(1) Negeri Coo berperang melawan Negeri Lo. Rajamuda Bok dari Negeri Coo bertanya, "Aku sudah kehilangan 33 perwira, tetapi belum ada di antara rakyat yang mau berkorban membela mati-matian. Kalau rakyat akan kuhukum mati, tentulah tidak mungkin karena sebanyak itu; tetapi kalau tidak kuhukum mati, mereka tetap menutup mata tidak mau menolong atasannya yang terbunuh. Bagaimanakah baiknya?"
(2) Bingcu menjawab, "Pada tahun-tahun paceklik dan bahaya kelaparan mengancam, rakyat baginda yang tua dan lemah kedapatan menggeletak mati di selokan-selokan. Para pemudanya yang kuat tersebar ke empat penjuru sampai beribu-ribu jumlahnya. Tetapi pada saat itu gudang baginda penuh dengan padi dan kas negara penuh dengan uang, namun pembesar-pembesar baginda tidak ada yang memberi laporan. Demikianlah mereka mengalpakan tugas kepada atasan dan kejam terhadap bawahan. Cingcu berkata, 'Was-was dan hati-hatilah, apa yang keluar dari kamu akan kembali kepadamu.' Maka, kalau sekarang rakyat melakukan pembalasan, janganlah baginda menyesal." (II, B.4/2).
(3) "Kalau raja dapat menjalankan pemerintahan yang berdasar Cinta Kasih, niscaya rakyat akan mencintai atasannya dan bersedia membela para pembesarnya mati-matian."