(1) Pik-kwi bertanya, "Aku hendak memungut pajak seperduapuluh bagian saja, bagaimana pendapat tuan ?"
(2) Bingcu menjawab, "Jalan yang akan tuan tempuh itu seperti cara bangsa Bek."
(3) "Misalkan suatu negara berpenduduk sepuluh ribu keluarga, dapatkah hanya seorang saja yang membuat barang-barang pecah belah ?"
"Tidak dapat, itu tidak mencukupi!"
(4) "Di negeri Bek, lima macam biji-bijian itu tidak dapat tumbuh. Di sana hanya tumbuh sekoi, tidak ada kota-kota yang dilindungi benteng, tidak ada gedung-gedung besar, tidak ada bio leluhur atau rumah-rumah ibadah serta upacaranya, tidak ada perjamuan-perjamuan untuk menerima rajamuda-rajamuda, dan tidak ada beratus jawatan beserta pegawainya. Maka dipungut pajak seperduapuluh penghasilan sudah mencukupi."
(5) "Tetapi bagi yang di tengah negeri ini, kalau hal tata-upacara hubungan antara manusia yang sudah diadakan itu dihilangkan, pembesar-pembesar dihapuskan, bolehkah itu dilakukan ?"
(6) "Kalau sampai kekurangan orang yang membuat periuk saja, itu sudah tidak dapat dinamai suatu negara, apalagi kalau sampai tidak ada pembesarnya. Kalau hal perpajakan akan diperingan lebih dari yang dijalankan Giau dan Sun, itu akan menimbulkan terjadinya Negeri Bek besar atau Negeri Bek kecil. Kalau akan diperberat lebih yang dijalankan Giau dan Sun, itu juga akan menimbulkan terjadinya negeri yang dipimpin oleh Kiat besar, atau negeri yang dipimpin Kiat kecil."