Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi

Bab 5a

Ayat 1

(1) Ban-ciang bertanya, "Sun ketika mengerjakan sawah, sering menangis dan berseru kepada Tuhan YME. Mengapakah ia menangis dan berseru demikian?" (Su King II. 2) Bingcu menjawab. "Ia menyesali diri."

(2) Banciang berkata, "Kalau dicinta ayah bunda, dalam kegembiraan tidak boleh melupakan diri; kalau dibenci ayah-bunda, meskipun harus bersusah payah, tidak boleh menyesalinya. Mengapakah Sun menyesal?" (S.S. IV:18)

"Tiang-siet pernah bertanya kepada Kong-bing Koo, 'Hal Sun mengerjakan sawah, saya telah mendengar penjelasannya dengan mengerti; tetapi hal ia menangis dan berseru kepada TuhanYang Maha Pengasih serta ayah-bundanya, saya belum dapat mengerti' Kong-bing Koo berkata, 'Sungguh engkau tidak akan mudah mengerti.' Menurut Kong-bing Koo, hati seorang anak yang berbakti sungguh berat kalau sampai tidak mendapat cinta orang tuanya. (Sun tentu berpikir).

'Aku dengan sekuat tenaga membajak sawah, inilah wajar bagi seorang anak. Tetapi kalau ayah dan ibu sampai tidak mencintai diriku, orang macam apakah aku ini?'"

(3) "Setelah raja (Giau) menyuruh 9 orang putera dan 2 orang puterinya beserta para pembantunya, menyediakan lembu, kambing, dan gudang-gudang harta untuk melayani Sun ditengah sawah, para Siswa di dunia juga datang kepadanya. Raja menginginkan ia membantu mengatur dunia untuk kemudian mewariskan takhta kepadanya; tetapi karena ia belum dapat bersesuaian dengan ayah-bundanya, ia masih merasa sebagai seorang miskin yang tidak mempunyai tempat kediaman untuk pulang." (Su King I.12)

(4) "Disukai oleh para Siswa di Dunia adalah keinginan setiap orang, tetapi hal itu belum dapat meredakan kesedihannya. Keelokan wajah adalah keinginan setiap orang, ia telah beristerikan kedua orang puteri raja (Giau); tetapi hal itu belum juga meredakan kesedihannya. Kekayaan adalah keinginan setiap orang, ia sudah memiliki kekayaan di dunia ini; tetapi hal itu tidak cukup pula meredakan kesedihannya. Kedudukan tinggi ialah keinginan setiap orang, kedudukannya sudah sebagai raja; tetapi hal itu belum cukup juga untuk meredakan kesedihannya. Disukai para Siswa, beristeri elok, kaya dan berkedudukan tinggi ternyata semuanya itu belum dapat meredakan kesedihannya.; karena menurut ia, hanya setelah dapat bersesuaian dengan ayah-bunda, baharulah dapat lepas dari kesedihannya."

(5) "Biasanya orang pada waktu muda selalu terkenang kepada ayah-bundanya, setelah mengenal keelokan wajah, ia rindu kepada kekasihnya; setelah beranak isteri, ia terkenang kepada anak isterinya dan setelah memangku jabatan terkenang kepada rajanya; bahkan kalau tidak mendapatkan raja yang mau menerimanya, ia dengan penuh napsu mengusahakan. Tetapi, orang yang besar rasa Baktinya, sepanjang hidupnya akan tetap terkenang kepada ayah-bundanya. Dalam usia 50 tahun masih terkenang kepada ayah-bundanya, hal itu kulihat nyata pada diri Sun Agung."

Ayat 2

(1) Ban-ciang bertanya, "Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Orang hendak menikah apakah yang harus dilakukan? Ia harus memberitahu ayah-bundanya.' Kalau kata-kata ini dapat dipercaya, niscaya tidak ada yang lebih dapat mengikutinya dari pada Sun. Tetapi mengapakah Sun menikah dengan tidak memberitahu (kepada orang tuanya) lebih dahulu?"

Bingcu menjawab. "Kalau ia memberitahu, niscaya ia tidak dapat menikah. Hal laki-laki dan perempuan hidup berkeluarga, adalah hubungan terbesar di dalam hidup manusia. Kalau dengan memberitahu, kemudian menyebabkan hancurnya hubungan terbesar di dalam hidup manusia itu, pasti juga akan menjadikan ayah-bunda akhirnya menjadi menyesal. Itulah sebabnya maka tidak memberitahu." (Si King 1.8.6.3; Bc IVA; 26).

(2) Ban-ciang bertanya, "Hal Sun tidak memberitahu tentang pernikahannya itu sudah murid dengar dengan mengerti. Tetapi hal raja hendak mengambil Sun sebagai menantu, mengapakah juga tidak memberitahu (kepada orang tua Sun)? Raja sudah tahu bahwa bila dia memberitahu, diapun tidak akan dapat mengambilnya sebagai menantu. "

(3) Ban-ciang berkata, "Orang tuanya pernah menyuruh Sun memperbaiki lumbung, (ketika Sun masih di atas genting) tangganya diambil, lalu Ko-so (ayahnya) membakar gudang itu. Juga pernah disuruh memperdalam perigi, ketika Sun sudah keluar, (orang tuanya yang menyangka Sun masih di dalam) perigi itu lalu ditimbuni, Chiang (adik tiri Sun) lalu berkata, 'Akal menimbuni pangeran baru ini di dalam perigi adalah jasaku. Lembu dan kambingnya biarlah untuk ayah dan ibu. Gudang dan lumbungnya biarlah untuk ayah dan ibu pula. Aku mengambil perisai, tombak, celempung dan busurnya. Kedua ipar itu akan kusuruh mengatur tempat tidurku! Chiang lalu pergi ke rumah Sun. Saat itu Sun sedang berada di atas bangku memetik celempungnya.' Chiang lalu berkata, 'Hamba datang kemari karena ingat dan ingin bertemu dengan tuanku: Ia berkata dengan wajah malu.' Sun berkata, 'Sangat banyak menteri-menteriku, maukah engkau membantu aku mengatur mereka?' Murid tidak mengerti apakah Sun tidak mengetahui bahwa Chiang hendak membunuhnya?" "Bagaimanakah ia tidak tahu? Tetapi ia merasa sedih bila Chiang bersedih dan ia merasa gembira bila Chiang bergembira."

(4) "Tidakkah Sun hanya berpura-pura gembira?" "Tidak! Dahulu ada seorang bernama Cu-san, menteri Negeri Ting. Pada suatu hari, ia menerima antaran ikan hidup. Cu-san kemudian menyuruh orangnya untuk memelihara ikan itu di dalam kolam, tetapi perawat kolam itu memasak ikan itu dan memakannya. Setelah itu memberi laporan, 'Tadi ketika ikan itu dilepaskan di dalam kolam nampak agak bingung, tetapi sebentar kemudian sudah nampak leluasa dan berenang kian kemari dengan senang.' Cu-san berkata, 'Ia sudah mendapat tempatnya. Ia sudah mendapat tempatnya' Perawat kolam itu lalu keluar dan berkata, 'Siapa mengatakan Cu-san Bijaksana? Ikan itu sudah kumasak dan kumakan', tetapi dia berkata, 'Ia sudah mendapat tempatnya. Ia sudah mendapat tempatnya. ' (SS.VI: 26)

Begitulah seorang Kuncu bisa ditipu dengan apa-apa yang nampak wajar, tetapi tidak dapat disesatkan dengan apa-apa yang tidak berdasarkan Jalan Suci. Ia datang dengan cara seorang adik mencintai kakaknya, maka sudah tentu (Sun) dapat sungguh-sungguh percaya dan bergembira. Bagaimanakah bisa dianggap berpura-pura?"

Ayat 3

(1) Ban-ciang bertanya, "Chiang mula-mula tiap hari hanya berusaha untuk membunuh Sun; setelah Sun menjadi raja, mengapakah ia hanya dihukum buang?" Bingcu berkata. "Ia bahkan diberi kedudukan, tetapi orang-orang mengatakan ia dibuang."

(2) Ban-ciang berkata, "Sun menghukum seorang kepala pekerja, Kiong-kong, ke Yu-ciu; menyingkirkan Hwan Tau ke Gunung Cong; menghukum kepala daerah Sambiau di Sam-gwi dan menghukum Kun di Gunung I. Setelah ke-empat orang berdosa ini dihukum, seluruh dunia menjadi tunduk; karena orang-orang yang tidak berperi Cinta Kasih dihukum. Chiang yang lebih-lebih tidak berperi Cinta Kasih, bahkan diangkat menjadi kepala daerah Yu-pi. Apakah dosa orang-orang Yu-pi sehingga diperlakukan demikian? Bolehkah seorang yang berperi Cinta Kasih berbuat demikian? Kepada orang lain dihukum, kepada adiknya sendiri, bahkan diberi kedudukan."

Bingcu menjawab, "Seorang yang berperi Cinta Kasih, terhadap adiknya sendiri tidak mau menyembunyikan kemarahannya, juga tidak mau menyimpan dendam; dia hanya mencintai dan menyayanginya. Orang yang mencintai, menginginkan orang itu mulia, orang yang menyayangi, menginginkan orang itu kaya. Pengangkatannya di Yu-pi itu adalah agar ia memperoleh kaya dan mulia. Kalau diri sendiri menjadi raja, tetapi adiknya hanya menjadi orang biasa, dimanakah ada rasa cinta dan sayang itu?" (Su King II.1)

(3) "Memberanikan diri bertanya, mengapakah orang-orang berkata bahwa ia dibuang?"

"Chiang tidak bisa berbuat apa-apa di negeri itu, karena raja menyuruh wakilnya mengurus pemerintahan disana dan menyerahkan penghasilan kepadanya. Itulah sebabnya orang-orang berkata bahwa ia dibuang. Dengan demikian, bagaimanakah ia dapat menindas rakyat? Sekalipun begitu, (Sun) sering ingin bertemu dengannya, maka ia dapat dengan leluasa datang. Biarpun belum saatnya menerima kepala-kepala daerah, (Sun) selalu menyediakan waktu untuk menerima kepala daerah Yu-pi itu. Demikianlah maksudnya!"

Ayat 4

(1) Hamkhiu Bong bertanya, "Dalam peribahasa dikatakan, 'Seorang Siswa yang sempurna Kebajikan, raja tidak dapat menjadikannya sebagai menteri, ayah tidak dapat menganggapnya sebagai anak?' Sun berdiri menghadap ke Selatan sedang Giau dengan diikuti para rajamuda menghadap ke Utara di istana; begitu pula Ko-so menghadap ke Utara di istana. Demi Sun melihat Ko-so, wajahnya nampak tidak tenang. Khongcu bersabda, 'Dalam saat demikian, dunia tampak sebagai di dalam bahaya dan tidak tenteram.' Murid tidak tahu apakah hal yang demikian ini sungguh-sungguh pernah terjadi."

Bingcu menjawab, "Tidak benar! Itu bukan kata-kata Kuncu. Itu hanya cerita orang-orang desa sebelah Timur Negeri Cee. Ketika Giau sudah tua, Sun hanya mewakilinya. Di dalam Kitab Giau Tian tertulis, 'Setelah diwakili selama 28 tahun, Hong-hun berangkat rohnya dan turun jasmaninya (wafat). Rakyat melakukan perkabungan seperti kematian orang tuanya. Selama tiga tahun di empat penjuru lautan tidak terdengar suara musik.' (Su King II.1)

Khongcu bersabda, 'Langit tiada dua matahari, rakyatpun tidak punya dua raja.' Kalau Sun ketika itu sudah menjadi raja, bagaimana ia boleh memimpin para rajamuda di dunia melakukan perkabungan selama tiga tahun untuk Giau? Itu berarti ada dua raja."

(2) Hamkhiu Bong berkata, "Tentang Sun tidak memperlakukan Giau sebagai menteri murid sudah dapat mendengar dengan mengerti. Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Semua tanah di dunia, tiada yang bukan milik raja. Yang ada di daratan ini sampai kepantai, tiada yang bukan menteri raja'; Dan Sun bukankah menjadi raja? Memberanikan bertanya, mengapakah Ko-so tidak boleh dipandang sebagai menterinya juga?" "Adapun Sanjak itu tidak bermaksud, demikian. Penggubah Sanjak itu, karena terus sibuk dengan pekerjaan-pekerjaannya sehingga tidak berkesempatan merawat ayah-bundanya; maka berkata, 'Ini semua tiada yang bukan pekerjaan raja, mengapakah hanya aku seorang yang harus bersusah payah?' (III.1.9.3)

Maka kalau hendak membicarakan sebuah Sanjak, tidak boleh hanya mengambil beberapa perkataan yang dapat merusak isi kalimat; tidak boleh pula hanya mengambil beberapa kalimat yang dapat merusakkan seluruh isi. Orang harus dengan pikiran jernih memahaminya, sehingga dapat menangkap maknanya. Demikianlah hendaknya orang berbuat. Di dalam Sanjak Ien-han tertulis, 'Orang-orang muda Dinasti Ciu, tiada seorangpun tinggal.' Kalau kata-kata ini harus dipercaya begitu saja, maka berarti sudah tidak ada lagi orang-orang Dinasti Ciu."

(3) "Puncak Laku Bakti seorang anak, tiada yang lebih besar dari menjunjung orang tuanya. Puncak menjunjung tinggi orang tua, tiada yang lebih besar dari memeliharanya dengan segenap apa yang ada di dunia. Dapat menjadikannya ayah dari seorang raja, inilah puncak dalam menjunjung tinggi. Memeliharanya dengan segenap apa yang ada di dunia, inilah puncak pemeliharaan. Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Selalu tekunlah memupuk cita berbakti, cita berbakti itu akan menjadi teladan sepanjang masa.' Inilah yang dimaksudkan." (III.1.9.3)

(4) "Di dalam Kitab Su King tertulis, 'Dengan penuh hormat menghadap Ko-so, sangat hati-hati dan mengindahkan. Demikianlah maka Ko-so merasa puas.' Inilah yang dimaksud seorang ayah tidak dapat menganggapnya sebagai anak." (II.2)

Ayat 5

(1) Ban-ciang berkata, "Giau menyerahkan isi dunia ini kepada Sun, benarkah ini terjadi?"

Bingcu menjawab, "Tidak benar! Seorang raja tidak dapat menyerahkan dunia ini kepada orang lain."

(2) "Bagaimanakah Sun kemudian beroleh dunia ini? Siapakah yang memberinya?" "Tuhan YME yang memberinya!"

(3) "Ketika Tuhan YME memberinya, dengan nyatakah Firman diucapkan.?"

(4) "Tidak! Tuhan YME tidak berbicara. Itu hanya nampak dari kelakuan dan pekerjaan (Sun)

sendiri."

(5) "Hanya nampak dari kelakuan dan pekerjaan (Sun) sendiri? Bagaimanakah maksudnya?" "Seorang raja dapat mengusulkan tentang seseorang kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi tidak dapat menyuruh Tuhan menyerahkan dunia ini kepada seseorang. Seorang raja muda dapat mengusulkan seseorang kepada raja, tetapi tidak dapat menyuruh raja mengangkat seseorang menjadi raja muda. Seorang pembesar dapat mengusulkan seseorang kepada rajamuda, tetapi tidak dapat menyuruh rajamuda mengangkat seseorang menjadi pembesar. Dahulu Giau mengusulkan Sun kepada Tuhan dan Tuhan menerimanya. Dia dinyatakan kepada rakyat dan rakyat menerimanya.

Maka dikatakan Tuhan tidak berbicara. Itu hanya nampak dari kelakuan dan pekerjaan (Sun) sendiri"

(6) "Memberanikan bertanya hal mengusulkan kepada Tuhan YME dan Tuhan YME menerimanya, serta dinyatakan kepada rakyat dan rakyat menerimanya"

"(Sun) disuruh memimpin upacara sembahyang, ternyata, para Rokh berkenan. Ini berarti Tuhan YME menerimanya. Dia disuruh mengepalai pekerjaan-pekerjaan, semua pekerjaanberes sehingga rakyat beroleh sentosa. Ini berarti rakyat menerimanya. Maka Tuhan YME-lah yang mengangkatnya, rakyatlah yang mengangkatnya. Maka dikatakan Raja tidak dapat menyerahkan dunia kepada orang lain."

(7) "Sun dapat mewakili Giau selama 28 tahun, ini juga hal yang bukan menjadi kuasa manusia, melainkan kuasa Tuhan. Setelah Giau mangkat dan selesai berkabung selama tiga tahun, (Sun) lalu menyingkirkan diri. Sun menyingkirkan diri dari anak-anak Giau dan menetap di sebelah Selatan daerah Lam Hoo. Tetapi para rajamuda di dunia yang biasa menghadap ke istana, tiada yang mau menghadap kepada anak-anak Giau, melainkan kepada Sun. Orang-orang yang mengadukan sesuatu perkara, tidak mau menghadap kepada anak-anak Giau, melainkan kepada Sun. Para penyanyi tidak mau memuji anak-anak Giau, melainkan memuji Sun. Maka dikatakan: Itulah Kuasa Tuhan YME. Setelah ternyata demikian, baharulah Sun kembali ke pusat kerajaan dan naik tahta. Umpama ia segera mendiami istana Giau, itu berarti merebut kedudukan anak Giau, bukan diangkat Tuhan YME."

(8) "Di dalam Kitab Thai Si (Pernyataan Besar) tertulis, 'Tuhan YME melihat sebagai rakyatku melihat, Tuhan YME mendengar sebagai rakyatku mendengar!' Demikianlah maksudnya." (Su King V. 1B)

Ayat 6

(1) Ban-ciang bertanya, "Orang-orang berkata: 'Setelah sampai kepada I, maka Kebajikan itu sudah melemah. Dia tidak mewariskan (kerajaannya) kepada orang Bijaksana, melainkan kepada anaknya.' Benarkah demikian?" Bingcu menjawab, "Tidak, benar! Itu tidak wajar. Kalau Tuhan YME hendak mengangkat orang Bijaksana, maka diangkatlah orang Bijaksana. Kalau Tuhan YME hendak mengangkat anak (raja) itu, maka diangkatlah anak itu. Dahulu ketika Sun mengusulkan I kepada Tuhan YME, tujuh belas tahun kemudian Sun baharu mangkat. Setelah selesai melakukan perkabungan, I menyingkirkan diri dari anak Sun di Kota Yang-sing. Rakyat dunia ikut kepadanya, seperti setelah Giau mangkat, (rakyat) tidak mau mengikuti anak Giau, melainkan mengikuti Sun. Kemudian I mengusulkan Ik kepada Tuhan YME, tujuh tahun kemudian I mangkat. Setelah selesai masa perkabungan tiga tahun, Ik menyingkirkan diri dari anak I dan menetap di Gunung Ki. Tetapi yang biasa menghadap ke istana dan yang mengadukan perkara-perkara, tidak mau kepada Ik melainkan kepada Khee (anak I) dan berkata, 'Dialah putra raja kita!' Para penyanyi juga tidak menyanyi memuji Ik, melainkan memuji Khee dan berkata, 'Dialah putera raja kita!' "(Su King I.I.4)

(2) "Tancu (anak Giau) memang tidak pandai, begitupun anak Sun (Siang-kien). Sun dalam mewakili Giau dan I dalam mewakili Sun, memang cukup lama juga dan selama itu sudah banyak membawakan berkah bagi rakyat. Sebaliknya Khee adalah Bijaksana dan dapat sungguh-sungguh meneruskan Jalan Suci I; begitupun Ik dalam mewakili I tidak berapa lama dapat membawakan berkah bagi rakyat. Hal perbedaan masa jabatan Sun, I dan Ik, begitupun hal anak-anaknya, ada yang Bijaksana, ada yang tidak pandai, itu juga kuasa Tuhan YME, bukan orang yang dapat menetapkannya.(Su King 1.9.).

Apa yang tidak kita lakukan, tetapi terjadi, itulah kuasa Tuhan YME. Apa yang tidak kita cari, tetapi dapat tercapai, itulah Firman (Karunia)."

(3) "Biarpun dari rakyat jelata tetapi kalau dapat memiliki dunia ini, itulah tentu karena Kebajikannya dapat menyamai Sun dan I, juga karena raja yang terdahulu sudah mengusulkannya (kepada Tuhan YME). Itulah sebabnya Tiong-ni tidak memiliki dunia ini."bb(4) "Kalau tahta atas dunia diturunkan kepada anak cucu, tetapi akhirnya Tuhan YME menyerahkannya kepada orang lain juga; itulah karena raja itu sudah bersifat seperti Kiat dan Tiu, Maka Ik, I-ien dan Pangeran Ciu tidak memiliki dunia ini."

(5) "I-ien membantu Baginda Thong merajai dunia. Setelah Thong mangkat, Thai ting mangkat sebelum naik takhta;

Gwee-ping hanya memerintah dua tahun dan Tiong-jiem empat tahun. Thai-kak (anak Thai-ting) setelah naik takhta ternyata bahkan banyak membuat kalut undang-undang Baginda Thong. Kemudian oleh I-ien dia dibuang ke daerah Tong (tempat kuburan Raja Thong). Setelah tiga tahun, Thai-kak menyesali kesalahannya. Ia menyesali diri dan memperbaiki diri. Di daerah Tong ia dapat menempati sifat Cinta Kasih dan menjalani Kebenaran sampai tiga tahun serta mendengarkan nasehat-nasehat I-ien. Demikianlah ia dapat kembali pula di ibukota Pok" (S.S.XII:22,Bc.VIIA:31)

(6) "Hal Pangeran Ciu tidak dapat memiliki dunia adalah seperti Ik pada jaman Dinasti He dan I-ien pada jaman Dinasti Ien."

(7) "Khongcu bersabda. 'Pemerintahan Kerajaan Tong (Giau) dan Gi (Sun) diwariskan kepada orang Bijaksana. Dinasti He, Ien dan Ciu mewariskan takhta kerajaannya turun-temurun, tetapi semuanya itu berdasar Kebenaran yang Satu.'"

Ayat 7

(1) Banciang bertanya, "Orang orang berkata, I-ien dengan kepandaian masaknya memperkenalkan diri kepada Raja Thong? Benarkah itu?"

(2) Bingcu menjawab, "Tidak benar! Itu tidak wajar. I-ien membajak sawahnya di daerah Yu Sien. Ia gemar akan Jalan Suci Giau dan Sun. Yang tidak berdasar Kebenaran, yang tidak berdasar Jalan Suci; biarpun diberi hadiah dunia, ia tidak mau memperhatikannya. Walaupun disediakan seribu rakit kuda, juga tidak mau melihatnya. Yang tidak berdasar Kebenaran, yang tidak berdasar Jalan Suci, biarpun sebatang jerami ia tidak mau memberikan kepada orang lain; biarpun sebatang jerami tidak mau pula menerima dari orang lain."

(3) "Raja Thong menyuruh orang mengirimkan barang-barang dari sutera. Dengan sikap tidak tamak, ia berkata, 'Apakah guna barang-barang dari sutera antaran Baginda Thong ini bagiku, bukankah aku lebih baik diam saja di tengah sawah dan bahagia dengan Jalan Suci Giau dan Sun?'"

(4) "Baginda Thong tiga kali mengirimkan utusan kepadanya, baharulah ia mengubah sikapnya dan berkata, 'Dari pada aku diam di tengah sawah dan bahagia dengan Jalan Suci Giau dan Sun seorang diri, bukankah aku lebih baik berusaha memimpin raja supaya dapat berbuat seperti Giau dan Sun? Bukankah lebih baik aku memimpin rakyat agar dapat berbuat seperti rakyat Giau dan Sun? Bukankah lebih baik aku dapat melihat sendiri Ajaran itu diturut orang?'"

(5) "Tuhan YME menjilmakan rakyat, menitahkan agar yang mengerti lebih dahulu menyedarkan yang belum mengerti, yang insaf lebih dahulu menyadarkan yang belum insaf. Aku, adalah rakyat Tuhan YME yang sudah insaf lebih dahulu, maka kewajibankulah dengan Jalan Suci itu menyedarkan rakyat. Kalau bukan aku yang harus menyedarkan, siapa pula harus diwajibkan?" (VIIA :19)

(6) "Ia berpikir, kalau rakyat dunia, laki-laki maupun wanita, ada yang tidak beroleh berkah Ajaran Giau dan Sun; ia merasa seperti dirinyalah yang telah menjerumuskannya ke dalam selokan. Ia merasa berkewajiban memikul beban dunia yang berat itu. Maka ia datang dan meminta raja menggerakkan tentara menghukum raja Dinasti He (Raja Kiat) untuk menolong rakyat."

(7) "Aku belum pernah mendengar ada orang yang membengkokkan diri sendiri lalu dapat meluruskan orang lain, apa lagi orang yang mau menghinakan diri sendiri kemudian dapat meluruskan dunia. Cara-cara yang ditempuh para nabi itu tidaklah sama : ada yang menjauhkan diri, ada yang mendekatkan diri, ada yang pergi (meninggalkan jabatan), ada yang tidak pergi. Tetapi semuanya bertujuan membersihkan diri dari segenap noda." (IIIB:1)

(8) "Aku hanya mendengar dia berlandas Jalan Suci Giau dan Sun di dalam menghubungi Raja Thong, belum pernah mendengar ia menggunakan kepandaian masaknya."

(9) "Di dalam Kitab Nasehat I-ien tertulis, 'TuhanYME menjatuhkan hukuman (atas Raja He Kiat) mulai di istana Bokkiong. Dan akulah yang telah membantu (Raja Sing Thong) mulai di kota Pok.'"

Ayat 8

(1) Ban-ciang bertanya, "Ada orang berkata bahwa Khongcu di negeri Wee menumpang pada seorang tabib penyakit luar dan ketika di negeri Cee menumpang pada Ciet-hwan, benarkah itu?"

Bingcu berkata, "Tidak benar! Itu tidak wajar. Itu hanyalah ceritera orang-orang yang suka mencari perkara."

(2) "Di negeri Wee, Beliau menumpang pada Gan Siu-yu. Isteri Biet-cu dengan isteri Cu-lo adalah kakak beradik. Biet-cu berkata pada Cu-lo, 'Kalau Khongcu mau menetap di rumahku, niscaya akan mendapat kedudukan mulia di negeri Wee ini.' Cu-lo melaporkan hal itu, Khongcu menjawab, 'Firmanlah yang menetapkan!' Khongcu mau menjabat kedudukan kalau berdasar Kesusilaan, dan meletakkan jabatan berlandas Kebenaran. Hal mendapat atau tidak mendapat kedudukan, hanya dikatakan, 'Firmanlah yang menetapkan!' Maka kalau sampai menetap di tempat tabib penyakit luar itu dan Ciet-hwan (pelayan yang dicintai raja itu), itu berarti tidak berlandas Kebenaran, tidak berpegang pada Firman."

(3) Khongcu ketika tidak senang diam di negeri Lo dan Wee, lalu mengembara pula. Suma Hwan-twee dari Negeri Song hendak membunuhnya, maka dengan mengenakan pakaian rakyat jelata Beliau melewati Negeri Song. Ketika itu meskipun dalam keadaan bahaya, Beliau menumpang pula pada seorang pembesar kota bernama Ciencu, yang menjadi menteri Dinasti Ciu di Negeri Tien."(S.S. VII:23)

(4) "Aku mendengar, 'Untuk menilai seorang menteri yang berdiam di dekat rajanya, lihatlah siapa yang menumpang disana. Untuk menilai seorang menteri yang sedang jauh (dari tempat rajanya), lihatlah kepada siapa dia menumpang.' Kalau Khongcu mau menumpang pada tabib penyakit luar itu atau Ciet-hwan, pelayan yang dicintai raja itu, bagaimanakah bisa disebut Khongcu?"

Ayat 9

(1) Ban-ciang bertanya, "Ada orang berkata Pik-li Hee menjual diri kepada seorang pemilik ternak di Negeri Chien dengan harga lima helai kulit kambing. Ia menjadi tukang memberi makan lembu. Ia lalu dapat menarik perhatian Rajamuda Bok dari Negeri Chien. Dapat dipercayakah ini?" (VIB ;6/4)

(2) Bingcu berkata, "Tidak ! Itu tidak wajar. Itu hanya ucapan orang-orang yang suka mencari perkara saja. Pik-li Hee adalah orang Negeri Gi. Ketika utusan Negeri Cien mempersembahkan batu kumala dari daerah Swi-kik dan empat ekor kuda dari daerah Khut untuk pinjam jalan bagi tentaranya melewati Negeri Gi menyerbu Negeri Khik, Kiong Ciki memberi peringatan (supaya raja menolak permintaan itu), tetapi Pik-li Hee tidak mau memperingatkan."

(3) "Ia tahu rajamuda Negeri Gi tidak akan mau menerima peringatan itu, maka ia pergi ke Negeri Chien. Ketika itu ia sudah berusia tujuh puluh tahun. Kalau dia tidak mengerti betapa rendahnya orang mengenalkan diri kepada rajamuda Bok dari Chien dengan mau menjadi tukang memberi makan lembu, bagaimanakah dia dapat dinamakan Bijaksana? Kepada orang yang tidak dapat diberi peringatan, dia tidak mau memberi peringatan ; bagaimanakah dapat dinamakan tidak Bijaksana? Dia tahu Rajamuda Negeri Gi akan mengalami kemusnaan, maka lebih dulu dia pergi, Bagaimanakah dapat dikatakan tidak Bijaksana?"

"Ketika di Negeri Chien dia tahu Raja muda Bok dapat diajak berdaya-upaya, maka dia mau membantunya ; bagaimanakah dapat dikatakan tidak Bijaksana?"

"Setelah menjadi perdana menteri di Negeri Chien, dia dapat menjadikan rajamudanya termasyhur di dunia dan dapat dijadikan teladan orang-orang kemudian ; kalau tidak Bijaksana, bagaimanakah dapat berbuat begitu? Hal menjual diri untuk menyempurnakan cita-cita rajanya, biar seorang kampung biasa asalkan sedikit tahu kehormatan diri niscaya tidak mau melakukan. Bagaimanakah seorang Bijaksana mau berbuat demikian?"