(1) Bingcu berkata, "Orang tentu mempunyai perasaan tidak tega akan sesama manusia." (I A:7.4-6)
(2) "Raja-raja jaman dahulu itu juga mempunyai perasaan tidak tega akan sesama manusia. Maka pemerintahan nya juga berdasarkan perasaan tidak tega itu. Dengan mempunyai perasaan tidak tega, menjalankan pemerintahan yang berdasar perasaan tidak tega pula, maka memerintah dunia ialah semudah memutar benda diatas tapak tangan."
(3) "Mengapakah kukatakan tiap orang mempunyai perasaan tidak tega akan sesama manusia? Kini bila ada orang sekonyong-konyong melihat seorang anak kecil hampir terjerumus kedalam perigi, niscaya dari lubuk hatinya timbullah rasa terkejut dan belas kasihan. Ini bukanlah karena dalam hatinya timbul keinginan untuk dapat berhubungan dengan orang tua anak itu, bukan karena ingin mendapat pujian kawan-kawan sekampung, bukan pula karena khawatir mendapat celaan." (VI A. 6.5)
(4) "Dari hal ini kelihatan bahwa yang tidak mempunyai perasaan berbelas kasihan itu bukan orang lagi. Yang tidak mempunyai perasaan malu dan tidak suka itu bukan orang lagi. Yang tidak mempunyai perasaan rendah hati dan mau mengalah itu bukan orang lagi. Dan yang tidak mempunyai perasaan membenarkan dan menyalahkan itu bukan orang lagi."
(5) "Perasaan belas kasihan itulah benih Cinta Kasih. Perasaan malu dan tidak suka itulah benih Kebenaran. Perasaan rendah hati dan mau mengalah itulah benih Kesusilaan. Dan perasaan membenarkan dan menyalahkan itulah benih Kebijaksanaan." (VI A. 7.7)
(6) "Orang mempunyai ke-empat benih itu ialah seperti mempunyai ke-empat anggota badan. Mempunyai ke-empat benih itu, tetapi berkata bahwa dirinya tidak mampu, itulah pencuri terhadap diri sendiri. Bila berkata bahwa pemimpinnya tidak akan mampu, ia adalah pencuri terhadap pemimpinnya." (IB:8.3)
(7) "Karena ke-empat benih itu ada pada kita, maka yang mengerti itu harus sekuat mungkin mengembangkannya, seperti mengobarkan api yang baru menyala atau mengalirkan sumber yang baru muncul. Siapa dapat benar-benar mengembangkan, ia akan sanggup melindungi empat penjuru lautan; tetapi yang tidak dapat mengembangkan, ia tidak mampu meskipun hanya mengabdi kepada ayah-bundanya."