Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi

Bab 6a

Ayat 1

(1) Ko-cu berkata, "Watak Sejati itu laksana kayu pohon ki-liu (willow), dan Kebenaran itu laksana cawan dan mangkuk yang dianyam daripadanya. Kalau Watak Sejati itu hendak dijadikan bersifat Cinta Kasih dan Benar, ialah laksana kayu pohon ki-liu yang harus dianyam supaya menjadi cawan dan mangkuk itu."

(2) Bingcu berkata, "Dapatkah tuan dengan mengikuti saja watak kayu pohon ki-liu itu menjadikannya cawan dan mangkuk? Tuan tentu lebih dahulu harus memperkosa dan merusaknya Baru kemudian bisa menjadikannya cawan dan mangkuk. Kalau ternyata harus memperkosa dan merusak lebih dahulu kayu itu baharu dapat menjadikannya cawan dan mangkuk, maka ini berarti kita harus memperkosa dan merusak lebih dahulu hakekat kemanusiaan baharu dapat menjadikannya berperi Cinta Kasih dan Benar. Kalau pendapat ini diturut orang di dunia, maka Cinta Kasih dan Kebenaran itu akan dipandang sebagai malapetaka. Dan kalau sampai begitu, itu tentu akibat kata-kata tuan!"

Ayat 2

(1) Ko-cu berkata, "Watak Sejati itu laksana pusaran air; kalau diberi jalan ke Timur akan mengalir ke Timur, kalau diberi jalan ke Barat akan mengalir ke Barat. Begitupun Watak Sejati manusia itu tidak dapat membedakan baik atau tidak baik seperti air tidak dapat membedakan Timur dan Barat."

(2) Bingcu berkata, "Air memang tidak dapat membedakan antara Timur dan Barat. Tetapi tidak dapatkah membedakan antara atas dan bawah? Watak Sejati manusia cenderung kepada baik, laksana air yang mengalir ke bawah. Orang tidak ada yang tidak cenderung kepada baik seperti air tidak ada yang tidak mengalir ke bawah."

(3) "Kini kalau air itu ditepuk, dapat terlontar naik melewati dahi, dan dengan membendung dan memberi saluran-saluran dapat dipaksa mengalir sampai ke gunung. Tetapi benarkah ini watak air? Itu tentu bukan hal yang sewajarnya. Begitupun kalau orang sampai menjadi tidak baik, tentulah karena Watak Sejatinya diperlakukan seperti ini juga."

Ayat 3

(1) Ko-cu berkata, "Segenap kehidupan manusia itulah Watak Sejati!"

(2) Bingcu berkata, "Kalau segenap kehidupan manusia ialah Watak Sejati, itu seperti mengatakan segala yang putih itu ialah putih."

"Itu benar!"

"Putihnya bulu yang putih kalau begitu sama dengan putihnya salju, dan putihnya salju yang putih itu sama dengan putihnya batu kumala yang putih?" "Benar!"

(3) "Kalau begitu Watak anjing itu sama dengan Watak lembu dan Watak lembu itu sama dengan Watak Sejati manusia?"

Ayat 4

(1) Ko-cu berkata, "Merasakan makanan dan menikmati keindahan itulah Watak Sejati. Cinta Kasih memang dari dalam diri, tidak dari luar. Tetapi rasa Kebenaran itu dari luar diri tidak daridalam!"

(2) Bingcu berkata, "Bagaimanakah keterangannya bahwa Cinta Kasih itu dari dalam dan Kebenaran itu dari luar diri?" "Kita hormat kepada orang yang lebih tua ialah karena dia lebih tua dari kita, bukan karena sudah ada rasa hormat atas usianya. Begitu pula seperti kalau kita melihat orang yang putih, ialah karena dia lebih putih dari kita; jadi menuruti penglihatan dari luar yang menunjukkan putih. Itulah sebabnya kunamai dari luar!"

(3) "Benar kalau kita melihat kuda putih, kita namakan putih; begitupun kalau kita melihat orang putih, kita namakan putih. Tetapi tidak dapatkah kita membedakan antara memandang tua seekor kuda yang tua dengan memandang tua seorang yang tua? Maka apakah makna Kebenaran di dalam hal ini? Karena kenyataan adanya usia tinggi ataukah karena adanya rasa hormat kepada usia tinggi?"

(4) "Kepada adikku, aku menyayanginya; tetapi kepada adik orang Negeri Chien, aku tidak menyayanginya. Jadi rasa suka itu sudah ada dalam diriku. Maka kukatakan hal itu dari dalam diri. Aku menghormati seorang Negeri Cho yang tua, juga menghormati seorang yang tua dari keluarga sendiri. Jadi hal itu bergantung pada tuanya usia, maka kukatakan dari luar diri."

(5) "Tuan bisa menyukai masakan orang Negeri Chien dengan tidak berbeda seperti menyukai masakan keluarga sendiri. Jadi dalam hal makanan, ternyata juga tidak ada perbedaan. Kalau begitu hal menyukai makanan ini apakah juga akan tuan katakan dari luar diri?"

Ayat 5

(1) Bing Kwicu bertanya kepada kong-tocu, "Mengapakah dikatakan Kebenaran itu dari dalam diri?" (IIA:2/15)

(2) "Hal itu karena adanya rasa hati yang menghormat. Maka dikatakan dari dalam."

(3) "Kalau ada orang kampung yang lebih tua setahun dari kakakmu, kepada siapa kamu akan lebih menghormat?" "Lebih kuhormati kakakku."

"Kalau harus menyuguhkan anggur, siapakah yang akan kamu dahulukan?"

"Akan kudahulukan orang kampung itu."

"Jadi hormatmu yang ke luar dari hati itu kepada kakakmu dan hormatmu dalam hal-hal tertentu itu kepada orang lain. Nyatalah bahwa hal-hal itu dari luar diri, bukan dari dalam."

(4) Kongtocu tidak bisa menjawab, lalu melaporkan hal itu kepada Bingcu. Bingcu berkata, "Tanyalah, ia lebih menghormati pamannya atau lebih menghormati adiknya. Dia tentu menjawab, lebih menghormati pamannya. Kemudian tanyalah lagi, kalau adiknya itu diberi tugas sebagai wakil rokh dalam upacara sembahyang, siapakah yang lebih dihormati? Dia tentu menjawab, lebih menghormati adiknya. Lalu tanyakanlah pula, mengapa tadi lebih menghormati pamannya. Tentu ia akan menjawab, itu karena adiknya menduduki suatu tugas. Lalu kamu katakan lagi, jadi kamupun merasakan bahwa menghormat yang tetap itu kepada kakak (itulah yang timbul dari dalam), tetapi dalam hal-hal tertentu menghormat kepada orang kampung."

(5) Kwicu mendengar itu berkata, "Jadi kalau harus menghormat kepada paman lalu menghormatinya, kalau harus menghormat kepada adik lalu menghormatinya. Teranglah itu dari luar, tidak dari dalam."

Kongtocu menjawab, "Musim dingin sudah seharusnya minum air panas. Musim panas sudah seharusnya minum air dingin. Jadi orang makan minum itu juga karena hal-hal di luar?"

Ayat 6

(1) Kongtocu berkata, "Kocu berkata bahwa Watak Sejati itu bukannya baik atau tidak baik.

(2) "Ada orang lain berkata bahwa Watak Sejati itu dapat dijadikan baik dan dapat dijadikan tidak baik. Maka ketika Raja Bun dan Raja Bu memerintah, rakyat menyukai Kebaikan. Tetapi ketika Raja Yu dan Raja Li memerintah, rakyat menyukai kekejaman."

(3) "Orang lain lagi berkata, ada yang ber-Watak Sejati baik dan ada yang ber-Watak Sejati tidak baik. Maka ketika Giau menjadi raja, ada juga orang semacam Chiang. Dan Ko-so sebagai Bapak bisa mempunyai anak sebagai Sun. Begitu pula Raja Tiu sebagai saudara dan anak yang begitu jahat, ketika menjadi raja bisa mempunyai saudara seperti Bicu Khee dan paman sebagai Pangeran Pi-kan."

(4) "Kini guru berkata bahwa Watak Sejati manusia itu baik. Kalau begitu, apakah yang lain itu salah semua?"

(5) Bingcu berkata, "Kalau kita mau mengikuti gerak rasa, akan tahulah bahwa sesungguhnya memang baik. Maka kukatakan bersifat baik."

(6) "Kalau ada seseorang yang sampai menjadi tidak baik, kita tidak boleh menimpakan kesalahan pada Watak dasarnya."

(7) "Rasa hati berbelas-kasihan tiap orang mempunyai, rasa hati malu dan tidak suka tiap orang mempunyai, rasa hati hormat dan mengindahkan tiap orang mempunyai, dan rasa hati membenarkan dan menyalahkan tiap orang juga mempunyai.

Adapun rasa hati berbelas-kasihan itu menunjukkan adanya benih Cinta Kasih, rasa hati malu dan tidak suka itu menunjukkan adanya benih kesadaran menjunjung Kebenaran, rasa hati hormat dan mengindahkan itu menunjukkan adanya benih Kesusilaan, dan rasa hati membenarkan dan menyalahkan itu menunjukkan adanya benih Kebijaksanaan. Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan dan Kebijaksanaan itu bukan hal-hal yang dimasukkan dari luar ke dalam diri, melainkan diri kita sudah mempunyainya. Tetapi sering kita tidak mau mawas diri. Maka dikatakan, 'Carilah dan engkau akan mendapatkannya, sia-siakanlah dan engkau akan kehilangan!' Sifat orang memang kemudian berbeda-beda, mungkin berbeda berlipat dua sampai lima atau bahkan tidak terhitung; tetapi itu tidak dapat dicarikan alasan kepada Watak dasarnya." (IIA:6/4, 5)

(8) "Di dalam Kitab Si King tertulis, 'Tuhan YME menjelmakan rakyat; menyertainya dengan bentuk dan sifat. Dan sifat umum pada rakyat ialah suka kepada Kebajikan Mulia itu.' 'Khongcu bersabda, 'Yang menggubah sanjak ini, tentulah sudah mengenal akan Jalan Suci. Setiap bentuk tentulah mempunyai sifat. Dan sifat umum pada rakyat ialah menyukai Kebajikan Mulia itu." (III.3: 6/1.)

Ayat 7

(1) Bingcu berkata, "Pada tahun-tahun yang makmur, anak-anak dan pemuda-pemuda kebanyakan berkelakuan baik; tetapi pada tahun-tahun paceklik, anak-anak dan pemuda-pemuda kebanyakan berkelakuan buruk. Ini bukanlah karena Tuhan YME menurunkan Watak dasar yang berlainan, melainkan karena hatinya telah terdesak dan tenggelam di dalam keadaan yang buruk."

(2) "Kini marilah kita misalkan hal benih gandum. Benih itu kita tanam, tanahnya dikerjakan baik-baik, ditanam di tanah yang sejenis, ditanam pada masa yang sama, tentulah akan sama-sama tumbuh subur. Setelah tiba harinya semuanya akan masak. Bila hasilnya tidak dapat sama benar, tentulah karena tanah itu ada yang subur dan ada yang kurang subur; juga tergantung adanya hujan dan embun, begitu pula apakah orangnya mengerjakan dengan sungguh-sungguh atau tidak."

(3) "Begitupun hal makhluk-makhluk lain, yang sebangsa akan mempunyai sifat-sifat yang sama pula. Mengapakah hanya manusia saja yang lalu dianggap berbeda? Seorang Nabi dengan diri kita adalah sejenis."

(4) "Maka Liongcu berkata, '(Seorang pembuat terompah) tanpa mengetahui ukuran kaki seseorang, dalam membuat terompah rumput, aku percaya ia tentu tidak akan membuatnya seperti keranjang.' Model terompah rumput itu bersamaan karena kaki di dunia inipun bersamaan bentuknya." (IVA:3/7).

(5) "Mulut dalam merasakan juga dapat sama dalam menikmati makanan. Ik-ge sudah mengetahui bagaimana rahasia mulut kita menikmati makanan. Kalau tiap-tiap mulut orang dalam merasakan berlainan hakekatnya, seperti berbedanya lidah anjing, atau kuda dengan manusia dalam merasakan; bagaimana seluruh dunia dapat merasakan nikmatnya makanan yang dimasak Ik-ge? Mengingat hal merasakan makanan ini, ternyata seluruh dunia dapat menikmati masakan Ik-ge. Kesimpulannya : mulut orang itupun hakekatnya bersamaan."

(6) "Kiranya demikian pula telinga kita. Dalam hal suara musik, seluruh dunia dapat menikmati lagu yang dibawakan Sukhong. Jadi telinga orang di dunia inipun hakekatnya bersamaan" (IVA: 1).

(7) "Dan kiranya demikian pula mata kita. Maka di dunia ini tidak ada yang tidak mengerti bahwa Cu-to itu tampan! Kalau orang tidak bisa mengerti bahwa Cu-to itu tampan, dia tentu buta penglihatannya."

(8) "Maka dikatakan, mulut dalam hal merasakan, dapat sama dalam menikmati rasa; telinga dalam mendengar, dapat sama dalam menikmati suara; mata dalam melihat wajah seseorang, dapat sama dalam menyatakan ketampanannya. Tetapi akan hal hati, mengapakah diragukan kesamaan hakekatnya? Sesungguhnya hati itupun hakekatnya bersamaan. Mengapa? Karena yang dinamakan Hukum (Li) ialah Kebenaran. Seorang Nabi dapat lebih dahulu menyadarinya dan kitapun akan dapat menyamainya. Maka terlaksananya Hukum Kebenaran itu akan dapat menyukakan hati kita semua, seperti mulut kita dapat menyukai daging, lembu dan babi."

Ayat 8

(1) Bingcu berkata, "pohon di gunung Giu, mula-mula memang rimbun indah. Tetapi karena letaknya dekat dengan sebuah negeri yang besar, lalu dengan semena-mena ditebang; masih indahkah kini? Benar dengan istirahat tiap hari tiap malam, disegarkan oleh hujan dan embun, tiada yang tidak bersemi dan bertunas kembali. Tetapi lembu-lembu dan kambing-kambing digembalakan disana, maka menjadi gundullah dia. Orang yang melihat keadaan yang gundul itu lalu menganggapnya memang selamanya belum pernah ada pohon-pohonnya."

(2) "Tetapi benarkah itu hakekat sifat gunung itu? Cinta Kasih dan Kebenaran yang wajib terjaga di dalam hati manusia, kalau sampai tiada lagi, tentulah karena sudah terlepas Hati Nuraninya (Liang Siem). Hal itu seperti pohon yang ditebang dengan kapak; kalau tiap-tiap hari ditebang, dapatkah menunjukkan keindahannya? Dengan bergantinya siang dan malam orang dapat beristirahat, lalu pagi harinya beroleh kesegaran kembali; tetapi karena kegemarannya akan hal-hal yang buruk dan kurangnya kehendak saling mengerti dengan orang lain, maka perbuatan pada siang harinya itu memusnahkan kembali yang sudah diperolehnya. Kalau kemusnaan ini berulang-ulang terjadi, kesegaran yang diperoleh karena hawa malam itu, tidak cukup untuk menjaganya. Kalau kesegaran yang diperoleh karena hawa malam itu tidak cukup untuk menjaganya, bedanya dengan burung atau hewan sudah tidak jauh lagi. Kalau orang melihat keadaan yang sudah menyerupai burung atau hewan itu, ia lalu menyangka bahwa memang demikianlah Watak dasarnya. Tetapi benarkah itu sungguh-sungguh merupakan rasa hatinya?" (IVB:19).

(3) "Maka kalau dirawat baik-baik tiada barang yang tidak akan berkembang, sebaliknya kalau tidak dirawat baik-baik tiada barang yang tidak akan rusak."

(4) "Khongcu bersabda, 'Pegang teguhlah, maka akan terpelihara; sia-siakanlah, maka akan musna. Keluar masuknya tidak berketentuan waktu dan tidak diketahui di mana tempatnya.' Disini Beliau hanya akan mengatakan tentang Hati."

Ayat 9

(1) Bingcu berkata, Tidak usah heran kalau raja itu tidak bisa berbuat Bijaksana.

(2) Biar barang yang paling mudah tumbuh di dunia ini, kalau hanya sehari mendapat sinar matahari dan sepuluh hari dalam kedinginan, belum pernah ada yang bisa tumbuh. Aku jarang dapat bertemu dengannya, begitu aku mengundurkan diri, dia sudah di dalam kedinginan. Maka meski mula-mula aku berhasil menumbuhkan tunas-tunasnya, apakah artinya?

(3) Kini marilah kita bicarakan hal orang main catur. Bukankah itu hanya hal yang kecil arti? Tetapi kalau tidak menggunakan kemauan sepenuh hati, orang takkan dapat berhasil. Phok Chiu ialah seorang yang paling pandai bermain catur di negeri ini. Kalau Phok Chiu disuruh mengajar catur kepada dua orang anak; yang seorang dengan kemauan sepenuh hati benar-benar mendengarkan pelajaran Phok Chiu; yang lainnya biar mendengarkan juga, namun hatinya hanya terlibat dengan pikiran kalau-kalau ada angsa hutan datang dan bermaksud hendak mengambil busur untuk memanahnya; meskipun mereka bersama-sama belajar, sudah tentu tidak akan sama hasilnya. Apakah itu boleh untuk menyatakan bahwa memang kecerdasannya tidak sebanding? Bukan! Tidaklah demikian halnya.

Ayat 10

(1) Bingcu berkata; "Ikan, aku menyukai. Tapak beruang, aku menyukai juga. Tetapi kalau tidak dapat kuperoleh kedua-duanya, akan kulepaskan ikan dan kuambil tapak beruang. Hidup, aku menyukai. Kebenaran, aku menyukai juga. Tetapi kalau tidak dapat kuperoleh kedua-duanya, akan kulepaskan hidup dan kupegang teguh Kebenaran."

(2) "Hidup, memang aku menyukainya, tetapi ada yang lebih kusukai dari pada hidup; maka aku tidak mau sembarangan untuk mendapatkannya. Mati, memang aku tidak menyukainya, tetapi ada yang lebih tidak kusukai dari pada mati; maka aku tidak mau sembarangan untuk menghindari penderitaan."

(3) "Kalau tiada hal lain yang lebih disukai daripada hidup, mengapa orang tidak mau berbuat apa saja asal dapat hidup? Kalau tiada hal lain yang lebih tidak disukai daripada mati, mengapa orang tidak mau berbuat apa saja asal dapat menghindari penderitaan?"

(4) "Bahkan sekalipun ada jalan untuk hidup, ada juga yang tidak mau menggunakannya; ada jalan untuk menghindari penderitaan, tetapi ada juga yang tidak mau melakukannya."

(5) "Maka hal menyukai sesuatu yang lebih daripada hidup dan hal tidak menyukai sesuatu yang lebih daripada mati, bukan hanya terdapat pada hati orang-orang Bijaksana; melainkan semua orang mempunyainya. Tetapi orang Bijaksana itulah yang dapat tetap tidak mematikannya."

(6) "Kini kalau ada sebakul nasi dan semangkok sayur; lalu ada seseorang yang bila mendapatkan itu ia hidup, bila tidak mendapatkan itu ia mati; kalau diberikan dengan maki-makian, seorang gelandanganpun tidak mau menerimanya. Kalau diberikan dengan lebih dahulu diinjak-injak, maka seorang pengemispun, tidak mau mengambilnya."

(7) "Sebaliknya ternyata ada pula orang yang mau menerima padi 10.000 ciong dengan tanpa memperdulikan Kesusilaan dan Kebenaran. Barang yang 10.000 ciong itu sebenarnya akan dapat menambah apa bagi dirinya? Mungkin itu dapat untuk memperindah gedung, mememelihara isteri dan pelayan atau untuk mendapat terima kasihnya orang miskin yang ditolong."

(8) "Disini ternyata, yang mula-mula biar mati tidak mau menerima; kini karena dapat untuk memperindah gedung, lalu diterima. Yang mula-mula biar mati tidak mau menerima; kini karena dapat untuk memperoleh pelayanan isteri dan pelayan, lalu diterima. Yang mula-mula biar mati tidak mau menerima; kini karena dapat untuk memperoleh terima kasih orang-orang miskin lalu diterima. Mengapa ia tidak dapat berbuat yang sama? Ini karena suah kehilangan pokok hatinya."

Ayat 11

(1) Bingcu berkata, "Cinta Kasih itulah Hati manusia. Kebenaran itulah Jalan manusia."

(2) "Kalau Jalan itu disia-siakan dan tidak dilalui. Hatinya lepas tidak tahu bagaimana mencarinya kembali; Ai Cai, sungguh menyedihkan!"

(3) "Kalau orang mempunyai ayam atau anjing yang lepas, ia tahu bagaimana mencarinya; tetapi kalau Hatinya yang lepas, ia tidak tahu bagaimana mencarinya. Sesungguhnya Jalan Suci dalam belajar itu tidak lain ialah bagaimana dapat mencari kembali Hati yang lepas itu."

Ayat 12

(1) Bingcu berkata, "Kini kalau ada orang yang jari manisnya bengkok tidak dapat diluruskan, biar tidak sakit dan tidak mengganggu pekerjaan, kalau ada yang bisa menyembuhkan menjadi lurus, meskipun di Negeri Chien atau Cho tidaklah dipandang jauh. Demikianlah kalau seseorang jarinya tidak wajar."

(2) "orang yang jarinya tidak wajar, tahu bagaimana untuk tidak menyukainya; tetapi kalau hatinya tidak wajar sebagai manusia, mengapa tidak tahu bagaimana untuk tidak menyukainya? Inilah yang dinamai tidak dapat membeda-bedakan."

Ayat 13

Bingcu berkata, "Kalau orang ingin menanam pohon tong atau cu yang digenggam dengan kedua belah tangan maupun sebelah tangannya, ia tahu bagaimana harus memeliharanya. Tetapi diri sendiri, ternyata tidak tahu bagaimana harus memeliharanya. Apakah sayangnya kepada diri itu tidak seperti kepada pohon tong atau cu itu? Sungguh ini kurang berpikir!"

Ayat 14

(1) Bingcu berkata, "Kepada diri sendiri, orang menyayangi seluruhnya. Karena seluruhnya disayangi, maka seluruhnyapun dipeliharanya. Tidak ada biarpun satu jengkal atau satu cun daripada kulitnya yang tidak disayanginya. Maka tidak ada biarpun satu jengkal atau satu cun dari pada kulitnya yang tidak dirawatnya. Untuk mengetahui apakah caranya itu baik atau tidak baik, tidak ada jalan lain kecuali menilik bagian mana yang diutamakan."

(2) "Badan itu mempunyai bagian yang mulia, yang rendah, yang kecil artinya dan yang besar artinya. Tidak boleh yang kecil itu membahayakan yang besar, juga tidak boleh yang rendah itu membahayakan yang mulia. Kalau orang mengutamakan yang kecil, ia akan menjadi orang kecil; kalau ia mengutamakan yang besar, ia akan menjadi orang besar."

(3) "Kini, umpama ada seorang tukang kebun yang menyia-nyiakan pohon go dan ke (yang berharga) dan hanya menjadi tukang memelihara kurma kecut, boleh dinamakan tukang kebun yang bodoh."

(4) "Begitupun kalau orang hanya memperhatikan pemeliharaan jarinya dan menyia-nyiakan bahu punggungnya yang luka parah, ia terang tidak Bijaksana. Ia hanya seperti srigala lari."

(5) "Orang yang hanya tahu makan minum saja akan dipandang rendah oleh orang lain, karena ia dipandang hanya memelihara yang kecil dan mengalpakan yang besar."

(6) "Kalau orang di dalam memperhatikan makan minum tidak melupakan hal yang tidak boleh dialpakan maka benar-benar mulutnya itu tidak hanya sekedar berguna untuk memelihara satu jengkal atau satu cun kulitnya saja."

Ayat 15

(1) Kongtocu bertanya, "Semuanya ialah manusia mengapakah ada yang menjadi orang besar dan ada yang menjadi orang kecil?"

Bingcu menjawab, "Orang yang menurutkan bagian dirinya yang besar akan menjadi orang besar, yang hanya menurutkan bagian dirinya yang kecil akan menjadi orang kecil."

(2) "Semuanya ialah menusia, mengapakah ada yang menurutkan bagian dirinya yang besar dan ada yang menurutkan bagian dirinya yang kecil?" "Tugas telinga dan mata tanpa dikendalikan pikiran, niscaya akan digelapkan oleh napsu-napsu (dari luar). Napsu-napsu (dari luar) bilamana bertemu dengan napsu-napsu ( di dalam diri) mudah saling cenderung. Tugas Hati ialah berpikir. Dengan berpikir kita akan berhasil, tanpa berpikir takkan berhasil. Tuhan YME mengaruniai kita semuanya itu, agar kita lebih dahulu menegakkan bagian yang besar, sehingga bagian yang kecil itu tidak bisa mengacau. Inilah yang menyebabkan orang bisa menjadi orang besar."

Ayat 16

(1) Bingcu berkata, "Ada kemuliaan karunia Tuhan dan ada kemuliaan pemberian manusia. Cinta Kasih, Kebenaran, Satya, Dapat Dipercaya dan gemar akan Kebaikan dengan tidak merasa jemu, itulah kemuliaan karunia Tuhan YME. Kedudukan rajamuda, menteri dan pembesar itulah kemuliaan pemberian manusia."

(2) "Orang jaman dahulu membina kemuliaan karunia Tuhan YME dan kemudian mendapatkan kemuliaan pemberian manusia."

(3) "Orang jaman sekarang membina kemuliaan karunia Tuhan YME untuk mendapatkan kemuliaan pemberian manusia. Setelah mendapat kemuliaan pemberian manusia, lalu dibuanglah kemuliaan karunia Tuhan YME. Sungguh tersesatlah jalan pikirannya, karena akhirnya ia akan kehilangan semua."

Ayat 17

(1) Bingcu berkata, "Hal keinginan mendapatkan kehormatan semua orang mempunyai hati yang sama. Sesungguhnya tiap orang sudah mempunyai kehormatan dalam dirinya, hanya tidak mau mawas."

(2) "Kehormatan yang didapat dari pemberian orang, bukan Kehormatan yang sejati; sebab kehormatan pemberian Keluarga Thio Bing dapat diambil kembali oleh keluarga Thio Bing itu."

(3) "Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Telah kau puaskan aku dengan anggur, telah kau kenyangkan aku dengan Kebajikan.' Kata-kata kenyang itu menunjukkan tentang Cinta Kasih dan Kebenaran. Kalau orang sudah demikian, masakan orang masih hanya ingin ikan atau nasi dari orang lain? Kalau orang sudah termasyhur dan harum namanya, masakan masih menginginkan pakaian bersulam pemberian orang?"

Ayat 18

(1) Bingcu berkata, "Cinta Kasih menang atas yang bukan Cinta Kasih, seperti air menang atas api. Tetapi kini orang hendak melakukan Cinta Kasih laksana dengan semangkuk air memadamkan api segerobak kayu bakar, kalau tidak padam. lalu dikatakan bahwa air tidak dapat menang atas api."

(2) "Hal ini sama saja dengan menganjurkan orang yang tidak berperi Cinta Kasih untuk menjadi-jadi dan (Cinta Kasihnya yang sedikit itu) akhirnya musna sama sekali."

Ayat 19

Bingcu berkata, "Di antara segala biji-bijian adalah lima macam biji-bijian yang terbaik. Tetapi kalau dalam keadaan tidak masak, sesungguhnya lebih baik rumput tee atau pai. Begitupun nilai Cinta Kasih itu hanya bergantung kematangannya!"

Ayat 20

Bingcu berkata, "Gee dalam mengajar orang memanah tentu mementang busurnya penuh-penuh, murid-muridnya wajib berusaha dapat mementang penuh-penuh juga."

(2) "Begitupun seorang tukang kayu dalam mengajar seseorang tentu menggunakan jangka dan siku, pelajarnyapun harus berusaha baik-baik menggunakan jangka dan siku."