(1) Ban-ciang bertanya, "Sun ketika mengerjakan sawah, sering menangis dan berseru kepada Tuhan YME. Mengapakah ia menangis dan berseru demikian?" (Su King II. 2) Bingcu menjawab. "Ia menyesali diri."
(2) Banciang berkata, "Kalau dicinta ayah bunda, dalam kegembiraan tidak boleh melupakan diri; kalau dibenci ayah-bunda, meskipun harus bersusah payah, tidak boleh menyesalinya. Mengapakah Sun menyesal?" (S.S. IV:18)
"Tiang-siet pernah bertanya kepada Kong-bing Koo, 'Hal Sun mengerjakan sawah, saya telah mendengar penjelasannya dengan mengerti; tetapi hal ia menangis dan berseru kepada TuhanYang Maha Pengasih serta ayah-bundanya, saya belum dapat mengerti' Kong-bing Koo berkata, 'Sungguh engkau tidak akan mudah mengerti.' Menurut Kong-bing Koo, hati seorang anak yang berbakti sungguh berat kalau sampai tidak mendapat cinta orang tuanya. (Sun tentu berpikir).
'Aku dengan sekuat tenaga membajak sawah, inilah wajar bagi seorang anak. Tetapi kalau ayah dan ibu sampai tidak mencintai diriku, orang macam apakah aku ini?'"
(3) "Setelah raja (Giau) menyuruh 9 orang putera dan 2 orang puterinya beserta para pembantunya, menyediakan lembu, kambing, dan gudang-gudang harta untuk melayani Sun ditengah sawah, para Siswa di dunia juga datang kepadanya. Raja menginginkan ia membantu mengatur dunia untuk kemudian mewariskan takhta kepadanya; tetapi karena ia belum dapat bersesuaian dengan ayah-bundanya, ia masih merasa sebagai seorang miskin yang tidak mempunyai tempat kediaman untuk pulang." (Su King I.12)
(4) "Disukai oleh para Siswa di Dunia adalah keinginan setiap orang, tetapi hal itu belum dapat meredakan kesedihannya. Keelokan wajah adalah keinginan setiap orang, ia telah beristerikan kedua orang puteri raja (Giau); tetapi hal itu belum juga meredakan kesedihannya. Kekayaan adalah keinginan setiap orang, ia sudah memiliki kekayaan di dunia ini; tetapi hal itu tidak cukup pula meredakan kesedihannya. Kedudukan tinggi ialah keinginan setiap orang, kedudukannya sudah sebagai raja; tetapi hal itu belum cukup juga untuk meredakan kesedihannya. Disukai para Siswa, beristeri elok, kaya dan berkedudukan tinggi ternyata semuanya itu belum dapat meredakan kesedihannya.; karena menurut ia, hanya setelah dapat bersesuaian dengan ayah-bunda, baharulah dapat lepas dari kesedihannya."
(5) "Biasanya orang pada waktu muda selalu terkenang kepada ayah-bundanya, setelah mengenal keelokan wajah, ia rindu kepada kekasihnya; setelah beranak isteri, ia terkenang kepada anak isterinya dan setelah memangku jabatan terkenang kepada rajanya; bahkan kalau tidak mendapatkan raja yang mau menerimanya, ia dengan penuh napsu mengusahakan. Tetapi, orang yang besar rasa Baktinya, sepanjang hidupnya akan tetap terkenang kepada ayah-bundanya. Dalam usia 50 tahun masih terkenang kepada ayah-bundanya, hal itu kulihat nyata pada diri Sun Agung."