(1) Kongsun Thio bertanya, "Koocu berkata bahwa Sanjak Siau Pwan itu sanjak orang rendah budi." (II.5.3.5)
Bingcu bertanya, "Mengapakah dikatakan begitu?"
"Di situ terkandung rasa penyesalan."
(2) "Sungguh sempit pandangan Kooso tentang Sanjak. Kalau di sini ada seseorang, lalu ada pula seorang Negeri Wat mementang busur hendak memanahnya; aku akan dapat sambil omong dan tertawa menasehatkan kepada orang itu, jangan berbuat demikian. Ini tidak lain karena yang melakukan itu tidak bersangkut paut dengan aku. Tetapi kalau yang mementang busur dan hendak memanah itu kakakku, tentu aku akan dengan menangis mencucurkan air mata menasehatinya. Ini juga tidak lain karena yang hendak melakukan itu bersangkut paut denganku. Pernyataan penyesalan dalam Siau Pwan itu ialah karena adanya rasa Cinta kepada orang tua. Cinta kepada orang tua itu bersumber Cinta Kasih. Maka sungguh sempit pandangan Koo-so tentang Sanjak."
(3) "Mengapakah di dalam Sanjak Khai Hong tidak terdapat penyesalan?"(I.3.7.)
(4) "Sebab di dalam Sanjak Khai Hong, kesalahan orang tuanya kecil saja. Tetapi di dalam Siau Pwan, kesalahan orang tuanya itu besar. Maka kalau tidak juga menunjukkan penyesalan, itu berarti merenggangkan hubungan. Sebaliknya kalau kesalahan orang tua tidak besar, tetapi sudah menggerutu, itu berarti si anak tidak menyukai orang tuanya. Merenggangkan hubungan itu berarti tidak berbakti, dan tidak menyukai itupun berarti tidak berbakti."
(5) "Khongcu bersabda, 'Sungguh di puncak laku Bakti Raja Sun, sampai usia 50 tahun masih juga mengenang orang tuanya.'"(VA.1)