Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi · Bab 6a

Ayat 7

(1) Bingcu berkata, "Pada tahun-tahun yang makmur, anak-anak dan pemuda-pemuda kebanyakan berkelakuan baik; tetapi pada tahun-tahun paceklik, anak-anak dan pemuda-pemuda kebanyakan berkelakuan buruk. Ini bukanlah karena Tuhan YME menurunkan Watak dasar yang berlainan, melainkan karena hatinya telah terdesak dan tenggelam di dalam keadaan yang buruk."

(2) "Kini marilah kita misalkan hal benih gandum. Benih itu kita tanam, tanahnya dikerjakan baik-baik, ditanam di tanah yang sejenis, ditanam pada masa yang sama, tentulah akan sama-sama tumbuh subur. Setelah tiba harinya semuanya akan masak. Bila hasilnya tidak dapat sama benar, tentulah karena tanah itu ada yang subur dan ada yang kurang subur; juga tergantung adanya hujan dan embun, begitu pula apakah orangnya mengerjakan dengan sungguh-sungguh atau tidak."

(3) "Begitupun hal makhluk-makhluk lain, yang sebangsa akan mempunyai sifat-sifat yang sama pula. Mengapakah hanya manusia saja yang lalu dianggap berbeda? Seorang Nabi dengan diri kita adalah sejenis."

(4) "Maka Liongcu berkata, '(Seorang pembuat terompah) tanpa mengetahui ukuran kaki seseorang, dalam membuat terompah rumput, aku percaya ia tentu tidak akan membuatnya seperti keranjang.' Model terompah rumput itu bersamaan karena kaki di dunia inipun bersamaan bentuknya." (IVA:3/7).

(5) "Mulut dalam merasakan juga dapat sama dalam menikmati makanan. Ik-ge sudah mengetahui bagaimana rahasia mulut kita menikmati makanan. Kalau tiap-tiap mulut orang dalam merasakan berlainan hakekatnya, seperti berbedanya lidah anjing, atau kuda dengan manusia dalam merasakan; bagaimana seluruh dunia dapat merasakan nikmatnya makanan yang dimasak Ik-ge? Mengingat hal merasakan makanan ini, ternyata seluruh dunia dapat menikmati masakan Ik-ge. Kesimpulannya : mulut orang itupun hakekatnya bersamaan."

(6) "Kiranya demikian pula telinga kita. Dalam hal suara musik, seluruh dunia dapat menikmati lagu yang dibawakan Sukhong. Jadi telinga orang di dunia inipun hakekatnya bersamaan" (IVA: 1).

(7) "Dan kiranya demikian pula mata kita. Maka di dunia ini tidak ada yang tidak mengerti bahwa Cu-to itu tampan! Kalau orang tidak bisa mengerti bahwa Cu-to itu tampan, dia tentu buta penglihatannya."

(8) "Maka dikatakan, mulut dalam hal merasakan, dapat sama dalam menikmati rasa; telinga dalam mendengar, dapat sama dalam menikmati suara; mata dalam melihat wajah seseorang, dapat sama dalam menyatakan ketampanannya. Tetapi akan hal hati, mengapakah diragukan kesamaan hakekatnya? Sesungguhnya hati itupun hakekatnya bersamaan. Mengapa? Karena yang dinamakan Hukum (Li) ialah Kebenaran. Seorang Nabi dapat lebih dahulu menyadarinya dan kitapun akan dapat menyamainya. Maka terlaksananya Hukum Kebenaran itu akan dapat menyukakan hati kita semua, seperti mulut kita dapat menyukai daging, lembu dan babi."