Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi · Bab 5b

Ayat 7

(1) Ban-ciang bertanya, "Memberanikan bertanya, berlandas Kebenaran apakah tidak mau menemui para rajamuda itu?" Bingcu menjawab, "Seorang Siswa yang hidup di kota disebut menteri pasar dan perigi, yang hidup di desa disebut menteri rumput dan tumbuh-tumbuhan; tetapi mereka tetap dinamakan rakyat jelata. Seorang dari rakyat jelata kalau belum mengenalkan diri dengan menyampaikan barang persembahan, tidak berani menemui rajamuda. Demikianlah teradatkan."

(2) Ban-ciang bertanya, "Seorang rakyat jelata kalau mendapat panggilan untuk mengerjakan sesuatu, bukankah ia wajib segera datang menghadap; tetapi mengapa ketika raja memanggil untuk menemuinya, ia tidak mau datang menghadap?"

"Dipanggil untuk mengerjakan sesuatu, itu berlandas Kebenaran. Tetapi sekedar untuk bertemu dengannya, itu tidak berlandas Kebenaran (IIIB:1)."

(3) "Dan mengapakah raja itu ingin bertemu? Tentu karena orang itu luas pendengaran atau ia seorang bijaksana. Kalau orang itu luas pendengaran, seorang rajapun tidak berani memanggil datang gurunya, apalagi seorang rajamuda. Kalau orang itu Bijaksana, aku belum pernah mendengar hal seorang yang hendak menemui seorang Bijaksana dengan cara memanggilnya datang."

(4) "Dahulu Rajamuda Bok sering bertemu dengan Cu-su dan pernah berkata, 'Dahulu raja dari negeri yang berkuasa atas seribu kereta perang banyak melakukan persahabatan dengan para Siswa. Bagaimanakah tentang hal itu?' Cu-su dengan nada kurang senang berkata, 'Orang-orang kuno mempunyai kata-kata demikian; Mereka dilayani (sebagai guru), bagaimanakah dikatakan hanya diajak bersahabat?' Cu-su merasa tidak senang, karena bukankah ia akan berkata 'Kalau dilihat dari kedudukan, benar kamu raja dan aku menterimu. Bagaimana berani seorang raja dan menteri bersahabat? Kalau dilihat dari sudut Kebajikan, kamulah yang harus melayani aku, bagaimana berani bersahabat dengan aku?' Seorang raja yang berkuasa atas seribu kereta perang, untuk melakukan persahabatan saja tidak dapat; bagaimana boleh memanggil datang?"

(5) "Tatkala Rajamuda King dari Negeri Cee berburu, pernah memanggil Penjaga Hutan dengan mengirim panji-panji. Penjaga Hutan itu tidak mau datang sehingga hampir saja akan dihukum mati. 'Seorang yang keras kemauannya tidak lupa bahwa perbuatannya itu mungkin dapat menyebabkan jenazahnya dilempar ke selokan atau jurang. Seorang pemberani tidak lupa pula bahwa mungkin suatu ketika ia akan kehilangan kepala.'

Mengapakah Nabi;Khongcu memujinya?

Orang itu karena tidak dipanggil dengan cara yang benar, maka ia tidak mau datang."

(6) "Memberanikan bertanya,bagaimanakah cara memanggil seorang Penjaga Hutan?"

"Semestinya menggunakan topi dari kulit. Untuk memanggil seorang rakyat jelata semestinya menggunakan bendera polos; untuk memanggil seorang Siswa semestinya menggunakan bendera bersulam naga dan untuk memanggil seorang pembesar baharulah menggunakan panji-panji yang berbulu."

(7) "Kalau menggunakan cara memanggil seorang pembesar untuk memanggil Penjaga Hutan. Penjaga Hutan itu biar mati tidak akan berani datang. Kalau menggunakan cara memanggil seorang Siswa untuk memanggil seorang rakyat jelata, bagaimana orang itu berani datang? Maka bukankah percuma kalau dengan cara memanggil seorang tidak Bijaksana untuk memanggil orang Bijaksana?"

(8) "Hendak menemui seorang Bijaksana dengan tidak memakai cara yang berlandas Jalan Suci, laksana menyuruh orang masuk rumah tetapi dengan menutup pintu. Adapun Kebenaran itulah Jalan dan Kesusilaan itulah Pintu. Hanya seorang Kuncu dapat hilir-mudik di Jalan itu dan keluar masuk Pintu itu. Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Jalan ke Negeri Ciu itu, rata seperti batu penggosok, lurus sebagai anak panah. Seorang pembesar harus menjalaninya dan rakyat jelata akan memandangnya.'" (II.5.9.1)

(9) Ban-ciang berkata, "Khongcu sendiri bila mendapat panggilan raja, dengan tidak menantikan keretanya siap, lebih dahulu berangkat. Kalau begitu, kelirukah Khongcu?" "Ketika itu Khongcu memangku jabatan dan diajak membicarakan tugas negara, maka tidak boleh disamakan dengan orang yang belum memangku jabatan. " (S.S.X: 20)