(1) Kong-sun Thio bertanya, "Bila guru diangkat sebagai perdana menteri Negeri Cee sehingga dapat melaksanakan Jalan Suci, tidak mengherankan guru akan dapat mengangkat raja disini menjadi raja muda pemimpin di antara para raja muda, bahkan menjadi raja besar. Namun tiadakah sedikitpun kebimbangan hati?" Bingcu menjawab, "Tidak ! Sejak usia 40 tahun, aku sudah tiada kebimbangan hati."
(2) "Kalau begitu guru jauh melampaui Bing Phun?"
"Ini tidak sukar. Kocu itu bahkan lebih mendahului aku mencapai tiada kebimbangan hati."
(3) "Adakah cara memperoleh tiada kebimbangan hati itu?" "Ada."
(4) "Pak-kiong Yu memelihara Keberaniannya demikian : Ia tidak mengerutkan kulit oleh pukulan atau mengejapkan mata oleh tusukan. Ia berpendapat, bila sehelai rambutnya saja disinggung orang, ia merasa seperti dipukul dan dimaki ditengah pasar. Ia tidak mau menerima hinaan, biar dari seorang miskin yang berpakaian jembel maupun dari seorang raja yang punya selaksa kereta perang. Baginya, menikam seorang raja yang mempunyai selaksa kereta perang adalah sama saja dengan menikam seorang yang berpakaian jembel. Ia tidak merasa takut biar kepada para raja muda. Bila mendengar kata-kata yang tidak baik, segera membalasnya."
(5) "Bing See-sia didalam memelihara Keberaniannya, berkata demikian, 'Aku memandang kemenangan atau kekalahan itu sama saja. Kalau harus lebih dahulu menimbang-nimbang kekuatan musuh baharu berani maju atau setelah berpikir dapat menang baru menyerbu, ini tandanya takut kepada barisan musuh. Aku tidak dapat memastikan beroleh kemenangan, tetapi aku dapat menjamin tiada rasa takut.'"
(6) "Bing See-sia ini menyerupai Cingcu dan Pak-kiong Yu menyerupai Cuhe. Dan kedua orang yang berani ini, belum kuketahui siapa lebih bijaksana. Hanya saja, nampaknya Bing See-sia lebih dapat menjaga apa yang lebih perlu."
(7) " Dahulu Cingcu pernah berkata kepada Cu-Siang, 'Kamu suka Keberanian, bukan ? Aku pernah dengar Keberanian yang benar dari Guru. Bila Kuperiksa diri-Ku ternyata tidak pada pihak yang benar, meski kepada seorang miskin yang berpakaian buruk, dapatkah Aku tidak merasa gentar? Bila Kuperiksa diriKu ternyata pada pihak yang benar, biar menghadapi beribu-berlaksa orang, Aku akan melawannya.' " (8) "Disini ternyata, cara Bing See-sia memelihara Hawa/Semangatnya belum sebanding dengan cara Cingcu menjaga apa yang lebih perlu."
(9) "Memberanikan bertanya, bagaimanakah hal ketidak bimbangan hati guru dan hal ketidak bimbangan hati Kocu ?" "Kocu pernah berkata, 'Apa yang tidak dapat diterima dalam pembicaraan, janganlah dicarikan pertimbangan pada pikiran; dan apa yang tidak dapat diterima pikiran, janganlah dicarikan pertimbangan pada Semangat.' Hal yang tidak dapat diterima pikiran jangan dicarikan pertimbangan pada Semangat, ini masih boleh juga. Tetapi, hal yang tidak dapat diterima dalam pembicaraan jangan dicarikan pertimbangan pada pikiran, ini tidak boleh. Adapun Cita itu ialah panglimanya Semangat, dan Semangat ini ialah hal yang memenuhi jasmani. Maka Cita itulah yang utama dan Semangat itulah yang kedua. Maka dikatakan; 'Pegang teguhlah Cita dan jangan memperkosa Semangat.' "
(10) "Tadi dikatakan, 'Cita itulah yang utama dan Semangat itulah yang kedua', mengapakah dikatakan pula: 'Pegang teguhlah Cita dan jangan memperkosa semangat'?" "Cita yang telah menyatu dapat menggerakkan Semangat, dan Semangat yang telah menyatu dapat menggerakkan Cita. Orang jatuh atau berjalan cepat, itu dikarenakan Semangat, tetapi ternyata mempengaruhi gerak Hati/Pikiran."
(11) "Memberanikan bertanya, dalam hal apakah guru lebih menang?"
"Aku mengerti makna perkataan, aku baik-baik memelihara Semangat yang menggelora."
(12) "Memberanikan bertanya, apakah Semangat yang menggelora itu?"
(13) "Itu sukar kukatakan. Semangat itu sangat besar dan sangat kuat. Bila dipelihara benar-benar sehingga tidak terusakkan, ia dapat memenuhi ruang antara langit dan bumi ini."
(14) "Semangat ini adalah jodoh dan pembantu Kebenaran dan Jalan Suci; tanpa itu akan kelaparan."
(15) "Dia tumbuh hidup karena berkumpul dengan Kebenaran yang terus-menerus, bukan karena satu dua kali berbuat Benar. Bila perbuatan tidak benar-benar sesuai dengan Hati, akan kelaparan juga. Maka aku berkata bahwa Kocu masih belum tahu jelas akan Kebenaran, karena ia menganggap hal itu sebagai sesuatu di luar dirinya." (VI A.5) (16) "Usahakanlah hal itu terus-menerus tanpa lebih dahulu mengharapkan hasilnya. Hati janganlah lengah, jangan pula membantu tumbuh; janganlah berbuat seperti orang Negeri Song itu. Di Negeri Song ada seseorang yang karena tidak sabar melihat tumbuh tanam-tanaman padinya lalu menariki pucuk tanaman itu. Kemudian ia bergegas-gegas pulang dan berkata kepada keluarganya, 'Hari ini aku sungguh lelah. Aku sudah membantu padi-padi itu tumbuh lebih panjang.' Anaknya segera lari melihatnya, ternyata padi-padi itu sudah layu semua. Sesungguhnya orang di dunia ini yang tidak 'membantu tumbuh' padinya, sangat jaranglah. Orang yang tidak melihat faedah mengusahakannya dan membiarkannya saja ialah seperti orang yang tidak mau menyiangi padinya. Tetapi orang yang membantunya tumbuh, ialah seperti menariki pucuk tanaman padinya. Bukan saja tidak berfaedah, bahkan merusaknya."
(17) "Apakah yang dimaksud dengan 'mengerti makna perkataan' itu?" "Bila orang kata-katanya menyebelah, aku tahu ia merahasiakan sesuatu. Bila orang kata-katanya berlebih-lebihan, aku tahu ia tenggelam dalam persoalan itu. Bila orang kata-katanya menyasar, aku tahu ia sudah meninggalkan Kebenaran. Bila orang kata-katanya meloncat-loncat, aku tahu ia dalam keputusasaan. Bila hal ini tumbuh hidup dihati seseorang, niscaya akan merusak perkara. Bila hal ini sampai terjadi dalam pemerintahan, niscaya akan merusak urusan negara. Tentang hal ini, biarpun kelak hidup pula seorang Nabi, niscaya ia akan membenarkan kata-kataku ini," (TS. XXVIII.3)
(18)"Cai-ngo dan Cu-khong itu pandai sekali dalam berbicara; Jiam Giu, Biencu dan Gan Yan baik dalam pembicaraannya dan menjalankan Kebajikan. Tetapi, Khongcu masih bersabda, 'Dalam pembicaraan tentang Firman, Aku masih belum mampu.' Kalau begitu seorang Nabikah guru?" (SS.XI.3)
(19) "Sungguh tidak patut kata-katamu. Dahulu Cu-khong pernah bertanya kepada Khongcu, 'Seorang nabikah Guru?' Khongcu menjawab: 'Untuk menjadi seorang Nabi, Aku tidak mampu. Aku hanya belajar dengan tidak merasa jemu dan mendidik dengan tidak merasa capai.' Cu-khong berkata pula, 'Belajar dengan tidak merasa jemu itu Bijaksana, mendidik dengan tidak merasa capai itulah Cinta Kasih. Dengan mempunyai sifat Cinta Kasih dan Bijaksana sesungguhnya Guru ialah seorang Nabi.' Nah, Nabi Khongcu sendiri tidak mau mengakukan diriNya ! Sungguh terlalu kata-katamu!" (SS. VII : 2)
(20) "Dahulu murid pernah mendengar bahwa Cu-he, Cu-yu dan Cu-tiang sudah mempunyai sebagian sifat-sifat Nabi, Jiam Giu, Biencu dan Gan Yan sudah mempunyai selengkapnya walaupun dalam ukuran kecil. Memberanikan bertanya, setingkat dengan siapakah, guru?" (SS.VII.26).
(21) "Marilah kita tidak usah membicarakan mereka itu."
(22) "Bagaimanakah dengan Pik-i dan l-ien ?" "Jalan mereka lain dariku. Tidak mau mengabdi yang bukan rajanya, tidak mau memerintah yang bukan rakyatnya; negara dalam keadaan teratur memangku jabatan, negara dalam keadaan kalut, mengundurkan diri; demikianlah Pik-i. Apakah arti mengabdi bukan rajanya? Apakah arti memerintah bukan rakyatnya? Negara teratur, memangku jabatan; negara kalutpun memangku jabatan; demikianlah I-en. (SS.XII:22). Bila sebaiknya memangku jabatan, memangku jabatan; bila sebaiknya berhenti, berhenti; bila sebaiknya berlama-lama, berlama-lama; bila sebaiknya bercepat-cepat, bercepat-cepat; demikianlah Nabi Khongcu. Semuanya itu ialah nabi-nabi jaman dahulu dan aku belum dapat menjalani, tetapi bila harus memilih, aku akan belajar seperti Khongcu."
(23) "Pik-i, I-ien dan Khongcu dapatkah mereka disamakan tingkatnya?" "Tidak dapat ! Sejak adanya manusia sampai kini, belum ada yang seperti Khongcu!"
(24) "Tetapi adakah persamaannya?" "Ada ! Bila mendapat tanah seluas seratus li dan menjadi raja, mereka akan dapat menundukkan para raja muda dan akhirnya menguasai dunia. Bila untuk dapat menguasai dunia mereka harus melakukan suatu perbuatan yang tidak berdasar Kebenaran atau menghukum mati seseorang yang tak bersalah, mereka sama-sama tidak akan melakukan. Dalam hal ini mereka sama."
(25) "Memberanikan bertanya, adakah perbedaannya?" "Cai-ngo, Cu-khong dan Yu Jiak kiranya cukup Bijaksana untuk mengerti tentang seorang Nabi. Walaupun tidak sempurna, kiranya tidak akan hanya menonjolkan kebaikan orang yang disukainya."
(26) "Cai-ngo berkata, 'Menurut penglihatanku, Nabi jauh melebihi Giau ataupun Sun.' " (TS.XXIX-XXXI;SS 23-25)
(27) "Cu-khong berkata, 'Dengan melihat peri Kesusilaannya dapat diketahui pemerintahannya. Dengan mendengar lagu-lagu musiknya dapat diketahui tentang Kebajikannya. Sejak beratus jaman yang lalu itu dan membandingkan raja-raja sepanjang ratusan jaman, kiranya tidaklah salah bahwa sejak adanya manusia hingga kini, belum ada yang seperti Guru!' "
(28) "Yu Jiak berkata, 'Apakah hanya pada manusia saja ada perbedaan tingkat? Bukankah Kilien itu yang terlebih di antara hewan, Hong-hong di antara burung, Thai San di antara gunung dan bukit, dan bengawan-lautan di antara selokan-selokan? Nabi dan rakyat jelata ialah umat sejenis, tetapi dia mempunyai kelebihan di antara jenisnya. Dialah yang terpilih dan terlebih mulia. Sejak ada manusia hingga kini, sungguh belum ada yang lebih sempurna dari Khongcu.' " (S S .IX : 9)