII. 2) Maka yang menjalankan pemerintahan, bila tidak mau menggunakan Jalan Suci raja jaman dahulu itu; bagaimanakah dapat disebut Bijaksana?"

(7) "Maka hanya orang yang berperi Cinta Kasih patut berkedudukan tinggi. Orang yang tidak berperi Cinta Kasih bila berkedudukan tinggi, niscaya akan menyengsarakan rakyat."

(8) "Bila yang diatas tidak memikirkan Jalan Suci, yang di bawah tidak menempatkan diri di dalam hukum, yang diistana tidak percaya kepada Jalan Suci, yang bekerja tidak percaya kepada ukuran, pemimpinnya melanggar Kebenaran, rakyatnya melanggar hukum; dalam keadaan demikian kalau negara masih dapat terpelihara, itu hanya suatu kebetulan saja."

(9) "Maka dikatakan. 'Benteng kota luar dan kota dalam tidak teguh, persediaan senjata tidak banyak; itu bukan bencana bagi negara. Sawah ladang tidak luas, kekayaan tidak bertumpuk-tumpuk, itu bukan hal yang membahayakan bagi negara. Bila yang di atas tidak susila, yang di bawah tidak belajar, sehingga perampok-perampok bangkit; maka kemusnaannya sudah tidak menunggu hari lagi.'" (VB: ½)

(10) "Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Bila Tuhan YME hendak menghukum robohkan negerimu,

janganlah kamu enak-enak.'" (III.2.10.2)

(11) "Kata 'enak-enak' itu berarti sikap 'masa bodoh'

(12) "Mengabdi kepada pemimpin tidak berlandas Kebenaran, maju mundur tidak berlandas Kesusilaan, kata-kata tidak berlandas Jalan Suci raja jaman dahulu; ini dinamai sikap 'masa bodoh'."

(13) "Maka dikatakan. 'Yang dapat mendorong pemimpinnya mau menempuh kesukaran, itulah orang yang menghormatinya. Yang dapat memberi nasehat baik dan mengecam kekeliruan pemimpinnya, itulah orang yang mengindahkannya. Tetapi orang yang mengatakan bahwa pemimpinnya tidak mungkin dapat melakukan itu, dialah seorang pencuri.'" (IIB: 2/4)

Ayat 2

(1) Bingcu berkata "Jangka dan penyiku itulah yang paling baik untuk membentuk segi empat dan lingkaran. Para Nabi itulah teladan terbaik dalam hubungan manusia." (IIIA:4/8)

(2) "Kalau ingin menjadi seorang pemimpin yang dapat melaksanakan Jalan Suci seorang pemimpin, kalau ingin menjadi seorang pembantu yang dapat melaksanakan Jalan Suci seorang pembantu; untuk kedua hal ini semuanya dapat meneladan Giau dan Sun. Kalau tidak meneladan Sun ketika mengabdi kepada Giau, maka belum dapat dikatakan mengindahkan pemimpinnya. Kalau tidak meneladan Giau di dalam mengatur rakyat, itulah menjadi pencuri atas rakyatnya."

(3) "Khongcu bersabda. 'Jalan Suci itu hanya menunjukkan dua hal, berperi Cinta Kasih dan tidak berperi Cinta Kasih.'"

(4) "Orang yang sewenang-wenang kepada rakyat, akan binasalah dirinya dan musnahlah negerinya. Kalau belum keterlaluan, dirinya tentu dalam bahaya dan negaranya menjadi lemah, namanya akan dicap sebagai Raja-raja Yu dan Li (yang kejam). Meskipun mempunyai anak yang berbakti dan cucu yang mencinta, beratus jaman takkan dapat memperbaiki namanya."

(5) "Didalam Kitab Si King tertulis, 'Contoh Dinasti Ien tidak jauh, hanya pada (raja terakhir) Dinasti He.' Demikianlah maksud kata-kata itu." (III.3.1. 8.)

Ayat 3

(1) Bingcu berkata, "Ketiga dinasti itu mendapat kekuasaan di dunia karena Cinta Kasih dan kehilangan kekuasaan di dunia karena tiada Cinta Kasih."

(2) "Jatuh bangun dan terpelihara musnahnya sebuah negeri itu demikian jugalah halnya."

(3) "Raja yang tidak berperi Cinta Kasih, niscaya tidak dapat melindungi empat penjuru lautan. Rajamuda yang tidak berperi Cinta Kasih, niscaya tidak dapat melindungi negerinya. Seorang pembesar yang tidak berperi Cinta Kasih, niscaya tidak dapat melindungi bio leluhumya. Dan para Siswa atau rakyat jelata yang tidak berperi Cinta Kasih, niscaya tidak dapat melindungi keempat anggota tubuhnya."

(4) "Yang benci akan binasa dan musnah, tetapi suka melakukan perbuatan yang tidak berperi Cinta Kasih; ini seperti benci akan mabuk, tetapi suka minum arak sebanyak-banyaknya."

Ayat 4

(1) Bingcu berkata, "Kalau mencintai seseorang, tetapi orang itu tidak menjadi dekat; periksalah apakah kita sudah berlandas Cinta Kasih. Kalau memerintah seseorang, tetapi orang itu tidak mau menurut; periksalah apakah kita sudah berlaku Bijaksana. Kalau bersikap Susila kepada seseorang, tetapi tidak mendapat balasan; periksalah apakah kita sudah benar-benar mengindahkannya."

(2) "Melakukan sesuatu bila tidak berhasil, semuanya harus berbalik memeriksa diri sendiri. Kalau diri kita benar-benar lurus, niscaya dunia mau tunduk."

(3) "Di dalam Kitab Sanjak tertulis 'Tekun hidup sesuai Firman, memberkati diri banyak bahagia'(IIA:4/6)"

Ayat 5

Bingcu berkata, "Orang-orang sering membicarakan masalah-masalah dunia, negara dan rumah tangga. Sesungguhnya pokok dasar dunia itu ada pada negara, pokok dasar negara itu ada pada rumah tangga dan pokok dasar rumah tangga itu ada pada diri sendiri."

Ayat 6

Bingcu berkata, "Menjalankan pemerintahan itu sebenarnya tidak sukar. Yang perlu ialah jangan sampai beroleh kesalahan dari para menteri. Bila para menteri dapat benar-benar patuh, seluruh negeripun akan mematuhi. Bila seluruh negeri mematuhi duniapun akan patuh. Demikianlah Agama Kebajikan (TIK KAU) akan seperti derasnya air memenuhi empat penjuru lautan."

Ayat 7

(1)Bingcu berkata, "Bila dunia dalam Jalan Suci, yang kecil Kebajikannya tunduk kepada yang besar Kebajikannya; yang kecil Kebijaksanaannya tunduk kepada yang besar Kebijaksanaannya. Bila dunia ingkar dari Jalan Suci, yang kecil takluk kepada yang besar, yang lemah takluk kepada yang kuat. Kedua hal ini sudah menjadi hukum Tuhan. Siapa yang mematuhi Tuhan akan terpelihara, yang melawan Tuhan akan binasa."

(2) "Dahulu Rajamuda King dari Negeri Cee pernah berkata, 'Setelah tidak dapat memerintah, bila tidak mau menerima perintah, inilah berarti memutuskan hubungan dengan dunia!', lalu dengan air mata yang berlinang-linang diserahkanlah puterinya kepada Negeri Go." (SS.XII:11)

(3) "Kini negeri-negeri kecil meniru-niru negeri besar dan malu menerima perintah, inilah seperti murid yang merasa malu menerima perintah gurunya."

(4) "Kalau benar-benar malu, mengapakah tidak berguru kepada Raja Bun? Bila berguru kepada Raja Bun, dalam jangka waktu 5 tahun bagi negeri besar atau 7 tahun bagi negeri kecil, niscaya akan dapat memerintah dunia."

(5) "Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Anak cucu Dinasti Siang, meskipun tak terbilang banyaknya, begitu Tuhan Yang Maha Tinggi menarik FirmanNya; maka anak cucu itupun tunduk kepada Dinasti Ciu. Tunduknya anak cucu itu kepada Dinasti Ciu, menunjukkan bahwa Firman Tuhan YME tidaklah dikaruniakan selamanya. Segenap pembesar Dinasti Ien segeralah menyadari, lalu membantu menyelenggarakan upacara di ibukota (Negeri Ciu).' Khongcu bersabda, 'Yang berperi Cinta Kasih, tidak dapat diukur dengan jumlah! Maka bila pemimpin-pemimpin negara itu benar-benar menyukai Cinta Kasih, niscaya tiada musuhnya di dunia ini.'" (III.1.1 .4)

(6) "Kini yang ingin tiada musuhnya di dunia ternyata tidak memegang Cinta Kasih, ini sama halnya hendak memegang benda panas, tetapi tidak mau mencelupkan ke dalam air lebih dahulu.

Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Siapakah dapat memegang Benda panas tanpa mencelupkannya lebih dahulu?"'(III.3.3.5)

Ayat 8

Bingcu berkata, "Dapatkah seorang yang tidak berperi Cinta Kasih itu di ajak bicara? Yang berbahaya dianggap membawa selamat, yang mencelakakan dianggap menguntungkan dan senang dalam hal-hal yang dapat membawa kemusnaan. Kalau seseorang yang tidak berperi Cinta Kasih dapat di ajak bicara, bagaimanakah bisa ada negeri yang musna dan keluarga yang berantakan?"

(2) "Ada sebuah nyanyian anak-anak yang berbunyi, 'Sungai Chong-long di kala jernih, boleh untuk mencuci tali topiku; Sungai Chong-long di kala keruh, boleh untuk mencuci kakiku.'"

(3) "Khongcu bersabda : 'Murid-murid Ku, dengarlah ! Di kala jernih untuk mencuci tali topi, di kala keruh untuk mencuci kaki. Perbedaan ini, air itu sendiri membuatnya.'"

(4) "Maka orang tentu sudah menghinakan diri sendiri, baharu orang lain menghinakannya. Suatu keluarga niscaya telah dirusak sendiri, baharu kemudian orang lain merusakkannya. Suatu negara niscaya telah diserang sendiri, baharu kemudian orang lain menyerangnya."

(5) "Di dalam Kitab Thai Kak tertulis, 'Bahaya yang datang oleh ujian Tuhan YME dapat dihindari, tetapi bahaya yang dibuat sendiri tidak dapat dihindari.' Ini kiranya memaksudkan hal itu." (IIA:4/ 4)

Ayat 9

(1) Bingcu berkata : "Kiat dan Tiu itu kalau sampai kehilangan dunia, ialah karena sudah kehilangan rakyat. Kehilangan rakyat itu ialah karena sudah kehilangan hatinya. Untuk mendapatkan dunia itu ada Jalan Sucinya. Bila mendapatkan rakyat, niscaya mendapatkan dunia. Untuk mendapatkan rakyat itu ada Jalan Sucinya. Bila mendapatkan hatinya niscaya mendapatkan rakyat. Untuk mendapatkan hatinya itu ada Jalan Sucinya. Yang diinginkan rakyat selenggarakanlah, yang dibenci janganlah diberikan."

(2) "Tunduknya rakyat kepada yang berperi Cinta Kasih ialah laksana air mengalir ke bawah atau hewan yang lari masuk ke hutan belantara."

(3) Maka berang-berang itu bahkan menggiring ikan ke tempat yang dalam, dan elang itu menggiring burung-burung ke dalam hutan lebat. Yang menghalau rakyat lari kepada Sing Thong dan Raja Bu itu ialah Raja Kiat dan Tiu sendiri.

(4) "Kini kalau di antara pemimpin itu ada yang suka akan Cinta Kasih, maka para raja muda itu sendiri akan menghalau rakyat lari tunduk kepadanya. Biarpun dia tidak ingin menjadi raja besar, namun tidak dapat terjadi lain."

(5) "Kini yang ingin menjadi raja besar itu, seumpama orang yang sudah sakit tujuh tahun lamanya dan membutuhkan rumput Ngai yang sudah disimpan tiga tahun sebagai obat. Kalau orang itu tidak segera menyimpan rumput itu, sepanjang hidupnya takkan mendapatkannya. Maka kalau tidak segera memupuk semangat berperi Cinta Kasih, sepanjang hidupnya akan dirundung sesal dan kehinaan sehingga akhirnya terjerumus ke jurang kemusnaan."

(6) "Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Betapa dapat menolong, kalau hanya saling tarik kearah tenggelam?' Demikianlah yang dimaksudkan "(III.3.3.5)

Ayat 10

(1) Bingcu berkata, "Yang merusak diri sendiri tidak dapat diajak bicara baik. Yang membuang diri sendiri tidak dapat diajak berbuat baik. Yang perkataannya tidak di dalam Kesusilaan dan Kebenaran, ia dinamai merusak diri sendiri. Yang berpendapat: 'Aku tidak dapat mendiami Cinta Kasih dan mengikuti Kebenaran, dinamai membuang diri sendiri."'

(2) "Cinta Kasih itulah Rumah Sentosa dan Kebenaran itulah Jalan Lurus."

(3) "Kalau orang membiarkan Rumah Sentosa itu kosong dan tidak mau mendiaminya, menyingkiri Jalan Lurus itu dan tidak mau melewatinya: ini sungguh menyedihkan.!"

Ayat 11

(1) Bingcu berkata, "Jalan Suci itu di dalam kamu, mengapakah mencari ketempat jauh? Untuk melakukan itu mudah, mengapakah mencari yang sukar?"

(2) "Bila tiap-tiap orang dapat mencintai orang tuanya, menghormati yang lebih tua niscaya dunia akan damai."

Ayat 12

(1) Bingcu berkata, "Bila pihak bawah tidak mendapat kepercayaan dari pihak atas, maka simpati rakyatpun tidak akan didapat dan pemerintahan takkan berjalan lancar. Untuk mendapatkan kepercayaan dari pihak atas ada jalannya: bila tidak mendapatkan kepercayaan dari teman-teman, niscaya tidak akan mendapat kepercayaan dari pihak atas ; untuk mendapatkan kepercayaan dari ternan-teman ada jalannya : bila tidak dapat menggembirakan orang tua, niscaya tidak akan mendapat kepercayaan dari teman-teman: untuk dapat menggembirakan orang tua ada jalannya : bila tidak dapat memenuhi diri dengan Iman, niscaya tidak dapat menggembirakan orang tua; untuk dapat memenuhi diri dengan Iman ada jalannya: bila tidak dapat benar-benar sadar tentang apa yang baik, niscaya tidak dapat memenuhi diri dengan Iman."

(2) "Maka Iman itulah Jalan Suci Tuhan YME dan berusaha beroleh Iman itulah Jalan Suci manusia."

(3) "Yang mencapai puncak Iman tetapi tidak dapat menggerakkan hati, itu belum pernah ada. Bila tiada Iman, takkan Pula dapat menggerakkan hati". (TS.XIX)

Ayat 13

(1) Bingcu berkata, "Pik–i menyingkiri Raja Tiu lalu berdiam di pantai Laut Utara. Ketika mendengar Raja Bun memerintah (sebagai rajamuda) hatinya tergerak dan berkata, Mengapa tidak datang kepadanya? Kudengar Pangeran Barat itu baik–baik memelihara orang tua." (SS.V:23)

Thai-kong menyingkiri Raja Tiu lalu berdiam di pantai Laut Timur. Ketika mendengar Raja Bun memerintah, hatinya tergerak dan berkata, 'Mengapa tidak datang kepadanya? Kudengar Pangeran Barat itu baik-baik memelihara orang tua.' (IB:5/3)

(2) "Kedua orang tua itu ialah, orang tua agung seluruh dunia. Bila mereka sudah mau datang tunduk, maka segenap ayah rakyat sedunia datang tunduk pula. Bila ayah rakyat sedunia sudah mau tunduk, kemanakah pergi anak-anaknya?"

(3) "Kalau ada rajamuda yang mau menjalankan pemerintahan Raja Bun, dalam jangka waktu tujuh tahun niscaya dapat memerintah dunia. "(IVA:7/4;SS.XIII :10–12)

Ayat 14

(1) Bingcu berkata, "Jiam Kiu sebagai menteri Keluarga Kwi ternyata tidak dapat memperbaiki mereka berlaku Bajik, bahkan membantu memungut padi rakyat untuk melipat gandakan kekayaannya. Khongcu bersabda: 'Kiu bukan lagi muridKu Murid-murid, kamu boleh memukul tambur menyerangnya.'" (SS XI:17)

(2) "Di sini jelas sudah bahwa seorang yang membantu menumpuk kekayaan seorang pemimpin yang tidak berperi Cinta Kasih, ditolak oleh Khongcu; apalagi orang yang menganjurkan berperang. Peperangan yang memperebutkan tanah, sawah ladang akan penuh dengan orang-orang yang terbunuh. Dan peperangan yang memperebutkan kota, jalan-jalan di kota itu akan penuh dengan orang-orang yang terbunuh pula. Inilah yang dinamai untuk mendapatkan tanah jajahan dengan memakan daging manusia. Kejahatannya tidak cukup hanya dihukum mati." (VIB:9)

(3) "Maka yang suka melakukan perang itu harus mendapat hukuman terberat. Yang menganjur-anjurkan para rajamuda untuk berkomplot itu boleh menerima hukuman kurang sedikit. Sedang yang suka memaksa rakyat menebang hutan untuk mendapatkan tanah itu hukumannya boleh diperingan. "(VII B: 4/1 )

Ayat 15

(1) Bingcu berkata, "Di antara alat tubuh manusia yang harus dijaga, tiada yang lebih baik dari orang-orangan mata. Anggota tubuh ini tidak dapat menutupi kejahatan. Bila seseorang itu hatinya lurus, orang-orangan mata itu akan bersinar-sinar. Sebaliknya bila seseorang itu hatinya tidak lurus, orang-orangan mata itu akan pudar."

(2) " Maka dengarlah kata-katanya dan lihatlah orang-orangan matanya. Bagaimanakah orang dapat merahasiakan isi hatinya?" (SS.II: 10)

Ayat 16

(1) Bingcu berkata, "Yang berlaku hormat itu tidak mau menghina orang. Yang berlaku hemat itu tidak mau merampas milik orang. Raja yang menghina dan merampas milik orang karena khawatir tidak diturut perintahnya, babagaimanakah dapat dikatakan hormat dan hemat?"

(2) "Hormat dan hemat itu masakan boleh diwujudkan hanya dengan suara, tertawa dan wajah saja!"

Ayat 17

(1) Sun-i Khun bertanya, "Benarkah ada adat bahwa antara pria dan wanita tidak boleh saling bersentuhan dalam menerima dan memberi?"

Bingcu berkata, "Itu memang diadatkan." "Kalau seorang ipar perempuan jatuh tenggelam, bolehkah ditolong dengan tangan?" "Kalau tidak mau menolong ipar perempuannya yang jatuh tenggelam, dia seekor serigala. Antara pria dan wanita tidak boleh saling bersentuhan dalam menerima dan memberi itu memang adat. Tetapi menolong seorang ipar perempuan yang jatuh tenggelam itu karena keperluan yang sangat." (VIA:14/4)

(2) "Kini dunia sedang tenggelam, mengapakah guru tidak menolongnya?"

(3) "Dunia yang tenggelam harus ditolong dengan Jalan Suci, tetapi seorang ipar perempuan yang tenggelam boleh ditolong dengan tangan. Adakah kamu menginginkan dunia ini kutolong dengan tangan?"

Ayat 18

(1) Kong-sun Thio bertanya, "Mengapakah seorang Kuncu tidak mengajar anaknya sendiri?"

(2) Bingcu menjawab, "Keadaanlah yang merintanginya. Orang tentu ingin mengajarkan yang benar, namun bila hal yang benar itu tidak dijalankan tentu akan membangkitkan marah. Kalau pengajaran itu membangkitkan marah, maka akibatnya ialah sebaliknya. (Anak akan berpikir). 'Guru itu seharusnya mengajarkan hal yang benar. Mengapakah guru bahkan menyeleweng dari hal yang benar?' Ini akan menyebabkan antara ayah dan anak saling bertentangan. Kalau ayah dan anak saling bertentangan, itu tidak baik." (IVB:30/3,4)

(3) "Demikianlah maka jaman dahulu orang saling bertukar anak untuk dididik."

(4) "Antara ayah dan anak sesungguhnya tidak boleh saling memaksa untuk berbuat baik. Saling memaksa berbuat baik ini akan membawa kepada perpecahan. Perpecahan yang tidak membawa berkah ini adalah pantangan terbesar."

Ayat 19

(1) Bingcu berkata. "Mengabdi kepada siapakah yang terbesar? Mengabdi kepada orang tua itulah yang terbesar. Menjaga apakah yang terbesar? Menjaga diri itulah yang terbesar. Orang yang tidak kehilangan dirinya dan dapat mengabdi kepada orang tuanya, aku pernah mendengar. Tetapi orang yang kehilangan dirinya dapat mengabdi kepada orang tuanya, aku belum pernah mendengar."

(2) "Siapakah yang tidak melakukan pengabdian? Mengabdi kepada orang tua itulah pokok pengabdian! Siapakah yang tidak melakukan penjagaan? Menjaga diri itulah pokok penjagaan!"

(3) "Cingcu ketika merawat Cing Sik selalu menyediakan arak dan daging. Setelah selesai makan selalu pula bertanya untuk apakah kelebihannya. Kalau ditanya masih adakah kelebihannya, tentu dijawab, 'ada'. Setelah Cing Sik wafat, Cing Gwanlah kini merawat Cingcu. Selalu juga disediakan arak dan daging. Setelah selesai makan, tidak pernah bertanya untuk apakah kelebihannya. Kalau ditanya masih adakah kelebihannya, tentu dijawab, 'Sudah habis!', agar nanti dapat disuguhkan lagi. Inilah yang dinamai sekedar merawat mulut dan tubuh. Hanya yang seperti Cingcu dapat dinamai merawat kemauannya."(SS.XI :26)

(4) "Kalau mengabdi kepada orang tua, hendaklah seperti Cingcu."

Ayat 20

Bingcu berkata, Orang tidak cukup hanya pandai menolak. Dan kepada pemerintah tidak cukup hanya pandai mengecam. Hanya orang yang benar-benar besar dapat memperbaiki hati pemimpin yang sesat. Bila pemimpin berperi Cinta Kasih, niscaya tiada yang tidak berperi Cinta Kasih. Bila pemimpin menjunjung Kebenaran, niscaya tiada yang tidak berlaku Benar. Bila pemimpin berjiwa lurus, niscaya tiada yang tidak lurus. Dengan seorang pemimpin yang berjiwa lurus, seluruh negeri niscaya teratur beres.(IVB:5)

Ayat 21

Bingcu berkata, "Ada pujian yang datang tanpa diharapkan, ada pula celaan yang datang biarpun sudah berusaha sebaik-baiknya.

Ayat 22

Bingcu berkata, "Orang yang dengan mudah menghamburkan kata-kata itu ialah karena belum pernah mendapat dampratan."

Ayat 23

Bingcu berkata, "Cacatnya orang itu ialah hanya ingin menggurui orang."

Ayat 24

(1) Gak Cingcu ikut Cu-go datang ke Negeri Cee.(IB: 16/12 IIB:2/6)

(2) Gak Cingcu menjumpai Bingcu.

Bingcu berkata, "Akhirnya engkau menjumpai aku juga."

"Mengapakah guru berkata demikian?" "Berapa harikah engkau sudah datang?"

"Kemarin dulu."

"Kemarin dulu? Itulah sebabnya aku berkata begitu. Apakah itu tidak beralasan?"

"Murid belum mendapat penginapan yang tetap."

"Pernahkah engkau mendengar, berusaha mendapatkan penginapan yang tetap lebih dahulu baharu kemudian menemui orang tua?"

(3) "Murid telah berbuat salah!"

Ayat 25

Bingcu berkata kepada Gak Cingcu, "Ikutmu kepada Cu-go datang kemari ini terang hanya untuk sekedar mendapat makan dan minum saja. Tidak terpikir olehku bagaimana kamu yang sudah mendapat ajaran kuno tentang Jalan Suci masih mau berbuat hanya untuk sekedar mendapat makan dan minum!"

Ayat 26

(1) Bingcu berkata, "Tidak berbakti itu ada tiga macam, tidak mempunyai pelanjut hari kemudian itulah yang terbesar!."(IVB :30)

(2) "Maka, kalau Sun sampai menikah tanpa memberi tahukan orang tuanya, itulah karena takut tidak mempunyai pelanjut hari kemudian. Seorang Kuncu menganggapnya sudah memberi laporan pula."

Ayat 27

(1) Bingcu berkata, "Hakekat Cinta Kasih itu ialah dapat mengabdi kepada orang tua. Hakekat Kebenaran itu ialah dapat menurut kepada kakak."

(2) "Hakekat Kebijaksanaan itu ialah tahu akan dua perkara itu, dan tidak melupakannya. Hakekat Kesusilaan itu ialah dapat melakukan dua macam perkara itu. Dan hakekat Musik itu ialah dapat merasakan kesenangan dalam dua perkara itu. Kalau kesenangan itu sudah tumbuh, pertumbuhannya akan terjadi tanpa suatu paksaan. Bila sudah tanpa suatu paksaan, maka dengan tanpa dipikirkan sang kaki dapat melangkah dan sang tangan dapat menari dengan baiknya."

Ayat 28

(1) Bingcu berkata, "Kalau seluruh dunia dengan sangat gembira mau tunduk kepada seseorang dan orang itu memandang kesukaan dunia hanya sebagai seikat rumput, hanya Sun-lah orangnya. Sun merasa, bila belum dapat memperoleh hati orang tuanya, ia belum dapat merasa sebagai orang. Bila belum dapat bersesuaian dengan orang tuanya, belum dapat merasa sebagai anak."

(2) "Oleh pengabdian Sun kepada orang tua yang sungguh-sungguh berdasar Jalan Suci, maka Ko-so (ayahnya) akhirnya senang di dalam Kebaikan. Dengan Koso dapat senang di dalam Kebaikan, maka seluruh duniapun ikut berubah. Setelah Ko-so dapat senang di dalam Kebaikan, semua orang tua dan anak di dunia mengerti akan kedudukan masing-masing. Demikianlah Laku Baktinya yang terbesar."