Si Shu

Kitab Empat · 四书

Lun Yu · Sabda Suci

Bab 15

Ayat 1

Raja muda Ling dari Negeri Wee bertanya cara mengatur barisan kepada Nabi Khongcu. Nabi Khongcu menjawab, "Tentang cara mengatur Coo dan Too (alat-alat sembahyang) Aku pernah mendengar, namun hal mengatur barisan Aku belum pernah belajar." Esok harinya lalu meninggalkan negeri itu. (S.S. XIV : 19).

Ayat 2

(1) Di Negeri Tien rombongan Nabi kehabisan bekal makanan sehingga beberapa murid menderita sakit dan tidak dapat bangun.

(2) Cu-lo dengan kurang senang berkata, "Layakkah seorang Kuncu menderita semacam ini?"

(3) Nabi bersabda, "Seorang Kuncu tahan dalam penderitaan; seorang yang rendah budi, berbuat yang tidak keruan bila menderita." (S.S. V : 22).

Ayat 3

(1) Nabi bersabda, "Su, tentu engkau menyangka Aku ini banyak sekali belajar dan menghafal bukan?"

(2) "Ya, bukankah memang begitu?"

(3) "Bukan. Aku berpegang pada satu yang menembusi semuanya." (S.S. IV. 15).

Ayat 4

Nabi bersabda, "Yu, sesungguhnya jaranglah yang benar-benar mengerti akan Kebajikan."

Ayat 5

Nabi bersabda, "Orang yang dapat memerintah negaranya dengan tanpa berbuat apa-apa, hanya Raja Sun kiranya. Apakah yang dilakukannya? Tidak lebih hanya dengan sungguh-sungguh dan hormat menghadap ke Selatan menerima menteri-menterinya."

Ayat 6

(1) Cu-tiang bertanya bagaimanakah layak tingkah lakunya. (S.S. VII : 20)

(2) Nabi bersabda, "Perkataanmu hendaklah kaupegang dengan Satya dan Dapat Dipercaya; perbuatanmu hendaklah kau perhatikan sungguh-sungguh. Dengan demikian di daerah Ban dan Bekpun, tingkah lakumu dapat diterima. Kalau perkataanmu tidak kaupegang dengan Satya dan Dapat Dipercaya, perbuatanmu tidak kau perhatikan sungguh-sungguh, sekalipun di kampung halaman sendiri mungkinkah dapat diterima?

(3) Kalau engkau sedang berdiri, hendaklah hal ini kaubayangkan seolah-olah di mukamu, kalau sedang naik kereta bayangkan seolah-olah hal ini tampak di atas gandaran keretamu. Dengan demikian tingkah lakumu dapat diterima."

(4) Cu-tiang lalu mencatat kata-kata itu pada ikat pinggangnya.

Ayat 7

(1) Nabi bersabda, "Sungguh jujurlah Su-gi itu. Negara dalam Jalan Suci, ia berbuat lurus seperti anak panah: negara ingkar dari Jalan Suci, perbuatannya tetap lurus 'seperti anak panah'.

(2) "Sungguh seorang Kuncu Ki Pik-giok itu. Negara di dalam Jalan Suci, ia tampil ke muka memangku jabatan: negara ingkar dari Jalan Suci, ia rela menyimpan pandangan hidupnya di dalam hati." (S.S. XIV : 25)

Ayat 8

Nabi bersabda, "Kepada orang yang patut diajak bicara, tidak mau mengajaknya bicara; ini berarti kehilangan orang. Kepada yang tidak patut diajak bicara, diajaknya bicara; ini berarti kehilangan kata-kata. Seorang yang Bijaksana tidak akan kehilangan orang maupun kata-kata."

Ayat 9

Nabi bersabda, "Seseorang yang bercita-cita menjadi siswa dalam Cinta Kasih, tidak inginkan hidup bila itu membahayakan Cinta Kasih. Bahkan ada yang mengorbankan dirinya untuk menyempurnakan Cinta Kasih itu." (S.S. IV : 2).

Ayat 10

Cu-khong bertanya bagaimanakah melaksanakan Cinta Kasih. Nabi bersabda, "Seorang tukang yang ingin bekerja baik-baik, lebih dahulu menyempurnakan alat-alatnya. Maka hidup di suatu negara hendaklah dapat mengabdi kepada pembesar yang Bijaksana dan berkawan dengan para Siswa di dalam Cinta Kasih."

Ayat 11

(1) Gan Yan bertanya bagaimanakah mengatur pemerintahan.

(2) Nabi bersabda, "Pakailah penanggalan Dinasti He."

(3) "Gunakanlah ukuran kereta Kerajaan Ien."

(4) "Kenakanlah topi kebesaran Kerajaan Ciu.

(5) "Bersukalah di dalam musik Siau dan Bu."

(6) "Jauhkanlah musik Negeri Ting dan jauhilah orang-orang yang pandai memutar lidah. Musik Negeri Ting itu membangkitkan nafsu dan orang-orang yang pandai memutar lidah itu membahayakan."

Ayat 12

Nabi bersabda, "Bila orang tidak mau berfikir tentang kemungkinan yang masih jauh, kesusahan itu tentu sudah berada di dekatnya."

Ayat 13

Nabi bersabda, "Ah, sudah! Aku belum pernah melihat seseorang yang mencintai Kebajikan seperti mencintai keelokan."

Ayat 14

Nabi bersabda, "Cong Bun-tiong nampaknya bukan seorang yang tepat untuk memangku jabatan. Ia mengetahui Liuhe Hwi Bijaksana, tetapi tidak mau memberinya kedudukan." (S.S.XVIII : 2).

Ayat 15

Nabi bersabda, "Bersikap keras kepada diri sendiri dan bersikap lunak kepada orang lain, akan menjauhkan sesalan orang."

Ayat 16

Nabi bersabda, "Orang yang tidak mau bertanya 'Apakah yang harus kulakukan? Apakah yang harus kulakukan?' Aku tidak tahu apa yang harus Kulakukan terhadapnya."

Ayat 17

Nabi bersabda, "Orang yang berkumpul sepanjang hari, tetapi yang dibicarakan tiada yang berhubungan dengan Kebenaran, melainkan hanya ribut akan hal-hal kecil, sungguh sukar orang-orang semacam itu."

Ayat 18

Nabi bersabda, "Seorang Kuncu memegang Kebenaran sebagai pokok pendiriannya. Kesusilaan sebagai pedoman perbuatannya, mengalah dalam pergaulan dan menyempurnakan diri dengan Laku Dapat Dipercaya. Demikianlah Kuncu."

Ayat 19

Nabi bersabda, "Seorang Kuncu susah kalau tidak mempunyai kecakapan: tetapi, tidak susah bila orang lain tidak mau mengenalnya."

Ayat 20

Nabi bersabda, "Seorang Kuncu tidak hanya khawatir setelah mati namanya tidak disebut-sebut lagi."

Ayat 21

Nabi bersabda, "Seorang Kuncu menuntut diri sendiri, seorang rendah budi menuntut orang lain."

Ayat 22

Nabi bersabda, "Seorang Kuncu mau berlomba, tetapi tidak mau berebut. Mau berkumpul, tetapi tidak mau berkomplot."

Ayat 23

Nabi bersabda, "Seorang Kuncu tidak memuji seseorang karena kata-katanya, dan tidak menyia-nyiakan kata-kata karena orangnya."

Ayat 24

Cu-khong bertanya, "Adakah suatu kata yang boleh menjadi pedoman sepanjang hidup?" Nabi bersabda, "Itulah Tepa Sarira! Apa yang diri sendiri tiada inginkan, janganlah diberikan kepada orang lain." (A.B. IX : 4).

Ayat 25

(1) Nabi bersabda, "Terhadap seseorang, siapakah yang Kucela? Siapakah yang Kupuji? Kalau ada yang Kupuji, tentu karena Aku sudah mengujinya benar-benar.

(2) "Orang-orang (yang Kupuji) itulah yang meletakkan dasar Tiga Kerajaan itu melaksanakan Jalan Suci yang lurus."

Ayat 26

Nabi bersabda, "Aku pernah menjumpai pengarang Hikayat yang masih mengosongkan beberapa bagian karangannya. Ada pula orang yang mempunyai kuda, mau meminjamkan kepada orang lain. Sayang semangat-semangat demikian saat ini tiada lagi."

Ayat 27

Nabi bersabda, "Orang yang pandai memutar lidah akan mengacaukan Kebajikan. Kalau orang tidak mau menanggung kesukaran-kesukaran kecil, ia akan merusakkan perkara-perkara besar."

Ayat 28

Nabi bersabda, "Yang dibenci umum harus diperiksa, yang disukai umum harus diperiksa pula."

Ayat 29

Nabi bersabda, "Oranglah yang harus mengembangkan Jalan Suci, bukan Jalan Suci yang mengembangkan orang."

Ayat 30

Nabi bersabda, "Bersalah tetapi tidak mau memperbaiki, inilah benar-benar kesalahan."

Ayat 31

Nabi bersabda, "Aku pernah sepanjang hari tidak makan dan sepanjang malam tidak tidur merenungkan sesuatu. Ini ternyata tak berguna, lebih baik belajar."

Ayat 32

Nabi bersabda, "Seorang Kuncu mengutamakan Jalan Suci, tidak mengutamakan soal makan. Orang bercocok tanam, mungkin juga masih dapat kelaparan; orang belajar, mungkin juga mendapatkan kedudukan. Seorang Kuncu susah kalau tidak dapat hidup dalam Jalan Suci, tidak susah karena miskin."

Ayat 33

Nabi bersabda, "Seorang yang pandai meski tidak memegang teguh Cinta Kasih, mungkin berhasil pula usahanya; tetapi akhirnya pasti hilang pula.

(2) Meskipun pandai dan dapat memegang teguh Cinta Kasih; bila tidak berwibawa, rakyat tidak mau menaruh hormat.

(3) Meskipun pandai, teguh di dalam Cinta Kasih dan berwibawa; bila tindakannya tidak berdasarkan Kesusilaan, itu belum sempurna."

Ayat 34

Nabi bersabda, "Seorang Kuncu mungkin tidak dapat terkenal di dalam perkara-perkara kecil, tetapi dapat diberi beban melaksanakan perkara besar. Seorang rendah budi tidak dapat diberi beban melaksanakan perkara besar, tetapi mungkin dapat terkenal di dalam perkara-perkara kecil."

Ayat 35

Nabi bersabda, "Cinta Kasih bagi rakyat adalah lebih dari kebutuhannya akan air dan api. Aku pernah melihat orang mati karena masuk ke dalam air atau api, tetapi Aku belum pernah melihat orang mati menempuh Cinta Kasih."

Ayat 36

Nabi bersabda, "Dalam menempuh peri Cinta Kasih, jangan kalah dengan guru."

Ayat 37

Nabi bersabda, "Seorang Kuncu mengutamakan hal-hal yang penting, bukan hal-hal yang remeh."

Ayat 38

Nabi bersabda, "Di dalam mengabdi kepada pemimpin, bersungguh-sungguhlah di dalam melaksanakan tugas dan belakangkanlah soal makan."

Ayat 39

Nabi bersabda, "Ada pendidikan, tiada perbedaan."

Ayat 40

Nabi bersabda, "Kalau berlain Jalan Suci, tidak usah saling berdebat."

Ayat 41

Nabi bersabda, "Di dalam menulis sesuatu, cukup bila tepat dengan yang dimaksudkan."

Ayat 42

(1) Guru musik Bian menjumpai Nabi. Ketika sampai diambang pintu, Nabi bersabda, "Ini sudah diambang pintu!" Setelah sampai di tempat duduk. Nabi bersabda, "Kita sudah sampai di tempat duduk." Setelah duduk Nabi memberitahu, "Ini si Anu, ini si Anu."

(2) Setelah Guru Musik Bian pergi, Cutiang bertanya, "Demikiankah cara melayani seorang guru musik yang buta?"

(3) Nabi menjawab, "Benar, demikianlah kita harus membantu seorang guru musik (yang buta)."