(1) Raja Swan dari Negeri Cee bertanya, "Apakah yang Bapak ketahui tentang Pangeran Hwan dari Negeri Cee atau Pangeran Bun dari Negeri Cien?"
(2) Bingcu menjawab, "Para penganut Tiong-ni tidak membicarakan hal Pangeran Hwan atau Bun itu. Maka, aku sebagai orang yang hidup lebih kemudian, tiada yang menceritakan sehingga tidak mengetahuinya. Bukankah lebih baik kubicarakan tentang pemerintahan seorang raja yang baik?"
(3) "Dengan Kebajikan bagaimanakah seorang dapat menjadi raja besar?" "Berusahalah melindungi rakyat, niscaya tiada yang mampu menahan baginda."
(4) "Orang semacam aku ini, dapatkah melindungi rakyat?"
Dijawab, "Dapat."
"Bagaimanakah Bapak dapat mengetahuinya?"
Dijawab, "Aku mendengar dari Oh Hut, bahwa suatu ketika tatkala baginda sedang duduk di balairung, dituntunlah seekor lembu lewat di situ. Melihat itu baginda bertanya, 'Akan diapakankah lembu itu?' Dijawab, 'Untuk upacara mempersucikan lonceng yang baru selesai.'
Baginda lalu berkata, 'Aku tidak sampai hati melihat gemetarnya, seolah-olah tanpa dosa akan dibunuh.' Dijawab, 'Apakah upacara mempersucikan lonceng itu boleh dibatalkan?' Baginda menjawab, 'Mengapa harus dibatalkan? Gantilah dengan kambing saja!' Benarkah kejadian ini?"
(5) "Memang hal itu benar terjadi?" "Hal ini menunjukkan nurani baginda cukup untuk menjadi raja besar. Di antara rakyat mungkin ada yang menyangka bahwa baginda menyayangkan harga hewan itu, tetapi aku tahu pasti, itu karena baginda tidak sampai hati."
(6) Raja berkata, "Benar, memang di antara rakyat ada yang menyangka demikian. Negeri Cee meskipun kecil, kukira tidak akan menyayangkan harga seekor lembu saja. Hanya aku tidak sampai hati melihat gemetarnya yang seolah-olah tanpa dosa akan dibunuh. Itulah sebabnya kusuruh mengganti dengan kambing."
(7) "Janganlah baginda merasa heran kalau rakyat menyangka baginda menyayangkan harga hewan itu karena yang kecil baginda gunakan untuk mengganti yang besar; maka sukar memahami ini. Kalau baginda merasa kasihan melihat makhluk tanpa dosa dibunuh, bagaimana dapat hanya menukarkan lembu dengan kambing?"
Dengan tertawa raja berkata, "Ah, apa alasan sebenarnya hatiku saat itu akupun tidak tahu, tetapi sebenarnyalah aku tidak menyayangkan harga hewan yang kusuruh gantikan dengan kambing itu. 0, patutlah rakyat banyak yang mengatakan aku menyayangkan harganya."
(8) "Ini tidak mengapa, karena bagaimanapun juga menunjukkan bahwa baginda didorong oleh rasa Cinta Kasih. Baginda sudah melihat lembu itu, tetapi belum melihat kambingnya. Maka dikatakan, 'Seorang Kuncu terhadap hewan ternaknya, karena melihat hidupnya tidak sampai hati melihat matinya; karena mendengar suaranya tidak sampai hati memakan dagingnya. Maka ia menjauhi dapur'."
(9) Raja dengan gembira berkata. "Di dalam Kitab Sanjak tertulis 'Orang lain berpikir, aku tahu yang dikandungnya'. (II.5.4.4). Kata-kata Bapak tadi sungguh-sungguh membantu diriku insaf akan alasan perbuatanku. Kalau kukenangkan kembali peristiwa itu, mula-mula tidak dapat kucari alasannya; tetapi dengan kata-kata Bapak ini, kini hatikupun merasa terharu. Dan tadi Bapak katakan aku dapat menyatukan raja-raja, mohon keterangan pula."
(10) "Bila ada orang menghadap baginda dan berkata, 'Tenagaku cukup untuk mengangkat 3000 kati, tetapi tidak mampu mengangkat sehelai bulu; mataku dapat memeriksa jelas-jelas ujung rambut, tetapi tidak dapat melihat segerobak kayu bakar'. Dapatkah baginda menerima kata-kata semacam ini?" "Pasti tidak!"
"Kini rasa kasihan baginda dapat sampai kepada hewan, tetapi mengapakah tidak dapat memberi manfaat bagi rakyat? Mengapakah demikian? Orang yang berkata tidak dapat mengangkat sehelai bulu itu, teranglah karena tidak mau menggunakan tenaganya; dan yang berkata tidak dapat melihat segerobak kayu bakar itu, teranglah karena tidak mau menggunakan penglihatannya. Maka kalau rakyat ternyata tidak dapat terlindung, itulah karena baginda tidak mau menggunakan rasa kasih. Kesimpulannya, kalau baginda tidak dapat menjadi raja besar, itu karena tidak mau, bukan karena tidak mampu."
(11) "Apakah yang Bapak maksudkan dengan istilah 'tidak mau dan tidak mampu' itu?" "Kalau ada orang berkata, ia tidak dapat sambil mengempit Gunung Thai melompati Laut Utara, ia sesungguhnya tidak mampu. Kalau ada orang berkata, ia tidak dapat membantu seorang tua mematahkan ranting-ranting pohon, ia sesungguhnya tidak mau; bukan karena tidak mampu. Maka kalau baginda tidak dapat menjadi raja besar, itu bukan semacam orang yang harus mengempit Gunung Thai melompati Laut Utara; melainkan semacam orang yang mematahkan ranting-ranting pohon itu."
(12) "Bila baginda hormat kepada orang tua sendiri dan meluaskannya kepada orang tua lain; dapat mencintai anak-anak sendiri dan meluaskannya kepada anak-anak orang lain; untuk memerintah dunia akan semudah memutar benda di tapak tangan. Di dalam Kitab Sanjak tertulis 'Teladannya diikuti sang isteri, kakak, adik bahkan oleh penduduk seluruh negeri.' " (Si King III. 1.6.2).
Sanjak ini menunjukkan bahwa pikiran yang terbuka itu akan memberikan kebaikan kepada semuanya. Maka barang siapa dapat mengembangkan cukup-cukup rasa kasihnya akan dapat melindungi penghuni empat penjuru lautan. Tetapi yang tidak dapat mengembangkan rasa kasihnya, takkan dapat melindungi meski hanya isteri dan anak sendiri. Adapun sebab orang jaman dahulu itu dapat melampaui orang-orang sekarang, tidak lain karena mereka dapat mengembangkan hal yang baik itu. Kini rasa kasih baginda dapat sampai kepada hewan, namun tidak dapat memberi manfaat kepada rakyat. Mengapakah demikian?
(13) "Dengan timbangan, barulah kita dapat mengetahui berat-ringan sesuatu benda; dengan ukuran, barulah kita dapat mengetahui panjang-pendek sesuatu benda. Maka, hanya dengan pikiran yang sungguh-sungguh, baginda dapat mempertimbangkan sesuatu.
(14) "Kini baginda menggerakkan bala tentara yang dapat mencelakakan prajurit dan pembantu sendiri, dan akan menyakitkan hati pangeran-pangeran lainnya. Dapatkah baginda bergembira dengan hal semacam ini?"
(15) Raja menjawab, "Tidak ! Bagaimanakah aku dapat bergembira dengan hal semacam itu? Tetapi aku terpaksa berbuat demikian karena hendak mencapai maksud yang besar."
(16) "Apakah maksud baginda yang besar itu? Bolehkah aku mendengarnya?" Raja hanya tertawa dan tidak berkata-kata. Apakah makanan yang lezat kurang cukup untuk santapan baginda, pakaian-pakaian yang ringan dan hangat kurang cukupkah bagi tubuh baginda, wajah-wajah yang cantik kurang cukupkah bagi pandangan baginda, suara musik yang merdu kurang cukupkah bagi pendengaran baginda, dan pelayan-pelayan yang penurut kurang cukupkah bagi perintah baginda? Aku kira menteri-menteri dan pegawai-pegawai sudah lebih dari cukup. Apakah yang baginda inginkan lagi?"
(17) "Tidak! Aku tidak memaksudkan hal-hal itu." "Kalau begitu dapatlah kuketahui apa maksud besar baginda itu. Bukankah baginda ingin menaklukkan negeri-negeri tetangga seperti Chien dan Cho untuk dapat memerintah seluruh negeri tengah serta menundukkan suku-suku I di empat penjuru? Tetapi kulihat tindakan baginda bila di bandingkan dengan maksud itu, tak ubahnya seperti 'orang memanjat pohon untuk mencari ikan'."
(18) Raja berkata, "Masakan sampai sesesat itu?" "Sesungguhnya lebih berbahaya dari itu. Orang yang memanjat pohon untuk mencari ikan, meskipun tidak mendapat ikan namun tidak menanggung bahaya. Tetapi hal yang baginda lakukan untuk mencapai maksud itu, semakin menggunakan kekerasan hati, akan membawa hasil yang lebih berbahaya."
(19) "Apakah bahayanya?" "Kalau orang-orang Negeri Coo berperang melawan orang-orang Negeri Cho, maka siapakah yang yang akan menang?" "Sudah pasti orang-orang Negeri Cho yang menang!" "Memang yang kecil itu tidak akan dapat mengalahkan musuh yang besar, yang sedikit itu tidak akan dapat mengalahkan musuh yang banyak, dan yang lemah itu tidak akan dapat mengalahkan musuh yang kuat. Saat ini di daratan kita, terdapat sembilan negara yang masing-masing mempunyai tanah seluas seribu li. Negeri Cee hanya salah satu di antaranya, sedang yang lain masih ada delapan negeri. Apakah bedanya dengan Negeri Coo yang melawan Negeri Cho itu ? Maka baiklah baginda kembali mencari pokok persoalannya."
(20) "Kini kalau baginda dapat menjalankan pemerintahan yang berdasar Cinta Kasih, niscaya orang-orang pandai di dunia ini ingin memangku jabatan di istana baginda; para petani niscaya ingin bekerja di ladang-ladang baginda; para pedagang niscaya ingin menyediakan barang-barang bagi kota-kota baginda; para pengembara niscaya ingin melalui jalan-jalan baginda dan rakyat di dunia yang ditindas rajanya niscaya ingin mendapat keadilan baginda. Bila sudah terjadi demikian, siapakah dapat menghalang-halangi baginda?" (VIIA.23)
(21) Raja berkata, "Aku memang bodoh, sehingga tidak dapat berfikir sejauh itu. Maka kuharap Bapak dapat membantu aku mencapai maksud itu. Berilah ajaran jelas-jelas kepadaku. Meskipun aku tidak pandai, namun ingin pula berusaha melakukan."
(22) "Hanya diantara para Siswa saja dapat mempunyai ketetapan hati dengan tanpa mempunyai penghasilan tetap. Bagi rakyat kebanyakan, yang tidak mempunyai penghasilan tetap itu akan mengakibatkan tidak mempunyai ketetapan hati. Bila mereka tidak mempunyai ketetapan hati, maka perbuatan membuang diri, menyeleweng, sewenang-wenang dan liar tidak segan-segan melakukannya. Bila mereka terjerumus ke dalam kejahatan sehingga terhukum, bukankah itu seperti pemerintah yang menjebaknya ? Seorang yang berperi Cinta Kasih di dalam kedudukannya, bolehkah ia menjebak rakyat?"
(23) "Seorang pemimpin yang berpikiran terang akan berusaha memajukan penghasilan rakyatnya, agar mereka ke atas dapat cukup dalam mengabdi kepada orang-orang tuanya, dan ke bawah cukup untuk memelihara isteri dan anak-anaknya; sehingga di dalam musim yang baik, seluruh keluarganya berkelimpahan dan di dalam musim yang jelek terhindar dari kematian, dan akhirnya, dipimpinlah mereka untuk berperi laku yang baik. Dengan demikian rakyat mudah diberi bimbingan."
(24) "Tetapi keadaan penghasilan rakyat saat ini ke atas belum cukup untuk dapat mengabdi kepada orang tuanya, ke bawah belum cukup untuk memelihara isteri dan anak-anaknya. Pada musim yang baik seluruh keluarga masih mengalami kesengsaraan dan pada musim yang jelek mereka tidak dapat terhindar dari kematian. Dalam keadaan seperti itu, mereka hanya berusaha menghindari maut, dan takut tidak berhasil. Bagaimanakah mereka akan dapat memperhatikan Kesusilaan dan Kebenaran?"
(25) "Maka bila baginda ingin menjalankan pemerintahan yang baik, hendaklah memperhatikan hal yang pokok ini."
(26) "Keluarga yang mempunyai lima bau sawah diwajibkan menanam pohon besaran, sehingga mereka yang sudah berusia lima puluh tahun dapat mengenakan pakaian dari sutera. Dalam beternak ayam, babi, anjing dan babi betina diwajibkan tidak sembarang waktu memotongnya sehingga ternaknya tidak berkurang, dengan demikian mereka yang berusia tujuh puluh tahun dapat memakan daging. Rakyat yang mempunyai seratus bau sawah janganlah diganggu waktu bertanamnya sehingga keluarga mereka yang terdiri atas delapan orang tidak sampai menderita kelaparan. Dirikanlah rumah-rumah pendidikan sehingga rakyat dapat mengenal tugas Berbakti dan Rendah Hati, dengan demikian niscaya tidak sampai terjadi orang yang sudah beruban masih harus memikul barang di tengah jalan. Bila mereka yang tua dapat mengenakan pakaian sutera dan makan daging, yang muda tidak menderita kelaparan dan kedinginan; aku tidak percaya kalau baginda tidak menjadi Raja besar."