(1) Di Negeri Cee ada seorang yang mempunyai isteri, dan seorang isteri muda yang tinggal serumah. Tiap hari, suami itu pergi keluar rumah dan pulang kenyang dengan arak dan daging. Kalau ditanya isterinya dimana dia makan dan minum, selalu dijawab: makan bersama orang-orang kaya atau orang-orang berkedudukan tinggi. Si isteri berkata kepada isteri muda itu, 'Setiap kali suami kita ke luar rumah, pulangnya selalu sudah kenyang dengan arak dan daging. Kalau kutanya dengan siapa dia sudah makan minum, selalu menjawab: makan bersama orang-orang kaya atau orang-orang berkedudukan tinggi. Tetapi belum pernah ada orang terpandang yang datang kemari. Aku akan menyelidiki ke mana suami kita itu pergi sesungguhnya.' Begitulah keesokan harinya setelah bangun pagi lalu dengan diam-diam mengikuti suaminya pergi. Ternyata di dalam kota tiada seorangpun yang mengajaknya berbicara meskipun hanya dengan berdiri saja. Setelah sampai di selatan tembok kota, di situ terdapat orang-orang yang sedang sembahyang di kuburan; suaminya itu berhenti dan mengemis bekas sajian sembahyang. Ia belum puas, lalu berpaling dan datang menghampiri orang-orang lain yang juga sedang bersembahyang. Begitulah caranya mendapatkan makan kenyang. Si isteri segera pulang memberitahukan kepada isteri muda itu. 'Suami kita adalah satu-satunya orang bagi kita untuk menaruh harapan sepanjang hidup, tetapi kenyataannya dia seorang yang demikian macamnya?' Kemudian si isteri bersama isteri muda itu mengutuk kelakuan suaminya serta menangis di ruang tengah. Suami itu tidak mengetahui akan peristiwa yang telah terjadi. Dengan wajah gembira dan sombong dari luar ia masuk ke dalam rumah.
(2) Ditinjau dari sudut pandangan seorang Kuncu, orang-orang yang di dalam usahanya mendapatkan kekayaan, kedudukan, keuntungan dan kemajuan tanpa memalukan dan menyebabkan isterinya menangis; sesungguhnya hanya beberapa orang saja.