Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi · Bab 5a

Ayat 6

(1) Ban-ciang bertanya, "Orang-orang berkata: 'Setelah sampai kepada I, maka Kebajikan itu sudah melemah. Dia tidak mewariskan (kerajaannya) kepada orang Bijaksana, melainkan kepada anaknya.' Benarkah demikian?" Bingcu menjawab, "Tidak, benar! Itu tidak wajar. Kalau Tuhan YME hendak mengangkat orang Bijaksana, maka diangkatlah orang Bijaksana. Kalau Tuhan YME hendak mengangkat anak (raja) itu, maka diangkatlah anak itu. Dahulu ketika Sun mengusulkan I kepada Tuhan YME, tujuh belas tahun kemudian Sun baharu mangkat. Setelah selesai melakukan perkabungan, I menyingkirkan diri dari anak Sun di Kota Yang-sing. Rakyat dunia ikut kepadanya, seperti setelah Giau mangkat, (rakyat) tidak mau mengikuti anak Giau, melainkan mengikuti Sun. Kemudian I mengusulkan Ik kepada Tuhan YME, tujuh tahun kemudian I mangkat. Setelah selesai masa perkabungan tiga tahun, Ik menyingkirkan diri dari anak I dan menetap di Gunung Ki. Tetapi yang biasa menghadap ke istana dan yang mengadukan perkara-perkara, tidak mau kepada Ik melainkan kepada Khee (anak I) dan berkata, 'Dialah putra raja kita!' Para penyanyi juga tidak menyanyi memuji Ik, melainkan memuji Khee dan berkata, 'Dialah putera raja kita!' "(Su King I.I.4)

(2) "Tancu (anak Giau) memang tidak pandai, begitupun anak Sun (Siang-kien). Sun dalam mewakili Giau dan I dalam mewakili Sun, memang cukup lama juga dan selama itu sudah banyak membawakan berkah bagi rakyat. Sebaliknya Khee adalah Bijaksana dan dapat sungguh-sungguh meneruskan Jalan Suci I; begitupun Ik dalam mewakili I tidak berapa lama dapat membawakan berkah bagi rakyat. Hal perbedaan masa jabatan Sun, I dan Ik, begitupun hal anak-anaknya, ada yang Bijaksana, ada yang tidak pandai, itu juga kuasa Tuhan YME, bukan orang yang dapat menetapkannya.(Su King 1.9.).

Apa yang tidak kita lakukan, tetapi terjadi, itulah kuasa Tuhan YME. Apa yang tidak kita cari, tetapi dapat tercapai, itulah Firman (Karunia)."

(3) "Biarpun dari rakyat jelata tetapi kalau dapat memiliki dunia ini, itulah tentu karena Kebajikannya dapat menyamai Sun dan I, juga karena raja yang terdahulu sudah mengusulkannya (kepada Tuhan YME). Itulah sebabnya Tiong-ni tidak memiliki dunia ini."bb(4) "Kalau tahta atas dunia diturunkan kepada anak cucu, tetapi akhirnya Tuhan YME menyerahkannya kepada orang lain juga; itulah karena raja itu sudah bersifat seperti Kiat dan Tiu, Maka Ik, I-ien dan Pangeran Ciu tidak memiliki dunia ini."

(5) "I-ien membantu Baginda Thong merajai dunia. Setelah Thong mangkat, Thai ting mangkat sebelum naik takhta;

Gwee-ping hanya memerintah dua tahun dan Tiong-jiem empat tahun. Thai-kak (anak Thai-ting) setelah naik takhta ternyata bahkan banyak membuat kalut undang-undang Baginda Thong. Kemudian oleh I-ien dia dibuang ke daerah Tong (tempat kuburan Raja Thong). Setelah tiga tahun, Thai-kak menyesali kesalahannya. Ia menyesali diri dan memperbaiki diri. Di daerah Tong ia dapat menempati sifat Cinta Kasih dan menjalani Kebenaran sampai tiga tahun serta mendengarkan nasehat-nasehat I-ien. Demikianlah ia dapat kembali pula di ibukota Pok" (S.S.XII:22,Bc.VIIA:31)

(6) "Hal Pangeran Ciu tidak dapat memiliki dunia adalah seperti Ik pada jaman Dinasti He dan I-ien pada jaman Dinasti Ien."

(7) "Khongcu bersabda. 'Pemerintahan Kerajaan Tong (Giau) dan Gi (Sun) diwariskan kepada orang Bijaksana. Dinasti He, Ien dan Ciu mewariskan takhta kerajaannya turun-temurun, tetapi semuanya itu berdasar Kebenaran yang Satu.'"