Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi

Bab 1b

Ayat 1

(1) Cong Po menemui Bingcu dan berkata, "Ketika Po menemui raja, baginda berkata kepada Po bahwa ia suka musik. Po tidak dapat memberi pandangan bagaimana bila raja suka musik?". Bingcu menjawab, "Kalau benar-benar raja menyukai musik, ada harapan Negeri Cee sejahtera."

(2) Hari lain tatkala bertemu raja, Bing-cu bertanya, "Benarkah baginda berkata kepada Congcu bahwa baginda menyukai musik?" Raja malu dan berubah wajahnya, lalu berkata, "Aku tidak dapat menyukai musik raja-raja purba, melainkan hanya menyukai musik jaman sekarang ini."

(3) "Bila benar-benar baginda menyukai musik, Negeri Cee ada harapan beroleh sejahtera. Sesungguhnya sama saja musik jaman sekarang atau jaman kuno tu.

(4) "Bolehkah aku mendapat keterangan?"

"Lebih menyenangkan manakah bermain musik seorang diri atau bersama-sama?"

"Lebih menyenangkan bersama-sama"

"Lebih menyenangkan bersama-sama hanya dengan beberapa orang saja atau dengan banyak orang?"

"Tentu menyenangkan bersama-sama dengan banyak orang !"

(5) "Kini perkenankanlah aku membicarakan hal musik."

(6) "Umpama sekarang baginda menabuh musik dan rakyat yang mendengar suara tambur, lonceng, peluit dan seruling merasa pening dan dengan mengerutkan dahinya saling berkata. 'Raja kita dapat bergembira dengan tambur dan alat musik, mengapakah menyuruh kita dalam keadaan sesengsara ini? Ayah dengan anak tak dapat bertemu; kakak, adik, isteri serta anak bercerai-berai.' Begitu pula kalau baginda sekarang berburu, rakyat yang mendengar suara kereta dan kuda serta melihat bendera dan panji-panji yang indah berkibar-kibar merasa pening dan dengan mengerutkan dahinya saling berkata. 'Raja kita dapat bersukaria berburu, mengapakah menyuruh kita dalam keadaan sesengsara ini ? Ayah dengan anak tak dapat bertemu; kakak, adik, isteri serta anak, bercerai-berai.' Ini tentulah karena sang raja tidak dapat bersama-sama rakyat merasakan kesenangan itu."

(7) "Sebaliknya, umpama sekarang baginda menabuh alat musik dan rakyat yang mendengar suara tambur, lonceng, peluit dan seruling merasa gembira dan dengan wajah berseri-seri saling berkata, 'Raja kita niscaya dalam keadaan sehat, kalau sakit bagaimanakah dapat menabuh musik?' Begitu pula kalau sekarang baginda pergi berburu, rakyat yang mendengar suara kereta dan kuda serta melihat bendera dan panji-panji yang indah berkibar-kibar, merasa gembira dan dengan wajah berseri-seri saling berkata, 'Raja kita niscaya dalam keadaan sehat, kalau sakit bagaimanakah dapat berburu?' Ini tentulah karena sang raja dapat bersama-sama rakyat menikmati kesenangan itu.

(8) "Maka sekarang hendaklah baginda berusaha agar dapat merasakan kesenangan bersama-sama rakyat, dengan demikian baginda akan dapat menjadi raja besar."

Ayat 2

(1) Raja Swan dari Negeri Cee bertanya, "Raja Bun (pendiri dinasti Ciu) mempunyai taman seluas 70 li, benarkah ini?"

Bingcu menjawab, "Demikian tercatat dalam hikayat."

(2) "Benarkah seluas itu?"

Rakyat menganggap masih terlalu sempit !"

Taman kami hanya 40 li luasnya, mengapakah rakyat menganggapnya terlalu luas?" "Benar Raja Bun mempunyai taman seluas 70 li, tetapi memperkenankan rakyatnya datang ke situ memotong rumput, kayu bakar, atau berburu kelinci dan ayam hutan. Jadi taman itu dipergunakan bersama-sama rakyat. Kalau rakyat menganggapnya terlalu sempit, bukankah sudah layak?"

(3) "Tatkala aku sampai di tapal batas negeri ini, aku bertanya-tanya apakah larangan-larangan keras yang ada, barulah berani masuk kemari. Kudengar di negeri ini ada sebuah taman yang 40 li luasnya; dan ada peraturan yang menyatakan bahwa barang siapa berani membunuh kijang atau binatang lain yang ada di dalamnya, akan dihukum seperti membunuh manusia. Maka tempat yang seluas 40 li ini, bukankah merupakan jebakan di dalam sebuah negeri? Kalau rakyat menganggapnya terlalu luas, bukankah sudah layak?"

Ayat 3

(1) Raja Swan dari Negeri Cee bertanya, "Adakah Jalan Suci bagi perhubungan dengan negeri tetangga?"

Bingcu menjawab, "Ada ! Tetapi hanya orang yang berperi Cinta Kasihlah menjadi raja sebuah negeri besar mau bekerja bagi negeri kecil, seperti Raja Thong mau bekerja bagi Negeri Kat, (1II.B.5) atau Raja Bun mau bekerja bagi Negeri Khun I. Begitu pula hanya raja yang bijaksanalah menjadi raja sebuah negeri kecil mau bekerja bagi negeri besar, seperti Raja Thai mau bekerja bagi Negeri Hun Yok atau Raja Koo Cian mau bekerja bagi Negeri Go."

(2) "Yang besar mau bekerja bagi yang kecil, itu menunjukkan selalu gembira di dalam Tuhan Yang Maha Esa; yang kecil mau bekerja bagi yang besar itu menunjukkan takut akan Tuhan Yang Maha Esa. Yang selalu gembira di dalam Tuhan Yang Maha Esa dapat melindungi dunia dan yang takut akan Tuhan Yang Maha Esa dapat melindungi negerinya."

(3) "Di dalam Kitab Sanjak tertulis 'Takut akan Kemuliaan Tuhan Yang Maha Esa memberi perlindungan sepanjang masa.' "(Si King IV IA.7.3).

(4) Raja berkata, "Sungguh kata-kata yang hebat! Sayang kami punya cacat, kami terlalu suka akan Keberanian."

(5) "Kalau begitu janganlah baginda menyukai Keberanian yang picik. Kalau orang dengan mudah melayangkan pedang, melototkan mata dan berkata, 'Siapa berani malawan aku?' Inilah keberanian orang biasa saja. Ia hanya dapat melawan satu orang. Hendaklah baginda menyukai Keberanian yang besar.

(6) "Di dalam Kitab Si King tertulis, 'Sungguh besar murka baginda, disiap siagakan bala tentaranya, menghadang jalan barisan musuh yang menuju Negeri Ki; membela negeri yang lemah, menjunjung kehormatan Negeri Ciu demi kepentingan dunia.' Demikianlah Keberanian Raja Bun. Dengan hanya sekali marah dapat memberi sentosa rakyat di dunia." (III.1.7.5).

(7) "Di dalam Kitab Su King tertulis, 'Tuhan YME menurunkan manusia, ada yang dijadikan raja, ada yang dijadikan guru, dengan maksud dapat membantu pekerjaan Tuhan Yang Maha Tinggi mencintai segenap umat di empat penjuru. Yang berbuat dosa maupun yang tidak berbuat dosa terserahkan kepadaku. Maka siapakah di dunia ini yang berani berbuat kejahatan?' Tetapi saat itu ada seorang yang berani berbuat jahat (Raja Tiu), maka sangat malulah Raja Bu. Demikianlah Keberanian Raja Bu, sekali beliau marah, rakyat di seluruh dunia dapat diselamatkan."

(8) "Sekarang hendaklah baginda dapat dengan sekali marah menyelamatkan rakyat di dunia; hanya saja, rakyat khawatir baginda tidak mempunyai Keberanian semacam itu."

Ayat 4

(1) Raja Swan dari Negeri Cee menemui Bingcu di istana Salju. Raja bertanya, "Dapatkah orang Bijaksana menikmati semacam ini?"

Bingcu menjawab, Dapat. Tetapi ingatlah orang yang tidak ikut menikmatinya akan menyesali atasannya."

(2) "Tidak ikut menikmati lalu menyesali atasannya, itu memang salah; tetapi pembesar yang tidak dapat mengajak rakyatnya bersama-sama bahagia, lebih besarlah kesalahannya."

(3) "Kalau pembesar gembira dalam hal yang menggembirakan rakyat, rakyatpun akan gembira dalam hal yang menggembirakan pembesarnya. Kalau pembesar merasa duka akan hal yang mendukakan rakyat, niscaya rakyatpun akan merasa duka dalam hal yang mendukakan pembesarnya. Maka orang yang gembira bersama rakyat di dunia dan merasa duka bersama rakyat di dunia, kalau ia tidak menjadi raja besar, belum pernah ada."

(4) "Dahulu Rajamuda King dari Negeri Cee pernah bertanya kepada menteri Yancu, 'Aku ingin melakukan pemeriksaan ke daerah Cwan-hu, Tiau-bu terus menyusur pantai ke Selatan sehingga ke daerah Long-ya. Bagaimanakah agar kami dapat melakukan, sebagai raja-raja dahulu melakukan pemeriksaan?' (VI.B.7/2)

(5) "Yancu menjawab, 'Siancai ! Sungguh pertanyaan yang baik. Perjalanan raja memeriksa para raja muda dinamai pemeriksaan. Raja menjadi pemeriksa atas pekerjaan-pekerjaan yang harus diperiksanya. Perjalanan raja muda menghadap kepada raja, dinamai laporan. Mereka melaporkan hal-hal yang perlu dilaporkan. Jadi bukannya tanpa maksud. Pada musim semi, diperiksa sawah-sawah yang dibajak dan memberi bantuan kepada yang tidak berkecukupan (bibit). Pada musim rontok, diperiksanya orang-orang memungut hasil bumi dan memberi bantuan bagi mereka yang tidak berkecukupan. Ada sebuah pepatah dari jaman Dinasti He, 'Bila rajaku tidak melakukan perjalanan, bagaimanakah aku dapat bersuka ? Bila rajaku tidak mengadakan pemeriksaan, bagaimanakah aku dapat beroleh bantuan? Sekali perjalanan sekali pemeriksaan, jadilah beliau teladan bagi para raja-muda.' ' " (Su King II.1.8,9)

(6) "Tetapi, sekarang tidaklah demikian. Mereka dengan barisan pengawalnya hanya menghabiskan perbekalan sehingga mengakibatkan yang menderita kelaparan bertambah tidak mendapat makan, yang sudah berjerihpayah tidak beroleh istirahat. Rakyat hanya dapat mengomel dan saling memandang dengan hati penasaran. Mereka sungguh melanggar Firman, menyengsarakan rakyat, menghambur-hamburkan minuman dan makanan, memperturutkan arus, menyia-nyiakan waktu, liar dan sesat, sehingga menyusahkan para raja muda."

(7) "Memperturutkan sifat-sifat rendah dan tidak ingat kembali, itulah yang dinamai memperturutkan arus. Memperturutkan angan-angan meninggi dan tidak ingat kembali, itulah yang dinamai menyia-nyiakan waktu. Suka berburu tanpa jemu-jemunya, itulah yang dinamai liar. Gemar akan arak tanpa jemu-jemunya, itulah yang dinamai sesat."

(8) "Raja-raja jaman dahulu tidak suka memperturutkan arus dan menyia-nyiakan waktu, dan tidak melakukan perbuatan liar dan sesat."

(9) "Nah sekarang apa yang baginda akan lakukan?"

(10) "Rajamuda King merasa gembira lalu menyiarkan maklumat ke seluruh negeri dan bekerja keras sehingga membuat tempat bermalam di luar kota. Sejak itu baginda membuka gudangnya untuk memberi bantuan kepada rakyat yang tidak berkecukupan, dan dipanggillah guru besar musik, diperintahkan, 'Ciptakanlah aku sebuah lagu yang dapat menggembirakan hubungan raja dengan menteri-menteri.' Demikianlah kemudian timbul lagu Ti-siau dan Kak-siau yang di dalam sanjaknya antara lain tertulis, 'Dapat mencegah raja apa salahnya?' Yang mencegah rajanya dialah mencintainya."

Ayat 5

(1) Raja Swan dari Negeri Cee bertanya, "Orang-orang berkata aku hars membongkar Istana Bing-tong. Bagaimanakah pendapat Bapak?"

(2) Bingcu menjawab, "Adapun Bing-tong itu ialah ruangan kerja bagi seorang raja. Bila baginda akan menjalankan pemerintahan kerajaan yang benar, tidak perlu dibongkar."

(3) "Bolehkah aku mendengar hal pemerintahan kerajaan yang benar?" "Dahulu kala ketika Raja Bun memerintah di daerah Ki, hanya memungut sepersembilan hasil pertanian. Orang-orang yang sudah menjabat suatu pekerjaan beroleh pensiun. Di pintu-pintu kota dan pasar hanya dijaga untuk memeriksa kalau-kalau ada orang bermaksud jahat, tidak untuk memungut bea barang-barang yang dibawanya. Orang-orangpun diperkenankan menangkap ikan di tempat-tempat yang ada di daerah itu. Orang-orang yang berbuat jahat diadili dengan tidak menyangkutkan anak isterinya. Orang tua yang sudah tidak beristeri dinamai janda laki-laki, orang tua yang sudah tidak bersuami dinamai janda perempuan, orang tua yang tidak mempunyai anak dinamai sebatang kara dan anak yang sudah tidak berbapak dinamai yatim. Ke-empat jenis orang inilah orang-orang yang paling sengsara dan tidak ada tempat untuk meminta pertolongan, maka Raja Bun dalam menjalankan pemerintahan yang mengutamakan Cinta Kasih; mendahulukan ke-empat jenis orang ini. Di dalam Kitab Si King tertulis, 'Masih bahagia orang yang kaya, namun sungguh menyedihkan nasib orang yang sebatang kara.' "(II.4.8. 13).

(4) Raja berkata, "Siancai, sungguh kata-kata yang bagus!"

"Bila baginda merasa itu baik, mengapakah tidak mau menjalankannya?"

"Aku punya cacat terlalu suka akan harta."

"Dahulu Pangeran Lau juga sangat suka akan harta. Di dalam Kitab Si King tertulis, 'Pekarangan penuh timbunan padi, gudang padat dengan beras, dibungkuslah perbekalan kering dalam kantung dan karung. Bercitalah ia menjadikan negerinya jaya, disiapkan busur dan anak panah, perisai, tombak serta senjata; dan berangkatlah ke tempat baru beserta rakyatnya.' (111.2.4.1). Dengan di rumah sudah sedia padi dan beras, diperjalanan cukup perbekalan; maka baharulah berani berangkat ke tempat tujuan. Bila baginda di dalam suka akan harta dapat menarik faedahnya bersama rakyat, niscaya baginda akan menjadi raja yang besar tanpa kesukaran."

(5) "Raja berkata, 'Aku ini masih punya cacat lain, aku sangat menyukai paras elok. Pada jaman dahulu Raja Thai (T.S. XVII) juga menyukai paras elok. Ia sangat mencintai kekasihnya. Di dalam Kitab Si King tertulis, 'Demikianlah Ko-kong Than-hu, pagi benar datang dengan kudanya melarikan diri Larilah ke Barat sepanjang sungai sampai di bawah Bukit Ki. Bersama Kiang kekasihnya, ia membangun kembali rumah tangganya.' (III.1.3.2). Tetapi pada saat itu di rumah rakyat tiada wanita yang menyesali dirinya dan diluar tiada laki-laki yang terlunta. Bila baginda dalam menyukai paras elok dapat memberi faedah bagi semua rakyat, apakah yang menyukarkan baginda menjadi raja besar?"

Ayat 6

(1) Raja Swan dari Negeri Cee bertanya, "Orang-orang berkata aku hars membongkar Istana Bing-tong. Bagaimanakah pendapat Bapak?"

(2) Bingcu menjawab, "Adapun Bing-tong itu ialah ruangan kerja bagi seorang raja. Bila baginda akan menjalankan pemerintahan kerajaan yang benar, tidak perlu dibongkar."

(3) "Bolehkah aku mendengar hal pemerintahan kerajaan yang benar?" "Dahulu kala ketika Raja Bun memerintah di daerah Ki, hanya memungut sepersembilan hasil pertanian. Orang-orang yang sudah menjabat suatu pekerjaan beroleh pensiun. Di pintu-pintu kota dan pasar hanya dijaga untuk memeriksa kalau-kalau ada orang bermaksud jahat, tidak untuk memungut bea barang-barang yang dibawanya. Orang-orangpun diperkenankan menangkap ikan di tempat-tempat yang ada di daerah itu. Orang-orang yang berbuat jahat diadili dengan tidak menyangkutkan anak isterinya. Orang tua yang sudah tidak beristeri dinamai janda laki-laki, orang tua yang sudah tidak bersuami dinamai janda perempuan, orang tua yang tidak mempunyai anak dinamai sebatang kara dan anak yang sudah tidak berbapak dinamai yatim. Ke-empat jenis orang inilah orang-orang yang paling sengsara dan tidak ada tempat untuk meminta pertolongan, maka Raja Bun dalam menjalankan pemerintahan yang mengutamakan Cinta Kasih; mendahulukan ke-empat jenis orang ini. Di dalam Kitab Si King tertulis, 'Masih bahagia orang yang kaya, namun sungguh menyedihkan nasib orang yang sebatang kara.' "(II.4.8. 13).

(4) Raja berkata, "Siancai, sungguh kata-kata yang bagus!"

"Bila baginda merasa itu baik, mengapakah tidak mau menjalankannya?"

"Aku punya cacat terlalu suka akan harta."

"Dahulu Pangeran Lau juga sangat suka akan harta. Di dalam Kitab Si King tertulis, 'Pekarangan penuh timbunan padi, gudang padat dengan beras, dibungkuslah perbekalan kering dalam kantung dan karung. Bercitalah ia menjadikan negerinya jaya, disiapkan busur dan anak panah, perisai, tombak serta senjata; dan berangkatlah ke tempat baru beserta rakyatnya.' (111.2.4.1). Dengan di rumah sudah sedia padi dan beras, diperjalanan cukup perbekalan; maka baharulah berani berangkat ke tempat tujuan. Bila baginda di dalam suka akan harta dapat menarik faedahnya bersama rakyat, niscaya baginda akan menjadi raja yang besar tanpa kesukaran."

(5) "Raja berkata, 'Aku ini masih punya cacat lain, aku sangat menyukai paras elok. Pada jaman dahulu Raja Thai (T.S. XVII) juga menyukai paras elok. Ia sangat mencintai kekasihnya. Di dalam Kitab Si King tertulis, 'Demikianlah Ko-kong Than-hu, pagi benar datang dengan kudanya melarikan diri Larilah ke Barat sepanjang sungai sampai di bawah Bukit Ki. Bersama Kiang kekasihnya, ia membangun kembali rumah tangganya.' (III.1.3.2). Tetapi pada saat itu di rumah rakyat tiada wanita yang menyesali dirinya dan diluar tiada laki-laki yang terlunta. Bila baginda dalam menyukai paras elok dapat memberi faedah bagi semua rakyat, apakah yang menyukarkan baginda menjadi raja besar?"

Ayat 7

(1) Bingcu menemui Raja Swan dari Negeri Cee dan berkata, "Adapun yang dinamai negeri yang tua itu bukanlah karena mempunyai pohon-pohon yang tinggi besar, melainkan yang mempunyai menteri yang dapat memangku jabatan turun-temurun. Kini, bahkan menteri yang dekat sajapun baginda tidak mempunyai. Yang kemarin baru memangku jabatan, mungkin hari ini sudah tidak tahu entah ke mana lagi."

(2) Raja menjawab, "Aku ingin tahu cara mengetahui ketidak-mampuan mereka sehingga tidak usah mengangkatnya."

(3) "Seorang raja yang ingin mengangkat seorang yang bijaksana, bila belum mendapatkannya, hendaklah tetap menghormati kedudukan yang disediakan sehingga menarik orang yang di tempat jauh. Bolehkah tidak berhati-hati?"

(4) "Bila orang-orang di kanan kiri mengatakan bahwa seseorang itu bijaksana, janganlah dipercaya begitu saja. Bila para pembesar mengatakan bahwa seseorang itu bijaksana, janganlah dipercaya begitu saja, Bila segenap rakyat mengatakan bahwa seseorang itu bijaksana, maka selidikilah baik-baik. Bila ternyata bijaksana, maka angkatlah dia. Bila orang-orang di kanan kiri mengatakan bahwa seseorang itu tidak boleh diangkat, janganlah didengarkan. Bila para pembesar mengatakan bahwa seseorang itu tidak boleh diangkat, janganlah didengarkan. Bila segenap rakyat mengatakan bahwa seseorang itu tidak boleh diangkat, maka selidikilah baik-baik. Bila ternyata memang tidak boleh diangkat, barulah lepaskan dia." (SS XIII.24).

(5) "Bila orang-orang di kanan-kiri mengatakan bahwa seseorang itu harus dihukum mati, janganlah didengarkan. Bila para pembesar mengatakan bahwa seseorang itu harus dihukum mati, janganlah didengarkan. Bila segenap rakyat mengatakan bahwa seseorang itu harus dihukum mati, maka selidikilah baik-baik. Bila ternyata benar bahwa ia harus dihukum mati, barulah laksanakan. Maka dikatakan bahwa rakyatlah yang menjatuhkan hukuman mati."

(6) "Dengan demikian baharulah raja itu patut dinamai ayah-bunda rakyat."

Ayat 8

(1) Raja Swan dari Negeri Cee bertanya, "Benarkah Sing Thong menghukum buang Kiat dan Raja Bu menghukum Tiu?" Bingcu menjawab, "Itu tertulis dalam hikayat." (Suking IV.2,3 ;V.1)

(2) "Bolehkah seorang menteri itu membunuh rajanya?"

(3) "Orang yang merusak peri Cinta Kasih ialah seorang perampok, yang merusak Kebenaran ialah seorang penjahat; siapapun yang berbuat, sama saja. Aku hanya mendengar seorang bernama Tiu. yang di hukum mati, tetapi bukan seorang menteri yang membunuh rajanya." (IIA.7/6).

Ayat 9

(1) Bingcu menemui Raja Swan dari Negeri Cee dan berkata, Bila baginda hendak mendirikan sebuah gedung besar, niscaya akan menyuruh para pekerja mencari kayu-kayu yang besar. Bila para pekerja sudah mendapatkan kayu-kayu yang besar, tentu bergembiralah baginda karena itu akan memadai untuk membangun gedung yang akan didirikan. Tetapi bila para tukang kayu salah mengerjakan sehingga menjadi kecil-kecil, tentu akan marahlah baginda karena tiada memadai bangunan yang akan didirikan. Demikian pulalah orang belajar dari muda tentu ingin dapat menjalankan setelah dewasa. Tetapi baginda berkata, 'Tinggalkan apa yang telah kau pelajari, ikuti sajalah caraku.' Mengapakah demikian?

(2) "Begitu pula bila kini ada sebuah batu giok yang indah, yang harganya berlaksa potong emas; niscaya baginda akan menyuruh seseorang pengukir batu giok yang benar-benar pandai. Maka demikian pulalah kiranya memerintah suatu negara; tetapi baginda berkata, 'Tinggalkan apa yang telah kau pelajari, ikuti sajalah caraku.' Mengapakah sikap baginda berbeda dengan saat menyuruh ahli pengukir batu giok itu?"

Ayat 10

(1) Negeri Cee menyerang Negeri Yan dan menang.

(2) Raja Swan dari Negeri Cee bertanya, "Ada orang yang menyuruhku jangan mengambil negara itu, ada juga yang menyuruhku untuk mengambilnya. Negeriku yang berkekuatan selaksa kereta perang dapat memukul Negeri Yan yang berkekuatan selaksa kereta perang pula; hanya dalam waktu lima puluh hari saja. Kalau hanya bersandar kekuatan manusia saja tentu tidak mungkin. Maka kalau tidak kuambil negara itu, aku khawatir beroleh petaka dari Tuhan Yang Maha Esa. Bagaimanakah kalau kuambil?" (II B.8)

(3) Bingcu menjawab, "Ambillah kalau rakyat Negeri Yan menyukainya. Ini sudah pernah terjadi pada jaman dahulu yang dilakukan oleh Raja Bu. Kalau rakyat Negeri Yan tidak menyukai pengambilan itu, janganlah diambil. Ini pernah pula terjadi pada jaman dahulu, yang dilakukan oleh Raja Bun.

(4) "Kalau negeri baginda yang berkekuatan selaksa kereta perang dengan mudah dapat memukul negeri yang berkekuatan selaksa kereta perang pula, tentulah karena rakyat negeri itu mau membawa bakul berisi nasi dan cerek berisi minuman menyambut barisan baginda. Mereka berbuat itu ialah seperti orang yang hendak menyingkiri bahaya air dan api; tetapi, kalau kini bahaya air itu makin dalam dan api itu makin panas, mereka akan membalik."

Ayat 11

(1) Setelah Negeri Cee memukul Negeri Yan dan mengambilnya, para raja muda negeri lain bersama-sama akan menolong Negeri Yan. Raja Swan dari Negeri Cee bertanya, "Banyak para raja muda akan memukul negeriku. Bagaimanakah harus kuhadapi?" (VII B.4/3)

Bingcu menjawab, "Aku mendengar ada seorang raja yang negerinya hanya 70 li luasnya, kemudian dapat merajai dunia. Itulah Sing Thong. Tetapi aku belum pernah mendengar ada sebuah negeri yang seribu li luasnya takut mendapat serangan."

(2) "Di dalam Kitab Su King tertulis, 'Sekali Sing Thong menghukum Negeri Kat. rakyat dunia menaruh kepercayaan atasnya. Daerah Timur dihukum, suku bangsa I di Barat merasa menyesal. Daerah selatan dihukum, suku bangsa Tik di Utara merasa menyesal dan berkata, Mengapakah kita dibelakangkan?' " (Su-king IV.2). Demikianlah rakyat mengharapkan kedatangannya sebagai di musim kemarau mengharapkan awan dan pelangi. Orang orang di pasar tidak menghentikan pekerjaannya, di sawah tidak menunda pekerjaannya pula. Jadi dengan membunuh raja yang jahat untuk menolong rakyatnya adalah seumpama hujan yang turun pada saatnya, sehingga rakyat bersukaria. Di dalam Kitab Suking tertulis, 'Aku mengharapkan rajaku, kedatangannya mengembalikan kehidupanku'. (Suking IV.2.6)

(3) "Kini, sedang rakyat Negeri Yan menderita tindakan sewenang-wenang, baginda memukulnya. Rakyat menyangka seolah baginda akan dapat menolongnya dari bahaya air dan api, maka mereka mau menyediakan bakul berisi nasi dan cerek berisi minuman menyambut barisan baginda. Tetapi kini yang diperoleh mereka ialah terbunuhnya orang tua dan kakak-kakaknya, teraniaya anak dan adik-adiknya, hancur bio leluhurnya, terampas barang pusakanya; apakah yang dapat diharapkan ? Sesungguhnya dunia takut akan kekuatan Negeri Cee. Tetapi kini setelah menjadi dua kali lipat ternyata masih tidak mau menjalankan pemerintahan yang berdasarkan Cinta Kasih, inilah yang menyebabkan mereka menggerakkan bala tentara."

(4) "Kini bila baginda mau mengeluarkan maklumat melepaskan orang tua dan anak-anak yang tertawan, menghentikan perampasan barang-barang pusaka, sungguh-sungguh mau berunding dengan rakyat Negeri Yan, memperkenankan mereka mengangkat pemimpinnya pula dan menarik mundur pasukan baginda, tentulah dapat meredakan ketegangan ini."

Ayat 12

(1) Negeri Coo berperang melawan Negeri Lo. Rajamuda Bok dari Negeri Coo bertanya, "Aku sudah kehilangan 33 perwira, tetapi belum ada di antara rakyat yang mau berkorban membela mati-matian. Kalau rakyat akan kuhukum mati, tentulah tidak mungkin karena sebanyak itu; tetapi kalau tidak kuhukum mati, mereka tetap menutup mata tidak mau menolong atasannya yang terbunuh. Bagaimanakah baiknya?"

(2) Bingcu menjawab, "Pada tahun-tahun paceklik dan bahaya kelaparan mengancam, rakyat baginda yang tua dan lemah kedapatan menggeletak mati di selokan-selokan. Para pemudanya yang kuat tersebar ke empat penjuru sampai beribu-ribu jumlahnya. Tetapi pada saat itu gudang baginda penuh dengan padi dan kas negara penuh dengan uang, namun pembesar-pembesar baginda tidak ada yang memberi laporan. Demikianlah mereka mengalpakan tugas kepada atasan dan kejam terhadap bawahan. Cingcu berkata, 'Was-was dan hati-hatilah, apa yang keluar dari kamu akan kembali kepadamu.' Maka, kalau sekarang rakyat melakukan pembalasan, janganlah baginda menyesal." (II, B.4/2).

(3) "Kalau raja dapat menjalankan pemerintahan yang berdasar Cinta Kasih, niscaya rakyat akan mencintai atasannya dan bersedia membela para pembesarnya mati-matian."

Ayat 13

(1) Rajamuda Bun dari Negeri Tin bertanya, "Negeri Tin yang kecil ini terletak antara Negeri Cee dan Negeri Cho. Baik berlindung kepada Negeri Cee ataukah kepada Negeri Cho?" (III A.1)

(2) Bingcu menjawab, "Keduanya tidak dapat kusarankan. Hanya ada satu cara yang benar. Perdalamlah parit-parit, pertinggilah tembok-tembok kota dan jagalah bersama rakyat. Bersiaplah untuk mati dalam membela, rakyatpun tidak akan meninggalkan. Inilah cara yang sebaik-baiknya."

Ayat 14

(1) Rajamuda Bun dari Negeri Tin bertanya, "Orang Negeri Cee hendak mendirikan benteng di daerah Siat, sungguh membingungkan aku. Apakah yang harus kulakukan?"

(2) Bingcu menjawab, "Pada jaman dahulu Raja Thai memerintah Negeri Pien. Kemudian datanglah suku bangsa Tik menyerbunya sehingga terpaksa lari dan menetap di kaki Gunung Ki. Ini bukan karena ia memilih tempat, melainkan karena sudah tiada pilihan lagi. Tetapi oleh perbuatannya yang baik, maka anak cucunya dapat menjadi raja besar."

(3) "Seorang Kuncu di dalam memulai sesuatu pekerjaan, dengan cita-cita yang diyakini dapat dilanjutkan oleh generasi yang mendatang. Akan hasilnya berserah kepada Tuhan. Kini apakah yang sebaiknya baginda lakukan? Sekuat tenagalah berbuat Kebaikan."

Ayat 15

(1) Rajamuda Bun dari Negeri Tin bertanya, "Negeri Tin ini hanya sebuah negeri kecil. Meski aku sudah berusaha baik-baik mengabdi kepada negara yang besar, nampaknya tidak dapat menolong. Apakah yang harus kulakukan?"

(2) Bingcu menjawab, "Pada jaman dahulu Raja Thai memerintah Negeri Pien, tetapi suku bangsa Tik menyerbunya. Ia mencoba memberikan upeti berupa kulit dan sutera, ternyata tidak dapat menolong. Kemudian ia memberi upeti berupa anjing dan kuda, ternyata juga tidak dapat menolong. Selanjutnya ia memberi upeti mutiara dan batu giok, tetapi inipun tidak dapat menolong. Maka dikumpulkannyalah para tua-tua rakyat dan bertitah, 'Sudah terang yang diinginkan orang-orang Tik ialah tanahku.' Pernah kudengar, bahwa seorang Kuncu itu tidak mau demi sekedar dapat memelihara beberapa orang, tetapi membahayakan orang lain. Maka janganlah tuan-tuan bersedih karena tiada raja yang memerintahmu. Aku akan pergi dari sini.' Maka pergilah ia meninggalkan Negeri Pien melewati Pegunungan Liang dan mendirikan kota baru di kaki Gunung Ki. Orang-orang Negeri Pien saling berkata, 'Sungguh ia seorang yang berperi Cinta Kasih! Jangan sampai ia hilang!' Maka berbondong-bondonglah mereka mengikuti, sebagai orang tergesa-gesa ke pasar."

(3) "Sebaliknya ada pula kata-kata, 'Tanah air harus dijaga dari generasi ke generasi, tidak boleh ditinggalkan sekedar pertimbangan pribadi. Bersiaplah untuk mati, tetapi jangan pergi.' "

(4) "Maka terserah kepada baginda untuk memilih satu diantara dua ini."

Ayat 16

(1) Rajamuda Ping dari Negeri Lo siap akan bepergian. Cong Chong, seorang pegawai yang dicintainya, bertanya, "Bila baginda akan bepergian, biasanya tentu sudah memberitahu lebih dahulu kepada sais kemana akan pergi. Kini kereta sudah siap dengan kudanya, tetapi saisnya belum mengetahui ke mana baginda akan pergi. Maka hamba memberanikan diri bertanya." Raja menjawab, "Aku akan menemui Bingcu." "Untuk apa, baginda? Mengapakah baginda mau merendahkan diri menemui orang biasa itu? Apakah baginda sangka dia seorang Bijaksana? Kesusilaan dan Kebenaran diutamakan oleh seorang Bijaksana, tetapi Bingcu di dalam upacara kematian ibunya baru-baru ini ternyata lebih mewah dari pada upacara kematian ayahnya dahulu. Maka tidak perlulah baginda menemuinya." (II.B.7) Raja menjawab, "Baiklah."

(2) Tidak lama kemudian Gakcingcu masuk dan bertanya, "Mengapakah baginda tidak jadi menemui Bing Khoo?" "Ada orang yang memberitahu aku, bahwa Bingcu didalam upacara kematian baru-baru ini lebih mewah dari yang lampau. Inilah yang menyebabkan aku tidak jadi menemuinya."

"Siapakah berkata demikian? Apakah yang baginda anggap terlalu mewah? Apakah karena yang dahulu dilakukan sebagai seorang pegawai rendah dan yang sekarang dilakukan sebagai seorang pembesar. Karena yang dahulu hanya memakai tiga tungku dupa upacara sembahyang dan yang sekarang memakai lima tungku?"

"Bukan ! Tetapi karena yang sekarang memakai peti dan pakaian jenazah yang sangat indah."

"Ini tidak dapat dikatakan terlalu bermewah, tetapi hanya karena perbedaan ketika masih miskin dan sesudah berkecukupan.

(3) Kemudian Gakcingcu menemui Bing-cu dan berkata, "Khik sudah memberitahukan tentang guru kepada raja, dan raja akan datang kemari, tetapi dihalang-halangi oleh Cong Chong, pegawai yang dicintainya itu. Maka raja tidak jadi kemari." Bingcu menjawab, "Berjalan itu tentu ada yang menyuruh dan berhenti itu tentu ada yang menghalanginya. Tetapi berjalan ataupun berhenti, bukan orang yang dapat menetapkan. Kalau aku tidak dapat bertemu dengan Rajamuda Lo itu, memang Tuhan-lah menghendakinya. Apakah yang dapat dilakukan oleh orang marga Cong itu untuk menghalangi pertemuan itu?" (SS. VII. 23;IX.5; XIV.36)