Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi

Bab 4b

Ayat 1

(1) Bingcu berkata, "Sun dilahirkan di Cu-ping, kemudian pindah ke Hu-he dan wafat di Bing-tiau. Dia termasuk suku bangsa I Timur."

(2) "Raja Bun dilahirkan di Ki-ciu dan wafat di Piet-ting. Dia termasuk suku bangsa I Barat."

(3) "Daerah-daerah itu satu sama lain terpisah ribuan li. Jarak waktunya terpisah ribuan tahun." Tetapi ketika mereka berhasil melaksanakan cita-citanya di dalam negara, haluannya ternyata begitu mirip seperti cap yang dibelah dua."

(4) "Ternyata biar Nabi purba maupun Nabi yang lebih kemudian, haluannya serupa."

Ayat 2

(1) Ketika Cu-san memangku jabatan di Negeri Ting, dia menggunakan keretanya untuk menyeberangkan orang-orang yang akan melewati Sungai Cien dan Wi.

(2) Bingcu berkata, "Dia murah hati, tetapi tidak cakap menjalankan pemerintahan." (S.S. V :16)

(3) "Bila tiap Bulan Sebelas menyuruh rakyat memperbaiki jembatan untuk jalan kaki dan dalam Bulan Duabelas memperbaiki jembatan untuk kendaraan; niscaya rakyat tidak perlu bersusah-susah menyeberang."

(4) "Seorang Kuncu mengutamakan Keadilan di dalam pemerintahan. Kalau melakukan perjalanan, dia boleh menyuruh orang-orang untuk minggir. Betapa setiap orang akan diseberangkan?"

(5) "Yang menjalankan pemerintahan bila ingin menyenangkan setiap orang dengan cara semacam itu, masakan cukup waktu tiap harinya?"

Ayat 3

(1) Bingcu berkata kepada Raja Swan dari Negeri Cee, "Bila seorang raja memandang menterinya sebagai tangan atau kakinya, niscaya menteri itu akan memandang rajanya sebagai perut atau jantungnya. Bila seorang raja memandang menterinya sebagai anjing atau kudanya, niscaya menteri itu akan memandang rajanya sebagai orang kebanyakan. Bila seorang raja memandang menterinya sebagai tanah liat atau rumput, niscaya menteri itu akan memandang rajanya sebagai perampok atau musuhnya."

(2) Raja bertanya, "Menurut adat, seorang menteri melakukan kabung (tiga bulan) bila meninggalkan jabatannya. Kita harus berbuat bagaimanakah supaya mereka mau melakukan itu?"

(3) "Nasehat-nasehatnya hendaklah diturut, kata-katanya hendaklah didengarkan, sehingga rakyatpun beroleh berkah. Kalau ia terpaksa pergi meninggalkan negeri, hendaklah raja menyuruh orang mengantarkannya sampai dibatas negeri dan didahului dengan memberi surat pujian (bagi menteri itu) kepada negeri yang dituju. Setelah tiga tahun pergi dan tidak kembali, baharulah diambil sawah dan rumahnya. Inilah yang dinamai melakukan tiga kali Kesusilaan. Dengan demikian niscaya ia mau melakukan perkabungan."

(4) "Tetapi kini perlakuan yang dikenakan kepada para menteri ialah : nasehat-nasehatnya tidak diturut, kata-katanya tidak didengar, sehingga rakyatpun tidak beroleh berkah. Kalau karena sesuatu dia pergi meninggalkan negeri, rajanya lalu berusaha menangkap dan menawannya. Kalau lepas, namanya lalu dicemarkan di negeri yang dituju. Pada hari ia pergi itu juga, segera sawah dan rumahnya diambil kembali. Inilah perbuatan seorang perampok dan musuh. Siapakah mau berkabung untuk perampok dan musuhnya?"

Ayat 4

Bingcu berkata, "Kalau seorang Siswa yang tidak bersalah dapat sewenang-wenang dibunuh, para pembesar bolehlah meninggalkan negeri semacam itu. Kalau rakyat yang tidak bersalah dapat sewenang-wenang dibunuh, para Siswa bolehlah meninggalkan negeri semacam itu."

Ayat 5

Bingcu berkata, "Bila pemimpin berperi Cinta Kasih, niscaya tiada yang tidak berperi Cinta Kasih. Bila pemimpin menjunjung Kebenaran, niscaya tiada yang tidak berlaku Benar." (IVA; 20)

Ayat 6

Bingcu berkata, "Kesusilaan yang bukan Kesusilaan, Kebenaran yang bukan Kebenaran ; seorang yang berjiwa besar tak mau melakukan."

Ayat 7

Bingcu berkata, "Seorang yang dapat bersikap Tengah, hendaklah membimbing orang yang tidak dapat bersikap Tengah. Yang pandai hendaklah membimbing yang tidak pandai. Demikianlah orang akan merasa bahagia mempunyai ayah atau kakak yang Bijaksana. Kalau yang dapat bersikap Tengah menyia-nyiakan yang tidak dapat bersikap Tengah, yang pandai menyia-nyiakan yang tidak pandai, maka antara yang Bijaksana dan yang tidak Bijaksana sesungguhnya tiada bedanya walau satu inci-pun!"

Ayat 8

Bingcu berkata, "Orang harus mengetahui yang tidak boleh dilakukan, baharulah kemudian tahu apa yang harus dilakukan,"

Ayat 9

Bingcu berkata, "Orang yang suka membicarakan ketidak-baikan orang lain, entah marabahaya apa yang akan menimpanya."

Ayat 10

Bingcu berkata, "Tiong-ni tidak mau berbuat yang keterlaluan." (TS.X,XII SS VII : 21)

Ayat 11

Bingcu berkata, "Seorang besar itu kata-katanya tidak pasti dapat dipercaya dan perbuatannya tidak pasti berbuah. Hanya saja dia berusaha menetapi Kebenaran."

Ayat 12

Bingcu berkata, "Seorang besar itu ialah yang tidak kehilangan sifat hati bayinya."

Ayat 13

Bingcu berkata, "Memelihara masa hidup (orang tua), itu belum cukup dinamai pekerjaan besar. Hanya segenap (pengabdian) untuk mengantar kewafatannya, barulah dapat dinamai pekerjaan besar." (SS.I:9)

Ayat 14

Bingcu berkata, "Seorang Kuncu belajar mendalami Jalan Suci dengan keinginan mampu menghayati sudah di dalam dirinya. Dengan menghayati sudah di dalam dirinya itu ia dapat mendiami dengan sentosa. Dengan dapat mendiami dengan sentosa itu ia akan mendapatkan keyakinan yang mendalam. Dengan keyakinan yang mendalam itu ia mendapat sumber kemampuan yang seolah-olah berada di kiri-kanannya. Demikianlah seorang Kuncu belajar dengan keinginan mampu menghayati sudah di dalam dirinya."

Ayat 15

Bingcu berkata, " Belajar seluas mungkin dan membicarakannya sejelas mungkin, ialah untuk mengenal masalahnya dan dapat mengemukakan secara singkat intisarinya."

Ayat 16

Bingcu berkata, "Kalau dengan kebaikan hendak menundukkan orang, sesungguhnya belum pernah ada yang dapat melakukannya. Kalau kebaikan itu dipergunakan untuk memberi penghidupan orang, niscaya dunia akan tunduk kepadanya."

(2) "Dengan orang-orang di dunia yang hatinya tidak mau tunduk, tetapi dapat menjadi raja besar; itu belum pernah terjadi."

Ayat 17

Bingcu berkata, "Kata-kata yang tidak benar itu tidak membawa berkah, yang benar-benar tidak membawa berkah itu ialah usaha hendak menutupi para Bijaksana."

Ayat 18

(1) Chicu berkata: "Dahulu Tiong-ni sering memuji air dengan bersabda, 'O, air! O, air!' hikmah apakah dapat diambil dari air?" (SS.IX: 17)

(2) Bingcu menjawab, "Air itu dari sumbernya keluar bergolak-golak siang malam tiada hentinya. Setelah memenuhi tempat-tempat yang lekuk lalu terus maju mengalir ke empat penjuru lautan. Hanya air yang mempunyai sumber dapat demikian. Inilah hikmah yang dapat dipetik."

(3) "Tetapi air yang tidak bersumber, yang berasal dari hujan lebat pada Bulan Tujuh dan Bulan Delapan: meski dapat memenuhi saluran-saluran dan sawah-sawah, sebentar saja sudah kering pula. Ini dapat dijadikan suatu teladan. Maka kemasyhuran yang melebihi kenyataan, seorang Kuncu merasa malu."

Ayat 19

(1) Bingcu berkata, "Perbedaan antara manusia dengan burung dan hewan itu sesungguhnya tidak seberapa. Perbedaan yang sedikit itu oleh kebanyakan orang sering diabaikan, tetapi seorang Kuncu menjaganya."

(2) "Raja Sun mempelajari hal ikhwal segala benda. Diperiksanya hal-hal mengenai perhubungan antar manusia. Ia berjalan di dalam Cinta Kasih dan Kebenaran, ia tidak perlu mengejar-ngejar Cinta Kasih dan Kebenaran."

Ayat 20

(1) Bingcu berkata, "Raja I benci akan kegemaran minum arak, tetapi menyukai kata-kata yang baik." (Su King II.2)

(2) "Raja Thong memegang teguh Sikap Tengah dan mengangkat Para Bijaksana tanpa memperdulikan tempat asalnya." (Su King IV.2)

(3) "Raja Bun memperhatikan rakyat sebagai luka di badannya; selalu berusaha di dalam Jalan Suci seperti belum pernah melihatnya."

(4) "Raja Bu tidak meremehkan yang dekat dan tidak melupakan yang jauh."

(5) "Pangeran Ciu senantiasa memikirkan agar dapat memetik teladan raja Tiga Dinasti itu dengan mempraktekkan keempat perkara itu. Kalau ada hal-hal yang dirasakan tidak sesuai pula, dipikirkannya sungguh-sungguh dari siang sampai malam. Kalau berhasil (memecahkan persoalan itu), ia terus duduk menanti fajar."

Ayat 21

(1) Bingcu berkata, "Bekas undang-undang raja besar sudah lenyap, sanjak-sanjak tidak dihimpun lagi. Setelah sanjak-sanjak itu tidak dihimpun lagi, maka diterbitkan Kitab Chun Chiu."

(2) "Kitab Sing dari Negeri Cien, Kitab Too Gut dari Negeri Cho dan Kitab Chun Chiu dari Negeri Lo itu maksudnya adalah sama. Isinya meriwayatkan Raja muda Hwan dari Negeri Cee dan Rajamuda Bun dari Negeri Cien. Riwayat itu merupakan catatan-catatan sejarah. Khongcu bersabda, 'Ulasan di dalam Kitab itu, Akulah yang sudah memberanikan diri membubuhinya.'"(IIIB: 9/8)

Ayat 22

(1) Bingcu berkata, "Ajaran yang diwariskan oleh seorang yang berkedudukan tinggi dalam lima keturunan sudah akan terputus. Yang diwariskan oleh seorang biasa dalam lima keturunan juga akan terputus."

(2) "Aku sekalipun tidak dapat langsung menjadi murid Khongcu, namun dapat menuntut Ajaran-ajaranNya dari orang-orang lain."(IIIB:9)

Ayat 23

(1) Bingcu berkata, "Sesuatu yang mula-mula nampak pantas diambil, ternyata kemudian tidak layak diambil, kalau diambil juga, itulah menodakan kesucian."

(2) "Sesuatu yang mula-mula nampak pantas diberikan, ternyata kemudian tidak layak diberikan, kalau diberikan juga, itulah menodakan kemurahan hati."

(3) "Sesuatu yang mula-mula nampak pantas dibela mati-matian, ternyata kemudian tidak layak dibela mati-matian; kalau dibela mati-matian juga, itulah menodakan keberanian."

Ayat 24

(1) Hong Bong belajar memanah kepada Gee. Setelah dapat menguasai baik-baik ajaran Gee, lalu berpikir bahwa di dunia ini hanya Gee lah yang dapat mengalahkan dirinya. Gee kemudian dibunuhnya. Bingcu berkata, "Dalam hal ini sesungguhnya Gee juga berbuat salah. Kongbing Gi berkata, 'Boleh jadi dia tidak bersalah.' Ini hanya hendak mengatakan bahwa kesalahannya itu sedikit saja. Tetapi masakan boleh dianggap tidak bersalah?" (IVA:20)

(2) "Ketika pembesar Negeri Ting menyuruh Cucok Jicu menyerbu Negeri Wee, Negeri Wee kemudian mengutus Jikongci Su untuk mengejarnya. Cucok Jicu berkata, 'Hari ini penyakitku kambuh, sehingga aku tidak dapat mementang busur. Aku tentu binasa!' Kemudian bertanya kepada kusirnya, 'Siapakah yang mengejarku?' Kusirnya menjawab, 'Jikongci Su Kalau begitu aku hidup.' Kusir itu bertanya: 'Jikongci Su ialah pemanah terbaik di Negeri Wee, mengapakah Tuan mengatakan Aku hidup?' 'Jikongci Su itu belajar memanah kepada Ienkongci Too dan Ienkongci Too itu belajar memanah kepadaku. Ienkongci Too seorang yang tulus hati, maka sahabatnya pastilah seorang yang tulus hati pula.'

Akhirnya Jikongci Su dapat mengejar, lalu berkata, 'Mengapakah tuan tidak memegang busur?' Dijawab, 'Hari ini penyakitku kambuh, sehingga aku tak dapat mementang busur. Saya belajar memanah kepada Ienkongci Too, dan Ienkongci Too belajar memanah kepada Tuan, maka saya tak sampai hati menggunakan kepandaian Tuan untuk mencelakakan diri Tuan sendiri. Meskipun demikian, urusan hari ini adalah mengenai perintah raja, saya tak berani mengalpakan.' Segera dicabut anak panahnya dan dimasukkan ujungnya ke dalam jari-jari kereta sehingga patah; kemudian dilepaskannya empat buah anak panahnya; setelah itu kembali."

Ayat 25

(1) Bingcu berkata. "Biarpun Seecu, kalau berkerudung barang yang kotor, niscaya orang-orang yang melewatinya akan menutup hidungnya."

(2) "Biarpun seorang yang buruk/jahat, bila mau membersihkan hati, berpuasa dan mandi; dia boleh bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Tinggi."

Ayat 26

(1) Bingcu berkata, "Yang dibicarakan dunia tentang Watak Sejati ialah mengenai gejala-gejalanya saja; sesungguhnya nilai gejala-gejala itu berpokok pada kewajarannya."

(2) "Kalau aku membenci orang-orang yang mengaku 'Bijaksana' itu ialah karena mereka suka berbuat hal-hal yang tidak wajar. Kalau yang mengaku 'Bijaksana' itu dapat berbuat seperti ketika I mengatur jalan air itu, niscaya mereka tidak kubenci. Adapun cara I mengatur jalan air ialah sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan perkara, Kalau orang yang mengaku 'Bijaksana' itu dapat berbuat tanpa menimbulkan perkara, maka sungguh besarlah Kebijaksanaannya."

(3) "Setinggi-tinggi langit, sejauh-jauh bintang; orang dapat menyelidiki. Maka hari balik matahari seribu tahun yang lalupun dapat dihitung sambil duduk saja."

Ayat 27

(1) Kong Hangcu kematian anaknya. Menteri kanan (Ong Hwan) atas perintah raja menjenguknya. Ketika ia masuk pintu, orang-orang maju menyambutnya dan mengajak berbicara. Ada pula yang datang menghampiri ketempat duduknya dan mengajaknya bicara.

(2) Bingcu tidak mengajak menteri kanan itu berbicara. Maka menteri itu kurang senang dan berkata, "Para Kuncu disini semua mengajak Hwan berbicara, hanya Bingcu sendiri yang tidak mengajak Hwan berbicara. Sungguh ia meremehkan Hwan. "

(3) Mendengar itu Bingcu berkata, "Menurut adat istana, orang tidak boleh bertukar tempat duduk untuk saling berbicara. Juga tidak boleh melangkah maju dari deretannya untuk saling memberi hormat. Aku hendak menjalankan adat itu, tetapi Cu-go menganggap aku meremehkan dirinya. Tidakkah ini mengherankan? "

Ayat 28

(1) Bingcu berkata, "Bedanya seorang Kuncu dengan orang biasa ialah dalam hal menjaga hatinya. Seorang Kuncu dengan Cinta Kasih menjaga hatinya, dengan Kesusilaan menjaga hatinya."

(2) "Orang yang berperi Cinta Kasih itu mencintai sesama manusia. Yang Susila itu menghormati sesama manusia."

(3) "Yang mencintai sesama manusia, niscaya akan selalu dicintai orang. Yang menghormati sesama manusia, niscaya akan selalu dihormati orang."

(4) "Kalau sudah bersikap demikian namun ada orang yang berlaku tidak senonoh kepadanya, seorang Kuncu pasti berbalik memeriksa diri. 'Aku tentu sudah tidak berperi Cinta Kasih. Aku tentu sudah tidak Susila. Kalau tidak, mengapakah aku diperlakukan demikian?'"

(5) "Kalau ia sudah memeriksa diri dan ternyata sudah di dalam Cinta Kasih dan berlaku Susila, tetapi masih juga diperlakukan tidak senonoh, seorang Kuncu akan memeriksa diri pula, 'Aku tentu sudah tidak berlaku Satya.'"

(6) "Kalau sudah memeriksa diri dan ternyata sudah berlaku Satya, tetapi tetap diperlakukan tidak senonoh; maka seorang Kuncu akan berkata, 'Inilah orang yang tidak beres. Orang yang demikian itu tiada lebih dari burung atau hewan! Kepada burung atau hewan, mengapakah kita perlu menyusahkan diri?'"

(7) "Maka seorang Kuncu mungkin menderita susah sepanjang hidupnya, tetapi tidak akan jatuh di dalam bencana walau hanya sepagian saja. Kesusahan apakah yang dideritanya? Yaitu demikian, 'Sun itu orang, aku juga orang; tetapi Sun dapat menjadi teladan dunia dan ajarannya turun-temurun sampai sekarang, sedangkan aku tetap tidak lebih seorang kampung biasa?' Inilah kesusahan yang dideritanya. Menderita susah karena apakah? Karena belum dapat seperti Sun. Hanya itu sajalah. Hal yang dapat menjadikan seorang Kuncu jatuh di dalam bencana itu boleh dikatakan tidak ada, karena yang tidak berperi Cinta Kasih, tidak dilakukan; yang tidak Susila tidak dijalankan. Kalau suatu pagi ia jatuh di dalam bencana, seorang Kuncu tidak menganggap itu sebagai bencana."

Ayat 29

(1) I dan Cik ketika menjalankan tugas dalam jaman yang tenteram itu, pernah tiga kali melewati rumah masing-masing dengan tanpa singgah; maka Khongcu memujinya.

(2) Gan Yan hidup pada jaman yang kacau, berdiam di kampung yang buruk, makan dengan hanya sebakul nasi yang kasar dan segayung air, yang bagi orang lain sudah tidak tahan; tetapi Gancu tidak berubah kegembiraannya, maka Khongcu memujinya (SS VI:11)

(3) Bingcu berkata, "I, Cik dan Gan Hwee semuanya di dalam Jalan Suci yang sama."

(4) "I berpikir kalau di dunia ada yang tenggelam karena banjir, ia merasa seperti dirinya yang menenggelamkan. Cik berpikir kalau di dunia ada yang menderita kelaparan, ia merasa seperti dirinya yang menyebabkan kelaparan itu. Demikian mereka bekerja dengan penuh semangat."

(5) "I, Cik dan Gancu kalau bertukar tempat akan berbuat sama."

(6) "Kini, kalau ada orang serumah sedang berkelahi; untuk melerainya biarpun kita hanya dengan mengikatkan topi pada rambut yang tidak tergelung : itu boleh juga."

(7) "Tetapi kalau ada perkelahian di kampung tetangga, dengan hanya mengikatkan topi pada rambut yang tidak tergelung untuk pergi melerainya; itu sikap yang salah. Bahkan umpama kita menutup pintu di dalam rumah, itu masih boleh juga."

Ayat 30

(1) Kongtocu bertanya, "Orang-orang diseluruh negeri (Cee) memandang Khongciang sebagai seorang anak yang tidak berbakti, mengapakah guru mau bergaul dengannya dan mengindahkan kepadanya?"

(2) Bingcu menjawab, "Yang dianggap tidak berbakti pada jaman ini ada lima hal: 1. Malas ke-empat anggota tubuhnya dan tidak memperhatikan pemeliharaan terhadap orang tuanya. 2. Suka berjudi dan bermabuk-mabuk serta tidak memperhatikan pemeliharaan terhadap orang tuanya. 3. Tamak akan harta benda, hanya tahu isteri dan anak, sehingga tidak memperhatikan pemeliharaan terhadap orang tuanya. 4. Hanya menuruti keinginan mata dan telinga, sehingga memalukan orang tua; dan 5. Suka akan keberanian dan sering berkelahi, sehingga membahayakan orang tua. Adakah Khongciang berbuat salah satu diantaranya?"

(3) "Adapun perihal Khongciang itu, di antara ayah dan anak saling menganjurkan berbuat baik, sehingga tidak ada persesuaian." (IV A : 18/2)

(4) "Saling menganjurkan berbuat baik sesungguhnya adalah Jalan Suci bagi persahabatan. Tetapi kalau di antara ayah dan anak saling menganjurkan berbuat baik, dapat merugikan cinta yang seharusnya ada di antara mereka."

(5) Adapun Khongciang itu masakan ia tidak ingin dapat berhubungan dengan isteri, anak dan ibunya? Hanya karena melakukan kesalahan terhadap ayahnya, sehingga menyebabkan ia tidak dapat hidup berkumpul. Ia pergi meninggalkan isteri dan anaknya, seumur hidupnya rela tidak mendapatkan perawatan (dari isteri dan anak-anaknya). Ia telah berpikir masak-masak bahwa kalau tidak berbuat demikian akan lebih besar kesalahannya. Demikianlah sebenarnya perihal Khongciang itu."

Ayat 31

(1) Ketika Cingcu berdiam di Bu-sing, suatu hari kota itu kedatangan perampok dari Negeri Wat. Ada yang memberitahukan, 'Perampok datang, baiklah kalian menyingkirkan diri!' (Sebelum menyingkir) Cingcu berpesan, 'Jangan boleh orang menempati kamarku dan jangan pula sampai merusak pohon-pohonan ini!' Setelah para perampok berlalu, Cingcu berkata; 'Perbaikilah dinding rumahku, aku segera pulang!' Para perampok telah berlalu maka Cingcu pulang. Murid-murid yang berada dikanan-kirinya saling berkata, 'Pembesar-pembesar di sini begitu setia dan menghormati guru, tetapi ketika ada perampok datang, ia segera menyingkir sehingga dilihat rakyat di sini ; setelah para perampok berlalu, baharulah ia kembali. Bukankah tindakan ini tidak layak?'

(2) Siem-yu Hing berkata, 'Engkau belum mengerti. Dahulu ketika guruku tinggal bersama keluarga Siem-yu, di sana timbul pemberontakan tukang-tukang rumput, murid-murid yang ikut guru ada tujuh puluhan, mereka juga diajak menyingkir.'

(3) Ketika Cu-su (cucu Nabi Khongcu) berada di Negeri Wee, di sana kedatangan perampok dari Negeri Cee. Ada orang memberitahukan. 'Perampok datang, baiklah kalian menyingkirkan diri!' Cu-su berkata, 'Kalau Khiep pergi, siapakah akan melindungi raja?'

(4) Bingcu berkata. "Cingcu dan Cu-su sesungguhnya sama di dalam Jalan Suci. Cingcu pada saat itu berkedudukan sebagai guru, sama dengan kedudukan seorang ayah atau kakak. Cu-su berkedudukan sebagai menteri, sama dengan seorang pembela; Cing-cu dan Cu-su kalau bertukar kedudukan akan berbuat sama."

Ayat 32

(1) Thicu berkata, "Raja menyuruh orang menyelidiki keadaan guru untuk mengetahui perbedaannya dengan orang-orang lain."

(2) Bingcu berkata, "Bagaimanakah aku dapat berbeda dengan orang-orang lain? Giau dan Sun itupun sama dengan orang-orang lain."

Ayat 33

(1) Di Negeri Cee ada seorang yang mempunyai isteri, dan seorang isteri muda yang tinggal serumah. Tiap hari, suami itu pergi keluar rumah dan pulang kenyang dengan arak dan daging. Kalau ditanya isterinya dimana dia makan dan minum, selalu dijawab: makan bersama orang-orang kaya atau orang-orang berkedudukan tinggi. Si isteri berkata kepada isteri muda itu, 'Setiap kali suami kita ke luar rumah, pulangnya selalu sudah kenyang dengan arak dan daging. Kalau kutanya dengan siapa dia sudah makan minum, selalu menjawab: makan bersama orang-orang kaya atau orang-orang berkedudukan tinggi. Tetapi belum pernah ada orang terpandang yang datang kemari. Aku akan menyelidiki ke mana suami kita itu pergi sesungguhnya.' Begitulah keesokan harinya setelah bangun pagi lalu dengan diam-diam mengikuti suaminya pergi. Ternyata di dalam kota tiada seorangpun yang mengajaknya berbicara meskipun hanya dengan berdiri saja. Setelah sampai di selatan tembok kota, di situ terdapat orang-orang yang sedang sembahyang di kuburan; suaminya itu berhenti dan mengemis bekas sajian sembahyang. Ia belum puas, lalu berpaling dan datang menghampiri orang-orang lain yang juga sedang bersembahyang. Begitulah caranya mendapatkan makan kenyang. Si isteri segera pulang memberitahukan kepada isteri muda itu. 'Suami kita adalah satu-satunya orang bagi kita untuk menaruh harapan sepanjang hidup, tetapi kenyataannya dia seorang yang demikian macamnya?' Kemudian si isteri bersama isteri muda itu mengutuk kelakuan suaminya serta menangis di ruang tengah. Suami itu tidak mengetahui akan peristiwa yang telah terjadi. Dengan wajah gembira dan sombong dari luar ia masuk ke dalam rumah.

(2) Ditinjau dari sudut pandangan seorang Kuncu, orang-orang yang di dalam usahanya mendapatkan kekayaan, kedudukan, keuntungan dan kemajuan tanpa memalukan dan menyebabkan isterinya menangis; sesungguhnya hanya beberapa orang saja.