Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi · Bab 6b

Ayat 6

(1) Sun-i Khun berkata, "Orang yang mengutamakan nama baik, ingin berbuat banyak bagi orang lain. Orang yang membelakangkan nama baik, ingin berbuat banyak untuk diri sendiri. Guru sudah menjadi salah satu di antara tiga menteri kepala, tetapi sebelum nama baik guru dapat memberi faedah bagi pihak atasan maupun bawahan, mengapakah sudah hendak meletakkan jabatan? Apakah seorang yang berperi Cinta Kasih itu sedemikian kukuh?" (IVA, 17)

(2) Bingcu menjawab, "Orang yang rela menjadi rakyat jelata karena tidak mau menjadi yang Bijaksana mengabdi kepada orang dungu, itulah Pik-i. Lima kali bekerja kepada Raja Thong dan lima kali bekerja kepada Raja Kiat, itulah I-ien. Tidak menolak bekerja pada raja yang keji dan tidak menolak pangkat yang rendah, itulah Liuhe Hwi. Ketiga orang ini menempuh Jalan Suci yang nampaknya berlainan tetapi sesungguhnya di dalam hal yang satu. Apakah hal yang satu itu? Yakni : Cinta Kasih! Seorang Kuncu cukup dengan Cinta Kasih! Haruskah ia dengan satu cara saja?" (VB : 1)

(3) "Pada jaman Rajamuda Bok dari Negeri Lo, Konggicu memegang kekuasaan pemerintahan ; Culiu dan Cusu menjadi menterinya. Tetapi bahkan pada saat itu Negeri Lo sangat banyak kehilangan daerahnya. Apakah sedemikian tidak berguna orang-orang Bijaksana itu bagi negeri?"

(4) "Raja Gi yang tidak mau menggunakan tenaga Pik-li He, akhirnya musna negaranya. Rajamuda Bok dari Negeri Chien yang mau memakai tenaganya dapat menjadi rajamuda pemimpin. Yang tidak mau memakai tenaga orang-orang Bijaksana akan musna. Kalau hanya kehilangan beberapa daerahnya saja itu masih belum seberapa."(VA :9)

(5) "Dahulu ketika Ong-pa tinggal di dekat Sungai Ki, penduduk di barat sungai lalu suka menyanyi dengan suara diputus-putus. Ketika Bian-ki diam di daerah Kootong, penduduk sebelah kanan Negeri Cee lalu suka menyanyi dengan suara dipanjang-panjangkan. Begitu pula isteri Hwaciu dan Kiliang, begitu baik dalam menangisi suaminya (yang gugur dalam pertempuran) sehingga dapat mengubah kebiasaan orang senegeri. Demikianlah kalau memang di dalam mempunyai kecakapan, tentu akan mewujud di lahir, dan kalau ia mengerjakan sesuatu sampai tanpa berhasil, Khun belum pernah melihatnya. Kini teranglah, memang tidak ada orang Bijaksana itu. Kalau ada, tentu dapat Khun lihat sendiri hasil-hasil pekerjaannya."

(6) "Dahulu ketika Khongcu menjadi menteri Kehakiman di Negeri Lo, ternyata petunjuk-petunjuknya tidak dipakai oleh raja. Beliau menanti sampai tiba Upacara Sembahyang Besar (tangcik), ternyata beliau tidak diantari daging bekas sembahyang; beliau tanpa membuka topi, pergi. Yang tidak mengerti, menyangka itu hanya persoalan daging saja, tetapi yang mengerti tahu bahwa raja sudah tidak berbuat Susila. Sebenarnya Khongcu memang menunggu adanya kesalahan kecil lalu pergi, dan tidak suka pergi tanpa alasan sama sekali. Perbuatan seorang Kuncu itu sering orang tidak dapat memahaminya."