(1) Phing-king bertanya, "Di belakang ada berpuluh kereta dan diikuti beratus orang, dengan di manapun mendapat makanan dari para raja muda; tidakkah ini keterlaluan?" (VIIA:32) Bingcu berkata, "Bila tidak sesuai dengan Jalan Suci, biar hanya sebakul nasi, tidak boleh diterima. Kalau sesuai dengan Jalan Suci, seperti Sun menerima dunia dari Giau, tidak juga dianggap keterlaluan. Menurut pendapatmu, apakah perbuatan itu keterlaluan?"
(2) "Tidak ! Para Siswa itu tidak mempunyai pekerjaan, tetapi mendapat makanan; ini kiranya tidak layak !"
(3) "Kalau tiada saling kerja sama bertukar barang yang berlebihan, mencukupi yang berkekurangan; niscaya para petani akan berkelebihan beras dan para wanita yang menenun akan berlebihan kain. Bukankah kamu juga selalu saling bertukar dengan orang lain? Maka adalah orang yang menjadi tukang kayu, tukang membuat kereta supaya mendapat makanan darimu. Kini kalau ada orang yang di rumah dapat berlaku bakti, di luar berendah hati, memelihara Jalan Suci raja-raja jaman dahulu untuk diajarkan kepada generasi yang lebih muda, lalu mengapakah kamu tidak mau memberinya makan? Mengapakah kamu menjunjung para tukang kayu dan tukang membuat kereta, dan sebaliknya merendahkan orang yang menyiarkan ajaran tentang Cinta Kasih dan Kebenaran?"
(4) "Tukang kayu dan tukang membuat kereta itu memang bekerja dengan maksud mendapat makan. Apakah seorang Kuncu yang menyiarkan Jalan Suci itu juga dengan maksud mendapat makan?" "Mengapakah kamu membicarakan tentang maksud hatinya? Tiap orang yang berbuat jasa kepadamu, adalah patut mendapat makan. Kamu memberi makan seseorang itu karena maksud hatinya atau karena jasanya?" "Karena maksud hatinya yang ingin mendapat makan!"
(5) "Kalau kini ada orang yang menghancurkan genting-genting dan mencoret-coret dinding, maksud agar mendapat makan, apakah kamu akan memberinya makan?"
"Tidak!"
"Nyata disini, kamu tidak memberi makan karena maksud hati orang itu; tetapi memberi makan karena jasanya!"