Nabi bersabda, “Yang tidak pernah bersedih itu ialah Raja Wen - Bun. Raja Ji - Kwi sebagai ayahnya dan Raja Wu - Bu sebagai puteranya. Ayahnya yang meletakkan dasar dan puteranya yang melanjutkan.”
Bab 17
“Raja Wu - Bu melanjutkan pekerjaan Raja Tai - Thai, Ji - Kwi dan Wen - Bun. Hanya dengan sekali mengenakan pakaian perang, seluruh dunia menjadi miliknya, tanpa kehilangan keharuman namanya. Keagungannya sebagai raja, kekayaannya meliputi empat penjuru lautan, zong miao - cong bio (miao - bio leluhurnya) tetap dipuja dan anak-cucunya terpelihara.”
“Raja Wu - Bu di dalam usia lanjut baru menerima ming - bing (Anugerah). Pangeran Zhou - Ciu menyempurnakan kebajikan Raja Wen - Bun dan Wu - Bu dengan memuliakan Raja Tai - Thai dan Ji - Kwi dengan gelar 'raja' dan menyembahyangi dengan upacara kerajaan kepada leluhurnya. Upacara ini diluaskan sehingga kepada pangeran-pangeran, pembesar-pembesar, para 'siswa' dan rakyat jelata. Ditetapkan peraturan: bagi seorang ayah yang berpangkat pembesar sedang puteranya adalah seorang siswa; maka bila sang ayah meninggal dunia, upacara penguburannya sebagai seorang pembesar, dan upacara sembahyangnya dilakukan sebagai siswa. Sebaliknya, seorang ayah yang hanya seorang siswa dan puteranya seorang pembesar; maka bila sang ayah meninggal dunia, upacara penguburannya sebagai seorang siswa sedang upacara sembahyangnya dilakukan sebagai pembesar. Upacara setahun berkabung (kematian paman) ditetapkan berlaku sampai kepada pembesar, sedang upacara tiga tahun berkabung (kematian orang tua) ditetapkan sampai kepada raja. Demikianlah di dalam upacara berkabung untuk ayah-bunda, mulia dan hina hanya satu peraturannya.” (Lun Yu - Lun Gi VI. 24; VII. 5; XVII. 21)