Si Shu

Kitab Empat · 四书

Lun Yu · Sabda Suci

Bab 14

Ayat 1

(1) Hian bertanya tentang perbuatan yang memalukan. Nabi bersabda, "Negara dalam Jalan Suci, hanya tahu gaji saja; negara ingkar dari Jalan Suci, juga hanya tahu gaji saja. Inilah perbuatan yang memalukan." (S.S. VIII : 13; Bc. VIIA : 6,7).

(2) "Orang yang sudah dapat mengalahkan sifat suka menang sendiri, menyombongkan diri sendiri, pendendam dan tamak; dapatkah dinamai seorang yang berperi Cinta Kasih?"

(3) Nabi bersabda, "Ia sudah melakukan hal yang sukar, tetapi tentang Cinta Kasihnya, Aku belum tahu."

Ayat 2

Nabi bersabda, "Seorang Siswa yang hanya mendambakan kesenangan saja, belum cukup disebut seorang Siswa." (S.S. IV : 9, 1 1).

Ayat 3

Nabi bersabda, "Bila negeri dalam Jalan Suci, hendaklah berani di dalam kata-kata dan berani di dalam perbuatan. Bila negeri ingkar dari Jalan Suci, hendaklah berani dalam perbuatan dan mengalah dalam bicara."

Ayat 4

Nabi bersabda, "Seorang yang berKebajikan, niscaya dapat berbicara baik; tetapi, seorang yang dapat berbicara baik, belum tentu berkebajikan. Seorang yang berperi Cinta Kasih niscaya berani; tetapi, seorang yang berani belum tentu berperi Cinta Kasih."

Ayat 5

(1) Lam-kiong Kwat bertanya kepada Nabi Khongcu, "Raja Gee ialah seorang ahli memanah dan Raja Goo termashur kuat menggerakkan perahu di daratan, tetapi keduanya mati tidak wajar. Raja I dan Cik ialah orang-orang yang terkenal mau bercocok tanam sendiri, tetapi bahkan memperoleh dunia ini. Mengapakah demikian?" Nabi tidak menjawab.

(2) Setelah Lam-Kiong Kwat keluar, Nabi bersabda, "Sungguh Kuncu orang ini! Sungguh menjunjung Kebajikan orang ini."

Ayat 6

Nabi bersabda, "Seorang Kuncu, tetapi tidak berperi Cinta Kasih adakah itu? Seorang rendah budi belum pernah ada yang berperi Cinta Kasih." (S.S. IV : 4).

Ayat 7

Nabi bersabda, "Bila seseorang benar-benar mencintai, dapatkah tidak berjerih payah? Kalau seseorang benar-benar Satya, dapatkah tidak memberi bimbingan?" (S.S. VIII :1).

Ayat 8

Nabi bersabda, "(Bila Negeri Ting) berkirim surat ke luar negeri, lebih dahulu Pi Siem disuruh membuat rencana, Si Siok disuruh memeriksa, menteri luar negeri Cu-i disuruh memperbaiki, dan Cu-San dari Tong-li disuruh menyempurnakan."

Ayat 9

(1) Ada orang bertanya tentang Cu-san. Nabi bersabda, "Dia seorang yang murah hati." (S.S.V.16)

(2) Ada yang bertanya tentang Cu-see. Nabi bersabda, "0, dia? Dia!"

(3) Ada pula yang bertanya tentang Kwan-tiong. (S.S. III:22).

"Dia sangat pandai, maka sekalipun dia merampas daerah Pian yang berpenduduk tiga ratus keluarga dari Kepala Keluarga Pik sehingga mengakibatkan Kepala Keluarga Pik hanya dapat makan makanan yang sangat sederhana; namun Kepala Keluarga Pik tidak merasa menyesal kepadanya."

Ayat 10

Nabi bersabda, "Miskin tanpa menggerutu itu sukar. Kaya tanpa merasa sombong itu mudah." (S.S. 1:15).

Ayat 11

Nabi bersabda: "Bing Kong-too bila disuruh memangku jabatan menteri Kepala Keluarga Thio dan Gui (di Negeri Cien) ia masih sanggup mengerjakan, tetapi tidak mampu untuk menjadi pembesar di Negeri Ting atau Siat yang kecil itu."

Ayat 12

(1) Cu-lo bertanya cara menjadi seorang yang sempurna. Nabi bersabda, "Harus mempunyai kecakapan seperti Cong Bu-tiong, tidak tamak seperti Bing Kong-too, berani seperti Pian Congcu, banyak pengetahuan seperti Jiam Kiu dan segenap tingkah lakunya sesuai dengan Kesusilaan dan Musik. Demikianlah seorang yang sempurna itu."

(2) Kemudian bersabda pula, "Untuk masa sekarang, bagaimanakah orang yang sempurna itu?" "Cukup bilamana melihat keuntungan ingat akan Kebenaran, menghadapi bahaya berani menetapi takdir, sekalipun lama mengalami penderitaan tidak lupa akan janji yang diucapkan; ini cukup untuk menjadi seorang yang baik."

Ayat 13

(1) Nabi bertanya tentang Kongsiok Bun-cu kepada Kongbing Ke, "Benarkah ia tidak suka berbicara, tertawa dan mengambil sesuatu?"

(2) Kongbing Ke menjawab, "Itu tidak benar. Pada saat perlu bicara beliau berbicara, maka kata-katanya tidak menjemukan; pada saat-saat yang menggembirakan juga tertawa, maka tawanya tidak menjemukan; dan, bila sesuai dengan Kebenaran beliaupun mau mengambil, maka hal mengambilnyapun tidak menjemukan."

(3) Nabi bersabda, "Betulkah begitu? Betulkah begitu?"

Ayat 14

Nabi bersabda, "Cong Bu-tiong setelah menduduki daerah Hong, lalu mengajukan permohonan memangku jabatan di situ kepada Pangeran Negeri Lo; biarpun ada orang mengatakan dia tidak memaksa, Aku tidak percaya." (S.S. XIV : 12).

Ayat 15

Nabi bersabda, "Rajamuda Bun dari Negeri Cien bermuslihat dan tidak lurus; Rajamuda Hwan dari Negeri Cee lurus dan tidak bermuslihat."

Ayat 16

Cu-lo bertanya, "Ketika Rajamuda Hwan dari Negeri Cee membunuh Kongcu Kiu, Tiau Hut (guru pembantunya) melakukan bela mati, tetapi Kwan-tiong tidak. Kiranya ia belum mempunyai peri Cinta Kasih."

(2) Nabi bersabda, "Raja muda Hwan mengepalai rajamuda-rajamuda lainnya dengan tanpa kekerasan senjata. Itu tidak lain karena daya upaya Kwan Tiong. Di sinilah peri Cinta Kasihnya! Di sinilah peri Cinta Kasihnya!"

Ayat 17

(1) Cu-khong bertanya, "Bukankah Kwan Tiong itu tidak berperi Cinta Kasih? Raja muda Hwan sudah membunuh Kongcu Kiu, ia tidak melakukan bela mati, bahkan mau menjadi menterinya."

(2) Nabi bersabda, "Di dalam membantu Rajamuda Hwan, Kwan Tiong dapat mengepalai para rajamuda lainnya sehingga dunia mendapat pemerintahan yang baik, bahkan sampai kini rakyat masih dapat merasakan faedahnya. Kalau tidak karena jasa Kwan Tiong, kita mungkin sudah menjadi orang yang rambutnya diurai dan memakai baju yang berbelah ke kiri.

(3) "Masakan dia mau berbuat seperti laki-laki atau perempuan biasa yang hanya kukuh pada perkara-perkara kecil; kalau ia hanya menurutkan perkara-perkara kecil, meski ia membunuh diri, mati di selokan, tidak akan ada orang yang memperdulikannya." (T.S. XI : 2).

Ayat 18

(1) Pembesar Swan, dahulu bekas pembantu Kongsiok Buncu, naik menghadap Pangeran bersama Kongsiok Buncu.

(2). Mendengar itu Nabi bersabda, "Sungguh cocok ia diberi gelar Bun (Sastrawan)."

Ayat 19

(1) Nabi membicarakan tentang Rajamuda Ling dari Negeri Wee yang ingkar dari Jalan Suci. Kwi Khongcu bertanya, "Kalau demikian mengapakah tidak hancur kekuasaannya?" (S.S. XV : 1)

(2) Nabi Khongcu menjawab, "Tiongsiok Gi diangkat sebagai pemimpin penyambut tamu negara; Ciok Too diangkat sebagai pemimpin upacara di bio leluhurnya; dan Ongsun Ke diangkat sebagai panglima tentaranya. Dengan demikian bagaimanakah dapat hancur kekuasaannya?"

Ayat 20

Nabi bersabda, "Orang yang suka beromong besar, akan sukar dapat melaksanakan kata-katanya." (S.S. IV : 22; XIV : 27).

Ayat 21

(1) Tien Singcu membunuh Pangeran Kian dari Negeri Cee.

(2) Nabi Khongcu setelah mandi dan keramas lalu pergi ke istana memberi laporan kepada Pangeran Ai, "Tien Hing telah membunuh rajanya. Mohon tindakan untuk menghukumnya."

(3) Pangeran Ai menjawab, "Beritahukanlah kepada tiga Keluarga Besar itu"

(4) (Setelah keluar) Nabi Khongcu bersabda, "Karena Aku pernah menjadi menteri, maka tidak berani tidak memberi laporan, tetapi Pangeran berkata supaya dilaporkan kepada tiga Keluarga Besar itu."

(5) Beliau memberi laporan kepada tiga Keluarga Besar itu, tetapi mereka tidak menyetujuinya. Nabi Khongcu bersabda, "Aku pernah menjadi menteri, maka tidak berani tidak memberi laporan."

Ayat 22

Cu-lo bertanya bagaimanakah mengabdi kepada raja. Nabi bersabda, "Janganlah menipunya; tetapi, berterang-teranglah berani memberi peringatan."

Ayat 23

Nabi bersabda, "Majunya seorang Kuncu itu menuju ke atas, dan majunya seorang rendah budi itu menuju ke bawah."

Ayat 24

Nabi bersabda, "Jaman dahulu orang belajar bertujuan membina diri Sekarang orang belajar bertujuan memperlihatkan diri kepada orang lain."

Ayat 25

Ki Pik-giok mengutus seseorang kepada Nabi Khongcu. Setelah bersama duduk, Nabi Khongcu bertanya, "Bagaimanakah pribadi tuanmu itu? (S.S. XV : 7).

(2) Jawabnya, "Tuanku itu orang yang selalu berusaha mengurangi kesalahannya, tetapi merasa masih belum dapat."

(3) Setelah utusan itu ke luar, Nabi bersabda, "Sungguh seorang utusan yang baik! Sungguh seorang utusan yang baik!"

Ayat 26

Nabi bersabda, "Kalau tiada atas hal yang berhubungan dengan kedudukanmu, janganlah ikut campur tangan." (S.S. VIII : 14).

(2) Cingcu berkata, "Seorang Kuncu di dalam pikirannya tidak melantur-lantur ke luar dari kedudukannya." (T.S. XIII : 1)

Ayat 27

Nabi bersabda, "Seorang Kuncu malu bila kata-katanya melampaui perbuatannya." (S.S. XIV: 20)

Ayat 28

Nabi bersabda, "Ada tiga hal di dalam Jalan Suci seorang Kuncu yang belum dapat Kucapai. Penuh Cinta Kasih sehingga tidak merasa susah-payah. Bijaksana sehingga tidak dilamun bimbang, dan Berani sehingga tidak dirundung kecemasan."

(2) Cu-khong berkata, "Inilah Jalan Suci yang telah Guru jalani sendiri." (S.S. IX : 29).

Ayat 29

Cu-khong sering mengecam orang lain. Nabi bersabda, "Su, engkau pandai bukan? Aku tidak mempunyai waktu berbuat seperti kamu." (T.S. XIII : 1)

Ayat 30

Nabi bersabda, "Jangan menyesal orang lain tidak mengenal dirimu, tetapi menyesallah kalau dirimu tidak mempunyai kecakapan." (S.S. I : 16)

Ayat 31

Nabi bersabda, "Tidak berprasangka akan kecurangan orang lain; tidak mencurigai apakah seseorang tidak mempercayai dirinya; tetapi dapat merasa, kalau ada sesuatu yang tidak benar; inilah laku seorang yang Bijaksana."

Ayat 32

(1) Bising Bo bertanya kepada Nabi Khong cu, "Mengapakah Khiu selalu repot ke mana-mana? Apakah itu tidak menyebabkanmu seperti orang yang suka memutar lidah?"

(2) Nabi Khongcu menjawab, "Bukannya Aku berani pandai bersilat lidah, tetapi Aku benci akan sifat kukuh."

Ayat 33

Nabi bersabda, "Kuda dinamai Ki (sebutan bagi kuda baik) bukan hanya karena tenaganya, tetapi karena sifat-sifat lainnya yang Bajik pula."

Ayat 34

(1) Ada orang bertanya. "Dengan Kebajikan membalas kejahatan. bagaimanakah itu?" (Lee KiXXIX : 12)

(2) Nabi bersabda, "Kalau demikian, dengan apa engkau dapat mernbalas Kebajikan?"

(3) "Balaslah kejahatan dengan kelurusan dan balaslah Kebajikan dengan Kebajikan."

Ayat 35

(1) Nabi bersabda, "Ah, tiada orang yang mengenal Aku."

(2) Cu-khong bertanya, "Apakah maksudnya tiada orang yang mengenal Guru?"

(3) Nabi bersabda, "Aku tidak menggerutu kepada Tuhan YME, tidak pula menyesali manusia. Aku hanya belajar dari tempat rendah ini, terus maju menuju tinggi. Tuhan YME lah mengerti diriKu." (S.S. XIX : 23).

Ayat 36

(1) Kongpik Liau memfitnah Cu-lo dihadapan Kwisun. Cuhok Kingpik datang kepada Nabi dan melapor, "Tuanku nampaknya keras kepala membenarkan hasutan Kongpik Liau, tetapi saya masih mempunyai tenaga untuk membunuhnya dan menyeret mayatnya ke pasar."

(2) Nabi bersabda, "Kalau Jalan Suci akan dapat dilaksanakan dan berkembang, itulah Firman; kalau Jalan Suci itu harus musnah, itupun Firman. Apa yang dapat dilakukan Kongpik Liau terhadap Firman?" (S.S. VII : 23; IX: 5; Bc. IB : 16)

Ayat 37

(1) Nabi bersabda, "Di antara orang-orang bijaksana ada yang menyingkiri dunia; ada yang menyingkiri negerinya; ada yang menyingkiri wajah-wajah; dan, ada yang menyingkiri kata-kata."

(2) Nabi bersabda pula, "Orang yang melakukan ini sudah ada tujuh."

Ayat 38

(1) Cu-lo bermalam di Sik Bun (Gerbang Batu). Keesokan harinya penjaga pintu berkata, "Engkau dari mana?" Cu-lo menjawab, "Dari tempat Nabi Khongcu."

(2) "0, dari orang yang masih hendak menjalankan hal yang sudah diketahuinya tidak akan dapat dijalankan itu?"

Ayat 39

(1) Tatkala Nabi di Negeri Wee, menabuh semacam alat musik yang dibuat dari batu. Ketika itu lewatlah seorang yang mendukung keranjang rumput di muka pintu kediamannya lalu berkata, "Sungguh sepenuh hati memukulnya." (S.S. XVIII : 5).

(2) Sebentar kemudian berkata pula, "Sungguh jelas! Lagunya merayu seperti berkata 'Tiada orang yang mengenal Aku!' Tetapi kalau tidak ada yang mau mengenalNya, mengapakah tidak dihentikan saja? 'Menyeberangi sungai, bila airnya dalam, menyeberanglah beserta pakaian; bila airnya dangkal, bolehlah menarik pakaian ke atas'." (Si King 1.3.9.1).

(3) Nabi bersabda, "Sungguh tegas orang ini. Tetapi apakah sukarnya kalau hanya begitu?"

Ayat 40

(1) Cu-tiang bertanya, "Di dalam Su King (Kitab Hikayat) tertulis 'Raja Koocong dalam masa berkabung tiga tahun tidak berbicara di sidang!' Mengapakah begitu?" (Su King IV : 8).

(2) Nabi bersabda, "Ini bukan hanya Koocong saja, orang-orang kuno semua menjalankannya. Bila raja mangkat, seratus jawatan itu membereskan persoalan-persoalan sendiri. Selama tiga tahun itu perdana menterinyalah yang memimpin."

Ayat 41

Nabi bersabda, "Bila yang berkedudukan tinggi menyukai kesusilaan, niscaya mudah menyuruh rakyat mengikutinya."

Ayat 42

(1) Cu-lo bertanya tentang seorang Kuncu. Nabi bersabda, "Ia membina dirinya dengan penuh hormat."

(2) "Setelah dapat berbuat demikian lalu bagaimana?

"Ia membina diri untuk memberi sentosa kepada orang lain."

(3) "Setelah dapat berbuat demikian lalu bagaimana?"

"Ia membina diri untuk memberi sentosa kepada segenap rakyat. Membina diri untuk dapat memberi sentosa kepada seluruh rakyat, meskipun Giau dan Sun masih khawatir belum dapat melaksanakan dengan sempurna." (S.S. VI : 30).

Ayat 43

(1) Gwan Chiang jongkok di jalan (mencegat Nabi lewat).

(2) Nabi bersabda, "Ketika masih muda kamu tidak patuh, setelah dewasa tidak ada sesuatu yang dapat kau berikan kepada masyarakat dan setelah tua tidak mau mati; sesungguhnya engkau ini pencuri (Kebajikan)." Lalu dengan tongkatnya dipukul kaki orang itu.

Ayat 44

(1) Seorang anak dari Khwat-tong, oleh Nabi sering disuruh menyambut tamu-tamu. Ada seorang bertanya, "Majukah anak ini dalam pelajaran?"

(2) Nabi bersabda, "Ia sering Kulihat duduk di atas-atas dan suka berjalan bersama orang-orang yang berkedudukan tinggi. Dia bukan seorang anak yang maju, melainkan hanya ingin seperti orang-orang besar."