(1) Bingcu berkata kepada Raja Swan dari Negeri Cee, "Bila seorang raja memandang menterinya sebagai tangan atau kakinya, niscaya menteri itu akan memandang rajanya sebagai perut atau jantungnya. Bila seorang raja memandang menterinya sebagai anjing atau kudanya, niscaya menteri itu akan memandang rajanya sebagai orang kebanyakan. Bila seorang raja memandang menterinya sebagai tanah liat atau rumput, niscaya menteri itu akan memandang rajanya sebagai perampok atau musuhnya."
(2) Raja bertanya, "Menurut adat, seorang menteri melakukan kabung (tiga bulan) bila meninggalkan jabatannya. Kita harus berbuat bagaimanakah supaya mereka mau melakukan itu?"
(3) "Nasehat-nasehatnya hendaklah diturut, kata-katanya hendaklah didengarkan, sehingga rakyatpun beroleh berkah. Kalau ia terpaksa pergi meninggalkan negeri, hendaklah raja menyuruh orang mengantarkannya sampai dibatas negeri dan didahului dengan memberi surat pujian (bagi menteri itu) kepada negeri yang dituju. Setelah tiga tahun pergi dan tidak kembali, baharulah diambil sawah dan rumahnya. Inilah yang dinamai melakukan tiga kali Kesusilaan. Dengan demikian niscaya ia mau melakukan perkabungan."
(4) "Tetapi kini perlakuan yang dikenakan kepada para menteri ialah : nasehat-nasehatnya tidak diturut, kata-katanya tidak didengar, sehingga rakyatpun tidak beroleh berkah. Kalau karena sesuatu dia pergi meninggalkan negeri, rajanya lalu berusaha menangkap dan menawannya. Kalau lepas, namanya lalu dicemarkan di negeri yang dituju. Pada hari ia pergi itu juga, segera sawah dan rumahnya diambil kembali. Inilah perbuatan seorang perampok dan musuh. Siapakah mau berkabung untuk perampok dan musuhnya?"