Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi · Bab 1a

Ayat 3

(1) Raja Hwi dari Negeri Liang berkata, "Di dalam mengatur negeri, dengan sungguh-sungguh kuperhatikan. Bila di daerah Hoo-lwee menderita bahaya kelaparan, kupindahkan penduduknya ke daerah Hoo-tong; dan kelebihan hasil bumi kukirimkan ke daerah Hoo-lwee. Demikian pula kulakukan bila daerah Hoo-tong menderita bahaya kelaparan. Kalau kuteliti, negeri-negeri tetangga dalam pemerintahannya ternyata tidak sepenuh hati seperti aku; tetapi, mengapakah rakyat negeri-negeri tetangga itu tidak menjadi lebih sedikit dan rakyatku tidak bertambah banyak?"

(2) Bingcu menjawab, "Baginda suka akan peperangan, maka akupun hendak menggunakan hal peperangan sebagai perumpamaan : Bila tambur sudah dipukul dengan hebatnya, tetapi para prajurit baru saja mulai menggunakan senjata, mendadak mereka membuang perisainya lalu melarikan diri sambil menyeret senjatanya. Sebagian lari sampai seratus tindak baru berhenti, yang lain lari lima puluh tindak sudah berhenti. Kini bila yang lari lima puluh tindak itu mentertawai yang lari seratus tindak, layakkah?"

(3) Dijawab, "Itu tidak boleh. Meskipun mereka tidak lari seratus tindak, merekapun sudah lari."

(4) "Bila dapat memahami hal ini, baginda akan insaf pula tidak mengharapkan mempunyai penduduk lebih banyak dari negeri-negeri tetangga. Maka janganlah mengganggu saat rakyat mengerjakan sawahnya, sehingga hasil bumi tidak kurang untuk dimakan; jangan diperkenankan penggunaan jala yang bermata rapat untuk menangkap ikan, sehingga ikan dan kura-kura tidak kurang untuk dimakan; dan pemotongan kayu di hutan harus ditentukan waktunya, sehingga kayu di hutan tidak kurang untuk dipergunakan. Bila hasil bumi, ikan dan kura-kura tidak kurang untuk dimakan; kayu di hutan tidak kurang untuk dipergunakan, niscaya rakyat dapat memelihara keluarganya yang hidup dan dapat mengurus baik-baik bila ada kematian; sehingga mereka tidak menyesal. Dapat memelihara keluarga yang hidup dan dapat mengurus baik-baik bila ada kematian sehingga tidak ada yang menyesal, inilah tindakan pertama yang harus baginda usahakan baik-baik.

(5) "Keluarga yang mempunyai lima bau sawah diwajibkan menanam pohon besaran sehingga mereka yang sudah berusia lima puluh tahun dapat mengenakan pakaian dari sutera. Dalam beternak babi, ayam, anjing dan babi betina, diwajibkan tidak sembarang waktu memotongnya sehingga ternaknya tidak berkurang; dengan demikian mereka yang berusia tujuh puluh tahun dapat memakan daging. Rakyat yang mempunyai seratus bau sawah, jangan diganggu waktu bertanamnya sehingga keluarga mereka tidak menderita kelaparan. Dirikan rumah-rumah pendidikan sehingga rakyat dapat mengenal tugas Bakti dan Rendah Hati, dengan demikian tidak sampai terjadi orang yang sudah beruban masih harus memikul barang di tengah jalan. Bila mereka yang berusia tujuh puluh tahun dapat mengenakan pakaian sutera dan makan daging dan rakyat yang masih muda tidak menderita kelaparan dan kedinginan, aku tidak percaya kalau baginga tidak menjadi raja besar." (III. A.3.10)

(6) "Tetapi kalau baginda membiarkan anjing dan babi betina merampas makanan manusia dengan tidak diperhatikan; di jalan, rakyat mati kelaparan baginda tidak insaf untuk menolong; bahkan kalau ada, yang mati, baginda berkata, 'Itu bukan salahku, melainkan musimnya!', dengan demikian perbuatan baginda seperti orang yang menusuk mati orang, lalu berkata 'Bukan aku yang membunuhnya, melainkan senjata itu'. Janganlah baginda menyalahkan musim yang jelek, dengan demikian rakyat di dunia dengan sendirinya datang kepada baginda."