Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi

Bab 6b

Ayat 1

(1) Seorang Negeri Jiem bertanya kepada Ok-lo, "Antara Kesusilaan dan makan, mana yang lebih penting?" "Kesusilaan lebih penting!"

(2) "Perkawinan dan Kesusilaan, mana lebih penting?""Kesusilaan lebih penting!"

(3) "Kalau dengan berlaku Susila untuk dapat mendapatkan makanan orang harus kelaparan dan mati, tetapi kalau tidak usah berlaku Susila untuk mendapatkan makanan orang dapat makan; haruskah orang tetap memegang Kesusilaan? Kalau dengan menetapi adat calon suami menjemput sendiri, ternyata tidak dapat kawin, tetapi bila tidak usah menetapi adat calon suami menjemput sendiri, dapat kawin; haruskah orang menetapi adat suami menjemput sendiri?" (Lee Ki XXVII:26, 38).

(4) Ok-lo tidak dapat menjawab, Esok harinya ia pergi ke kota Co melaporkan hal itu kepada Bingcu.

Bingcu berkata, "Untuk menjawab itu mudah saja."

(5) "Dalam suatu hal kalau orang tidak mempertimbangkan pokoknya hanya menonjolkan bagian ujungnya, biar sepotong kayu yang hanya satu cun dapat dikatakan lebih tinggi dari puncak gedung bertingkat."

(6) "Kalau orang berkata emas lebih berat dari bulu, tidak berarti sepotong kecil emas dibandingkan segerobak bulu."

(7) "Kalau dalam hal makan dipilihkan hal yang berat, sedang dalam hal Kesusilaan diambilkan yang ringan, lalu diperbandingkan, tentulah akan disimpulkan bahwa makan lebih penting. Kalau dalam hal perkawinan diambilkan hal yang berat, sedang dalam hal Kesusilaan diambil hal yang ringan lalu diperbandingkan, tentulah akan disimpulkan bahwa perkawinan itu lebih penting."

(8) "Pergilah balas bertanya, 'Kalau kamu harus memutar lengan kakakmu dan merebut makanannya, baru beroleh makanan; tanpa memutar lengannya tidak bisa mendapatkan makanan itu, apakah kamu akan memutarnya juga? Kalau dengan melompati pagar Timur rumah seseorang dan menyeret gadisnya baru dapat menikah, tanpa menyeretnya tidak bisa menikah dengannya; apakah kamu juga akan menyeretnya?'"

Ayat 2

(1) Coo Kau bertanya, "Benarkah tiap orang bisa menjadi seperti Giau dan Sun?" Bingcu menjawab, "Benar!"

(2) "Kau mendengar bahwa Raja Bun itu sepuluh jengkal tinggi badannya dan Raja Thong sembilan jengkal tingginya. Kini Kau bertinggi badan sembilan jengkal empat cun, tetapi kemampuannya hanya makan sekoi saja. Bagaimanakah agar dapat seperti mereka?" (VIIA:43)

(3) "Apakah hubungan persoalan yang kau kemukakan itu dengan masalahnya? Berbuatlah seperti mereka. Kalau ada orang yang mula-mula tenaganya tidak kuat mengangkat seekor anak itik, tentulah orang itu dinamai orang yang tidak bertenaga. Kalau kini ia dapat mengangkat seratus kati, ia akan dinamai seorang yang bertenaga. Kalau kemudian bisa mengangkat seberat angkatan Oh-hik, niscaya ia akan dinamai Oh-hik kedua. Mengapakah orang mesti berkeluh-kesah tidak dapat berbuat sama? Soalnya ialah karena tidak mau berbuat!\\

(4) "Kalau orang dalam berjalan mau perlahan-lahan di belakang orang yang lebih tua, tentu ia dinamai seorang yang dapat berendah hati. Kalau berjalan cepat-cepat mendahului orang yang lebih tua, tentu ia akan dinamai seorang yang tidak berendah hati. Untuk berjalan perlahan-lahan begitu saja, masakan orang tidak dapat? Itu hanya tidak mau mengerjakan. Adapun Jalan Suci Giau dan Sun tidak lain hanya Laku Bakti dan Rendah Hati."

(5) "Kalau kamu mau berpakaian seperti Giau, mengulangi kata-kata Giau dan menjalankan perbuatan-perbuatan yang dilakukan Giau, kamu sudah menjadi seperti Giau. Kalau kamu memakai pakaian seperti Kiat, mengulangi kata-kata Kiat dan menjalankan perbuatan-perbuatan yang dilakukan Kiat, kamupun akan menjadi seperti Kiat."

(6) "Kau ingin menemui pembesar kota Co ini agar mendapat tempat kediaman dan menerima ajaran lebih jauh."

(7) "Jalan Suci itu laksana Jalan Raya, apa sukarnya untuk menemukannya? Hanya salah orang sendiri tidak mau mencarinya. Kamu boleh pulang dan mencarinya disana. Disana banyak guru bagimu."

Ayat 3

(1) Kongsun Thio bertanya, "Koocu berkata bahwa Sanjak Siau Pwan itu sanjak orang rendah budi." (II.5.3.5)

Bingcu bertanya, "Mengapakah dikatakan begitu?"

"Di situ terkandung rasa penyesalan."

(2) "Sungguh sempit pandangan Kooso tentang Sanjak. Kalau di sini ada seseorang, lalu ada pula seorang Negeri Wat mementang busur hendak memanahnya; aku akan dapat sambil omong dan tertawa menasehatkan kepada orang itu, jangan berbuat demikian. Ini tidak lain karena yang melakukan itu tidak bersangkut paut dengan aku. Tetapi kalau yang mementang busur dan hendak memanah itu kakakku, tentu aku akan dengan menangis mencucurkan air mata menasehatinya. Ini juga tidak lain karena yang hendak melakukan itu bersangkut paut denganku. Pernyataan penyesalan dalam Siau Pwan itu ialah karena adanya rasa Cinta kepada orang tua. Cinta kepada orang tua itu bersumber Cinta Kasih. Maka sungguh sempit pandangan Koo-so tentang Sanjak."

(3) "Mengapakah di dalam Sanjak Khai Hong tidak terdapat penyesalan?"(I.3.7.)

(4) "Sebab di dalam Sanjak Khai Hong, kesalahan orang tuanya kecil saja. Tetapi di dalam Siau Pwan, kesalahan orang tuanya itu besar. Maka kalau tidak juga menunjukkan penyesalan, itu berarti merenggangkan hubungan. Sebaliknya kalau kesalahan orang tua tidak besar, tetapi sudah menggerutu, itu berarti si anak tidak menyukai orang tuanya. Merenggangkan hubungan itu berarti tidak berbakti, dan tidak menyukai itupun berarti tidak berbakti."

(5) "Khongcu bersabda, 'Sungguh di puncak laku Bakti Raja Sun, sampai usia 50 tahun masih juga mengenang orang tuanya.'"(VA.1)

Ayat 4

(1) Song King hendak ke Negeri Cho bertemu dengan Bingcu di Sik-khiu.

(2) (Bingcu) bertanya, "Tuan hendak kemana?"

(3) "Saya mendengar Negeri Chien dan Cho sedang berperang. Aku hendak menemui Raja Negeri Cho dan membujuknya. Kalau Raja Negeri Cho tidak menyukainya aku akan menemui Raja Negeri Chien untuk membujuknya pula. Satu di antara ke dua raja itu tentu akan ada salah seorang yang mau menurut."

(4) "Khoo tidak ingin minta keterangan yang lengkap, hanya ingin mendengar bagaimana tuan akan membujuknya." "Akan kukatakan bahwa hal itu tidak membawa keuntungan." (IA.1)

(5) "Sungguh besar kemauan tuan, tetapi dasar alasan tuan tidak teguh. Kalau tuan hendak menggunakan alasan keuntungan untuk berbicara dengan Raja Negeri Chien dan Cho, dan ternyata Raja Negeri Chien dan Cho suka dengan alasan keuntungan itu, maka panglima-panglima barisan dan perwira-perwira barisan juga akan suka dengan alasan keuntungan itu. Kalau sudah begitu, nanti orang yang menjadi pembantu hanya akan ingat keuntungan dalam mengabdi kepada pemimpin; yang menjadi anak, juga hanya akan ingat keuntungan saja dalam mengabdi kepada orang tua; yang menjadi adik, hanya akan ingat keuntungan saja dalam mengabdi kepada kakak. Akhirnya: pemimpin, pembantu, ayah, anak, kakak, adik semuanya akan membuang Cinta Kasih dan Kebenaran, dan hanya ingat keuntungan dalam perhubungannya. Setelah demikian, kalau tidak musna negerinya, itu belum pernah terjadi."

(6) "Kalau tuan mengemukakan Cinta Kasih dan Kebenaran untuk berbicara dengan Raja Negeri Chien dan Cho, Raja Negeri Chien dan Cho akan suka kepada Cinta Kasih dan Kebenaran. Panglima-panglima dan perwira-perwira barisan pun akan selalu ingat Cinta Kasih dan Kebenaran dalam mengabdi kepada pemimpin, yang menjadi anak akan selalu ingat Cinta Kasih dan Kebenaran dalam mengabdi kepada orang tua; yang menjadi adikpun akan selalu ingat Cinta Kasih dan Kebenaran dalam melayani kakak.

Maka : pemimpin, pembantu, ayah, anak, kakak, adik, semua akan menyisihkan keuntungan dan selalu ingat akan Cinta Kasih dan Kebenaran dalam perhubungannya. Dengan demikian, kalau tidak menjadi raja besar, itu belum pernah terjadi ; mengapa akan membicarakan keuntungan saja?"

Ayat 5

(1) Ketika Bingcu diam di kota Co, Kwi Jiem mewakili kakaknya menjaga kota Jiem, ia mengirim bahan-bahan dari sutera. (Bingcu) menerimanya tanpa ucapan terima kasih. Ketika diam di Ping-Liok, menteri Thicu juga mengirim bahan-bahan dari sutera, dan (Bingcu) pun menerimanya tanpa ucapan terima kasih.

(2) Hari lain, (Bingcu) dari kota Co menuju Negeri Jiem, ia menemui Kwicu (untuk mengucapkan terima kasih). Tetapi ketika dari Ping-liok ke negeri Cee, ia tidak menemui Thicu. Melihat hal itu Ok-locu dengan gembira berkata, Kini ada bahan bertanya.

(3) Ia bertanya, "Ketika di Negeri Jiem guru menemui Kwicu, mengapa ketika di negeri Cee, guru tidak menemui Thicu? Apakah karena dia hanya seorang menteri?"

(4) "Bukan demikian! Dalam Kitab Su King tertulis: Persembahan itu harus disertai adat istiadat ; kalau tanpa adat, barang-barang itu tidak berarti apa-apa karena tidak disertai kemauan baik yang sungguh-sungguh, maka hilang pula maksud sebenarnya." (Su King V.1.2).

(5) "Demikianlah semuanya itu karena persembahan tidak disampaikan dengan cara yang semestinya."

(6) Mendengar keterangan itu Ok-locu gembira sekali. Ketika ada orang bertanya hal itu Ok-locu menjawab, "Sebabnya ialah karena Kwicu memang benar-benar tidak dapat datang sendiri ke Negeri Co; tetapi Thicu sesungguhnya dapat datang sendiri ke Ping-liok."

Ayat 6

(1) Sun-i Khun berkata, "Orang yang mengutamakan nama baik, ingin berbuat banyak bagi orang lain. Orang yang membelakangkan nama baik, ingin berbuat banyak untuk diri sendiri. Guru sudah menjadi salah satu di antara tiga menteri kepala, tetapi sebelum nama baik guru dapat memberi faedah bagi pihak atasan maupun bawahan, mengapakah sudah hendak meletakkan jabatan? Apakah seorang yang berperi Cinta Kasih itu sedemikian kukuh?" (IVA, 17)

(2) Bingcu menjawab, "Orang yang rela menjadi rakyat jelata karena tidak mau menjadi yang Bijaksana mengabdi kepada orang dungu, itulah Pik-i. Lima kali bekerja kepada Raja Thong dan lima kali bekerja kepada Raja Kiat, itulah I-ien. Tidak menolak bekerja pada raja yang keji dan tidak menolak pangkat yang rendah, itulah Liuhe Hwi. Ketiga orang ini menempuh Jalan Suci yang nampaknya berlainan tetapi sesungguhnya di dalam hal yang satu. Apakah hal yang satu itu? Yakni : Cinta Kasih! Seorang Kuncu cukup dengan Cinta Kasih! Haruskah ia dengan satu cara saja?" (VB : 1)

(3) "Pada jaman Rajamuda Bok dari Negeri Lo, Konggicu memegang kekuasaan pemerintahan ; Culiu dan Cusu menjadi menterinya. Tetapi bahkan pada saat itu Negeri Lo sangat banyak kehilangan daerahnya. Apakah sedemikian tidak berguna orang-orang Bijaksana itu bagi negeri?"

(4) "Raja Gi yang tidak mau menggunakan tenaga Pik-li He, akhirnya musna negaranya. Rajamuda Bok dari Negeri Chien yang mau memakai tenaganya dapat menjadi rajamuda pemimpin. Yang tidak mau memakai tenaga orang-orang Bijaksana akan musna. Kalau hanya kehilangan beberapa daerahnya saja itu masih belum seberapa."(VA :9)

(5) "Dahulu ketika Ong-pa tinggal di dekat Sungai Ki, penduduk di barat sungai lalu suka menyanyi dengan suara diputus-putus. Ketika Bian-ki diam di daerah Kootong, penduduk sebelah kanan Negeri Cee lalu suka menyanyi dengan suara dipanjang-panjangkan. Begitu pula isteri Hwaciu dan Kiliang, begitu baik dalam menangisi suaminya (yang gugur dalam pertempuran) sehingga dapat mengubah kebiasaan orang senegeri. Demikianlah kalau memang di dalam mempunyai kecakapan, tentu akan mewujud di lahir, dan kalau ia mengerjakan sesuatu sampai tanpa berhasil, Khun belum pernah melihatnya. Kini teranglah, memang tidak ada orang Bijaksana itu. Kalau ada, tentu dapat Khun lihat sendiri hasil-hasil pekerjaannya."

(6) "Dahulu ketika Khongcu menjadi menteri Kehakiman di Negeri Lo, ternyata petunjuk-petunjuknya tidak dipakai oleh raja. Beliau menanti sampai tiba Upacara Sembahyang Besar (tangcik), ternyata beliau tidak diantari daging bekas sembahyang; beliau tanpa membuka topi, pergi. Yang tidak mengerti, menyangka itu hanya persoalan daging saja, tetapi yang mengerti tahu bahwa raja sudah tidak berbuat Susila. Sebenarnya Khongcu memang menunggu adanya kesalahan kecil lalu pergi, dan tidak suka pergi tanpa alasan sama sekali. Perbuatan seorang Kuncu itu sering orang tidak dapat memahaminya."

Ayat 7

(1) Bingcu berkata, "Kelima Rajamuda Pemimpin itu sesungguhnya telah berdosa kepada Raja Besar ketiga Dinasti itu. Rajamuda-rajamuda yang sekarang ini telah berdosa kepada Kelima Rajamuda Pemimpin itu. Dan para pembesar-pembesar sekarang ini telah berdosa pula kepada rajamuda-rajamudanya."

(2) "Kalau raja (tiap 12 tahun) pergi ketempat rajamuda-rajamuda, itu dinamai pemeriksaan; dan kalau rajamuda itu (tiap 6 tahun) menghadap ke istana raja, itu namanya laporan. Sudah menjadi kebiasaan pada waktu musim semi sawah-sawah diperiksa, dan yang kekurangan benih diberi bantuan; tiap musim rontok juga diadakan pemeriksaan untuk membantu yang hasil panennya kurang. Kalau raja datang diperbatasan negeri bagian, dan dilihat tanah-tanah baru telah dibuka, sawah-sawah telah dikerjakan, orang-orang yang tua mendapat pemeliharaan, orang-orang Bijaksana mendapat penghormatan, dan jabatan-jabatan diduduki oleh orang-orang cakap; maka rajamuda daerah itu diberi ganjaran berupa tambahan tanah. Kalau memasuki batas suatu negeri bagian, ternyata tanah ladang terbengkalai, orang-orang yang lanjut usia disia-siakan, orang-orang Bijaksana tidak diindahkan dan hanya pemungut-pemungut cukai menduduki jabatan; maka rajamuda daerah itu akan mendapat teguran. Kalau (rajamuda itu) sekali tidak menghadap ke istana, dia akan diturunkan pangkatnya; kalau dua kali tidak menghadap ke istana, akan diambil sebagian tanahnya; dan kalau sampai tiga kali tidak menghadap ke istana, akan digerakkan balatentara untuk menghukumnya. Jadi raja hanya menjatuhkan hukuman, tetapi bukan yang melaksanakan hukuman itu. Rajamuda-rajamuda itu bertugas melaksanakan hukuman yang telah diputuskan itu, mereka tidak berhak menjatuhkan hukuman. Kelima Rajamuda Pemimpin itu mengajak rajamuda-rajamuda lain untuk menghukum rajamuda yang dianggap bersalah; maka kukatakan bahwa Kelima Rajamuda Pemimpin itu telah berdosa kepada Raja Besar ketiga Dinasti itu."

(3) "Di antara Ke lima Rajamuda Pemimpin itu Rajamuda Hwan (dari Negeri Cee) lah paling jaya. Ketika dia mengumpulkan rajamuda-rajamuda di Kwi-khiu untuk mengadakan perjanjian bersama, dia hanya membacakan Naskah Surat Perjanjian itu di atas hewan korban, dengan tanpa memulaskan darah hewan itu pada mulut rajamuda-rajamuda itu sebagai sumpah. Ayat pertama berbunyi: Hukuman mati bagi anak-anak yang tidak Berbakti, dilarang mengganti anak yang sudah ditetapkan sebagai penerus, dilarang mengangkat selir menjadi permaisuri. Ayat kedua berbunyi: Hormati orang-orang Bijaksana, berilah kedudukan kepada yang cakap agar yang berkebajikan itu dimuliakan. Ayat ketiga berbunyi: Hormatilah orang-orang yang tua, kasihilah anak-anak muda; dan janganlah menyukarkan tamu atau para pengembara. Ayat keempat berbunyi: Pangkat tidak boleh diturun-temurunkan. Pejabat negara tidak boleh merangkap pangkat. Mengangkat seseorang harus yang tepat. Kepala daerah tidak boleh menghukum mati pembesar bawahannya. Ayat kelima berbunyi: Dalam menyalurkan air di sawah-sawah tidak boleh berbuat curang. Dilarang melarang orang menjual hasil buminya kenegeri lain. Dilarang menaikkan pangkat tanpa memberi laporan dahulu. Ada kata-kata lain yang tercantum: Semoga kita semua yang berjanji, selanjutnya dalam kata-kata dan perbuatan selalu baik-baik menepatinya. Tetapi rajamuda-rajamuda yang sekarang ini, semuanya melanggar lima peraturan tadi. Maka kukatakan Rajamuda-rajamuda yang sekarang ini sudah berdosa kepada Kelima Rajamuda Pemimpin itu."

(4) "Yang menuruti perbuatan jahat rajanya, dia berdosa sekalipun kecil. Tetapi yang bahkan mendorong rajanya berbuat jahat, dia besar dosanya. Para pembesar sekarang ini, semua mendorong rajanya berbuat jahat; maka kukatakan: Para pembesar sekarang ini berdosa kepada rajamuda-rajamuda itu."

Ayat 8

(1) Negeri Lo hendak mengangkat Sien-cu menjadi panglima perang.

(2) Bingcu berkata, "Tidak memberi pendidikan kepada rakyat lebih dahulu lalu menggunakannya (dalam peperangan), itu namanya mencelakakan rakyat. Yang mencelakakan rakyat, tidak akan dibiarkan begitu saja dalam jaman Giau dan Sun."

(3) "Meskipun dengan sekali perang dapat mengalahkan Negeri Cee dan menduduki Lamyang, itupun tetap tidak layak dilakukan." (S.S. XIII : 30).

(4) Siencu dengan berubah wajahnya dan tidak senang berkata. "Itulah hal yang Kutli (Siencu) tidak mengerti."

(5) "Aku hendak menjelaskan kepada tuan. Tanah seorang raja ialah seribu li luasnya; kalau kurang dari seribu li, tidak cukup untuk membiayai penerimaan kepada rajamuda dan lain-lain. Tanah seorang rajamuda ialah seratus li luasnya, kalau kurang dari seratus li, tidak cukup untuk dapat membiayai upacara sembahyang seperti yang tersebut dalam Kitab Adat-istiadat yang tersimpan dalam bio leluhurnya."

(6) "Dahulu ketika Pangeran Ciu diangkat sebagai kepala daerah Negeri Lo ini, juga hanya diberi tanah seratus li. Itu bukan karena tanahnya tidak cukup, melainkan sudah seharusnya hanya seratus li. Begitupun ketika (Kiang) Thaikong diangkat sebagai kepala daerah di Negeri Cee, juga hanya diberi tanah seratus li. Itupun bukan karena tanahnya tidak cukup, melainkan memang sudah seharusnya hanya seratus li."

(7) "Kini Negeri Lo sudah mempunyai lima kali seratus li; kalau ada seorang raja besar yang memerintah, kiranya kekuasaan Negeri Lo akan dikurangi atau ditambah ?"

(8) "Meskipun dengan mudah dapat mengambil dan memberikan suatu negeri, seorang yang berperi Cinta Kasih tidak akan melakukannya. Apalagi kalau harus membunuh untuk mendapatkannya."

(9) "Seorang Kuncu di dalam mengabdi kepada rajanya, ia hanya merasa bertugas membawa rajanya menempuh Jalan Suci, dan menujukan citanya kepada Cinta Kasih."

Ayat 9

(1) Bingcu berkata, "Orang-orang yang kini mengabdi raja suka berkata 'Aku sanggup meluaskan sawah ladang (milik raja), memenuhkan perbendaharaan dan gudang senjata.' Demikianlah menteri-menteri yang dianggap pandai pada jaman ini, tetapi pada jaman dahulu mereka dianggap sebagai perampok atas rakyat. Terhadap seorang raja yang tidak bisa menempatkan diri dalam Jalan Suci, tidak menujukan cita kepada Cinta Kasih, tetapi mau membantunya kaya; itu seperti membantu kaya kepada Kiat," (S.SIV : 14).

(2) "(Ada pula yang berkata) 'Aku dapat membantu rajaku berserikat dengan negeri-negeri lain sehingga tiap berperang beroleh kemenangan.' Demikianlah menteri-menteri yang dianggap pandai pada jaman ini, tetapi pada jaman dahulu mereka dianggap sebagai perampok atas rakyat. Terhadap seorang raja yang tidak bisa menempatkan diri dalam Jalan Suci, tidak menujukan cita kepada Cinta Kasih, tetapi mau membantunya kuat di dalam peperangan, itu seperti membantu kuat kepada Kiat."

(3) "(Kalau raja-raja itu) menurutkan cara-cara yang sekarang ini, tidak mau mengubah kebiasaan yang sekarang ini, biarpun berkuasa atas seluruh dunia ini, tidak akan dapat dia mempertahankan biar sepagian saja."

Ayat 10

(1) Pik-kwi bertanya, "Aku hendak memungut pajak seperduapuluh bagian saja, bagaimana pendapat tuan ?"

(2) Bingcu menjawab, "Jalan yang akan tuan tempuh itu seperti cara bangsa Bek."

(3) "Misalkan suatu negara berpenduduk sepuluh ribu keluarga, dapatkah hanya seorang saja yang membuat barang-barang pecah belah ?"

"Tidak dapat, itu tidak mencukupi!"

(4) "Di negeri Bek, lima macam biji-bijian itu tidak dapat tumbuh. Di sana hanya tumbuh sekoi, tidak ada kota-kota yang dilindungi benteng, tidak ada gedung-gedung besar, tidak ada bio leluhur atau rumah-rumah ibadah serta upacaranya, tidak ada perjamuan-perjamuan untuk menerima rajamuda-rajamuda, dan tidak ada beratus jawatan beserta pegawainya. Maka dipungut pajak seperduapuluh penghasilan sudah mencukupi."

(5) "Tetapi bagi yang di tengah negeri ini, kalau hal tata-upacara hubungan antara manusia yang sudah diadakan itu dihilangkan, pembesar-pembesar dihapuskan, bolehkah itu dilakukan ?"

(6) "Kalau sampai kekurangan orang yang membuat periuk saja, itu sudah tidak dapat dinamai suatu negara, apalagi kalau sampai tidak ada pembesarnya. Kalau hal perpajakan akan diperingan lebih dari yang dijalankan Giau dan Sun, itu akan menimbulkan terjadinya Negeri Bek besar atau Negeri Bek kecil. Kalau akan diperberat lebih yang dijalankan Giau dan Sun, itu juga akan menimbulkan terjadinya negeri yang dipimpin oleh Kiat besar, atau negeri yang dipimpin Kiat kecil."

Ayat 11

(1) Pik-kwi berkata, "Cara Tan (Pik-kwi) dalam mengatur air lebih baik dari Raja I."

(2) Bingcu berkata, "Tuan sungguh salah! I dalam mengatur air menurutkan hukum-hukum air."

(3) "Maka I menjadikan ke empat lautan sebagai tempat menerima air. Tetapi kini tuan menggunakan negara tetangga sebagai tempat menerima air."

(4) "Air, bila terhalang alirannya akan meluap-luap dan menimbulkan banjir. Inilah hal yang dibenci seorang yang berperi Cinta Kasih; maka tuan sungguh salah!" (III B : 9/3)

Ayat 12

Bingcu berkata, "Seorang Kuncu bila tidak mempunyai keyakinan benar, bagaimana ia dapat memegang teguh ?"

Ayat 13

Rajamuda Negeri Lo hendak menyuruh Gakcingcu memangku jabatan. Bing-cu berkata, "Ketika aku mendengarnya, aku sungguh girang sampai tidak bisa tidur." (VII B : 25)

(2) Kongsun Thio bertanya, "Cukup kuatkah Gakcingcu untuk itu ?"

"Tidak"

"Pandaikah ia memberi nasehat ?"

"Tidak!"

"Banyak pengetahuankah ia ?"

"Tidak!"

(3) "Kalau begitu mengapa guru begitu girang sampai tidak bisa tidur ?"

(4) "Dia seorang yang menyukai Kebaikan!"

(5) "Menyukai Kebaikan, sudah cukupkah itu ?"

(6) "Yang menyukai Kebaikan, akan dapat mengatasi hal-hal sedunia, jangankan hanya sebuah Negeri Lo."

(7) "Kalau (pembesar) memang suka akan Kebaikan, orang-orang di empat penjuru lautan, niscaya menganggap ringan jarak ribuan li untuk datang menyampaikan pikiran-pikiran yang baik."

(8) "Sebaliknya kalau tidak menyukai Kebaikan, orang-orang akan berkata, 'Lihatlah, betapa angkuhnya; dikiranya dirinya sudah tahu tentang segala!' Kata-kata dan wajah yang angkuh itu akan menyebabkan orang-orang yang tidak menyukai hal semacam itu menetap di tempat-tempat yang jauhnya beribu li dari situ. Kalau para Siswa menjauhkan diri ribuan li jauhnya, kaum pengkhianat, penghasut, dan penjilat akan datang ke dekatnya. Bilamana seorang menteri hidup dikitari kaum pengkhianat, penghasut dan penjilat, bagaimana dapat berhasil mengatur beres negara ?"

Ayat 14

(1) Tiencu bertanya, "Mengapa Kuncu jaman dahulu itu mau memangku jabatan ?" (VB : 4/7; IIB : 3)

(2) Bingcu menjawab, "Ada tiga hal yang menyebabkan mereka memangku jabatan, dan ada tiga hal yang menyebabkan mereka pergi."

(3) "Kalau ia disambut dengan hormat dan dengan Kesusilaan, dan merasa kata-katanya akan dapat dilaksanakan, maka ia mau memangku jabatan. Tetapi, meskipun ia tetap dihormati, kalau ternyata kata-katanya tidak dilaksanakan ia akan pergi."

(4) "Yang kedua, biarpun ia merasa kata-katanya tidak akan dapat dilaksanakan, tetapi karena disambut dengan hormat, mungkin ia mau juga memangku jabatan. Tetapi kalau tidak diperlakukan dengan hormat lagi, ia akan pergi.

(5) "Yang terakhir, ialah karena pagi tidak bisa makan, sore tidak bisa makan, ia menanggung lapar sehingga tidak bisa ke luar rumah. Lalu ada pembesar yang mendengar dan berkata, 'Aku sebagai pembesarnya, meskipun tidak bisa melaksanakan Jalan Suci dan tidak dapat menurut kata-katanya; tetapi membiarkan kelaparan di tanahku, aku sungguh malu !' Kemudian kalau dia mau menolongnya, orang itu mungkin juga mau menerima; tetapi hanya sekedar untuk tidak mati."

Ayat 15

(1) Bingcu berkata, "Sun menjadi orang besar, mulai dari bekerja di tengah sawah. Hu-wat ketika diangkat, ia sedang mengerjakan dinding rumahnya. Kau-kik ketika diangkat, ia sedang berdagang ikan dan garam. Kwan I-go ketika diangkat, ia masih di penjara. Sunsiok Go ketika diangkat, ia sedang mengasingkan diri disuatu tepi laut. Pikli Hee ketika diangkat, ia sedang di pasar. (Su King IV.7)"

(2) "Begitulah kalau Tuhan YME hendak menjadikan seseorang besar, lebih dahulu disengsarakan batinnya, dipayahkan urat dan tulangnya, dilaparkan badan kulitnya, dimiskinkan sehingga tidak punya apa-apa, dan digagalkan segala usahanya. Maka dengan demikian digerakkan hatinya, diteguhkan Watak Sejatinya, dan bertambah pengertiannya tentang hal-hal yang ia tidak mampu."

(3) "Kalau orang selalu menderita, ia tentu akan dapat memperbaiki kesalahannya. Kalau orang sudah banyak menderita dalam hatinya, dan menanggung kesukaran dalam fikirannya, baharulah ia akan bertindak benar-benar. (Begitupun dalam berbicara) kalau sudah disertai wajah yang sungguh dan suara yang tegas, baharulah orang mau mengerti."

(4) "(Juga dalam suatu negara) kalau di dalam tidak ada para ahli hukum dan penasehat, dan di luar tidak ada negara musuh atau bencana-bencana lainnya; negara itu akan mengalami kemusnaan."

(5) "Jadi tahulah kita bahwa yang hidup itu berasal dari kepedihan dan penderitaan, dan yang binasa itu karena hanya mau senang gembira saja," (VIIA: 18)

Ayat 16

Bingcu berkata, "Hal mendidik itu banyak caranya. Biarpun aku tidak mau memberinya pengajaran, itu sudah berarti memberi pengajaran juga."