Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi · Bab 6a

Ayat 8

(1) Bingcu berkata, "pohon di gunung Giu, mula-mula memang rimbun indah. Tetapi karena letaknya dekat dengan sebuah negeri yang besar, lalu dengan semena-mena ditebang; masih indahkah kini? Benar dengan istirahat tiap hari tiap malam, disegarkan oleh hujan dan embun, tiada yang tidak bersemi dan bertunas kembali. Tetapi lembu-lembu dan kambing-kambing digembalakan disana, maka menjadi gundullah dia. Orang yang melihat keadaan yang gundul itu lalu menganggapnya memang selamanya belum pernah ada pohon-pohonnya."

(2) "Tetapi benarkah itu hakekat sifat gunung itu? Cinta Kasih dan Kebenaran yang wajib terjaga di dalam hati manusia, kalau sampai tiada lagi, tentulah karena sudah terlepas Hati Nuraninya (Liang Siem). Hal itu seperti pohon yang ditebang dengan kapak; kalau tiap-tiap hari ditebang, dapatkah menunjukkan keindahannya? Dengan bergantinya siang dan malam orang dapat beristirahat, lalu pagi harinya beroleh kesegaran kembali; tetapi karena kegemarannya akan hal-hal yang buruk dan kurangnya kehendak saling mengerti dengan orang lain, maka perbuatan pada siang harinya itu memusnahkan kembali yang sudah diperolehnya. Kalau kemusnaan ini berulang-ulang terjadi, kesegaran yang diperoleh karena hawa malam itu, tidak cukup untuk menjaganya. Kalau kesegaran yang diperoleh karena hawa malam itu tidak cukup untuk menjaganya, bedanya dengan burung atau hewan sudah tidak jauh lagi. Kalau orang melihat keadaan yang sudah menyerupai burung atau hewan itu, ia lalu menyangka bahwa memang demikianlah Watak dasarnya. Tetapi benarkah itu sungguh-sungguh merupakan rasa hatinya?" (IVB:19).

(3) "Maka kalau dirawat baik-baik tiada barang yang tidak akan berkembang, sebaliknya kalau tidak dirawat baik-baik tiada barang yang tidak akan rusak."

(4) "Khongcu bersabda, 'Pegang teguhlah, maka akan terpelihara; sia-siakanlah, maka akan musna. Keluar masuknya tidak berketentuan waktu dan tidak diketahui di mana tempatnya.' Disini Beliau hanya akan mengatakan tentang Hati."