(1)Bingcu berkata, "Bila dunia dalam Jalan Suci, yang kecil Kebajikannya tunduk kepada yang besar Kebajikannya; yang kecil Kebijaksanaannya tunduk kepada yang besar Kebijaksanaannya. Bila dunia ingkar dari Jalan Suci, yang kecil takluk kepada yang besar, yang lemah takluk kepada yang kuat. Kedua hal ini sudah menjadi hukum Tuhan. Siapa yang mematuhi Tuhan akan terpelihara, yang melawan Tuhan akan binasa."
(2) "Dahulu Rajamuda King dari Negeri Cee pernah berkata, 'Setelah tidak dapat memerintah, bila tidak mau menerima perintah, inilah berarti memutuskan hubungan dengan dunia!', lalu dengan air mata yang berlinang-linang diserahkanlah puterinya kepada Negeri Go." (SS.XII:11)
(3) "Kini negeri-negeri kecil meniru-niru negeri besar dan malu menerima perintah, inilah seperti murid yang merasa malu menerima perintah gurunya."
(4) "Kalau benar-benar malu, mengapakah tidak berguru kepada Raja Bun? Bila berguru kepada Raja Bun, dalam jangka waktu 5 tahun bagi negeri besar atau 7 tahun bagi negeri kecil, niscaya akan dapat memerintah dunia."
(5) "Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Anak cucu Dinasti Siang, meskipun tak terbilang banyaknya, begitu Tuhan Yang Maha Tinggi menarik FirmanNya; maka anak cucu itupun tunduk kepada Dinasti Ciu. Tunduknya anak cucu itu kepada Dinasti Ciu, menunjukkan bahwa Firman Tuhan YME tidaklah dikaruniakan selamanya. Segenap pembesar Dinasti Ien segeralah menyadari, lalu membantu menyelenggarakan upacara di ibukota (Negeri Ciu).' Khongcu bersabda, 'Yang berperi Cinta Kasih, tidak dapat diukur dengan jumlah! Maka bila pemimpin-pemimpin negara itu benar-benar menyukai Cinta Kasih, niscaya tiada musuhnya di dunia ini.'" (III.1.1 .4)
(6) "Kini yang ingin tiada musuhnya di dunia ternyata tidak memegang Cinta Kasih, ini sama halnya hendak memegang benda panas, tetapi tidak mau mencelupkan ke dalam air lebih dahulu.
Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Siapakah dapat memegang Benda panas tanpa mencelupkannya lebih dahulu?"'(III.3.3.5)