(1) Seorang Negeri Jiem bertanya kepada Ok-lo, "Antara Kesusilaan dan makan, mana yang lebih penting?" "Kesusilaan lebih penting!"
(2) "Perkawinan dan Kesusilaan, mana lebih penting?""Kesusilaan lebih penting!"
(3) "Kalau dengan berlaku Susila untuk dapat mendapatkan makanan orang harus kelaparan dan mati, tetapi kalau tidak usah berlaku Susila untuk mendapatkan makanan orang dapat makan; haruskah orang tetap memegang Kesusilaan? Kalau dengan menetapi adat calon suami menjemput sendiri, ternyata tidak dapat kawin, tetapi bila tidak usah menetapi adat calon suami menjemput sendiri, dapat kawin; haruskah orang menetapi adat suami menjemput sendiri?" (Lee Ki XXVII:26, 38).
(4) Ok-lo tidak dapat menjawab, Esok harinya ia pergi ke kota Co melaporkan hal itu kepada Bingcu.
Bingcu berkata, "Untuk menjawab itu mudah saja."
(5) "Dalam suatu hal kalau orang tidak mempertimbangkan pokoknya hanya menonjolkan bagian ujungnya, biar sepotong kayu yang hanya satu cun dapat dikatakan lebih tinggi dari puncak gedung bertingkat."
(6) "Kalau orang berkata emas lebih berat dari bulu, tidak berarti sepotong kecil emas dibandingkan segerobak bulu."
(7) "Kalau dalam hal makan dipilihkan hal yang berat, sedang dalam hal Kesusilaan diambilkan yang ringan, lalu diperbandingkan, tentulah akan disimpulkan bahwa makan lebih penting. Kalau dalam hal perkawinan diambilkan hal yang berat, sedang dalam hal Kesusilaan diambil hal yang ringan lalu diperbandingkan, tentulah akan disimpulkan bahwa perkawinan itu lebih penting."
(8) "Pergilah balas bertanya, 'Kalau kamu harus memutar lengan kakakmu dan merebut makanannya, baru beroleh makanan; tanpa memutar lengannya tidak bisa mendapatkan makanan itu, apakah kamu akan memutarnya juga? Kalau dengan melompati pagar Timur rumah seseorang dan menyeret gadisnya baru dapat menikah, tanpa menyeretnya tidak bisa menikah dengannya; apakah kamu juga akan menyeretnya?'"