(1) Hong Bong belajar memanah kepada Gee. Setelah dapat menguasai baik-baik ajaran Gee, lalu berpikir bahwa di dunia ini hanya Gee lah yang dapat mengalahkan dirinya. Gee kemudian dibunuhnya. Bingcu berkata, "Dalam hal ini sesungguhnya Gee juga berbuat salah. Kongbing Gi berkata, 'Boleh jadi dia tidak bersalah.' Ini hanya hendak mengatakan bahwa kesalahannya itu sedikit saja. Tetapi masakan boleh dianggap tidak bersalah?" (IVA:20)
(2) "Ketika pembesar Negeri Ting menyuruh Cucok Jicu menyerbu Negeri Wee, Negeri Wee kemudian mengutus Jikongci Su untuk mengejarnya. Cucok Jicu berkata, 'Hari ini penyakitku kambuh, sehingga aku tidak dapat mementang busur. Aku tentu binasa!' Kemudian bertanya kepada kusirnya, 'Siapakah yang mengejarku?' Kusirnya menjawab, 'Jikongci Su Kalau begitu aku hidup.' Kusir itu bertanya: 'Jikongci Su ialah pemanah terbaik di Negeri Wee, mengapakah Tuan mengatakan Aku hidup?' 'Jikongci Su itu belajar memanah kepada Ienkongci Too dan Ienkongci Too itu belajar memanah kepadaku. Ienkongci Too seorang yang tulus hati, maka sahabatnya pastilah seorang yang tulus hati pula.'
Akhirnya Jikongci Su dapat mengejar, lalu berkata, 'Mengapakah tuan tidak memegang busur?' Dijawab, 'Hari ini penyakitku kambuh, sehingga aku tak dapat mementang busur. Saya belajar memanah kepada Ienkongci Too, dan Ienkongci Too belajar memanah kepada Tuan, maka saya tak sampai hati menggunakan kepandaian Tuan untuk mencelakakan diri Tuan sendiri. Meskipun demikian, urusan hari ini adalah mengenai perintah raja, saya tak berani mengalpakan.' Segera dicabut anak panahnya dan dimasukkan ujungnya ke dalam jari-jari kereta sehingga patah; kemudian dilepaskannya empat buah anak panahnya; setelah itu kembali."