Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi · Bab 3b

Ayat 3

(1) Ciu Siau bertanya, "Memangku jabatankah seorang Kuncu jaman dahulu itu ?" Bingcu menjawab, "Memangku jabatan ! Di dalam Hikayat ditulis bahwa bila Khongcu selama 3 bulan tidak memangku jabatan, nampak terlongong-longong. Bila pergi ke negeri lain, niscaya membawa barang persembahan. Kong-bing Gi berkata, 'Orang jaman kuno bila selama 3 bulan tidak memangku jabatan, ia perlu dihibur.'"

(2) "Kalau selama 3 bulan tidak memangku jabatan perlu dihibur, bukankah itu menunjukkan sangat pentingnya?"

(3) "Seorang Siswa yang kehilangan kedudukan adalah sama dengan seorang rajamuda yang kehilangan negaranya. Di dalam Kitab Kesusilaan tertulis, 'Raja muda bertanam dibantu rakyat, hasil yang berlimpah itu untuk sembahyang. Permaisurinya memelihara dan menenun sutera untuk pakaian upacara.' Kalau tidak mempunyai hewan korban yang baik, hasil bumi tidak bagus, pakaian upacara belum siap; ia tidak berani melakukan Sembahyang Besar kepada leluhur. Begitupun seorang siswa yang tidak mempunyai sawah, tidak dapat melakukan Sembahyang Besar kepada leluhur. Hewan korban, alat sembahyang dan pakaian upacara bila belum siap; ia tidak berani melakukan Sembahyang Besar kepada leluhur, iapun tidak berani bersenang-senang. Maka tidakkah benar harus mendapat hiburan?"

(4) "Apakah maksudnya bila Ia keluar negeri, niscaya membawa barang persembahan?"

(5) "Memangku jabatan bagi seorang Siswa adalah sama dengan bercocok tanam bagi seorang petani. Seorang petani yang keluar negeri apakah ia akan meninggalkan alat bercocok tanamnya?"

(6) "Negeri Cien adalah negeri yang banyak menyediakan pangkat, tetapi saya belum pernah mendengar pangkat dianggap begitu penting. Kalau pangkat dianggap begitu penting, mengapakah seorang Kuncu segan memangku jabatan?" (IA:5/1)

"Begitu seorang anak laki-laki lahir, orang tuanya tentu berharap kelak ia memperoleh seorang isteri. Dan begitu seorang anak perempuan lahir, orang tuanya tentu berharap kelak ia memperoleh seorang suami. Hati orang tua yang demikian ini semua orang mempunyainya. Tetapi kalau tanpa menanti perkenan orang tuanya, tanpa perantara, melainkan diam-diam saling mengintip dari celah-celah dinding lalu melompati pagar dan lari, niscaya orang tuanya bahkan orang seluruh negeri akan memandang rendah perbuatan mereka. Orang jaman dahulu bukannya tidak ingin menjabat kedudukan, tetapi khawatir tidak sesuai dengan Jalan Suci. Kalau mengerjakan hal itu tanpa ingat akan Jalan Suci, itu sama saja dengan orang yang diam-diam saling mengintip dari celah-celah dinding itu." (Siking I.8.6.4).