(1) Bingcu berkata : "Kiat dan Tiu itu kalau sampai kehilangan dunia, ialah karena sudah kehilangan rakyat. Kehilangan rakyat itu ialah karena sudah kehilangan hatinya. Untuk mendapatkan dunia itu ada Jalan Sucinya. Bila mendapatkan rakyat, niscaya mendapatkan dunia. Untuk mendapatkan rakyat itu ada Jalan Sucinya. Bila mendapatkan hatinya niscaya mendapatkan rakyat. Untuk mendapatkan hatinya itu ada Jalan Sucinya. Yang diinginkan rakyat selenggarakanlah, yang dibenci janganlah diberikan."
(2) "Tunduknya rakyat kepada yang berperi Cinta Kasih ialah laksana air mengalir ke bawah atau hewan yang lari masuk ke hutan belantara."
(3) Maka berang-berang itu bahkan menggiring ikan ke tempat yang dalam, dan elang itu menggiring burung-burung ke dalam hutan lebat. Yang menghalau rakyat lari kepada Sing Thong dan Raja Bu itu ialah Raja Kiat dan Tiu sendiri.
(4) "Kini kalau di antara pemimpin itu ada yang suka akan Cinta Kasih, maka para raja muda itu sendiri akan menghalau rakyat lari tunduk kepadanya. Biarpun dia tidak ingin menjadi raja besar, namun tidak dapat terjadi lain."
(5) "Kini yang ingin menjadi raja besar itu, seumpama orang yang sudah sakit tujuh tahun lamanya dan membutuhkan rumput Ngai yang sudah disimpan tiga tahun sebagai obat. Kalau orang itu tidak segera menyimpan rumput itu, sepanjang hidupnya takkan mendapatkannya. Maka kalau tidak segera memupuk semangat berperi Cinta Kasih, sepanjang hidupnya akan dirundung sesal dan kehinaan sehingga akhirnya terjerumus ke jurang kemusnaan."
(6) "Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Betapa dapat menolong, kalau hanya saling tarik kearah tenggelam?' Demikianlah yang dimaksudkan "(III.3.3.5)